Dia, Feronika

Dia, Feronika
Bohong! Kalian Bohongkan?


__ADS_3

Suara klakson kadang terdengar saling bersahutan, kendaraan roda dua terlihat meliuk-liuk mencari cela. Hampir-hampir mencelakakan pengguna jalan lain andai tidak berhati-hati.


Mata bulat Feronika memicing untuk memperhatikan orang yang sedang menyeberang. Dan, orang itu ternyata Nan. Perhatian pemuda itu terarah kepadanya, bahkan amat buru-buru.


"Eh, lu mau lari dari tanggung jawab!" sergah Nan sesampainya di meja Feronika. Sorot mata sipit itu menyiratkan kemarahan, menusuk tajam ke arah Irham.


Mata Feronika mengerjap perlahan, dia mencoba memahami situasi yang terjadi. Mulanya dua orang asing ini, sekarang Nan.


"Cukup!" Feronika beranjak dari duduknya.


"Fer, lu diam!" bentak Nan lalu beralih ke Satria, "Mas, ibu tadi sudah gue bawa ke klinik dekat sana. Hp lu sepertinya mati, kasian orangnya masih nungguin sama anaknya."


Satria pun mengeluarkan ponsel dari saku jaket boombernya, dan benar ponselnya tidak lagi menyala. "Sial ini semua gara-gara lu!"


Dua orang sedang mengibarkan bendera perang kepada Irham, sedangkan dia semakin menunduk dalam.


Feronika yang kepo pun memberanikan diri untuk bersuara, "Ada apa, sih, sebenarnya?"

__ADS_1


"Dia kabur habis serempet orang!" sergah Satria, Ipang, dan Nan bersamaan. Hal itu membuat Feronika tercengang dan mencondongkan tubuh kebelakang sebab terkejut dengan suara keras ketiganya.


"Bohong! Kalian bohongkan?" elak Feronika.


Mereka menghunuskan tatapan dingin mematikan kepadanya, seketika sel-sel dalam tubuh membeku. Feronika pun mengalihkan pandangan ke Irham untuk meminta penjelasan.


"Irham! Bener?"


"Nik, ini, se-sebetulnya," ucap Irham terbata-bata lalu membisikkan sesuatu ke telingan Feronika hingga membuat mata bulat gadis itu melebar.


Sirat penuh tanya terlihat jelas di wajah ketiga pemuda lainnya, mereka saling tatap satu sama lain. Penasaran apa yang sedang dua orang itu bisikkan.


"Tetap aja, Rham. Lu gak boleh kayak gitu!" tegas Feronika lalu menyorotkan penyesalan lewat kedua matanya ke arah Satria, "Gue minta maaf atas nama Irham."


"Bro, harusnya lu malu. Masak cewek lu yang minta maaf, padahal jelas-jelas elu yang salah!" Senyum mengejek tercetak jelas di raut wajah kesal Satria.


Di lain pihak, dalam diri Nan ada yang patah mendengar perkataan Satria, cewek lu? Ini cowok, pacarnya Fero? Model begini?

__ADS_1


Irham menghela napas panjang dan dalam lalu mengutarakan isi hatinya. "Gue minta maaf dan gue akan tanggung jawab. Kita pergi sama-sama untuk menemui ibu-ibu tadi, tapi setelah—"


"Rham, gue bisa sendiri elu selesain masalah sama mereka dulu," potong Feronika. "Sat, gue harap lu gak simpan dendam ke Irham. Ini salah gue."


"Ferosotan!" seru Satria yang mendapat tatapan jengkel dan terkejut dari Nan. "Ini minuman siapa yang bayar?"


Feronika yang sudah bersiap untuk menyeberang pun kembali dan mengeluarkan uang dari tas, tetapi dengan cepat jemari lentiknya ditampik Nan.


"Gue yang bayar!" sambar Nan.


Satri mengernyitkan alis sambil menelengkan kepala, seperti berusaha membaca ekspresi di wajah Nan. "Impas, lu boleh pergi Feros—"


"Feronika!" hardik Nan.


"Wow, okay, okay, Feronika, gue tau itu." Satria nyengir sambil garuk-garuk kepala tidak gatal.


"Jadi, gue boleh pergi?"

__ADS_1


Keempat pemuda itu memberi isyarat dengan gerakan tangan mempersilakan.


__ADS_2