Dia, Feronika

Dia, Feronika
Ah, Papi Enggak Asyik


__ADS_3

Feronika menyadari aura kemarahan di dalam diri orang yang kini menatapnya tajam, seolah-olah Nan akan memakannya tanpa dikunyah.


"Dengar dulu!—" Belum sempat Feronika melanjutkan kalimatnya.


Nan hendak pergi dari sana. Namun, dengan cepat lengan pemuda itu diraih Feronika, kemudian beralih memegang pundak Andrea.


"Enggak kasihan sama adik lu? Tunggulah sebentar gue ambil P3K!" kata Feronika, tidak ambil pusing tatapan tajam dan dingin Nan.


Bergegas Feronika mendekati mobil setelah membimbing Andrea duduk ke kursi besi yang ada di area trotoar, kotak berukuran sedang ditentengnya saat kembali.


"Hai, Cantik, siapa namamu?" sapa Feronika, mata bulatnya menyipit seperti merasakan sakit juga.


"Andrea," sahut Andrea sambil menatap lekat lukanya.


Dengan lembut dirawatnya luka Andrea, Feronika meniup-niup lutut yang sudah bersih dan tinggal ditempel plester seraya bertanya, "Apa begitu perih?"


"Ehem." Kepalanya mengangguk cepat, Andrea tampak murung saat berkata, "Kakiku patah."


Mendengar itu, Feronika tersenyum simpul lalu mengusap lembut pucuk kepala adik Nan. "Ini masih sangat kokoh!" tegasnya kemudian.


"Mau cokelat?" Feronika mengeluarkan sebatang cokelat berukuran sekali makan dari saku kemeja, Andrea sepertinya sungkan mau menerima.


"Sakit berkurang setelah makan ini," bujuk Feronika.


"Jangan itu bikin sakit gigi!" sergah Nan, membuat Andrea kian menciut.


"Dasar 3G!" sergah Feronika, membuat air muka Nan merah.


Feronika kini mendapat tatapan menghunus bak sembilu. Siapa peduli? Dia hanya mengedik lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Andrea.


"Bilang sama kakakmu, jangan suka marah-marah, nanti cepat tua!"


Di lain sisi, Nan memasang wajah sekaku dan sedingin batu pualam. Jelas ingin tahu. Feronika tengah membisikkan apa sampai-sampai Andrea terkikik, entah merasa geli atau sedang menertawakan sesuatu. Jelas sekali perubahan cuaca pada raut wajah mendung yang berangsur cerah.


"Ayo, An!" pinta Nan, menjauh dari bahu jalan.


"Sebentar, dong, ah!" sahut Feronika lalu kembali membisikkan sesuatu, "Percaya sama, Kak Nik, cokelat bisa mengurangi sakit. Bila perlu ajak kakakmu juga, biar enggak uring-uringan."


Nan mulai tidak sabar sehingga berteriak untuk mengingatkan, "An, ayo!"


"Iya, iya, tunggu," jawab Andrea sambil menghampiri sang kakak.

__ADS_1


"Ingat, ya!" teriak Feronika diiringi kerlingan mata dan mengangkat jari kelingking, pun dengan Andrea.


Bentuk kesepakatan antara Feronika dan Andrea, berhasil membangunkan jiwa keingintahuan seorang Nan. Ujung mata melirik jemari adiknya yang menggenggam. Sudahlah, tidak penting juga, bergegas Nan mengayuh sepeda.


Saat ini, Andrea tidak lagi berdiri di belakang, gadis belia itu duduk menyamping di depan.


Jemari lentik Feronika memucat karena mengepal kuat, kesan paling buruk dalam perjumpaan kedua. Dia hanya bisa mengawasi punggung Nan yang semakin menjauh.


Kejadian di sekolah kembali berputar dalam benak, tugas dari pemuda itu belum tersentuh sama sekali. Semoga besok pagi sudah bisa dikembalikan, kekhawatiran berlebih menimbulkan resah di hati. Setelah udara memenuhi paru-paru, Feronika embuskan perlahan melalui mulut.


"Nik, cepat masuk!"


"Ya, Pi."


Begitu duduk di mobil, Feronika menyadari lirikan mata papinya. "Ada apa, Pi?"


"Papi sepertinya pernah melihat anak tadi," kata Doni.


"Iya, kah?"


Sekelebat bayangan berputar dalam ingatan, Doni pernah bertemu dengan pemuda itu. Namun, dia sendiri tidak yakin sampai kenangan pada masa lalu menyentak pikiran.


"Nano!"


"Yah, mungkin Papi salah mengenali orang," gumam Doni seraya melanjutkan kalimat di dalam hati, apa mungkin bocah itu anak Nano? Aku harus mencari tahu. Setidaknya aku harus meminta maaf atas dosa yang sudah kulakukan di masa lalu.


"Pi!" tegur Feronika, melihat kecemasan tergambar jelas di wajah orang tuanya.


"Ya?"


"Ada yang Papi pikirkan?" tanya Feronika.


"Bagaimana dengan UTS bulan depan, apa kamu sudah siap? Papi harap hasilnya tidak mengecawakan. Kalau tidak ... bersiaplah pindah sekolah!"


"Ini terdengar seperti ancaman." Sambil membuang muka ke arah jendela, Feronika menghela napas.


Doni tidak langsung menyahuti, mata dan jemarinya beralih ke tablet yang ada di tangan. Dia bertanya tanpa melirik sedikit pun, "Papi dengar kamu daftar ekskul voli?"


Alih-alih merespons cepat justru napas Feronika tercekat, dia katupkan bibir rapat-rapat sebelum berucap, "Iya, Nik janji ini tidak akan memengaruhi apa pun."


Doni menarik napas panjang mendengar itu. Setelahnya, tidak ada lagi pembicaraan di antara ayah dan anak itu, hal semacam ini kerap kali terjadi. Anaknya tidak dibiarkan memilih takdir sendiri. Bahkan urusan hobi, Doni—pria paruh baya berparas sangar dengan janggut tipis itu memaksanya untuk mengambil les piano, daripada mendukung kemauan Feronika menjadi atlet voli.

__ADS_1


Sikap otoriternya selama ini berjalan mulus. Sebab, putrinya cukup fleksibel. Bukan masalah besar baginya, terbukti meski terpaksa, Feronika bisa mendapat juara dalam setiap perlombaan seperti sekarang, piala dan piagam berhasil disabetnya.


"Kali ini aja, Pi. Izinkan pilih apa yang Nik suka." Feronika memasang tampang semelas mungkin agar mendapat persetujuan dari pria paling berkuasa di rumahnya.


"Selama kamu bisa mengatur waktu."


"Ah, terima kasih, Pi," ucap Feronika kegirangan sembari membatin, enggak biasanya Papi cepat menyerah. Tapi, ya syukurlah kalau gitu.


Paling tidak bisa jadi pengalihan terampuh agar Doni—sang Papi tidak mempermasalahkan nilai-nilai akademik pas-pasan yang berhasil diraihnya selama bersekolah.


Setelah tiba di rumah, gadis itu bergegas ke kamar untuk membersihkan badan. Beberapa menit setelahnya mengeluarkan buku dari dalam tas. Dia tidak tahu harus berbuat apa, semua tulisan samar—hampir hilang.


"Okay, mari kita mulai. Ini tidak sulit," gumamnya seraya mengambil buku tulis kosong di dalam laci meja.


Ketukan pintu terdengar, Syahiddah—wanita paruh baya masuk dengan membawa baki berisi susu hangat dan beberapa keping biskuit.


"Terima kasih, Bi," ucap Feronika seraya minum susu.


"Jangan tidur terlalu larut malam."


"Ya, Bi. Oiya Irham ada?" tanya Feronika dan menoleh ke sisi kanan. "Tolong panggilin, dong, Bi."


"Mana boleh, Non Nik sudah besar, tidak bisa lagi main berdua di kamar seperti dulu," tutur Syahiddah.


"Ya, ya, sekarang Irham di mana?"


"Di teras sama Pak Lan."


Dengan terburu-buru Feronika keluar dari kamar untuk menemui Irham—anak semata wayang Syahiddah.


"Nik, mau ke mana?" Doni yang kebetulan lewat tidak suka dengan sikap putrinya.


"Teras, Pi. Mau minta tolong Irham."


Feronika bergeming di anak tangga terakhir, tangannya terlihat memegang susuran tangga.


"Minta tolong soal apa?" tanya Doni.


Pipi Feronika mengembung, jelas tidak mungkin mengatakan apa yang sedang dia butuhkan.


Doni menunggu sambil melipat tangan di depan perut, menanti jawaban dari Feronika yang terlihat berpikir keras.

__ADS_1


"Kalau tidak ada yang penting kembali ke kamarmu sekarang," perintah Doni.


Seketika bibir Feronika cemberut, di hati dia menggerutu. Ah, Papi enggak asyik.


__ADS_2