Dia, Feronika

Dia, Feronika
Okay, Three, Two, One, Go!!!


__ADS_3

Kali ini bukan Road race yang diadakan seperti biasa-biasanya. Feronika mendapat tantangan secara pribadi dari peserta yang tidak bisa menerima kekalahan tempo hari. Dia bilang Feronika curang, padahal yang benar Ardig—peserta itu tidak dalam kondisi yang baik-baik saja saat berkendara. Betapa beruntungnya karena tidak mengalami cedera parah.


Awalnya Feronika biasa saja dan berniat mengabaikan celotehan si Ardig, tetapi secara sengaja motor kesayangannya digulingkang. Dengan kata lain diperlakukan amat buruk hingga masuk bengkel.


Hal itu cukup menyulut api yang berusaha Feronika cegah agar tidak berkobar. Namun, nyatanya nyaris mustahil. Karena saat ini, gadis pemilik sorot mata jenaka itu berdiri tegak untuk menyelesaikan perselisihan sampai ke akar-akarnya. Memang sedikit terlambat mengingat ada peristiwa tidak terduga, menyangkut sahabat baiknya.


"Nik, lu harus hati-hati." Seorang teman mengingatkan sambil menepuk kuat pundak Feronika, sebagai balasan mendapat acungan ibu jari.


Saat mengikuti road race, Feronika memakai identitas samaran. Tidak ada yang tahu kalau dia adalah perempuan sebab beberapa teman memanggil namanya—Fero atau Nik. Ketika berada di lokasi balap, helm selalu menutup jati dirinya.


Kedua kedaraan bermotor itu menderu keras ketika pengemudi mengegas. Asap keluar dari knalpot yang panas. Sorak-sorai penonton memekakkan telingan.


Feronika mengencangkan perekat sarung tangan yang ada di pergelangan, kemudian menoleh sekilas ke arah lawan. Dan, mendapat balasan acungan jari tengah, bentuk provokasi agar memantik rasa marah.


"Okay, three, two, one, go!!!"


Jalur yang digunakan balapan sekarang terletak di jalur lingkar barat daerah sempat. Banyaknya jalan berlubang tidak lantas membuat keduanya mengurangi laju kendaraan. Feronika jauh memimpin sebelum ada putar balik di pertigaan jalan.

__ADS_1


Pada balapan kali ini bukan uang yang dicari, melainkan harga diri. Baik Feronika maupun Ardig sama-sama melaju kencang tidak pedulikan keselamat.


Garis akhir sudah di depan mata keduanya, sampai sesuatu terjadi pada salah satunya. Nasip sial menjatuhkan motor merah metalik itu hingga terperosot ke parit.


"Niikk!!!" seru mereka panik. Beruntung parit itu merupakan area persawahan yang dangkal dan berlumpur.


Memalukan! umpat Feronika dalam hati. Sambil mengangkat tinggi-tinggi telapak tangan terbuka, tanda bahwa dirinya baik-baik saja.


Irham menghampir dengan tergesa-gesa, "Nik, kok, bisa jatuh?"


"Kita ke Klinik, sekarang! Gawat kalau di badan lu ada biru-biru. Irham mengangkat Feronika sambil ngedumel.


"Aman," kata Feronika sebelum mengaduh, "aa-aduh." Keningnya mengerut masam menahan sakit di balik helm.


"Sebelah mana yang sakit?"


"Pergelangan kaki, Rham, gue rasa cuma terkilir aja, tapi—sumpah sakit banget, gue gak bohong."

__ADS_1


Beberapa teman yang lain membantu mengamankan motor Feronika, sedangkan Irham membopongnya ke salah satu mobil di sana lalu membawanya ke klinik terdekat.


"Rham gimana masalah lu, udah beres?"


"Udah, ibu itu lecet dikit di bagian siku. Ternyata bukan asli sini, mereka dari—ah, gue lupa," papar Irham sembari mengingat-ingat, tetapi gagal. "Pak Doni di LN lama?"


"Entah, semoga aja. Kalau enggak—" Feronika bergidik ngeri, dia kini sudah melepaskan pelindung kepala. Bersyukur tidak ada memar-memar di wajah.


"Minum dulu, Nik."


Irham terlihat membukakan sebotol air mineral lalu membantu Feronika dengan menahan punggungnya.


"Terima kasih."


"Itu tadi kecelakaan?"


"Aku enggak tau, Rham. Kejadiannya cepat banget, tapi memang jalan di Jalibar enggak rata, kan."

__ADS_1


__ADS_2