
Mata sipit Nan menerawang jauh, sejak empat hari ini dia tidak bertemu lagi dengan Feronika. Ada sesuatu yang hadir melebihi rasa kesal karena bukunya belum dikembalikan.
"Kak, ngelamun terus. Entar kerasukan setan, loh!" seloroh Andrea, menyadari tatapan kosong kakaknya.
"Ini Oma bikin sendiri?" Sembari mengambil sepotong kue Nan bertanya.
"Iya, enak, kan?" tanya Andrea, setelah disahuti anggukan oleh Nan, dia meninggalkan balkon sambil berlari.
"An, awas jatuh!" teriak Nan.
Nan duduk di teras lantai dua bernuansa eropa klasik kediaman Oma Sakti. Hawa dingin menyapa punggung tangannya, semilir angin membikin bulu kuduk berdiri. Telapak tangannya saling mengusap ringan, lantas menutup kepala dengan tudung sweter. Dia menatap langit sekilas, bintik-bintik terang di sekitar bulan sabit menandakan malam ini begitu cerah.
Sejauh mata memandang semua tampak sunyi dan tenang. Pemandangan seperti itu bukan suatu keanehan di kawasan rumah elit. Cenderung tidak banyak orang berlalu lalang, berbeda jauh dengan tempat tinggal Nan. Hampir tidak pernah sepi orang, bahkan mereka bergantian untuk ronda malam.
Kebosanan melanda, Nan pun beranjak untuk mencari udara segar di sekitar perumahan. Dia meminta izin untuk ke luar sebentar, kayuh tangan seirama langkah yang menyusuri pematang jalan.
"Mas! Woi Mas!"
Ada suara tiada rupa, entah dari mana asalnya, Nan menelan ludah. Jantung berpacu cepat, kaki jenjangnya mengambil ancang-ancang. Siap lari andai kata ada sesuatu yang tidak mengenakkan. Setelah tengok kanan-kiri, dia mendapati seseorang berusaha turun dari pagar. "Lu panggil gue?"
"Tolongin gue buruan!" Jemari ramping menyembul dari ujung lengan jaket hitam yang kebesaran, begitu kontras dengan kulit putihnya. Bukan hanya itu, orang tersebut juga memakai topi serta kacamata hitam.
"Lu maling, ya?" Terka Nan seraya berjalan ke arah orang yang sedang bertengger di atas pagar beton. Lalu, mengulurkan tangan, telapaknya merasakan jari-jemari lembut digenggaman. Jatungnya berdebar tidak menentu. Urat-urat nadi pun berdesir hebat, seperti tersengat listrik berjuta-juta volt hingga secara spontan melepaskan pegangan.
"Eh, eh." Suara orang itu mengalun lembut ketika hampir terjatuh karena tangannya dilepaskan Nan.
Keduanya tidak menyadari ada seorang satpam melintas dan berteriak, "Woi! Kalian maling, ya!"
__ADS_1
Saking kagetnya orang yang sedari tadi berada di pagar rumah megah tersebut jatuh menimpa Nan. Sebab diteriaki maling mereka lari tunggang-langgang, tanpa koordinasi kaki menuju ke arah yang sama. Seperti orang yang tertangkap basah sedang mencuri, dengan kecepatan penuh meninggalkan pak satpam di belakang.
Sesekali keduanya menoleh untuk memastikan bahwa situasi sudah benar-benar aman. Kecepatan lari Nan berangsur memelan karena mengimbangi orang di sampingnya.
Begitu keluar dari perumahan, orang yang diyakini Nan sebagai maling berhenti untuk mengatur napas agar oksigen dapat memenuhi kebutuhan paru-parunya.
Tangan besar Nan menarik lengan tanpa permisi. "Lu maling?"
Orang itu pun berbalik badan, menghadap ke arah lawan bicaranya. Kacamata hitam serta topi yang digunakan tadi terjatuh, sehingga wajahnya tampak jelas diterpa cahaya lampu. "Gu—"
"Lu lagi? Gara-gara lu, gue kena masalah di sekolah. Sekarang balikin buku gue!" potong Nan saat mengetahui bahwa maling itu adalah gadis yang empat hari ini dia cari-cari.
Pipi Feronika mengembung mendengar itu, amnesia jangka pendeknya kumat hingga buku-buku Nan telat dikembalikan, dan sekarang sedang malas menjelaskan apa masalahnya.
"Gue kira orang kaya, gak tahunya maling," sindir Nan.
Sebelah tangan Feronika diangkat ke udara, mengisyaratkan agar Nan diam. Dengan posisi masih membungkuk seraya memegang perut, gadis itu berusaha mengatur napas yang memburu.
Perasaan Nan campur aduk, biasanya tidak pernah seperti ini. Entahlah, kali ini lain. Ada rasa bersalah tanpa alasan yang signifikan. Apalagi saat tidak menemukan sorot mata jenaka Feronika seperti sebelumnya. Menambah ketidaknyamaan hati, Nan mengepalkan tangan lalu ditempel ke bibir sekilas.
Duh, gobes, marah enggak, ya, nih, cewek? batin Nan, harap-harap cemas menunggu tanggapan.
"Tarik kata-kata lu!" tekan Feronika lalu menjeda, "Emang ada maling semanis gue?" Pertanyaan Feronika mendapat tanggapan sekadarnya. Nan hanya mengulas senyum simpul kecil, nyaris tidak terlihat dengan mata telanjang.
"Ada—" jawab Nan lantang, kemudian bersambung dalam hati, dan gue korbannya. Sejak hari sial itu ada yang hilang, gue mau lu balikin sekarang!
"Wah, sayangnya bukan gue," timpal Feronika.
__ADS_1
Seperti biasa, Feronika tidak ingin menambah masalah. Kalau intuisinya tepat, Nan pasti sudah menyadari kesalahannya. Pemuda itu terlihat gugup, manis sekali, pikir Feronika. Namun, sayang tidak sesuai kriteria. Cukup satu orang saja yang masuk lis pria berlidah tajam yaitu Doni—papinya.
Feronika menegakkan badan, menatap dalam dengan sorot mata jenaka khasnya. Meletakkan kedua tangan yang menggenggam di depan dada.
"Perkara buku, gue sungguh minta maaf sebesar gunung himalaya dan berharap belas kasih lu seluas samudra pasifik," ucap Feronika dengan lengan membetang, seulas senyum juga menyertai aksinya, sampai ....
"Eh, buset malah merat. Woi!!!" teriak Feronika.
Bukanya menanggapi, Nan memilih pergi begitu saja. Lega, Feronika tidak marah. Itu yang paling penting baginya. Sorot mata itu, membuat hati berbunga, menggemaskan sekali, Nan tidak yakin bisa tidur tenang malam ini.
"Bisa diabetes gue kalau deket-deket sama itu cewek," gumam Nan lalu menggeleng, karena kehujanan tempo hari saraf di kepala ada yang korsleting.
Bibir Nan senantiasa mengembang seiring langkah panjang. Angin semakin berembus kencang, dia pun mengeratkan tali yang ada di topi sweternya.
Ponsel di saku berbunyi, Nan pun menerima panggilan itu. "Halo, ya, Mam. Ini mau balik."
Sekitar dua puluh meter dari tempatnya saat ini, Nan berbalik badan untuk memastikan Feronika masih di sana. Bahu datarnya langsung mengedik mendapati gadis itu sudah pergi. Dirinya pun segera menambah laju kaki meski betis terasa nyeri.
"Nan! Masih di sana, kan?" Teriakan terdengar dari seberang telepon sebab Nan sempat melamun.
"Iya, Nan masih di sini, udah dulu ya, Mam." Panggilan pun diputuskan.
"Kudu cepet-cepet balik, nih. Gara-gara—" Nan menelan kata-kata pahit yang hendak meloloskan diri dari bibir.
"Kenapa juga gue pikirin perasaan orang yang bahkan buat hidupku susah," gerutu Nan terhadap diri sendiri.
Setelah malam itu, Nan belum berjumpa lagi dengan Feronika pun sudah melupakan masalah yang terjadi. Kendati terkenal dengan ketidakpeduliannya, Nan bukanlah tipe pendendam dalam tanda kutip. Semua akan berjalan normal seperti sedia kala, lurus, tenang dan damai.
__ADS_1