
"Halo ... ya, Ma. Sebentar lagi Nan pulang. Aku sedang mengunjungi Mama Linda dan Papa Nano saat ini. Maaf membuat Mama cemas." Telepon genggam menempel di sisi telinga, Nan masih berjongkok sembari mencabuti beberapa rumput di atas gundukan tanah basah sebab terguyur hujan. Dia menatap kosong selama dua menit sebelum benar-benar meninggalkan pembaringan terakhir orangtuanya.
Hampri tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan Nan dulu, remaja super cuek yang dianugerahi Tuhan dengan paras menawan. Dia, bernama lengkap Lin Qiunan memiliki tinggi seratus delapan puluh delapan. Rambut hitam sedikit bergelombangnya mengopi almarhum sang ayah, sedangkan kulit putih gading dan iris mata berwarna kecokelatan menjiplak almarhumah ibunya. Sejak kepergian mereka, Nan dibesarkan oleh Rindu—wanita berusia tiga puluh empat tahun yang kini dipanggilnya Mama.
Hari ini, Rindu mengatakan ada keperluan mendesak jadi tidak bisa mengantar Andrea ke rumah Sofi. Di saat seperti inilah, sebagai anak sulung harus siaga, karena tidak ada yang akan mengantarkan. Sopir? Tidak ada sopir. Rindu kurang percaya terhadap orang luar, semua dilakukan seorang diri sebelum mengenal Bahtiyar—suaminya. Itu pula penyebab hanya memperkerjakan satu tukang kebun dan ibu paruh baya untuk membantu membersihkan rumah. Begitu tugas selesai kedua pekerja itu diperbolehkan pulang.
Belum lama memarkir motor ke garasi, Nan mendengar teriakan Andrea—adik satu-satunya—hafal betul suara motornya.
"Ayo! Aku tunggu di luar, ya?" Langkah kecil Andrea menjauhi dapur yang terhubung dengan garasi.
"Five minutes ... Kakak siap-siap dulu." Segera Nan menuju ke kamar mandi dan mengganti pakaian—semua dilakukan secara singkat—selain jaket, dia juga menyambar topi yang berada di balik pintu.
Terasa segar setelah hujan, udara panas berganti sejuk, Andrea menarik napas panjang, membiarkan aroma tanah basah menusuk indra penciuman. Butir air di dedaunan tampak berkilau tertimpa cahaya dari celah-celah awan.
"Yuk!" Sekonyong-konyong Nan muncul dari garasi.
"Astaga! Ngagetin aja, ih." Ucapan Andrea ditanggapi Nan dengan senyum dan gelengan pelan.
Dengan sepeda gunung kakak-adik itu menuju kediaman Sofi, tidak memakan waktu lama untuk sampai di rumah teman adiknya.
Rumah Sofi bernuansa hijau, bunga hias menambah kesan asri untuk dihuni. Waktu berlalu dengan cepat. Secepat kerajinan tangan yang Sofi dan Andrea buat. Karena sudah selesai semua, keduanya berpamitan pulang.
Separuh perjalanan Andrea menepuk pundak Nan. Mengisyaratkan agar menepikan sepeda, sambil berkata, "Kak, beli cilok, yuk!"
Nan pun berhenti perlahan dekat penjual di pinggir jalan. Menghampiri salah satu pedagang kaki lima kelas bintang lima, terbukti bukan hanya keduanya yang mengantre. Gerobak oranye itu sampai tidak terlihat karena dikerubungi pembeli.
__ADS_1
"Eh, Mas Nan. Silakan! Seperti biasa, ya?" Rupanya si penjual akrab dengan salah satu pembeli setia.
"Santai, Pak. Sesuai urutan." Tidak logis menyerobot, sedangkan ada yang sudah menunggu lebih dulu, Nan sangat memegang teguh budaya mengantre.
Sambil menunggu pesanan dibuatkan kedua bersaudara itu bercengkerama riang, sesekali Nan memainkan ponselnya, berbalas pesan entah dengan siapa. Andrea merasa diabaikan. Bak detektif, dia mencuri-curi pandang berusaha memastikan.
"Hayo, pacaran, ya?" Terka Andrea tiba-tiba.
Mendengar itu Nan tersedak saliva sendiri, pacaran? Pacar dari Hongkong. Di sekolah saja, dia memilih menyendiri. Hanya satu teman yang dipunya, teman sejak SMP-nya, Renji.
"Tuhkan batuk-batuk! Pantes aku dari tadi dicuekin. Sebel!" Andrea bersedekap sambil mengentak trotoar.
"Hei! Hei! Omong kosong dari mana itu? Ini kakak lagi balas pesan Renji." Kemudian memasukkan ponsel ke saku celana, Nan bangkit dari duduknya lantas membayar pesanan.
Nan berujar, "Lagian kamu masih kecil ngomongi pacaran, belajar yang bener!" Nan tersenyum simpul, tahu apa anak bau kencur soal cinta.
Bagi Nan, keluarga adalah cinta yang paling sempurna. Kenapa bisa begitu? Jika dipikir saat ini rasanya lucu. Dulu sekali, dia pernah menaruh hati kepada teman masa kecilnya, kala itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Terdengar konyol, sampai pada akhirnya di bangku Sekolah Menengah Pertama, dia memberanikan diri mengutarakan perasaan. Diterima, dong, pastinya? Salah! Dia mendapat penolakan. Secara ... ya, alasannya cukup masuk akal, gadis itu berkata ingin fokus dalam menimba ilmu.
Jika diingat-ingat lagi, Nan selalu menjadi guru pembimbing dadakan saat ujian, bahkan ketika mendapat pekerjaan rumah dia yang kerjakan. Dengan harapan cintanya diterima, tetapi ... terkadang keinginan tidak sesuai dengan harapan. Oh, ayolah. Perihal ingin fokus menimba ilmu barangkali hanya alasan belaka. Begitu mengetahui gadis itu dekat sama kapten sepak bola yang pulang pergi mengendarai motor. Berboncengan, mengumbar kemesraan.
Sungguh kelakuan tidak berkehormatan. Hanya karena ... baiklah tidak perlu dibahas lagi. Secara sadar, Nan menjadikan itu alasan kedua dalam mendedikasikan waktunya. Lebih berhati-hati, sesuai semboyan yang membayangi selama ini, lebih baik menghemat energi untuk sesuatu yang lebih berarti. Semisal hubungan asmara, manis menurut kebanyakan orang, tetapi teramat pahit baginya. Kenangan paling menyakitkan, kesan pertama dan cinta pertama yang berhasil menanam luka. Baik lupakan.
"Ckckck! " Nan meniru suara cecak, lantas bergumam, "sakit tiada obat." Gara-gara Andrea memori masa lalu hadir kembali.
"Kenapa, Kak?"
__ADS_1
"Bukan apa-apa, yuk!"
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan, Andrea berdiri di belakang sambil memegang pundak Nan. Begitu sampai tikungan, tiba-tiba sebuah mobil melintas dan nyaris menyerempet, kontan hal itu membuat sepeda oleng. Insiden mencium aspal memang tidak benar-benar terjadi, kaki panjang Nan mampu menjaga keseimbangan agar tetap aman, tetapi tidak dengan Andrea.
"An! Kamu enggak apa-apa?" Ada getaran pada suara Nan, kecemasan tergambar jelas di dahi yang mengerut. Mata Andrea tampak merah, bulir bening sudah membasahi pipi tembamnya.
Andrea melihat luka di lututnya karena tergores ubin trotoar. Cairan kental berwarna merah mengalir, dia pun bergidik ngeri dan menjerit histeris, tangisnya pecah. "Perih, Kak. Aduh, kakiku pataaah!"
Mobil tadi berhenti, seorang pria tinggi tegap berjas hitam turun. Ditatapnya Nan yang sibuk membantu Andrea berdiri, sembari mengeluarkan sesuatu dari saku celana.
"Ini uang kompensasi," tandasnya.
"Silakan bawa kembali! Saya tidak butuh!" Dengan kuat Nan menekan tangan pria tersebut hingga mendarat di dada, matanya menyipit kala menyadari dua orang bergeming di dalam mobil.
"Nik! Tetap di sini!" Jemari besar Doni menekan kuat pundak sang putri ketika hendak membuka pintu mobil.
"Tap—"
"Ini perintah! Biar Pak Lan mengurusnya," pungkas pria di sampingnya.
Tarikan napas dalam terlihat sebelum membuka pintu mobil, dia takpedulikan perintah sang Papi, gadis bermata bulat itu turun begitu saja. "Gue min—"
"Ooh, jadi ini pemilik mobilnya!" hardik Nan tanpa saringan, "sombong sekali, gue gak butuh uang lu!"
Nan sangat marah karena menyangkut keselamatan Andrea. Kalau saja bertemu dalam situasi yang lebih baik, tentu dirinya merasa senang. Bukan hanya senang secara harfiah karena bertemu gadis pemilik sorot mata jenaka, bahkan dia akan ... tunggu! Ungkapan itu hanya berlaku terhadap orang yang telah lama saling mengenal. Perasaan itu tidak mungkin hadir dalam sekejap, tersebab pertemuan singkat.
__ADS_1