
Di dalam kamarnya yang gelap, Author merebahkan diri ke kursi kerjanya, mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya di atas meja, sambil menatap ke atas.
"Gimana ya... Seharusnya aku dulu jangan pernah menampakkan diri sama sekali di hadapan Clara. Tapi dia adalah seorang karakter ciptaanku, dan aku sangat menyayangi dia" kata Author yang merasa harus mengambil keputusan.
Author mengambil kuncir rambut untuk menguncir rambut panjangnya. Tak lupa dia mengenakan kacamata bacanya dan segera mulai mengetik, untuk memperbaiki cerita yang terancam rusak ini.
"Aku harus mengecoh Clara. Bagaimana pun, Clara tidak boleh mengetahui jika Brian masih menjadi karakter kedua dalam novel ini" kata Author
*****
Clara bekerja dalam sebuah ruangan khusus tenaga administrasi rumah sakit, dan diberikan meja dan komputer khusus untuk menginput data, sama dengan karyawan lain.
Di dalam ruangan itu Clara bekerja dengan rekannya sebanyak 20 orang dengan kedudukan yang sama dengannya. Bedanya, Clara juga merangkap menjadi sekretaris pribadi Brian.
Dikarenakan Clara sudah tidak lagi memiliki beban pikiran, hubungannya dengan Brian juga sudah berakhir dengan baik-baik, Clara akhirnya bisa bekerja dengan lebih fokus.
"Clara, kamu diminta ke ruangan Pak Brian" kata rekannya
"Oke" kata Clara pada rekan kerjanya
Dia meninggalkan pekerjaannya sejenak dan pergi untuk menemui Brian di ruangannya yang selalu dalam keadaan tertutup. Clara membuka pintu Brian dengan perlahan.
"Ada apa pak?" tanya Clara
"Masuk Clara, Tutup pintunya" kata Brian
"Baik Pak" kata Clara sembari menutup pintunya kembali
"Duduklah" kata Brian
Dengan suasana yang hening, menambah ketegangan diantara mereka.
"Clara" kata Brian
"Iya pak" jawab Clara
"Kamu udah ngobrol sama Authormu?" tanya Brian
"Sudah Pak, tapi dia tidak mau memberikan jawaban" kata Clara
"Pak David sudah meninggal" kata Brian
"Hah?" kata Clara terkejut
"Tadi pagi beliau sudah meninggal dan sudah dimandikan jenasahnya, sekarang beliau berada di kamar jenasah, dan saya sudah melihatnya sendiri" kata Brian
"Saya turut berduka Pak... Berarti Author tidak merestuinya" kata Clara
"Clara, sepertinya kamu sedang mengalami halusinasi akut. Aku sarankan kamu segera memeriksakan kondisi kamu" kata Brian
Memang tidak mudah untuk meyakinkan seseorang untuk mempercayai semua ucapan Clara. Tetapi Clara sangat yakin bahwa dirinya tidaklah gila.
"Mohon maaf Pak, tapi saya lebih mempercayai apa yang saya alami sendiri... Kalau Bapak mau menganggap saya gila, silahkan..." kata Clara
"Ya sudah, saya cuma mau ngobrol soal itu saja. Kamu boleh kembali bekerja" kata Brian.
"Mohon maaf sudah mengganggu waktunya Pak" kata Clara
Lalu Clara segera pergi meninggalkan ruangan Brian untuk kembali bekerja dengan perasaan yang sedikit tersinggung.
Pak David adalah seorang yang penting bagi Brian, karena Pak David merupakan teman dari ayah Brian, yang semasa Brian kecil, Pak David selalu membantu ayahnya dalam berbisnis.
Pada jam istirahat karyawan, Brian menyempatkan diri untuk melihat pak David untuk yang terakhir kalinya di kamar jenasah.
Walaupun Brian sudah merelakan kepergian Pak David, tetapi ada kekesalan tersendiri yang dirasakan oleh Brian, dimana Brian ikut-ikutan melakukan hal bodoh, dengan sempat mempercayai ucapan Clara.
Brian menghampiri petugas kamar Jenasah untuk meminta ijin melihat jenasah.
"Atas nama siapa Pak, Jenasahnya?" tanya petugas kamar jenasah
__ADS_1
"Atas nama Pak David" kata Brian
"Maaf Pak, kalau atas nama Pak David nggak ada disini" kata petugas
"Oh... Sudah dibawa pulang oleh pihak keluarga?" tanya Brian
"Bukan Pak, memang tidak ada jenasah atas nama 'Pak David' disini" kata petugas
"Tadi pagi kan ada... Saya lihat kok, ada Pak David" kata Brian
"Nggak ada pak, saya kan hari ini dapat shift pagi. Saya juga nggak lihat bapak tadi pagi" kata petugas
"Loh... Kan kita ketemu tadi pagi" kata Brian
"Masa sih Pak? Saya kok nggak lihat bapak ya" kata petugas
"Aduh, ya udah... Saya mau konfirmasi dulu ke ruang ICU" kata Brian
"Boleh Pak, silahkan" kata petugas
Dengan langkah yang tergesa-gesa, hingga Brian melupakan satu hal, bahwa dia harus makan siang di jam istirahat ini. Sepertinya perutnya yang lapar tidak dihiraukannya demi menyelidiki hal yang menurutnya tak lazim.
Sesampainya di ruang ICU, Brian bertanya kepada perawat yang sedang bertugas.
"Permisi suster, siapa yang mengantar jenasah Pak David pagi tadi?" tanya Brian
"Jenasah Pak David?" tanya perawat
"Iya, tadi pagi kan diantar ke ruang jenasah" kata Brian
"Pak David... Yang temennya ayahnya Pak Brian?" tanya perawat
"Iya" jawab Brian
"Loh, Pak David kan nggak meninggal... Beliau sudah dipindah ke ruang rawat inap Pak... Kondisinya udah bagus" kata perawat
"Lah... Trus yang di diantar ke ruang jenasah tadi pagi siapa?" tanya Brian terkejut
"Iya... Tadi pagi" jawab Brian
"Hari ini nggak ada pasien yang meninggal Pak" kata perawat
"Trus, sekarang Pak David lagi dimana?" tanya Brian
"Di ruang rawat inap Pak, di lantai 4. Kamar nomor 415" kata perawat
"Ya udah, makasih ya suster" kata Brian
"Sama-sama pak" kata perawat
Sekali lagi Brian harus berlari ke ruang rawat inap, untuk memastikan apakah berita ini benar.
Dengan buru-buru, Brian segera membuka kamar nomor 415 dengan keras, sehingga dia terkesan agak mendobrak pintu kamar kelas 2 tersebut.
"Hoi Brian, jangan marah-marah... Kasihan pasien di sebelah lagi tidur" kata Pak David yang sedang berbaring di tempat tidur dengan wajah yang segar.
Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Brian mendekati pria berusia 65 tahun itu dengan mata yang terbuka lebar.
"Pak David? Anda sudah sehat?" tanya Brian
"Tadi saya mau langsung pulang, tapi tidak boleh sama dokter. Katanya harus observasi dulu. Padahal saya nggak pernah merasa sesehat ini sebelumnya hehehe..." kata Pak David.
Kemudian mereka mengobrol banyak hal soal keluarga, tetapi Brian tidak sekalipun memberitahu Pak David tentang apa yang telah dialaminya tadi pagi.
"Pak David, saya mau ijin kerja lagi... Jam istirahat saya sudah selesai" kata Brian
"Kamu kerja terus..., sekali-kali kamu harus ambil cuti. Nanti kamu sakit-sakitan seperti om... Kerja untuk cari uang, tuanya sakit. Gantian uang yang sudah dikumpulkan, dipakai untuk biaya berobat... Konyol sekali" kata Pak David
"Hehehe.... Iya Pak David, makasih ya... Semoga cepet bisa pulang... Saya pamit dulu" kata Brian
__ADS_1
"Iya sama-sama" kata Pak David
Lalu Brian meninggalkan ruangan rawat inap, tetapi dia tidak langsung menuju ke ruang kerjanya, melainkan dia mendatangi 'nurse station', tempat dimana para perawat ruangan berkumpul.
"Suster, saya mau tanya" kata Brian
"Iya, bisa dibantu, Pak Brian?" tanya perawat
"Saya mau tanya, itu pasien kamar 415 atas nama Pak David. Dibawa kesini dari kapan ya?" tanya Brian
"Dari kemarin sudah ada disini Pak" kata perawat
"Oh ya sudah, terimakasih suster" kata Brian
"Sama-sama Pak Brian" kata perawat
Lalu Brian kembali ke ruang kerjanya di lantai 5. Dia tidak habis pikir, bahwa keterangan dari ketiga orang pegawai rumah sakit, semuanya sesuai dan konsisten.
Brian menghampiri dispenser air minum dan meminum banyak air putih. Dia pikir, dia sedang kekurangan cairan tubuh, sehingga banyak miskomunikasi hari ini.
Saat Brian hendak menuju ruangannya, Brian menghampiri Clara dan membisikkan sesuatu kepadanya
"Clara, ikut aku ke ruangan" kata Brian
"Oh, baik Pak" kata Clara
Clara yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Pak David, segera mengikuti Brian dari belakang untuk memasuki ruang kerjanya.
Brian segera duduk di kursinya
"Clara, tutup pintunya, dan kunci dari dalam" kata Brian
"Eh?" kata Clara terkejut
"Iya, cepat... Saya mau ngobrol sesuatu yang penting" kata Brian
"Oh baik Pak, saya minta maaf" kata Clara dan dia segera mengunci pintu sesuai permintaan Brian.
"Duduklah" kata Brian
"Ada masalah apa pak? Sepertinya Bapak sedang gelisah" kata Clara
"Bagaimana saya nggak gelisah? Jelas-jelas tadi pagi saya lihat sendiri dengan mata kepala saya... Pak David sudah dibawa ke kamar jenasah menggunakan kasur dorong... Saya berada persis di sampingnya" kata Brian
"Kan Bapak sudah bilang tadi... Trus masalahnya dimana Pak? Mau ngatain saya gila lagi?" tanya Clara
"Ternyata Pak David sudah dipindahkan ke ruang rawat inap sejak kemarin, kondisinya sudah sehat, dan saya barusan menjenguk beliau di jam makan siang" kata Brian
"Hmmm..." kata Clara
"Apa maksud kamu dengan 'hmmm'?" tanya Brian
"Pak Brian, sepertinya Bapak sedang mengalami halusinasi akut. Saya sarankan bapak segera memeriksakan kondisi bapak" kata Clara dengan ekspresi mengejek
"Itu kan kata-kata saya Clara..." kata Brian
"Kata-kata Bapak, yang sangat menyakitkan, untuk saya ingat..." kata Clara
"Kalau kamu mau menganggap saya gila, silahkan" kata Brian.
"Itu kan kata-kata saya Pak..." kata Clara.
"Hehehehe" kata Brian sambil tersenyum.
"Bapak lagi stres ya? Emangnya enak, dianggap gila? Dasar bos gila..." kata Clara dengan senyuman licik.
"Hehehe... Clara, aku punya permintaan..." kata Brian
"Permintaan apa Pak?" tanya Clara
__ADS_1
"Jadilah kekasihku, sekali lagi..." jawab Brian