
"Hah? Bapak mau jadi pacar saya lagi? Sebegitu hinanya kah Bapak?" kata Clara
"Aku lebih baik dianggap hina, asalkan kamu mau jadi kekasihku lagi" jawab Brian
"Bukan Pak... Maksud saya, hanya karena bapak tau kalau saya dekat dengan Author, trus bapak mau macarin saya?" tanya Clara
Brian segera berdiri dari kursinya dengan tatapan yang tajam. Hal ini membuat Clara sedikit ketakutan, dan membuatnya ikut berdiri untuk berjaga-jaga seandainya terjadi hal yang buruk.
"Clara" kata Brian sambil melangkahkan kaki menuju tempat dimana Clara berdiri
"Pak... Anda mau apa?" tanya Clara sambil berjalan mundur menuju sudut ruangan dengan rasa takut.
Dengan cepat, Brian mendorong Clara hingga ke sudut ruangan, dan membuat Clara terpojok. Brian menggunakan kedua tangannya untuk menahan tubuh Clara agar tidak bisa bergerak, dan mendekapnya dengan erat.
"Sini sayang, jadilah kekasihku" kata Brian sembari mendekatkan bibirnya ke bibir Clara.
"Nggak mau!!! Dasar psikopat!!!" kata Clara sambil memalingkan wajahnya menghindari bibir Brian.
"Psikopat? Itu kata-kataku..." kata Brian
"Kamu kasar banget sih jadi orang!!!... Pantas saja Author bilang kalo kamu bakal ninggalin aku dan anakmu... Udah ketahuan belangmu sejak awal" kata Clara
"Kamu nggak mau nikah sama calon pemilik rumah sakit?" tanya Brian
"Nggak mau!!!" teriak Clara
"Kalau kamu nggak mau, aku bisa memecat kamu sekarang juga" ancam Brian
"Pecat aja nggak apa-apa!!! Kamu cuma punya rumah sakit, sementara aku punya Author... Kalau kamu sampai memecat aku, rumah sakitmu bakal aku bikin jadi bangkrut!!!" teriak Clara
"Hah, benar juga" gumam Brian dalam hati, lalu secara perlahan-lahan, Brian melepaskan dekapannya. Nafas Clara tersengal-sengal akibat perbuatan Brian.
"Udah bagus, aku nggak mengancam kamu supaya gajiku dinaikkan... Aku cuma ingin kerja dan segera menamatkan novel ini... Karena novel ini seperti neraka buatku" kata Clara
"Maaf Clara, aku sudah berbuat bodoh" kata Brian
"Emang bodoh... Kamu tuh bodoh banget jadi orang" kata Clara sambil merapihkan kembali blazernya yang kelihatan tidak rapih akibat 'serangan' Brian.
"Clara, kamu mau maafin aku?" tanya Brian
"Nggak!!!" tegas Clara
"Apa yang bisa aku lakukan, supaya kamu nggak marah lagi?" tanya Brian
"Kamu cukup diam aja... Nggak usah ngurusin urusan pemeran utama... Dasar pemeran figuran!!" kata Clara
"Sekali lagi aku minta maaf... Aku memang cuma pemeran figuran" kata Brian
"Udah tau figuran, banyak gaya... Tugas pemeran pendukung itu seharusnya cuma mendukung pemeran utamanya" kata Clara
__ADS_1
"Iya maaf... Aku siap menerima hukuman" kata Brian
Sebenarnya Brian tidak bermaksud benar-benar meminta maaf kepada Clara. Brian hanya menyadari bahwa hati Clara tidak bisa dimenangkan hanya dengan cara kekerasan, jadi Brian akan mencoba memakai cara yang lebih lembut untuk memenangkan hati Clara.
Bagi Clara, memiliki hubungan baik dengan Author akan membuatnya bisa menguasai dunia. Sedangkan bagi Brian yang tidak mengenal Author, jika dia bisa mendapatkan hati Clara, maka Brian bisa menguasai dunia. Jadi saat ini Brian mencoba untuk menuruti semua perintah Clara, agar Brian bisa mendapatkan hatinya terlebih dahulu.
Author semakin pusing dengan sifat asli para karakter novel ini. Padahal keduanya diciptakan sebagai karakter protagonis, tetapi berubah menjadi karakter antagonis hanya karena mereka ingin mengubah nasib.
*****
Clara kembali ke apartemen seusai bekerja. Baginya, hari ini adalah hari yang paling melelahkan. Setelah menghadapi usaha pemerkosaan dari atasannya Brian, membuatnya bukan hanya lelah secara fisik, tetapi juga letih secara mental.
Clara membuka pintu apartemennya, dan dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Apartemen Clara yang selalu rapih, terlihat sangat berantakan.
"Hah? Apa ini? Kenapa semuanya berantakan?" gumam Clara
Clara segera memasuki setiap sudut ruangan, semuanya terlihat seperti kapal pecah, mulai dari ruang tamu, kamar tidur, dapur, hingga toilet.
"Tunggu dulu... Apa benda itu masih ada?... Aku harus ke kamar" kata Clara.
Clara menuju kamarnya dan mendapati brankas yang berisi HP Author sudah hilang dicuri.
Bagaikan tersambar petir, Clara terjatuh lemas. Dia berusaha menghubungi Author dengan berbicara sendiri di kamarnya.
"Thor... Apa kamu bisa mendengar aku? Author sayang, jawab aku..." kata Clara
*****
Di sebuah gudang tua, beberapa orang misterius berjumlah 3 orang sedang berkumpul. Satu orang tampak seperti ketua mereka, sedangkan 2 yang lain hanyalah seorang anak buah.
"Kami menemukan sebuah brankas" kata seorang A
"Bagus sekali... Kira-kira apa isinya?" tanya ketua mereka
"Mungkin uang, atau perhiasan" kata seorang A
"Apa kalian bisa membongkar brankas itu?" tanya ketua
"Kami ini hanya seorang perampok, bukan tukang besi" kata seorang A
"Kalau kalian bisa membuka brankas ini, aku akan memberi kalian bonus" kata ketua
"Untungnya aku membawa sebuah mesin gerinda" kata seorang B
"Bagus, cepat buka... Aku mau melihat isinya" kata ketua
"Baik" kata seorang B
Lalu mereka menggerinda brankas itu dan terbukalah salah satu sisi. Walaupun lubang yang mereka buat hanya lubang kecil, tetapi cukup untuk mengeluarkan sebuah benda yang berada di dalamnya.
__ADS_1
Klotak... Sebuah benda yang mirip HP terjatuh
"Apa itu?" kata ketua
"Hmm... seperti sebuah HP" kata seorang A
Lalu ketua mereka mengambil HP tersebut dan memeriksanya dengan menggunakan senter, karena gudang tua itu sangat gelap.
"Apa-apaan ini?" kata ketua mereka
"Memangnya kenapa bos?" kata seorang B
"Ini HP mainan... Sialan, perempuan itu mempermainkan kita... Sepertinya dia sudah tau kedatangan kalian, dan mengganti isi brankas ini dengan mainan anak-anak... Mana warnanya pink lagi" kata ketua mereka
"Wah, berarti hasil perburuan kita hari ini, tidak berhasil" kata seorang A
"Hmm... Tidak apa-apa... Kalian akan tetap menerima pembayaran dan bonus dariku..." kata ketua mereka.
"Apa tidak apa-apa bos?" tanya seorang B
"Iya... dan aku akan tetap menyimpan HP mainan ini" kata ketua mereka
"Memangnya kenapa bos? Bukannya itu hanya mainan?" kata seorang B
"Kita belum tau, apakah perempuan itu sengaja meletakkan HP mainan ini di dalam brankas untuk mengecoh kita, atau memang ada 'sesuatu' di dalamnya, sampai-sampai perempuan itu meletakkan mainan ini di dalam brankas. Aku akan membongkar mainan ini besok, di rumahku" kata ketua mereka
"Terimakasih banyak bos Brian!!!" kata anak buahnya.
Sosok ketua perampok itu adalah Brian, atasan Clara sendiri. Sebenarnya Brian bukanlah seorang perampok, tetapi dia membayar 2 orang perampok untuk mengambil barang yang dinilai berharga dari apartemen Clara.
Tidak sulit untuk menemukan alamat tempat tinggal Clara di daftar karyawan rumah sakit.
*****
Di rumah Brian, dia sangat penasaran dengan benda itu. Layaknya HP mainan biasa, yang jika kita menekan tombolnya, akan membunyikan sebuah lagu anak-anak.
Karena hari sudah larut malam, Brian juga sudah mematikan semua lampu rumahnya. Hanya tersisa lampu ruang tamu, dimana dia duduk dengan HP Author di tangannya.
"Huh... Aku ngantuk... Penyelidikan akan aku lanjutkan besok saja" kata Brian sambil menaruh HP itu di atas meja ruang tamunya, dan mematikan seluruh lampu rumah untuk menghemat tagihan listrik.
Saat Brian hendak menuju ke kamarnya, tiba-tiba terdengar suara Bip... Bip... Bip... HP Author berbunyi
Brian terkejut bukan main. HP tersebut melakukan sebuah panggilan. Padahal jelas-jelas itu ada sebuah mainan.
Dengan memberanikan diri, Brian mengangkat panggilan itu dengan sangat berhati-hati, dan perlahan-lahan menempelkan telinga pada HP tersebut.
"Halo putri manisku..." kata Author
Terdengar suara seorang wanita dalam HP itu, tetapi Brian tidak berani untuk menjawabnya. Karena Brian takut akan salah bertindak.
__ADS_1