
Semilir angin menyejukkan udara petang ini, Feronika duduk tenang di salah satu sudut luar sebuah kafe. Seakan-akan tidak pernah bosan melihat kekompakan dua teman yang bergurau tanpa sungkan. Akan tetapi, dia tidak ikut dalam gurauan mereka.
Lewat sekat kaca transparan Feronika melihat Renji sedang asyik bernyanyi riang diiringi petikan senar gitar. Satu pemain piano menambah keindahan lagu yang mengalun. Suara Renji lumayan keren. Permainan mereka membuat para pendengar ikut terbawa lagu-lagu yang dilantunkannya.
Tidak sedikit para pengunjung yang mendengarkan ikut menyanyikan lagu yang dibawanya dengan merdu, termasuk Feronika sendiri.
Kata Renji melalui pesan singkat tadi Nan ingin menemuinya, tetapi belum datang juga. Mungkin pemuda itu mau minta maaf perihal kejadian tadi di sekolah. Ah, tetapi jelas itu cuma mimpi. Dia tahu betul sifat si 3G seperti apa, super cuek.
"Woi, Nik, ngelamun terus. Lihatin Renji sampai segitunya? Mulai tertarik, ya?" goda Reva.
“Eggaklah, Re. Aku tau itu cowok, tipe ceweknya kek gimana. Lagian, dia itu playboy cap elang. Sekali bidik sasaran langsung didapatkan," papar Feronika tanpa mengalihkan pandangan.
Kini, Reva pun melihat ke arah yang sama sambil berkata, "Iya juga, sih, kita harus hati-hati. Kebanyakan pemanin band itu gitu, enggak pernah puas hanya dengan satu pacar doang."
"Ya, enggak semua, Re!" sanggah Feronika sebelum menyesap es kopi kekinian.
"Tapi, kalau lu mau, sih, enggak apa Nik. Renji cukup populer."
"Jangan asal, mana ada waktu gue mikir sejauh itu?"
"BTW, tumben lu bisa keluar?" tanya Tanya si gadis berponi depan, teman tim volinya.
__ADS_1
"Papi ke luar ne—" jawab Feronika terjeda ketika melihat orang di seberang jalan. "Irham."
"Irham?" beo Reva dan Tanya serempak.
"Bentar aku harus ke sana." Feronika bergegas menghampiri anak dari asisten rumah tangganya.
Jalan raya akhir minggu begini memang padat sekali sehingga Feronika harus sabar diri untuk sampai ke seberang.
"Gue udah bilangkan enggak sengaja, gue lagi buru-buru!" tegas Irham kepada kedua orang yang bersamanya.
"Habis nabrak semua orang alibinya pasti gitu! Dan, gue enggak mau tahu" sergahnya.
Dari kejauhan tadi Feronika memang melihat keributan, dua pemuda itu memotong laju kendaraan Irham sampai-sampai hampir tabrakan.
"Cewek dilarang ikut campur!" hardik satu di antara orang yang sedang bersama Irham.
"Lu enggak tau sekarang sudah emansipasi wanita!" Sontak nada tinggi Feronika membuat pemuda itu mengepalkan kedua tangan. "Apa?"
"Lu, kalau bukan cewek udah gue—" geramnya sebelum meninggalkan tempat.
"Hai chiken tunggu! Mau ke mana?" teriak Feronika hingga orang yang melintas, sepintas menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Feronika menyadari tanduk keluar dari kepala pemuda yang dioloknya tadi.
"Katakan sekali lagi gue mau dengar!" bentaknya setelah berbalik badan.
Mendapat tatapan tajam begitu, Feronika sedikit gentar, dia mundur selangkah sebelum membalas tatapan pemuda tersebut.
"Sat! Satria, udah enggak usah diladeni, kita bisa mati konyol kalau buat keributan di sini!" kata teman pemuda yang kini diketahui Feronika namanya Satria.
Satria tampak menyugar rambut yang sudah berantakan, tetapi tidak mengurangi standart ketampanan. Dia berjalan perlahan memutari Feronika tanpa berniat mengurangi tatapan sinis.
"Lu pasti malu kalau tau apa yang sudah cowok lu lakuin!"
"Cowok gue?" Feronika bertanya sambil menunjuk hidung.
"Sini, ikut gue!" perintah Satria seolah-olah dia sang raja, lalu mengajak temannya. "Pang, lu juga!"
Satria melambai ke salah satu pramusaji. "Pesen empat minuman paling laris di sini," katanya kemudian.
"Sat, lu yang traktir?" tanya temannya yang memiliki panggilan Pang setelah sang pramusaji pergi.
"Gaklah, dia yang bayar." Telunjuk Satria mengarah ke Irham.
__ADS_1
Feronika terdiam sambil bersedekap, dia tidak habis pikir gimana bisa ada orang seantik itu? Lagaknya udah kayak bos mafia aja main perintah, batinnya.