
"Hah? Kamu udah tau? Jadi kamu pernah ketemu dengan The Beatrix?" tanya Clara
"The Beatrix? Siapa dia?" tanya Brian bingung
"Dia Author novel ini" kata Clara
"Maksudnya gimana Clara? Aku nggak paham" kata Brian
"Gimana sih?... Kan kamu sendiri tadi yang bilang... Katanya kamu udah tau kalo kita sedang berada di dalam Novel" kata Clara
"Iya... Dunia ini bagaikan sebuah panggung sandiwara novel. Kita semua adalah karakter yang harus menyelesaikan tugas dalam kehidupan ini" kata Brian
"Bukan Brian... Bukan seperti itu..." kata Clara
"Maksud kamu gimana?" tanya Brian
"Kita benar-benar ada di dalam novel!!! Bukan dalam arti kiasan, tapi novel secara harafiah... Artinya kita bukan manusia... Kita cuma karakter novel" kata Clara
Brian bertopang dagu dan memandang ke atas.
"Hmmm... Maksud kamu, kita sebenarnya nggak nyata?" tanya Brian
"Iya Brian... Kita nggak nyata... Aku bisa buktikan" kata Clara
"Coba dibuktikan..." kata Brian
"Pertama-tama, kamu bukan dari keluarga yang kaya, tapi keluargamu berjuang keras sampai punya rumah sakit" kata Clara
"Kalau itu sih, semua karyawan juga sudah tau Clara. Bahkan di website rumah sakit juga diceritakan sejarah berdirinya rumah sakit kita" kata Brian
Lalu seorang pramusaji datang untuk membawakan makanan pesanan mereka.
"Terimakasih Mba" kata Brian pada pramusaji
"Sama-sama, silahkan dinikmati" kata pramusaji
Sambil menyantap hidangan tersebut, mereka melanjutkan pembicaraan.
"Trus kenapa kamu nggak lanjutin kuliah aja? Kamu kan nggak punya ijazah S1" kata Clara
"Loh? Kenapa kamu bisa tau?" kata Brian
"Brian... Sebelumnya, aku mau minta maaf" kata Clara
"Iya, aku udah maafin kamu kok soal telpon semalam" kata Brian
"Bukan Brian... Aku minta maaf karena aku udah membunuh kekasihmu" kata Clara
"Kekasih? Satu-satunya orang yang pernah jadi kekasihku itu cuma kamu Clara" kata Brian
"Bukan, sebelumnya ada cewek lain... Namanya Ivana" kata Clara
"Oh... Aku inget... Kamu yang pernah nyebut soal Ivana waktu kamu baru kerja di rumah sakit 2 hari?" tanya Brian
__ADS_1
"Iya... Bener... Dia orangnya... Aku minta maaf Brian, karena aku pengen jadi pacar kamu, aku minta Author buat melenyapkan kekasihmu, dan membuat kamu nggak pernah merasa punya pacar sebelumnya" kata Clara
"Ah... Masa sih?" tanya Brian tidak percaya
"Iya Brian... Dan karena aku baru tau, kalau di sinopsis, kamu bakal menghamili aku dan pergi begitu saja, makannya aku tiba-tiba minta putus, waktu kamu ajak aku ke hotel... Karena aku nggak mau jadi single parent..." kata Clara
"Trus? Kenapa kamu tiba-tiba minta dihamilin?" tanya Brian
"Karena aku baru tau, kalau di cerita selanjutnya, aku bakal menerima 20 milyar dari keluarga kamu sebagai kompensasi atas perbuatanmu. Makannya aku minta dihamilin, karena aku cuma mau mengincar uang itu" kata Clara
"Tunggu dulu Clara... Di sisi lain, kamu terlalu jujur sama sifat aslimu" kata Brian
"Brian... Aku nggak akan membuka aibku sendiri pada orang lain. Aku melakukan ini supaya kamu percaya kalau kita sedang berada di dalam dunia novel" kata Clara
"Hmm... Jadi menurutmu, ini hanyalah sebuah novel ya?" tanya Brian
"Bukan 'menurutku'... Tapi kita memang sedang berada di dalam Novel sungguhan Brian... Memang agak susah untuk percaya, aku pun hampir gila karena ini" kata Clara
"Lalu siapa pemeran utamanya?" tanya Brian
"Pemeran utamanya Aku... Kedua kamu... Aku belum tahu karakter yang lain. Kita harus mencari tau jalan cerita ini" kata Clara
"Kalau memang ceritanya kamu harus hamil, ya udah... Kita ke hotel lagi aja... Aku hamilin kamu, nanti kamu dapet 20 milyar, dan ceritanya tamat... As simple as that" kata Brian
"Masalahnya, PLOT cerita kita udah dirubah lagi sama Author, dan aku nggak tau jalan cerita yang baru... Jadi kita udah nggak ada hubungannya dengan jalan cerita ini lagi" kata Clara
"Kalau aku udah nggak ada hubungannya, kenapa kamu cerita soal ini? Toh aku udah bukan siapa-siapa lagi" tanya Brian
"Hmm... Gini aja deh, biar aku percaya... Kamu kan kenal orang itu? Siapa namanya tadi? lupa" tanya Brian
"The Beatrix" kata Clara
"Iya, The Beatrix... Cuma satu, yang bikin aku percaya sama omonganmu..." kata Brian
"Apa?" tanya Clara
"Kita punya seorang pasien... Dia sedang dirawat di ruang ICU karena komplikasi jantung dan diabetes... Namanya Pak David, sisa umurnya tinggal menghitung hari... Dia orang baik yang nggak seharusnya meninggal dengan cara seperti itu... Kalau besok dia tiba-tiba sembuh dan sehat, aku baru percaya kalo semua yang kamu omongin adalah benar" kata Brian.
"Tapi aku nggak tau, apakah itu akan mengubah jalan cerita ini atau enggak. Kalau dengan sembuhnya pasienmu, akan berdampak pada alur ceritaku, aku nggak bisa bantu" kata Clara.
"Seharusnya sih, ini nggak ada hubungannya sama jalan ceritamu... Karena kita sudah nggak ada hubungan lagi" kata Brian
"Iya juga sih... Nanti aku coba ngobrol sama Author ya Brian" kata Clara
"Coba aja... Maaf ya Clara, bukannya aku nggak percaya ceritamu" kata Brian
"Nggak apa-apa... Aku juga hampir gila karena ini... Wajar kalo kamu nggak percaya" kata Clara
Setelah selesai makan, Brian menyuruh Clara untuk langsung pulang. Sementara Brian akan menggunakan taxi untuk kembali ke rumah sakit, karena mobilnya masih berada di sana.
*****
Clara memasuki kamarnya dan membuka sebuah brankas. Clara menyadari bahwa HP Author adalah alat yang sangat penting bagi dirinya. Oleh sebab itu, Clara menyimpannya dalam sebuah brankas khusus, layaknya menyimpan sebuah senjata api.
__ADS_1
Memang benar, HP Author adalah sebuah alat yang dapat mengubah kehidupan seseorang, dan merupakan sebuah 'senjata' yang berbahaya jika digunakan oleh orang yang salah.
"Halo Thor" kata Clara
"Iya putriku" kata Author
"Kamu udah tau kan?" kata Clara
"Iya, aku udah tau... Kamu baru saja membocorkan rahasia kita ke Brian kan?" tanya Author
"Aku minta maaf... Aku cuma nggak mau dianggap gila, karena nggak nyaman rasanya kerja sebagai sekretaris, yang selalu dianggap gila sama bosnya. Aku nggak mau dipecat gara-gara itu" kata Clara
"Tapi selama aku nggak menyembuhkan pasien Brian, dia nggak akan percaya sama kamu" kata Author
"Tapi kalo pasien Brian sembuh, nggak ada hubungannya sama PLOT cerita kan Thor?" tanya Clara
"Ya memang nggak ada hubungannya... Tapi nanti Brian jadi percaya kalau dia seorang karakter novel" kata Author
"Memangnya kenapa kalau Brian percaya ceritaku Thor? Bukannya Brian udah nggak ada hubungannya sama alur cerita kita?" tanya Clara.
"Eh? Anu... Iya sih... Memang udah nggak ada hubungannya lagi" kata Author gugup
"Trus, kendalanya apa dong?" tanya Clara
Sebenarnya Author berbohong dengan mengatakan jika Brian tidak lagi berhubungan dengan Clara dalam cerita ini. Brian tetaplah menjadi karakter kedua pendamping Clara.
Author hanya tidak ingin Clara merusak ceritanya lagi, dengan membuat Clara percaya bahwa ceritanya sudah dirubah, tetapi sebenarnya ceritanya tidak berubah sama sekali.
Clara membuat posisi Author menjadi kian sulit.
Jika Author menolak menyembuhkan pasien Brian, Clara akan curiga bahwa sebenarnya Brian ada hubungannya dengan jalan cerita, dan Clara yang cerdas akan kembali memonopoli alur untuk kepentingan dirinya sendiri.
Tetapi Jika Author menyembuhkan pasien Brian, maka Brian sebagai karakter kedua akan percaya bahwa Author benar-benar ada, dan akan mempengaruhi jalan cerita juga.
Kedua pilihan itu akan sama-sama mengubah alur cerita novel.
Bagi Author, kehadiran Clara saja sudah sangat merepotkan. Apalagi dengan hadirnya satu orang lagi yang mengetahui keberadaan Author. Maka cepat lambat, akan ada dua orang yang akan memaksa Author untuk melakukan kehendak mereka sesuka hati.
"Gimana Thor?" tanya Clara
"Apanya?" tanya balik Author
"Apa kamu mau menyembuhkan pasien Brian?" tanya Clara
"Aku nggak bisa ngasih jawaban. Bye sayangku..." kata Author
"Tunggu dulu Thor..." kata Clara
"Apa lagi sih?" tanya Author
"Udah ketemu belom lipstiknya? Itu lipstik mahal tau..." kata Clara
"Bodo amat" kata Author yang kemudian tiba-tiba menutup telpon.
__ADS_1