Diatas Langit Masih Ada Author

Diatas Langit Masih Ada Author
Hewan Buas


__ADS_3

"Clara... Aku tau kamu disitu sayang" kata Author lewat ponsel


Brian sepertinya masih belum bisa mempercayai, karena suara itu bukanlah sebuah rekaman. Seringkali ponsel mainan dilengkapi dengan suara rekaman seseorang agar mainan terlihat lebih nyata dan menarik. Tetapi orang itu mengenal Clara.


Dengan memberanikan diri, Brian bertanya "Siapa kamu?"


Author terkejut "Eh? Kok suara cowok? Siapa ini? Berani-beraninya kamu tanya siapa aku? Aku tanya balik... Siapa kamu? Kamu apain Claraku?" tanya Author


"Clara aman di apartemennya. Aku tanya sekali lagi, siapa kamu?" tanya Brian


"Aku yang tanya sekali lagi... Siapa kamu? Jangan sampai kamu menyesal seumur hidupmu" kata Author


"Aku Brian, siapa kamu?" tanya Brian


"Oooo... Kamu Brian... Karakter kedua yang sama menyusahkannya dengan karakter utama" kata Author


"Jadi kamu yang menyebut dirimu Author?" tanya Brian


"Dan kamu akan menyesal, kalo namamu pernah muncul dan tertulis dalam novel ini" kata Author


"Maksudmu apa?" kata Brian


"Artinya kamu nggak bisa kabur kemana-mana..." kata Author dan telpon pun terputus.


Brian tersenyum licik, dan mengatakan "Hmm, jadi begitu cara Clara menghubungi Authornya... Clara memang bodoh... Kalau aku jadi dia, aku tidak akan menaruh benda ini di dalam brankas, melainkan aku akan meletakkannya bersama dengan mainan lain, sehingga orang lain tidak akan curiga hahahaha... Clara memang bodoh... Sekarang dunia ini jadi milikku hahahahah..." tawa Brian puas


Prang... terdengar suara piring yang pecah yang berasal dari dapur Brian yang membuatnya terkejut.


"Siapa itu?" tanya Brian


Brian perlahan-lahan berdiri, dan mengambil sebuah pentungan untuk menjaga dirinya. Dalam keheningan, selangkah demi selangkah, Brian mendekat ke arah dapur dengan memegang sebuah senjata yang siap untuk digunakan.


"Semoga saja cuma kucing" kata Brian sambil terus mendekat.


Kucing? Hmm... Tadinya Author akan menakut-nakuti Brian dengan hantu. Tetapi Author tiba-tiba mendapatkan ide dengan memunculkan seekor kucing. Bukan kucing biasa, tapi kucing yang 'besar'.


"Gggrrrrrrr!!!" terdengar suara yang berat, dengan frekuensi nada yang sangat rendah, namun menggema.


Brian terkejut dan keringatnya bercucuran, menyadari bahwa ada yang salah, dengan apa yang akan dia hadapi. Tanpa bersuara sedikitpun, Brian berusaha melangkah mundur.


Dia sama sekali tidak berani untuk melakukan gerakan yang akan menimbulkan suara yang menarik perhatian.


Semua lampu yang sudah dimatikan, membuat Brian kesulitan untuk melihat dalam gelap. Brian hanya mengandalkan cahaya bulan yang masuk melalui jendelanya, dan memanfaatkan daya ingatnya tentang denah rumahnya. Dimana dia mengetahui dengan pasti, posisi perabot rumah dan pintu keluar yang akan dia tuju.

__ADS_1


Walaupun penglihatan Brian benar-benar terbatas, tetapi kegelapan tidak masalah bagi seekor 'kucing'.


Perlahan-lahan Brian mendekat ke arah pintu keluar, dan meraba-raba untuk membuka kunci.


"Sialan... dimana kuncinya? Kenapa Kuncinya tidak tertancap di pintu?" gumam Brian


Dengan menggunakan daya ingatnya, Brian ingat jika tadi sore, dia meletakkan kuncinya di atas keranjang kecil, tempat semua kunci diletakkan.


Kricik... Kricik... Dengan berhati-hati Brian mencari dimana kunci pintunya, karena terdapat banyak kunci di satu tempat.


"Ah.. Aku dapat kuncinya" gumam Brian


Kecepatan tidak akan berguna di situasi seperti ini. Yang diperlukan adalah ketenangan, tapi juga tidak bisa terlalu pelan. Karena jika terlalu pelan, malah akan membawa sebuah malapetaka.


Dengan hati-hati, Brian mengangkat kuncinya dari keranjang. Celakanya, kunci-kunci lain ikut tersangkut pada gantungan kunci yang diangkat Brian. Sedikit saja suara yang dia timbulkan, akan membawa masalah besar.


Krincingg!!! Brian tidak sengaja menjatuhkan banyak kunci ke lantai, yang memancing perhatian dari 'sosok buas' yang akhirnya menampakkan dirinya keluar dari tempat persembunyiannya.


Terlihat siluet seekor singa raksasa, tinggi, dan gagah, berukuran 4x ukuran singa biasa, sehingga singa itu harus sedikit menunduk pada saat melewati pintu dapur. Seekor hewan buas yang dapat memakan Brian tanpa harus mengunyahnya.


Karena tubuhnya sangat besar dan panjang, maka terlihat agak lama untuk menanti dari kepala, hingga ekornya muncul seluruhnya.


Brian sama sekali tidak diuntungkan dalam situasi ini. Seandainya 'kucing' itu tidak dapat melihat dalam gelap pun, tetapi indera penciuman yang tajam terhadap posisi mangsanya juga perlu diperhitungkan.


Brian akhirnya menyerah, dan menyandarkan tubuhnya pada tembok ruang tamu. Celaka bagi Brian, karena tubuhnya yang bersandar tidak sengaja menekan saklar lampu yang terletak pada tembok tempat Brian bersandar, yang membuat ruangan justru menjadi sangat terang.


Dalam pikiran Brian, singa itu akan menoleh ke arahnya, tetapi Brian salah. Singa itu sejak awal memang sudah menatapnya dengan tajam. Artinya gelap dan terang, tidak ada bedanya bagi hewan itu.


Kuku dan taringnya yang tajam, rambutnya yang lebat, dan ototnya yang luar biasa menjadi terlihat sangat jelas dan detail, dalam ruangan bercahaya lampu 100 watt itu.


Brian juga menatap CCTV yang sedang aktif di sudut ruangan. Artinya detik-detik kematiannya akan terekam, dan media akan meliput berita kematiannya yang tragis.


Perlahan-lahan singa itu mulai menggerakkan kakinya untuk melangkah maju ke arah Brian dan sesekali menggoyang-goyangkan kepalanya, sehingga membuat rambut lebatnya terurai.


Braakkk... Ekor singa yang juga berayun, mampu menjatuhkan kulkas 2 pintu yang terletak di belakang singa. Brian membayangkan perbedaan kekuatan yang sangat jauh. Bahkan untuk menghadapi ekornya saja, Brian tidak sanggup. Bagaimana dia akan menghadapi cakar dan taringnya?


Brian ingin sekali merasakan pingsan, sehingga pada saat singa itu memakannya, Brian sama sekali tidak merasakan sakit. Tetapi Brian tidak kunjung pingsan. Hingga dia memukul-mukulkan pentungan yang dia pegang ke kepalanya sendiri, agar dia dapat segera pingsan.


"Ayo pingsan Brian... Kamu pasti bisa" kata Brian pada dirinya sendiri


Ggrrrrrrrr!!!! Auman singa yang dahsyat, membuat seisi rumah bergetar dan menjatuhkan jam dinding. Celana Brian terasa basah oleh kencing yang tidak sengaja ia keluarkan.


"Aku mohon padamu, singa yang baik... Aku mau jadi anak buahmu" kata Brian sambil ketakutan.

__ADS_1


"Kenapa kamu mencuri????" tanya singa itu dengan suara yang berat dan menggema.


"Hah... Kamu bisa bicara... Syukurlah... Aku cuma mau kekasihku kembali" kata Brian dengan wajah takut


"Kamu mau Clara kembali?" tanya singa itu


"Bukan Clara... Tapi kekasihku sebelumnya, yang bernama Ivana... Aku memang nggak punya memori tentang dia... Karena aku dengar, kalau Ivana sudah dilenyapkan..." kata Brian


"Ivana... Benar... Memang sebelumnya aku membuat Ivana ada di sisimu" kata singa itu.


"Kamu membuat Ivana? Berarti kamu Author ya, Sing?" tanya Brian


'Sing' maksud Brian adalah 'Singa'.


"Aku bisa muncul dalam wujud apapun yang aku mau" kata singa


"Oh Syukurlah... Aku kira, kamu singa yang diutus Author untuk memakanku" kata Brian


"Aku memang bisa memakanmu" kata singa


"Maaf Author, aku memang lancang... Aku cuma ingin Ivana kembali... Aku udah nggak tahan dengan sikap Clara... Aku mohon, kembalikan cerita novel ini seperti semula" kata Brian


"Menarik sekali... Permintaanmu akan aku kabulkan!!!" kata singa itu dengan suara yang menggelegar.


"Terimakasih banyak Sing!!! Maksudku Author..." kata Brian tersenyum bahagia sambil membungkuk memberikan hormat.


Cit... Cit... Cit... Datanglah seekor tikus yang keluar dari bawah kolong meja.


Singa itu terkejut "Yaampun... Ada tikus!!! Tolong!!!" kata singa melihat kehadiran tikus yang semakin mendekat ke arahnya.


Prang!!! Gubrak!!! Klontang!!! Singa raksasa itu berlari-larian di dalam ruangan yang sempit, membuat jatuh semua barang pecah belah milik Brian, dan rumah Brian menjadi berantakan.


"Diinjak aja Sing!!!... Badanmu kan besar!!!... Pasti tikusnya langsung mati" teriak Brian


"Geli... Bego!!!" teriak singa


Kemudian singa raksasa itu berubah wujud, menjadi seorang wanita berumur 30 tahun berkulit putih, dengan rambut panjang yang dikuncir, mengenakan baju t-shirt dan hotpants, layaknya wanita rumahan.


"Brian!!! Tolong aku!!!" teriak Author yang naik ke atas meja makan.


"Tenang Sist... Aku bawa pentungan!!!" kata Brian sambil membawa pentungan yang tadi dia bawa untuk memukul kepalanya sendiri.


__ADS_1


__ADS_2