
...HAPPY READING...
...****...
...***...
...**...
...*...
"kamu pulang aja ganta aku bisa sendiri,"ucap tara tidak enak hati pasalnya setelah makan ganta masih menemaninya dirumah sakit.
"Tunggu ayah kamu dateng aku pulang,"jawab ganta tak melepaskan pandangan dari buku pelajaran yg ia baca sesekali membenarkan letak kacamatanya yg merosot.
"Gausah ganta kamu pulang aja kamu pasti capek,"ucap tara berusaha meyakinkan ganta namun ucapannya itu hanya diabaikan oleh ganta.
Menghela nafas pasrah tara menyenderkan kepalanya di sisi ranjang, detik berikutnya tara dan ganta terlonjak kaget mendengar dobrakan keras dipintunya.
Brakk...
Seorang laki-laki datang dengan sempoyongan sembari memegang botol minuman yg tara yakini adalah alkohol,
"P-pah,"
Brakk....
galdi menendang ranjang rumah sakit tara sehingga ranjang tersebut sedikit tergeser.
Menetralisir kan wajahnya tara sedikit meremas selimut yg ia gunakan takut ayahnya macam-macam mampu membuat dia panik kalang kabut apalagi melihat ganta hanya memperhatikan galdi sedari tadi.
"Apaan sih pah dateng-dateng gajelas,"ucap tara berusaha bersifat biasa saja pada ayahnya
"Kamu itu yang gajelas!,mana uang kamu??,sini!,saya nunggu kamu dari tadi kamu gatau hah?!,saya kelaparan dirumah!, dan kamu enak-enakan tidur disini!,"
Ternyata tara kembali berekspektasi terlalu tinggi tara kira ayahnya akan mendatanginya dengan raut khawatir namun itu hanya angan-angannya saja, ternyata ayahnya datang kesini hanya untuk meminta uang.
__ADS_1
"Maaf,"hanya itu yg mampu tara ucapkan ia rasa itu juga salahnya sebab membiarkan ayahnya kelaparan.
Prang...
Galdi dalam posisi tidak sadar membanting botol minumannya sehingga botol itu pecah tak berbentuk.
Memperhatikan minumannya yg tidak berbentuk galdi terkekeh sinis sampai pandangannya terhenti pada sosok ganta yg sedang duduk menatap kearahnya di sofa.
Galdi tertawa keras sembari sempoyongan tidak jelas menunjuk kearah ganta.
"Kamu?,kamu yg bawa beat itu kan?,hahaha!,emang bodoh pilihan tara masak nyari cowok culun kayak kamu udah miskin kacamata Segede gaban dan satu lagi poni kamu lucu hahaha! Bikin saya enek!,"
"Papah!,"tara turun dari ranjangnya walaupun kepalanya berdenyut hebat tidak ia pedulikan tara melepas infusnya agar mudah menggapai tubuh papahnya,argh sial sakit banget.
Galdi tertawa remeh "kok kamu diem aja anak muda?,kalian berdua emang cocok yg satu culun yg satu ******!,"
"Papah!,"tara menarik galdi susah payah agar menjauh dari ganta bau alkohol menyeruak dikala ia mendekati ayahnya.
"Woy kamu!,sini uang kamu tara saya mau makan saya kelaperan dari tadi kamu malah enak enakan disini,"
Galdi melirik tara sekilas lalu pandangannya tertuju pada tas milik tara yg tergeletak di meja samping ranjang rumah sakit detik berikutnya galdi merampas tas tersebut merogoh tas itu mencari sesuatu,setelah berhasil mendapat beberapa uang berwarna merah galdi tersenyum lebar,"
"Pah jangan semua itu buat besok-besok juga,"tara berusaha merebut uang tersebut pasalnya ia baru saja gajihan minggu lalu dan uang itu untuk memenuhi kebutuhannya satu bulan jika tidak ada uang itu bagaimana ia dan ayahnya bisa makan.
Galdi tertawa keras "ternyata kamu punya banyak uang ya ada untungnya juga kamu jadi ******,besok-besok layanin temen saya pasti kita kaya mendadak,"
"PAPAH!,'teriak tara keras hatinya cukup sakit mendengar kata jalan keluar dari bibir ayahnya ia berkerja siang malam untuk uang itu dengan mudahnya ayahnya mengatakannya ******,"
Galdi melempar tas tara yg sudah kosong dan hanya tersisa ponsel tara "kamu beruntung karena saya tidak ambil ponsel kamu,kalo saya ambil kamu gabisa menghubungi para lelaki yg kamu layani nanti,"galdi mengipas-ngipaskan beberapa uang berwarna merah tersebut.
"Pah jangan diambil semua uangnya,"tara mulai pasrah karena kekuatan galdi sangat besar.
Galdi berjalan sempoyongan tidak memperdulikan tara yg memohon-mohon galdi melangkahkan kakinya keluar ruangan tersebut tidak lupa ia mengucapkan beberapa kata sebelum pergi "hei kamu laki-laki culun kalo mau sewa anak saya jual dulu beat kamu baru cukup buat sewa tara ya,saya cuman ngasi tau,"detik berikutnya punggung galdi sudah menghilang keluar ruangan setelah melambai - lambai tidak jelas.
Tara terduduk di ranjang bagaimana nasibnya sekarang menetral kan ekspresinya yg hampir saja tangisannya pecah saat itu,tidak dia sudah berjanji untuk tidak menangis.
__ADS_1
Ganta berdiri berjalan kearah ranjang tara,tara yg melihat itu langsung menatap ganta takut,apakah perkataan ayahnya menyakiti ganta?,apakah dirinya dimata ganta akan menjijikan seperti dirinya dimata ayahnya,
Apakah ganta menganggapnya ******?,pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi isi kepala tara.
"Ganta a-aku minta maaf sama ucapan ayahku tadi,"tara meraih tangan ganta untuk ia genggam namun ditepis kasar oleh ganta.
"Ganta aku bener-bener minta maaf yg diucapin ayahku gabener,"tara sangat takut sekarang ia takut ganta menganggap drinya ******.
Ganta hanya diam tangannya bergerak memencet tombol disamping ranjang tara,tidak menunggu lama seorang suster masuk keruangan tersebut.
"Selamat malam ada yang bisa saya bantu?,"tanya suster itu ramah.
"Infusnya lepas,"ucapan ganta membuat perhatian suster itu teralih pada infus tara yg terlepas dari tangannya.
Suster itu tersenyum ramah "baik saya perbaiki dulu,"suster itu mulai memasangkan infus itu pada tangan tara kembali "lain kali lebih hati-hati ya infusnya jangan sampai lepas lagi,"suster itu berucap setelah selesai memasang infus pada tangan tara.
"Iya sus terimakasih," ucap tara tersenyum pada suster itu.
"Baik saya tinggal dulu,"setelah mendapat jawaban dari tara suster tersebut berlenggang pergi dari sana.
Tara kembali menatap ganta was-was,
"Ganta aku ben--"
"Aku pulang,"ucap ganta memotong ucapan tara meraih tas dan bukunya ganta berlenggang pergi sebelum pergi ia mengucapkan sesuatu pada tara.
"Kalo laper panggil suter!, untuk makan pasti teratur 3 kali sehari disini, bukan 1 kali sehari"ucapan ganta mampu membuat tara tersedak ludahnya sendiri sedikit tersindir dengan ucapan ganta.
Menghela nafas kasar setelah ganta pergi tara yg terduduk diatas ranjang menjatuhkan kepalanya pada lututnya,pikirannya melayang kemana-mana berusaha menahan isakan yg keluar dari mulutnya tara meremas kuat selimut yg ia gunakan.
"ARGHHHH!!!,"tara beeteriak frustasi menjambak rambutnya sendiri bahkan ia memukul-mukul kepala dirinya,tidak ia tidak menangis buktinya ia tidak mengeluarkan setetes pun air mata dia hanya melampiaskan semuanya pada dirinya bukan pada tangisan lemah seorang tara argamtana.
Sekarang masalahnya bertambah,bagaimana cara ia membayar sewa rumah sakit?,dimana ia mencari uang selanjutnya untuk bertahan hidup sebulan?,gajihnya pasti dipotong karena tidak berangkat kerja ,dan satu lagi apakah ganta membenci dirinya kali ini ia sadar ucapan ayahnya pasti menyakiti hati ganta dan dia takut ganta mempercayai ucapan ayahnya dan berpikir jika tara ****** menjijikan sama seperti mendiang ibunya dulu.
Tbc
__ADS_1