
Helaan napas terdengar cukup keras saat Feronika mengembuskannya, dia bukan seseorang yang biasa sabar menunggu penjelasan, "Jadi, apa?"
"Gini, pertama-tama gue harus tau dulu nama dan nomor hp kalian sebagai jaminan," pungkas Satria lalu menjabat tangan secara formal, "Gue Satria, ini Ipang."
Mereka saling berjabat tangan sambil menyebut nama masing-masing.
"Irham."
"Feronika," ucap Feronika sedikit bergumam, nyaris tidak terdengar.
"Siapa? Ferosotan?" ulang Satria dengan ejaan yang salah, tidak dibuat-buat sebab suara kecil gadis di hadapannya memang terbawa angin.
Bola mata Feronika berputar tanda jengah, lalu mengulang kembali. "Feronika," teriaknya sampai memancing perhatian beberapa orang yang lewat.
"Biasa aja, dong, kita gak budek," keluh Satria.
Langit makin pekat, Feronika menatap lekat kafe di seberang sana, tetapi Nan masih belum terlihat juga. Dan, sekarang Feronika terjebak—menjebak diri sendiri— di sini hanya untuk menunggu yang— "Jadi kenapa?"
__ADS_1
"Silakan, Kak."
Pramusaji datang sebelum Satria menjawab pertanyaan Feronika. "Sebentar gue minum dulu, menjelaskan juga butuh tenaga."
"Terima kasih," sahut Ipang, mempersembahkan senyuman. "Bagi nomor hp, dong, Mbak," godanya. Pramusaji itu tersenyum malu-malu sambil berlalu.
"Demi apa pun, Rham, ada apa, sih?" tanya Feronika gerama kepada Irham. Kenyataan sesungguhnya tidak sabar ingin tahu duduk persoalan yang menimpa anak sang asisten rumah tangga.
Bukannya langsung menjawab, Irham malah terlihat kikuk. Dia tampak begitu gugup bahkan mulut yang sudah terbuka menutup lagi.
Feronika beralih ke arah Ipang, pemuda itu pun sama saja dengan sang teman. Menikmati minuman dingin dengan amat tenang. Seolah-olah tadi tidak ada yang terjadi. Akhirnya, Feronika menyerah dan meninggalkan ketiganya.
"Terserah!" Feronika tidak peduli sampai pergelangan tangan diraih oleh seseorang dan bunyi klakson kendaraan mengagetkan.
"Woi, Mbak kalau mau nyebrang lihat kanan-kiri," sergah pengendara itu.
"Maaf, maaf."
__ADS_1
Feronika pun menoleh ke belakang dan mendapati Satria berdiri di sana sambil memasang wajah sok pahlawan.
"Ucapan apa yang bisa gue dapat?" tuntut Satria tanpa mengalihkan tatapan songong dengan bibir mengulas senyum miring sekilas.
Jemari lentik Feronika mengepal erat-erat, merasa terintimidasi. Kalau diamati lebih teliti, pemuda di hadapannya kini bukan orang sini. Karena marah lama-lama bukanlah karakter aslinya, Feronika memilih menurunkan egonya dan berucap, "Terima kasih."
"Tuh, minum dulu biar kagetnya ilang!" perintah Satria.
Feronika pun kembali duduk di dekat Irham lantas meraih gelas yang masih penuh, dia membuang sedotan merah itu lalu menenggak separuh isinya.
Kedua pemuda yang baru dikenalnya memandang heran, kecuali Irham karena sudah mengenal kepribadian Feronika. Seperti sebelum-sebelumnya, dia tidak ambil pusing tatapan-tatapan seperti itu.
"Gini, ya, setelah gue amati, di antara kalian, Feronika sepertinya lebih beruang," celetuk Satria asal yang memperoleh pelototan dari Ipang.
"Sat, lu udah gila, ya?" bisik Ipang, seolah-olah sang teman sudah membuat kesalahan fatal.
Satria menyikut perut Ipang sebelum menekankan. "Udah, lu diem aja!"
__ADS_1
Beruang? batin Feronika lalu menoleh ke arah Irham. Mungkinkah masalah sang teman ini berhubungan dengan uang? Apa Irham kalah taruhan? Tidak-tidak, selama ini Syahiddah membesarkan anaknya dengan sangat bersahajah. Jadi, kecil kemungkinan berbuat onar.