
Clara segera menyebar lamaran kerja, dan dia berhasil diterima bekerja di sebuah rumah sakit, sebagai tenaga administrasi. Clara juga baru menyadari bahwa ternyata dia memiliki ijazah S1 Managemen yang tidak jelas darimana asalnya.
Sambil berusaha keras mengingat siapa dirinya, Clara memberanikan diri untuk menghubungi Author.
"Halo Clara" kata Author
"Aku sudah diterima kerja di rumah sakit" kata Clara
"Aku sudah tahu... Aku yang memperalat HRD, supaya kamu diterima" kata Author
"Kalau memang benar kamu seorang Author, aku mau kendaraan untuk bekerja" kata Clara
"Bukannya kamu seharusnya berhemat? Kamu naik angkot saja" kata Author
"Berarti kamu bukan seorang Author... Kalau memang kamu 'sakti', kasih aku mobil yang kencang, 2 pintu" kata Clara
"Jadi... dari 'keajaiban' kemarin, kamu masih tidak percaya?" tanya Author terkejut
"Pokoknya aku mau mobil yang keren, kencang, 2 pintu" kata Clara
"Ya sudah... Bim Salabim... Kamu cek di laci lemarimu, sudah ada kunci dan STNK mobil" kata Author
"Serius? Kemarin aku lihat lacinya kosong tuh" kata Clara
"Makannya, sekarang coba kamu cek kembali" kata Author
Dengan tidak menutup telponnya, Clara segera membuka laci lemari untuk memastikan apa benar yang diucapkan Author. Seolah tidak percaya, dia melihat sebuah kunci mobil, STNK, dan BPKB lengkap.
"Wah... Kamu serius Thor? Mana mobilnya?" tanya Clara bersemangat
"Diparkir di bawah, tidak mungkin mobilnya aku masukkan ke dalam kamarmu Clara" kata Author
"Wah makasih ya, aku mau lihat mobilnya" kata Clara
"Silahkan" kata Author
Clara menutup telponnya. Sambil terus berusaha mempercayai, dia segera turun ke basement untuk memastikan mobil apa yang akan menemaninya bekerja setiap hari.
Satu demi satu, Clara mencocokkan setiap plat nomor mobil yang sedang terparkir, dengan STNK yang dibawanya. Akhirnya dia menemukan satu mobil berwarna putih.
Bukannya senang, Clara kembali ke kamarnya dan menelpon Author kembali.
"Hoiii..." kata Clara
"Apa lagi? Claraku sayang" jawab Author
"Bukan mobil yang itu!!!" teriak Clara
"Memangnya salah?" tanya Author
"Aku tidak minta mobil pickup... Aku mau mobil sport 2 pintu!!! Kenapa aku diberi mobil bak? Memangnya aku tukang bangunan?" teriak Clara
"Emangnya kamu bilang mobil sport? Tidak kan?... Kamu cuma minta mobil kencang, 2 pintu... Itu mobilnya kencang Clara, jangan salah" kata Author
"Thoorr!!! Aku menyerah dengan ceritamu yang tidak bermutu ini" kata Clara
"Baru juga 2 chapter, sudah mau menyerah... Masih banyak karakter novel di luar sana yang lebih menderita daripada kamu" kata Author
"Oke... Kamu sudah mempermainkan aku... Kamu jangan menyesal di kemudian hari" kata Clara
"Kamu mau apa?" tanya Author
"Lihat saja..." kata Clara dengan wajah licik
Clara tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Walaupun mengingat orang yang dihadapinya adalah seorang 'pesulap profesional', tetapi tidak ada rasa takut sedikitpun dalam hatinya.
Dengan mengendarai mobil pickup yang diberikan Author, Clara berangkat menuju ke kantor polisi.
Dengan tergesa-gesa, Clara memarkirkan mobilnya di parkiran, dan segera melaporkan hal ini pada Polisi yang bertugas.
__ADS_1
"Pak Polisi..., Saya mau melaporkan 2 tindak pidana Kriminal" kata Clara
"Tenang dulu Bu, boleh saya minta KTPnya? Dan mohon ceritakan lebih rinci" kata Polisi
"Baik Pak... Saya dari kemarin ditelpon oleh orang misterius, sepertinya dia sudah memata-matai saya sejak lama" kata Clara sembari menyerahkan kartu identitasnya.
"Apa ibu mengenal orang itu?" tanya Polisi
"Tidak Pak, orang itu menyebut dirinya Author... Namanya The Beatrix" kata Clara
"Bisa kami meminta nomor HP yang dipakai oleh pelaku?" tanya Polisi
"Boleh Pak, dia juga selalu menggunakan HP ini untuk berkomunikasi dengan saya, katanya hanya inilah satu-satunya HP agar dia bisa berkomunikasi dengan saya" kata Clara sembari menyerahkan HP pemberian Author untuk berkomunikasi.
"Hah?" kata Polisi itu terkejut
"Ada apa Pak?" tanya Clara
"Ini tidak salah?" tanya Polisi
"Apa yang salah Pak?" tanya balik Clara
"Ini HP mainan Bu... Tidak bisa dipakai telpon" kata Polisi
"Loh... Masa sih Pak?" tanya Clara
"Di belakangnya ada baterai AAA 3 buah... Mana ada HP sungguhan pakai baterai AAA" kata Polisi sambil membongkar bagian belakang HP tersebut
"Tapi orang itu menelpon saya pakai HP itu pak... Masa saya bohong? Sudah jauh-jauh datang kesni..." kata Clara
"Ibu tidak memiliki gangguan kejiwaan kan?" tanya Polisi
"Tidak pak... Kemarin ada gempa besar kan?" tanya Clara
"Bu, kemarin tidak ada gempa" jawab Polisi
"Saya juga kemarin hamil tua, tapi tiba-tiba orang misterius itu mengecilkan perut saya" kata Clara
"Baik Bu, Ada lagi yang bisa kami bantu?" kata Polisi tersebut ingin menyudahi pembicaraan
"Tunggu dulu Pak... Saya juga mau melaporkan kasus pencurian mobil" kata Clara
"Baik, mobil Apa? Siapa pemilik sebelumnya?" tanya Polisi
"Ini pak... Orang misterius itu memberikan saya mobil yang tidak jelas asal-usulnya... Saya juga membawa STNK dan BPKBnya. mungkin Bapak bisa melacak nama pemilik aslinya" kata Clara sambil menunjukkan surat-surat kendaraan
Polisi tersebut tampak terkejut, kemudian menghela nafas panjang...
"Ibu tidak bercanda kan?" tanya Polisi
"Memangnya kenapa Pak?" tanya Clara bingung
"Ini mobil milik Ibu sendiri... Nama di STNK dan BPKB sesuai dengan nama Ibu di KTP, dan pajaknya masih panjang" kata Polisi
Clara seperti tidak dapat bergerak mendengar semua itu. Trik sulap macam apa ini? Bagaimana 'pesulap' itu bisa membuat berbagai macam kejadian yang tak lazim selama 2 hari terakhir.
"Ada lagi yang bisa kami bantu Bu?" tanya Polisi
"Ti... Tidak ada... Te.. Terimakasih Pak" kata Clara sembari berusaha menguatkan kakinya untuk berdiri.
"Baik terimakasih sudah datang ke kantor Polisi, kami selalu siap untuk melayani dan melindungi masyarakat" kata Polisi
Lalu Clara kembali ke kamar apartemennya dengan wajah yang ling-lung. Kata-kata orang misterius yang mengaku sebagai 'penguasa kehidupan' Clara, masih terngiang-ngiang jelas di pikirannya.
Dia menyalakan lampu kamarnya yang gelap, dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Clara terdiam dalam lamunan, memandang ke atas ternit kamarnya dan berusaha menerima kenyataan bahwa kondisinya sekarang sudah gila.
Tetapi sebenarnya Clara tidaklah gila, dia hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya adalah seorang karakter novel.
Clara segera beranjak ke kamarnya untuk menuju dapur.
__ADS_1
Antara kamar dan dapurnya terdapat sebuah tempat sembahyang dan sebuah guci kecil untuk menaruh dupa.
Clara terus memandangi tempat sembahyang itu dan memutuskan untuk sembahyang, karena dia sudah tidak lagi mendekatkan diri pada Dewa. Mungkin karena alasan itulah, Clara saat ini terus 'diganggu' oleh orang yang menamakan dirinya Author.
Clara mengambil dupa dan membakarnya. Clara memandang patung dewa yang baginya terlihat sedikit aneh.
Patung dewa tersebut berbentuk seperti seekor bebek yang mengenakan kacamata hitam, dan sedang membawa boneka teddy bear.
Bip Bip Bip... HP 'mainan' Author berbunyi.
Perasaan sedikit kesal, dicampur dengan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Clara mengangkat telpon tersebut.
"Halo" kata Clara
"Clara, apa yang kamu lakukan?" tanya Author
"Jangan ganggu aku... Aku sedang berdoa kepada Dewa" kata Clara
"Cepat, hancurkan patung itu" kata Author
"Kenapa?" tanya Clara
"Karena itu musyrik" kata Author
"Memangnya kenapa? Terserah aku mau berdoa pada siapapun" kata Clara
"Itu bukan patung dewa" kata Author
"Kamu bicara apa sih?" tanya Clara bingung
"Cepat hancurkan patung itu... " kata Author
"Nanti aku terkena kutukan, bagaimana?" tanya Clara
"Aku jamin kamu tidak akan terkena kutukan... Itu bukan tempat sembahyang" kata Author
"Lagian... Siapa yang meletakkan patung dan dupa disitu?" tanya Clara
"Aku" kata Author
"Kenapa juga ditaruh disitu?" tanya Clara
"Itu cuma dekorasi ruangan" kata Author
"Cukup!!! Aku udah nggak tahan lagi" kata Clara
Lalu tiba-tiba Clara menutup telponnya dan berlari ke luar kamarnya. Author dibuat kebingungan dengan karakter novel yang satu ini, yang sama sekali tidak bisa diatur.
Kemudian bertemulah Clara dengan seorang bapak-bapak berumur 50 tahunan yang berpapasan dengannya di dalam sebuah koridor apartemen.
Clara langsung memeluk bapak itu
"Om.... Tolong saya..." kata Clara
Bapak yang baru melihat Clara untuk pertama kalinya, langsung mendekap tubuh Clara. Walaupun tindakan bapak itu adalah tindakan yang lancang, tetapi Clara sama sekali tidak menghiraukannya. Karena lebih penting baginya untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu.
"Sini... Sini... Cerita pada Om... Kamu kenapa, cantik?" kata Bapak itu.
"Saya sedang diteror Om" kata Clara sambil menunjukkan wajah ketakutan.
"Lalu kamu mau kemana sekarang sayang?" kata Bapak itu dengan wajah yang mesum.
"Kemana saja... Bawa saya pergi dari sini" kata Clara tidak berpikir panjang
"Ya sudah, kamu tinggal di apartemen saya saja" kata Bapak itu.
"Iya tidak apa-apa..." kata Clara
Lalu Clara dibawa ke sebuah kamar apartemen, dan bapak itu mengunci pintunya.
Diluar dugaan, bapak itu melepas baju dan celananya, dan menunjukkan wajah mesum sambil mendekatkan diri kepada Clara.
__ADS_1
Clara menyadari bahwa hal buruk akan terjadi padanya, ditambah lagi beberapa om-om lain keluar dari kamar dengan wajah yang mesum.
Clara terlihat sangat ketakutan karena tiba-tiba dia harus berhadapan dengan 5 orang yang sudah siap untuk 'menerkamnya'.