Diari Depresiku,

Diari Depresiku,
5.Menangis Tampa Suara.


__ADS_3

°°Di dalam kamar °°


Apa lagi yang salah?


Kenapa aku selalu salah dimatamu?


Akhirnya air mata yang sempat terhenti tadi mengalir lagi.


Sambil bersandar di dinding pojok tempat tidur,merenung memikirkan nasib diri yang tak pernah dihargai.


Meski ini bukan yang pertama kalinya kata kata pahit seperti ini dilemparkan kepada nya,


Tapi tetap saja menyakitkan buatnya.


Hampir 2 tahun tinggal dengan ibu Elis,tapi sikap nya lama kelamaan semakin tidak baik dengan Nara.Setiap hari selalu saja ada yang salah dimatanya.


Tapi berbeda jika didepan orang lain.


Nara dianggap selayaknya anak kandung sendiri.bahkan kadang sering dipanggil dengan sebutan Annakku jika didepan tetangganya atau ada saudarah yang datang kerumah.


Perlakuan buruk dan tekanan yang setiap hari diterima Nara,semakin hari semakin membuat Nara murung,suka mengurung diri,dan selalu menangis.


Akibatnya sudah 2 kali Nara mengalami gangguan penglihatan.Matanya menjadi kabur dan susah melihat,kepalanya juga akan sakit hingga mengalami muntah muntah.


Dan karena sikap pendiamnya,Nara tidak pernah memberitahukan tentang sakitnya.


Bukan tidak pernah,Nara sangat mengerti dengan sikap ibu Elis.kepedulian yang tidak pernah ada buat dirinya,Rasanya percuma saja diberi tahu.palingan dia cuma akan bilang;


Aduuuhhh,,,


Jadi orang tu jangan cengeng deh,


Sakit dikit aja,udah kayak mau mati gitu.


palingan dikasih obat juga sembuh,


Atau kalau tidak,


Alahh, Palingan itu cuma alesan kan biar nggak disuruh suruh.


Aku tu tahu banget yang ada difikiran kamu itu,,,


Tapi berbeda keadaannya jika Ivan yang sakit,


Dia akan sangat memanjakan Ivan.


Bahkan waktu anaknya itu bilang kalau dia pusing,Ivan akan lansung disuruh libur sekolah.walau waktu itu sedang ada ujian disekolah.

__ADS_1


Ibu Elis faham sekali kalau Nara sangat takut makan yang namanya obat,Jadi itu alesannya Kalau Nara sakit akan dipaksa minum obat.


Atau nggak ya selesaikan semua kerja rumah seperti biasa.


Nara yang tidak bisa berbuat apa apa ya terpaksa harus mengikuti semua kehendak ibu elis itu.


tok tok tokkk...


"Kak Naraaa


Buka pintunya dong,tidur ya didalem?"


Seketika lamunan Nara terhenti mendengar suara yang sangat dikenalinya dari luar kamar.cepat cepat mengusap kedua pipinya yang masih ada air mata yang tersisa.


"Iya, iya din,,,


Ternyata itu suara Dini.


Nara lupa,kalau tadi waktu pulang Dini bilang akan main kerumah nya.


"Duh,lama amm...at sih???


Seperti biasa berdiri didepan pintu,dengan senyum manis yang mariasi wajah nya.


Tapi hilang seketika ketika melihat mata sembab Nara.


"Dimarahi lagi?kata Dini memandang kesal ke Nara.


"shutttthh,jangan keras keras!


Kita bicara di belakang saja!"


kemudian menarik tangan Dini menuju keluar dari kamar.


Sekilas melihat ibu Elis yang ada diruang tamu,dia sedang sibuk mensuapi makan siangnya Nola.


Nara dan Dini berjalan terus kabelakang karena takut semua obrolan nya akan didengar.Bisa bisa nanti masalah lain lagi yang timbul.


"Kenapa lagi sih kak,tu nenek sihir nggak ada habis nya ya tiap hari kerjaan nya marah terus? Ini lagi,pasti tadi habis nangis lagi kan?"


sambil mengangkat dagu Nara dengan kesal.


"Kakak nggak capek ya,nangis lagi nangis lagi, tu mata lama lama bisa buta tau nggak?


katanya lagi dengan sedikit emosi.


"Terus aku harus apa senang? ketawa gitu?

__ADS_1


dan bilang ke dia, makasih ya bu udah marah marah.aku tu bahagia banget begini tiap hari."


"Atau nggak bilang kedia gini aja kali ya:


Anda nggak usah marah marah ya ke saya,emang anda fikir anda itu siapa?


Yang ada aku tu bakalan diusir dari sini"


jelas Nara sudah mulai sedikit tersenyum.


"Ya nggak gitu juga kali,kayak


orang berani aja ngomong begitu"jawab nya dengan sewot.


Nara senyum senyum sendiri melihat tingkah sahabat nya itu,kan aku yang dimarahi,kok dia yang sakit hati sih?


Dini yang dari tadi membelakangi nya menoleh seketika,dan mendapati Nara yang tengah senyum senyum menjadi bertambah sewot.


"iiihhhhh,orang lagi kesal juga,ngapain senyum senyum?


"Udah deh,mendingan kamu itu duduk.


Aku tu capek tau dari tadi lihat kamu tu ngomel mulu."


"Eh tadi kamu ngomong apa?


Kamu bilang dia Nenek sihir ya?


Aku bilangin ntarr ke dia mau?"


Biar sekalian disirhir jadi monyet."


Nara mulai mengusili Dini.


"Tapi din,dia itu emang kayak nenek sihir sih."


kata Nara lagi.


Kemudian kedua nya sama sama ikut tertawa,mendengar usikan Nara.


"Tapi kak,mau sampai kapan kakak bertahan hidup seperti ini?sambil menoleh ya ke Nara


tawa yang tadinya ada,menjadi hilang seketika dengan adanya pertanyaan tadi.


"Sampai kapan?


Aku juga nggak tahu,mungkin sampai hati aku bilang Stop sudah cukup, dan saat itu aku sudah siap untuk mengakhirnya aku akan berhenti,mungkin."jawab Nara lagi sambil tersenyum ke Dini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2