Diatas Langit Masih Ada Author

Diatas Langit Masih Ada Author
Tolong Hamili Aku


__ADS_3

"Gila ya kamu!!!" teriak Clara pada Brian.


"Clara, ada apa? Bukannya kita sepasang kekasih?" tanya Brian.


"Kita putus!!!" teriak Clara sambil berlari meninggalkan kamar hotel tersebut.


Clara segera pulang ke apartemennya dengan menggunakan taxi. Setelah memasuki apartemennya, dia langsung menghubungi Author untuk menanyakan ketidakjelasan cerita.


"Thooorrr!!!" teriak Clara dalam telepon


"Nggak usah teriak-teriak..." kata Author


"Apa maksudmu? Dengan membawa aku ke hotel berdua sama Brian?" tanya Clara


"Ini pacaran ala CEO, memang begitu mereka kalau pacaran" kata Author


"Maksudku bukan itu" kata Clara


"Lah trus?" tanya Author


"Di bab 1 novel ini, kamu kan bilang kalo cerita novel ini akan dimulai dengan aku yang hamil, dan ditinggal suamiku pergi entah kemana" kata Clara


"Iya, trus?" tanya Author


"Berarti nanti Brian yang menghamili aku, lalu dia pergi... Trus aku jadi single parent... Gitu kan maksudmu?" tanya Clara


"Ah Gawat!!! Kenapa kamu bisa nebak jalan cerita ini??" kata Author terkejut


"Aku nggak sebodoh yang kamu kira Thor..." kata Clara


"Aduh Clara... Aku memang menciptakan kamu sebagai gadis yang cerdas, tapi aku nggak nyangka kalo kamu secerdas ini" kata Author


"Bukan aku yang cerdas, tapi kamu yang bodoh. Bikin cerita gampang ditebak" kata Clara


"Ya udah deh, aku ganti cerita aja kalo gitu... Kali ini ceritanya rahasia" kata Author


"Tunggu dulu... emangnya cerita sebelumnya mau gimana?" tanya Clara


"Jadi karena Brian nggak mau bertanggung jawab, kamu dapet kompensasi dari keluarganya sebagai bentuk tanggung jawab, yaitu uang sebesar 20 milyar" kata Author


"20 milyar???" tanya Clara terkejut


"Iya" kata Author


"Ya udah deh, aku mau dihamilin aja kalo gitu" kata Clara


"Nggak bisa Ra, kamu udah mutusin si Brian" kata Author


"Pokoknya besok juga... Brian harus menghamili aku" kata Clara


"Tetep nggak bisa... Brian itu orangnya kalo udah disakitin, dia nggak bakal mau balik lagi. Aku lebih paham karakter Brian daripada kamu. Aku yang menciptakan Brian" kata Author


"Bodo amat... aku mau telpon Brian dulu" kata Clara


Lalu Clara menutup telponnya dengan tiba-tiba untuk mengakhiri pembicaraan secara sepihak, dan menghubungi Brian dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Halo Brian" kata Clara


"Iya, ada apa Clara?" tanya Brian


"Kamu masih di hotel?" tanya Clara


"Hmm... Enggak sih, aku udah pulang, memangnya kenapa?" tanya Brian


"Aku udah siap dihamilin" kata Clara


"Hah? Clara... Kamu ngomong apa sih?" tanya Brian


"Iya... kamu nggak salah dengar kok... Aku udah siap untuk dibuahi" kata Clara


"Astaga Clara, aku nggak ngerti maksudmu... Aku bukan pria serendah itu" kata Brian


"Pokoknya... Kamu harus memasukkan benihmu ke dalam rahimku" kata Clara


"Aarghh!!! Pergi kamu psikopat!!!" teriak Brian lalu menutup telponnya.


Brian sangat ketakutan melihat perubahan sikap Clara yang dinilai tidak stabil. Bahkan Brian mengira bahwa Clara memiliki gangguan jiwa.


Clara pernah menangis tanpa sebab di ruangan Brian, Clara juga pernah membentak-bentak OB, memutuskan hubungan asmara tanpa sebab, kemudian yang terakhir dia meminta untuk segera dihamili. Memangnya pria mana yang tidak takut dengan wanita seperti itu?


Clara terlihat sangat frustasi karena semuanya tidak berjalan sesuai dengan rencananya.


Dalam keheningan apartemennya, tiba-tiba seseorang memegang pundak Clara dari samping.


Nampak jelas, di sebelah Clara seorang wanita yang cantik berusia 30 tahun, berambut panjang, mengenakan T-shirt dan celana jeans. Dengan tatapan yang lembut, berusaha menenangkan hati Clara.


"Clara, ini aku Author" kata Author


"Author? Kamu tuh cowok atau cewek sih sebenernya?" tanya Clara


"Aku bisa tampil dalam wujud apapun yang aku mau" kata Author


"Terserah kamu aja, aku lagi pusing" kata Clara


"Clara sayang, kamu akan selalu dianggap gila, kalau kamu mengubah-ubah jalan cerita... Menjadi seorang Author itu nggak mudah" kata Author sembari membelai-belai rambut Clara yang panjang.


"Aku cuma nggak mau menderita Thor" kata Clara


"Penderitaan itu bagian dari kehidupanmu Clara" kata Author


"Enggak juga... Brian lahir dari keluarga yang kaya" kata Clara


"Siapa bilang? Keluarga Brian tadinya bangkrut, jadi Brian tidak bisa melanjutkan kuliah, lalu Brian terpaksa bekerja... Masih lebih baik kehidupanmu, kamu punya ijasah S1. Sedangkan Brian ijasah S1 nggak punya" kata Author


"Trus, kenapa sekarang keluarganya jadi punya usaha rumah sakit?" tanya Clara


"Karena keluarganya berjuang keras. Tidak ada yang instan di dunia ini, sekalipun di dunia novel, Claraku" kata Author


"Bukannya kalo aku jadi menerima 20 milyar, itu juga instan namanya?" tanya Clara


"Siapa bilang? Kamu harus bekerja keras membesarkan anakmu seorang diri. Kamu baru menerima 20 milyar itu pada saat anak kamu berusia 10 tahun" kata Author

__ADS_1


"Jadi selama 10 tahun itu aku harus menderita?" tanya Clara


"Iya dong" kata Author


"Tunggu dulu, berarti cepat lambat, aku bakal hamil dong?" tanya Clara


"Kamu nggak akan hamil lagi... Karena aku udah bikin cerita baru buat kamu" kata Author


"Ceritanya gimana?" tanya Clara


"Itu Rahasia... Aku nggak mau, nanti kamu mengubah-ubah jalan cerita lagi" kata Author


"Tapi happy ending kan? Aku nggak mau, kalo nggak happy ending" kata Clara


"Pasti happy ending sayang... Aku nggak pernah bikin cerita yang nggak happy ending" kata Author.


"Tapi menderitanya, jangan menderita-menderita banget ya Thor" kata Clara


"Itu relatif" kata Author


"realtif gimana?" tanya Clara


"Pokoknya, jalani aja kisah hidupmu, jangan takut... Aku sebagai Author akan selalu menemani langkahmu, Bye sayangku..." kata Author


"Tunggu dulu Thor..." kata Clara


"Apa sayang?" tanya Author


"Kamu tau lipstikku nggak? Tadi siang masih ada, tapi sekarang aku cari nggak ketemu" tanya Clara


"Lipstik? Aku nggak tau Clara, kirain apaan... Bye..." kata Author


Lalu Author menghilang...


Clara segera merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Dia benar-benar pusing memikirkan bagaimana besok dia harus kembali bertemu dengan Brian sebagai sekretarisnya, sementara Brian sendiri sudah menganggapnya sebagai seorang psikopat.


*****


Keesokan harinya, di rumah sakit tempatnya bekerja. Clara menaiki lift, yang hanya ada dia seorang diri di dalamnya. Dengan memberanikan diri, Clara menekan tombol lantai 5 untuk menuju ke ruangannya.


Dikarenakan ada seseorang yang menekan tombol lift dari luar, pintu lift yang sudah setengah tertutup, terbuka kembali. Sepertinya ada seseorang yang terburu-buru untuk menaiki lift itu sebelum pintunya tertutup.


Orang yang membuat pintu lift tersebut kembali terbuka adalah Brian.


Mereka saling menatap dengan ekspresi yang kaku. Brian harus memutuskan, apakah dia akan menaiki lift yang sama dengan Clara atau tidak, sebelum pintu lift kembali tertutup.


Seolah tidak terjadi apa-apa, Brian langsung menaiki lift bersama dengan Clara. Karena Brian pikir, satu lift atau tidak, mereka tetap akan bekerja di ruangan yang sama.


Pintu lift tertutup, dan lift mulai bergerak ke lantai atas.


Clara ingin memperbaiki hubungannya dengan Brian, walaupun itu sudah tidak mungkin terjadi. Tetapi setidaknya, dia ingin memperbaiki hubungan antara bos dan sekretaris.


"Selamat pagi Pak" sapa Clara sambil tersenyum kaku


"Selamat pagi" kata Brian dengan pandangan yang tetap menatap lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Clara.

__ADS_1


__ADS_2