Dia, Feronika

Dia, Feronika
Dia Sama Siapa?


__ADS_3

Udara kian dingin saja menjelang malam, beberapa kendaran beroda empat dan dua memenuhi jalan. Lampu-lampu pinggir jalan berpendar di balik ranting daun yang berayun-ayun dibuai angin.


Nan terlihat memarkirkan motor di dekat motor besar Renji lantas masuk ke kafe. Di luar tadi dia melihat Reva dan satu orang lagi yang tidak diketahui namanya.


"Nan! Dari mana aja?" tanya Renji yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa kentang goreng.


"Ada urusan penting. Itu ada Reva, trus Feronikanya mana?"


"Loh, di luar gak ada, ta?" Renji melihat di luar kafe. "Kenapa enggak tanya cewek-cewek itu tadi? Atau udah pulang, bentar gue telepon dulu."


Nan menyapukan pandangan ke setiap sudut kafe, sebuah usaha yang digelutinya bersama Renji. Tentu awal merintis memerlukan dana lumayan besar dari Rindu—sang mama. Akan tetapi, laba yang di dapat selama tiga tahun ini bisa menutup modal yang diterima.


Walnut Cafe bukan sekadar tempat nongkrong biasa, Nan juga menyediakan ruang khusus baca di lantai atas. Tidak pelak, banyak anak muda yang gemar bersemedi untuk mencari inspirasi.


"Halo," kata Renji, sambil menoleh ke luar kafe, rupanya ponsel Feronika tertinggal. Dan, kini Reva sedang melambai-lambai.


"Gimana?" tanya Nan buru-buru begitu Renji mematikan sambungan tanpa banyak berbicara.


"Ponselnya ketinggal, lu tanya sendiri ajalah sama Reva, gue repot," jawab Renji berlalu.

__ADS_1


Akhirnya, Nan ke luar untuk menemui teman-teman Feronika meski malas lebih mendominasi.


"Hai, Mr. Perfect?"sapa Reva.


"Gue tersanjung," sambar Nan sebelum duduk di kursi bekas Feronika tadi, jadi tanpa bertanya pun tahu di mana orang yang sedang dicari-cari.


Ngapain itu cewek di sana, dan ketiga cowok itu siapa? batin Nan, mengamati dari kejauhan. Pergolakan dalam diri terjadi, seharusnya menghampiri atau memilih duduk menunggu di sini? Dia tidak pernah merasa begitu dilema selama ini.


"Mr. Perfect, hello," tegur Reva bernada panjang. "Lu lihatin apaan, sih?" Sambil mengikuti arah pandagan Nan.


"Nya, lu samperin Nik, gih, lama bener di sana!" pinta Reva karena hampir—dia sendiri tidak tahu pasti sudah berapa lama temannya bersama tiga pemuda itu.


"Kenapa harus gue?"


"Yang jaket biru itu Irham, anak Bi Syahiddah. Terus kedua cowok itu gue gak tau sia—Eh, ngapain juga gue jelasi ke elu!"


Bibir Nan mengulas senyum tipis selama tiga dekit, kalau tidak jeli jelas tidak terlihat. "Trims infonya, gue ke dalam dulu."


"Dih, cuma tanya gitu doang."

__ADS_1


Nan terus memindai setia gerakan Feronika dari kejauhan serta ketiga pemuda yang sedang bersamanya. Cukup menggelitik hati dan ada sesuatu berdenyut nyeri, tetapi dia memilih menyibukan diri. Dengan cekatan memasang celemek hitam dengan tali kecokelatan bergambar biji kopi.


"Gimana?"


"Anjrit!" Kemunculan Renji membuat Nan terperatanjat, lalu menjawab dengan menaikkan dagu ke arah Feronika, "Tuh lagi sama—"


"Oh," respons Renji sekadarnya.


Bukannya itu— Nan mendekati jendela besar kafe untuk memastikan sesuatu. Setelah mengenali kedua motor dan salah seorang dari mereka dia bergegas melepas celemeknya.


"Enggak salah lagi. Itu orangnya," gumam Nan.


"Kenapa, lu kenal mereka?"


"Gak."


"Trus?"


"Nanti gue ceritain, gue mau ke sana dulu. Ini lebih penting—lebih dari hidup dan mati."

__ADS_1


"Gue ikut kalau gitu," putus Renji, hendak melepas celemeknya juga, takut Nan memerlukan bantuan kalau-kalau ada keributan. Terlepas rasa curiga, bahwa sang teman menyimpan perasaan terhadap Feronika sejak perjumpaan pertama.


"Gak perlu!"


__ADS_2