Dia, Feronika

Dia, Feronika
Ganteng-ganteng Galak!


__ADS_3

Suara debuman tubuh yang jatuh ke kubangan tersamarkan oleh gemercik air. Sebab lantai basah, seorang gadis terjerembat lantas terjatuh di samping Nan.


Semua terjadi begitu cepat, belum rampung kata-kata Renji. Lima detik yang lalu dari ujung koridor yang berlawanan, gadis itu mendekat dengan tergopoh-gopoh sembari merogoh tas. Karena menunduk, agaknya tidak melihat keberadaan dua murid di pinggir koridor, sehingga dia menabrak Nan.


Selama tiga detik keduanya saling tatap, seperti tenggelam di dalam ruang tanpa waktu. Sunyi. Senyap. Rintik-rintik menggantung di udara, bintik-bintik air menciptakan lengkungan perak yang berkilauan. Jantung Nan dan gadis itu turut berhenti sedetik, hatinya pun tergelitik karena kejadian tidak terduga itu.


Oh Tuhan, tolong hentikan waktu untukku. Indah! Sungguh karya tanpa celah, pujian terlontar dari bibir yang bungkam.


Begitu tersadar, Nan berteduh sambil memegang bahu lantaran berdenyut ngilu, sedangkan gadis itu masih terpaku bermandikan hujan. Khayalan berhasil menghalau suhu tubuh di bawah normal, kendati bibir telah membiru dan raga mulai menggigil.


"Mata lo taruh di kaki, hah?" Tanpa berbasa-basi dalam menyikapi kecerobohannya, Nan meluapkan bara api di dalam dada.


Ketegangan menerjang, gadis bermata bulat itu menelan saliva kasar, kekagumannya berubah menjadi ketakutan karena mendapat tatapan garang.


"Iya, nih, ketutupan sepatu," gumam Feronika—gadis yang hendak dibicarakan Renji sebelum insiden terjadi—mengulurkan tangan meminta bantuan Nan, tetapi tidak disambut baik. Bersama embusan napas kasar, dia mengibaskan tangan di samping badan.


Dasar enggak berperasaan! batin Feronika mengumpat kesal.


Nan mengacak-acak rambut guna mengurangi kandungan air di setiap helai. Barulah mengusap lengan baju dengan tujuan yang sama.


Bergegas Renji memberi bantuan. "Apa lo baik-baik saja, Fer? Ada yang lecet?"


"It'okay." Respons Feronika seraya meraih uluran tangan Renji.


Kini perhatian Renji beralih kepada Nan. "Lu gak apa-apa, 'kan, Nan?"


"Pala lo pitak!" sungut Nan tersebab kondisi ranselnya sangat buruk, setelah dia periksa, buku-buku basah kuyup.

__ADS_1


"Sial!" umpat Nan.


Dengan rasa bersalah Feronika menghampiri. Dia mengatur napas, bibir mungilnya mengerucut bersamaan karbon dioksida yang berembus perlahan.


"Permisi, mau dibantu keringin?" tawar Feronika.


Nan menatap tajam sambil bersungut kesal. "Tau diri juga ternyata. Lu keringin sekaligus salin jawaban gue yang ilang!"


"Okay! Okay! Gue kerjain! Dasar 3G." Buku sudah berpindah tangan, Feronika mendekati kursi marmer dekat kelas dua belas. Jemari lentiknya membolak-balik lembar yang basah.


Hah? Apa dia bilang? batin Nan, dia ingin tahu maksudnya.


"3G?" Nan menyejajari Feronika kemudian menunduk seraya memiringkan kepala menanti penjalasan darinya, kini jarak di antara mereka tidak lebih dari lima belas senti.


Wait! Ini cowok mau ngapain, sih, deket-deket? Feronika membatin.


Spontan Feronika mencondongkan tubuh ke sisi kiri menjauh beberapa senti. Kalau saja cuaca sedang cerah, pipi bersemu merahnya pastilah sangat kentara. Namun, kejailan dalam diri menolak kalah, dia balik menatap penuh intimasi.


Indah, terkutuklah mata yang enggak segera berpaling! Dalam hati, Nan mengagumi gadis di depannya.


"Ganteng-ganteng galak! Puas!" Dipaparkan Feronika dengan intonasi pelan penuh tekanan.


"Ha-ha-ha."


Renji tergelak mendengar pemaparan Feronika, sedangkan Nan mati-matian bersikap normal sambil menahan senyuman. Gemas bukan kepalang.


"Garing!" celetuk Nan.

__ADS_1


Mata bulat Feronika mengerling sebelum berkata dan menekuri buku, "Canda, ah. Sensi amat! Eum ... BTW gimana mau salin, tulisan lu luntur semua."


"Mene ketehe," sahut Nan dengan gaya bahasa dibuat-buat yang memiliki arti mana kutahu. "Gue mau besok selesai!" imbuhnya.


Feronika melebarkan mata. Bukannya tidak mau, melainkan ragu, bisakah pemuda ini membaca hasil rangkumannya. Kerumitan tulisan dokter tidak sebanding dengan hasil coretan Feronika. Dia gigit bibir bagian dalam, menimbang-nimbang sesuatu. Lalu, memasukkan buku-buku itu ke dalam tas lantas pergi tanpa pamit.


Tidak bermaksud bersikap kurang sopan, Feronika terpikirkan papinya yang sudah lama menunggu.


"Nan, yakin lo suruh dia yang kerjakan?" Renji berbicara sambil menatap langkah Feronika yang kian menjauh.


"Why not?"


"Ya, ampun ponsel gue." Samar terdengar celoteh Feronika sembari memeriksa telepon genggamnya. Dia tidak pedulikan kedua orang yang sesaat lalu bersamanya.


Seorang pria paruh baya mematung di teras sekolah sambil membawa sebuah payung. Dilihat dari punggungnya pun Feronika tahu siapa itu.


"Maaf, ya Pak Lan, jadi nunggu lama," kata Feronika begitu berdiri di samping pria itu.


"Kalau saya tidak masalah, Non, tapi Tuan—"


"Ya, ya, ya, aku tau," potong Feronika.


Alis pria paruh baya itu mengerut, sebelum sempat berkata lagi Feronika menjelaskan. "Tadi aku terpeleset, jadi basah, deh."


Feronika bergegas mengambil payung dari tangan pria tersebut, lantas menerjang hujan yang menyisahkan rintik-rintik jarang.


"Kita sudah terlambat dan kamu—ya ampun, Nik!" keluh seorang yang duduk di dalam mobil.

__ADS_1


"Maaf, Pi."


"Cepatlah! Karena ini kita harus ke butik dulu," kata papi Feronika.


__ADS_2