
Di tempat berbeda, ruang yang jauh dari kebisingan. Perpustakaan sekolah salah satu tempat favorit Nan. Beberapa rak buku berjajar rapi, meja panjang dengan kursi di kanan-kiri. Perlahan Nan berjalan; mata, dan tangan memilih buku mana yang akan dibaca.
Saat berada di dekat rak paling pojok, matanya memicing, dia menangkap sesosok gadis menopang kepala dengan beberapa buku. Samar-samar, dia mendengar dengkuran halus. Disinyalir berasal dari gadis itu.
Tidak tahu harus apa, Nan hanya menggelengkan kepala. Bisa-bisanya tertidur begitu pulas di perpustakaan, dia kembali mengamatin sekitar. Rupanya meja dekat si putri tidurlah yang tersisa.
Nan tidak terlalu mempermasalahkan itu dan segera duduk. Bergulat dengan buku membuat dia lupa waktu, tidak terasa dentang bel sekolah kembali berbunyi, mengintruksi semua murid agar kembali ke dalam kelas.
Suara bel begitu nyaring, tetapi gadis tadi tidak terusik sama sekali. Masih asyik di alam mimpi. Dengan sengaja Nan menjatuhkan buku di dekatnya, sontak membuat tubuh yang sedang meringkuk itu berjingkat.
"Astaga!" Sambil mengelus dada, gadis itu menoleh sekilas lalu beranjak dari duduknya. Meski kesadaran belum terkumpul sepenuhnya, dia pergi begitu saja.
Nan menatap kepergian gadis itu sambil menopang pipi dengan telapak tangan kanan, belum menyadari kalau gadis itu, Feronika.
Gadis berparas manis dengan rambut terikat berbentuk donat, bibirnya mungil, mata bulat berbulu lentik, perawakan tidak terlalu tinggi—kirsaran 158 centimeter, dan kulitnya seputih susu. Diam-diam Nan memperhatikan semua itu.
Sebelum gadis itu benar-benar keluar dari ambang pintu, Nan mengingat satu hal. "Dia, Feronika! Tunggu!" teriak Nan, punggung Feronika menghilang dari jangkauan mata. Karena tergesa-gesa saat mengejarnya, tanpa sengaja Nan menyenggol tumpukan buku di atas troli.
"Nan!" Suara rendah menghentikan langkahnya, Nan pun menoleh ke sumber suara.
"Mau ke mana? Ayo rapikan buku-buku ini! Enak sekali mau cuci tangan."
"Bukan begitu, Pak, itu saya mau—"
"Mau kabur! Iya?" potong staf perpustakaan, mata berbingkai kacamata itu hampir keluar dari tempatnya, tahu betul kebiasaan murid-murid di sana.
"Enggak, Pak! Ah ... baiklah saya bereskan sekarang." Tarikan napas Nan terdengar berat, mata sipitnya memicing sambil melihat paras Feronika di balik jendela kaca transparan. Karena terus menebar kesialan ketika berotasi disekitarnya, Nan semakin gemas dengan gadis itu. Ingin sekali mengusir sekaligus menarik kembali.
Pertemuan secara kebetulan tadi memecah konsenterasi Nan selama jam pelajaran berlangsung. Bahkan beberapa kali ditegur karena kedapatan melamun. Hingga jam terakhir usai dia masih memikirkan cara untuk mengembalikan buku Feronika.
__ADS_1
"Nan, nanti sore jadi ke Walnut Cafe?"
Nan belum juga merespons, dia memang terlihat sibuk memasukkan beberapa buku, tetapi pikiran berlarian ke sana kemari.
"Lu kenapa, sih? Dari tadi gak fokus," tegur Renji.
"Bukan apa-apa, udah, yuk cabut!" jawab Nan lalu berjalan lebih dulu.
Cuaca pada jam-jam pulang sekolah cukup menyengat kulit, dari kejauhan seorang gadis memicing kala melihat lapangan. Lalu, dua orang murid mencuri perhatiannya. Salah seorang terlihat berkacak pinggan dan satu lagi tampak santai dengan sebelah tangan dimasukkan ke saku celana. Gadis itu kembali menyapukan pandangan ke seluruh halaman sekolah. Beberapa murid berdiri di depan gerbang menunggu kendaraan umum lewat.
Karena tidak ingin menunda-nunda lagi, gadis pemilik sorot mata jenaka itu pun mendekat sambil berseru, "Nan!"
Seolah-olah enggan menanggapi, Nan berbalik badan, sengaja berjalan berlainan arah. Hati dan pikiran sedang tidak sejalan saat ini. Ingin tetap tinggal, tetapi kaki seakan-akan melangkah tanpa perintah. Kalau saja Renji tidak menarik lengannya, tentu sudah sampai parkiran.
Bibir mungil Feronika mengumbar seyuman, sorot mata jenaka khas dirinya menambah kadar keimutan.
"Hai! Ren," tegurnya berbasa-basi, Feronika melambaikan tangan kepada kedua pemuda itu.
"Em, anu, Nan. Meski ini terbilang terlambat, gue mau balikin buku, lu," terang Feronika bernada penyesalan. Keempat buku tulis itu diserahkan kepada Nan.
"Gue udah nggak butuh!" sergah Nan tanpa rasa iba lantas membuangnya ke tempat sampah. Sekali lagi, dirinya bertingkah di luar keinginan hati.
Raut wajah Renji menunjukkan keterkejut. Dia tidak habis pikir atas tindakan sahabat baiknya.
"Astaga!" Reva yang baru saja tiba berujar sembari memunguti buku-buku itu, "Nan, tega lu, ya!"
"Masbulo!" Nan menanggapi dengan sewot.
"Nik, lu nulis atau membatik? Tulisan lu gak sebagus ini biasanya," ujar Reva sebab baru menyadari perbedaan gaya tulisan sang teman, lalu menatap tajam Nan lantas menyembur, "Eh, asal lu tau, ya!"
__ADS_1
"Re, cukup!" potong Feronika.
"Asal Apa? Lu juga harus tahu, gara-gara temen lu ini gue gak dapat nilai!" tutur Nan bernada rendah, tetapi cukup melukai.
"Dasar manik nilai perfekto!" pekik Reva sambil memelotot, tidak terima teman baiknya dianggap sebagai penyebab tunggal atas hilangnya nilai Nan.
"Apa lu bilang?" Mata sipit Nan melebar karena geram.
"Mr. Perfect! Mestinya lu bersimpati sama Nik!" tegas Reva tidak kalah emosi.
"Udahlah, Re!" Feronika memegang kuat lengan Reva. Dia tidak mau mendapat perlakuan iba dari seseorang.
"Nik, cowok ini harus tahu, kalau lu masuk rumah sakit karena semalaman salin buku-buku itu!" Reva juga merasa bersalah karena pada waktu itu tidak menjalankan amanah ketika Feronika membutuhkan bantuannya.
"Ini murni salah gue!" Feronika menggigit ringan bibir bagian bawah, tidak sepatutnya sang teman mengatakan demikian. Dengan perasaan kecewa kakinya menjauh dari sana, dia tidak ingin dianggap lemah.
"Nik! Nik! Tunggu!" seru Reva sambil mengejar temannya. Meninggalkan kedua pemuda beda kelas itu.
Setelah mendengar penuturan Reva, hati Nan diselimuti rasa bersalah. Apa yang dilakukannya tadi memang berlebihan, kehilangan dua nilai mata pelajaran tidak akan membuatnya dikeluarkan dari sekolah bukan?
"Lihat yang udah lu lakuin! Ya, gue tahu lu pernah kecewa sama cewek karena berhubungan dengan hal semacam—" Renji menghentikan kata-katanya, kali ini Nan betul-betul kelewatan.
"Mestinya dengar dulu penjelasan Feronika, jangan asal nyablak tanpa tedeng aling-aling," imbuh Renji.
"Nih, ya, gue kasih bocoran. Feronika lagi ada masalah sama nilainya. Rumor beredar kalau dia ketahuan mangkir pas jam pelajaran. Katanya, sih, ketiduran di--" Renji nyerocos panjang lebar.
"Nggak usah berbelit, maksud lo apa?" potong Nan dengan sebelah alis terangkat.
"Elu, kan pintar. Coba cari tahu sendiri persisinya kek gimana!" Renji menepuk pundak kiri Nan sebelum menyusul gadis pemilik sorot mata jenaka itu.
__ADS_1
Kini, Renji sudah berada di sisi kanan Feronika dan Reva ada di sisi kiri. Dilihat dari gesturnya, mereka tampak memperdebatkan sesuatu. Ingin sekali Nan menyusul, tetapi kaki terpaku, tidak bisa bergerak selangkah pun. Hanya mata yang kini menatap tajam.