
HAPPY READING
*****
****
***
**
*
Sudah satu malam tara menginap dirumah sakit setau dia besok dia sudah boleh pulang tapi masih ada beberapa hal di otak nya yg membuat dirinya bingung.
Tara memilin ujung bajunya melirik suster yg sedang sibuk mengganti infusnya
"P-permisi sus,"dengan gugup tara membuka suara.
"Iya ada yg bisa saya bantu?,"suster yg sedang sibuk mengganti infus milik pasiennya itu menoleh pada tara.
"E-hm s-saya kan sudah menginap disini semalaman t-tapi kenapa saya belum ditagih biayanya ya?,"tara meringis belum siap mendengar apa yg akan dikatakan suster itu,berapa biaya yg akan ia bayar?,sedangkan uangnya sudah habis diambil sang ayah.
Suster itu mengerutkan dahinya bingung berusaha menangkap ucapan pasien detik berikutnya ia terkoneksi oleh ucapan tara "owh maksud anda untuk biaya rumah sakit ya?,"
"I-iya itu,berapa ya?,"
"Itu mah sudah dibayar kak,"merasa kurang enak memanggil pasiennya ibuk setau dia pasiennya masih muda,lebih baik ia memanggil dengan embel-embel kakak.
Tara membelalakkan matanya tak habis pikir "sudah dibayar?,k-kok bisa?,"
"Saya juga kurang tau,setau saya pemilik rumah sakit ini membebasi biaya kakak,"
"Pemilik rumah sakit?,siapa ya sus?,"tanya tara masih kebingungan siapa orang baik yg membantunya.
"Kalo untuk itu saya tidak bisa beri tau karena pihak rumah sakit menyuruh saya merahasiakan ini,maaf sekali lagi,"suster itu menunduk sopan pertanda meminta maaf.
__ADS_1
"O-oh gapapa sus,tolong sampaikan ucapan terimakasih saya ya sama pemilik rumah sakit ini,"ucap tara sedikit tidak enak karena membuat suster itu meminta maaf.
"Baik kak,kalo begitu saya permisi,"setelah mendapat izin sang pasien suster itu berlenggang pergi meninggalkan tara yg sedang kalut dengan pikirannya.
"Siapa yg bayar rumah sakit gue ya?,"gumam tara seorang diri detik berikutnya ia mengehela nafa lalu mengambil ponsel nya lebih baik ia bermain ponsel daripada memikirkan semua hal yg sudah terjadi.
_ _ _
Menghirup udara sekolah pagi-pagi tara melangkah memasuki gerbang sekolah itu,akhirnya ia dapat sekolah kembali,ia berjalan dikoridor sembari bersenandung kecil pada akhirnya ia menemukan siluet seorang pria yg sangat ia kenali,menari nafas lalu senyum merekah dibibirnya.
"GANTAAAAA!!!!,"tara berteriak melengking sembari berlari kegirangan menuju ganta,sedangkan ganta yg dipanggil hanya menghela napas dikala tara bergelayut manja pada dirinya.
"Ganta makasih ya udah anter aku ke rumah sakit kemarin,"gumam tara sembari begelanyut meski tak mendapatkan respon dari ganta.
"Oh iya kamu tau ga kalo ada orang baik bayarin biaya rumah sakit aku,"kembali hening,sudah biasa berbagai ucapan yg tara keluarkan hanya diacuhkan oleh ganta dan tara pun hanya memaklumi, bisa ada didekat ganta saja dia sudah bersyukur.
Mereka berdua memasuki kelas beriringan mengabaikan tatapan para penghuni kelas,mereka duduk ditempat duduknya dengan ganta yg langsung menyabet bukunya dan membaca serius buku penuh rumus itu sedangkan tara hanya diam menatap ganta sembari bertopang dagu.
"Adehhh udah kayak pindang yg ga bisa dibelah dua menyatuuu terus!!!,untung sama-sama jelek jadi cocok,"
"Kalo kalian nikah jangan lupa undang gw ya,gw pasti dateng,gw bawa hadiah ****** deh biar kalian kalo main ****** si ganta ngga berkembang HAHAHAHA!,kasian gw kalo mereka punya anak nanti sejelek apa orang tua nya aja jelek gimana anaknya,"cacian zanda membuat para penghuni kelas ikut tertawa keras,
Tara menarik nafas kuat-kuat menatap zanda nyalang,
"Woy!,janda anak dua!,lo yg harusnya sadar diri muka kaya tante-tante sewaan aja belagu!,kalo lo nikah undang gw juga ya,gw mau hadiahin lo kaca biar bisa ngaca kalo make up lo tuh belepotan!,"
Zanda mebelalak dengan mata yg membulat ia mengambil kaca didalam tasnya memperhatikan pantulan dirinya dicermin, sempurna baginya tidak ada yg salah dengan make up nya,zanda menatap tara nyala yg sudah cekikikan tidak jelas sedangkan para penghuni kelas ikut menahan tawa tidak mereka tidak berani tertawa jika ketahuan tertawa habis sudah mereka menjadi bahan bulyan zanda beserta geng nya.
"Gimana tante janda?,lipstik lo ketebelan noh,"guman tara lagi menatap zanda bermimik kasian.
"TARA SIALAN!berani lo nipu gw,muka gw cantik gini lo bila kayak janda,nama gw zanda ya! Bukan janda bibir lo!,habis dicipok ya?sampe ngomong aja belepotan!,"
"Ngga kok emang bener lo kayak janda,semua orang juga tau kok cuman takut aja bilangnya nanti lo ngamuk mereka dipelintir sama lo,bener kan?tante janda,"
Prangg
__ADS_1
"SAKIT BANGSATT!!!,"teriak tara melengking dikala zanda melempar kaca yg dipegang ke kepalanya.
Zanda berdiri melangkah angkuh menuju meja tara tak lupa diikuti dengan 2 antek-antek nya yg bernama moza dan sila.
Tara tak mau kalah ia juga berdiri dikala zanda berada didepannya dengn kedua anteknya.
"Apa lo!,beraninya keroyokan!,"tantang tara.
Tak tunggu lama zanda menarik kuat rambut tara membuat tara memekik keras.
"Woyyy anjing sakit,apaan sih kalo mau gelut ayo tonjok-tonjokan jangan kaya gini lembek,"tara yg merasa jambakan zanda semaki kuat langsung menghadiahi zanda dengan tendangan kuat dikaki kirinya yg mampu membuat zanda tersungkur dilantai.
Zanda yg tidak terima langsung berdiri dibantu kedua temannya
"Sialan!,guys seret dia!,"titah zanda pada kedua temannya.
"Woyy lemah amat keroyokan,ini juga anteknya zanda mau aja dijadiin babu,"tara berucap santai.
"APA LO!,BERANI LO SAMA GW HAHH!!???!,"
"APAA??,LO PIKIR GW TAKUT?,SAMA MANUSIA SPEK JANDA ANAK DUA,"
"ANJING,LO MAU MATI HAH!??,"
"MAUU GW MAU MA-,"
"Tara udah,"tara yg mendengar suara tersebut langsung berbalik menatap orang yg bersuara tak diduga ternyata ganta lah pelakunya.
Tara yg melihat ganta sudah dibelakangnya tersenyum manis,namun hendak saja tara kembali melayangkan umpatan pada zanda tubuhnya sudah terhuyung dengan cekalan di pergelangan tangannya,apa-apaan ganta menarik tara keluar kelas mampu membuat tara memekik kegirangan.
"WOYY! MAU KABUR LO?,DIH BELAGAK MAU GELUT UJUNG-UJUNGNYA KABUR!,"teriakk zanda yg masih bisa dilihat dan didengar oleh tara.
"BYE BYE JANDA, SKIP DULU GELUTNYA MAU NGEBUCIN NIHH,"tara melambai-lambaikan tangannya menghadap belakang sembari berjalan mundur karena ganta masih menarik kuat pergelangan tangannya.
Tbc
__ADS_1