
Malam Itu Hujan Deras Mengguyur kota Besar surabaya, Terlihat seorang wanita mondar mandir diruang tamu rumahnya.
Khawatir, Sebab hari sudah tengah malam dan sang suami tak Juga Pulang. namun kekhawatiran wanita cantik itu malah mengundang rasa kesal Seorang wanita parubaya yang tak lain adalah Rina, mertua wanita tersebut.
"Ngapain kamu mondar mandir Begitu?
Tidur sana, bikin pusing aja" ucap rina dengan nada yg cukup Tinggi.
"Dinda lagi nunggu mas tedy mah, Dinda Khawatir.
Masa Jam Segini Belum pulang" jawab Dinda khawatir.
"ngapain kamu sok sok an Khawatir sama Tedy?
Mama yang suruh dia pulang malam" ucap Rina sembari membalikkan Tubuh hendak pergi meninggalkan sang menantu yang masih diam ditempat.
"Kok mama nyuruh mas tedy pulanh malam? Emangnya ada kerjaan apa mah?" tanya Dinda penasaran.
Rina Menghentikan langkahnya, memutar badan dan menatap sang menantu dengan tatapan penuh kebencian.
"Kamu nggak nyadar ya kenapa suamimu enggan pulang?" Rina melipat tangannya, menantang sang menantu untuk intropeksi diri.
"nyadar kenapa sih Ma?" tanya dinda yang tak mengerti akan ucapan ibu mertuanya.
"Berapa lama kalian Berumah tangga?" tanya Rina dengan tatapan Tajamnya.
"Sebentar lagi lima tahun ma!" Ucap Dinda Singkat
"Lima tahun kan? Iya lima tahun!.
Tapi lihatlah, Sampai sekarang kamu belum bisa memberikan keturunan untuk keluarga kami.
Kamu nggak tahu dia kesepian, nggak ada hiburan. Tiap pulang kerja cuma liatin kamu yang kucel itu. Ya Tuhaannn, Putraku nggak mati muda aja udah Syukur.
Ya mama suruh aja dia cari hiburan, kali aja ketemu wanita yang bisa kasih kita keturunan." jawab rina ketus, tanpa memikirkan perasaan sang menantu sama sekali.
Hati wanita mana yang tidak sakit mendengar ucapan mengerikan seperti itu. Sebuah tuntutan yang ia sendiri tak tahu jalan keluarnya.
"Kok mama ngomongnya gitu?, Istrighfar ma istighfar!!." pinta dinda sedih.
__ADS_1
"Heh, pandai kali kamu nyuruh mama Istighfar, ngaca Dinda ngaca!!.
Wanita mandul sepertimu bagusnya di Ceraikan, dasar mantu nggak Guna!." jawab rina semakin naik pitam, suaranya semakin meninggi dan tak terkontrol lagi.
"Astaghtfirullah hal adzim ma! Jangan berkata seperti itu ma Istighfar!" jawab dinda, memberikan pemahaman kepada sang mertua. Namun bukannya Faham, Rina Justru kembali memberikan Sumpah serapah kepada dirinya.
"Pintar sekali kamu memintaku untuk Istighfar. Aku sudah Istighfar sebelum kamu Meminta. pengen dengar apa yang mama minta sama Tuhan?.
Mama minta sama Tuhan, Supaya tedy diberi kesadaran, dibuka mata batinnya agar tidak mempertahankan wanita mandul sepertimu. Buang buang waktu saja"
Ucapan rina memang terdengar pelan, namun setiap untaian kata yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu seperti ribuan peluru yang menghujam jantung Dinda nirwana. Sedih dan sakit ia rasakan dalam waktu bersamaan.
"Tapi ma! Rezeki, jodoh, dan maut itu kan rahasia tuhan. Bukan dinda nggak mau ma, tapi mungkin tuhan belum percaya sama dinda" Jawab dinda membela diri, karena pada kenyataannya memang seperti itu.
"Hallahhh alasan. Mandul ya mandul aja. Mending kamu minta cerai aja deh sama tedy, biar putraku itu bisa cepat menikah lagi. Bosen aku nungguin kamu melahirkan keturunan keluargaku, dasar wanita tak berguna." ucap rina lagi.
Dinda tak kuasa lagi membalas ucapan mertuanya, walau bagaimana pun wanita itu Adalah ibu dari pria yang sangat dia Cintai. Tak mungkin baginya untuk membalas ucapan wanjta tersebut. Alasannya jelas, Dinda tak ingin menyakiti hati wanita yang sangat dihormati oleh suaminya Itu.
Namun sayang, wanita paruh baya itu seakan enggan Peduli dengan perasaan Menantunya ini. Enggan berdebat dengan Dinda, wanita paruh baya itupun Meninggalkan Dinda dengan angkuhnya. Tanpa kata, tanpa menoleh.
Seolah apa yang ia katakan adalah benar. Ya, rina merasa paling Benar disini.
Tak hanya sekali Rina meminta sang Putra untuk menceraikan istrinya ini, namun Tedy selalu saja membela sang istri dengan mengatakan bahwa Jodoh, maut, dan Rezeki adalah rahasia Tuhan. Sayangnya alasan itu sama sekali tak bisa diterima oleh rina. Baginya, semua wanita itu sama, harus bisa mengandung. Jika tidak,maka berarti rahimnya tidak sehat, rahimnya Bermasalah.
Maka Ceraikan saja, dari pada nggak guna.
Sepeninggal sang Mertua, Dinda hanya menangis sedih. Air matanha keluar dengan derasnya, sederas air hujan yang mengguyur kota ini.
apalagi ketika dia mengingat begitu seringnya wanita itu menuduhnya memiliki rahim tak sehat, menuduhnya mandul. Padahal dia sudah berkonsultasi dengan dokter, dan jawabannya mereka adalah Rahimnya Sehat dan baik baik saja.
"Ya Tuhan, Tolong Aku!. Beri aku kesempatan untuk Membuktikan pada Mereka yang mengatakan aku mandul. Izinkan akj Mengandung tuhan!" Pinta Dinda di sela-sela tangisnya.
Sungguh, Jika ditanya, Adakah tuduhan yang lebih sakit dari ini? Maka dinda akan menjawab Tidak. Tidak ada tuduhan yang lebih menyakitkan dari pada ini. Kata-kata itu sungguh tak manusiawi.
Semalam Suntuk Dinda menunggu, tetapi Tedy tak Juga pulang bahkan Memberi kabar pun tidak. Lelah Menunggu, akhirnya Dinda tertidur di sofa ruang tamu Rumahnya.
...****************...
Keesokan harinya, Rina melihan sang menantu masih terlelap. Tentu saja saja pemandangan ini sukses memuat wanita penyihir itu Murka. Tanpa Belas kasih wanita itu pun mengambil seember air dan..
__ADS_1
'Byurrrrr
"Ammpphh... Apa ini?" tanya dinda gelagapan
Dengan angkuhnya, Rina Menatap penuh Permusuhan.
"Apa ini, apa ini? " Bentak Rina kesal.
"Ada apa ma?" tanya Dinda bingung.
"Ada apa kamu bilang? ini sudah jam enam pagi, dasar menantu tidak berguna. Bisanya Moloooorrr aja, udah gitu nggak bisa punya anak lagi. Kamu itu bener-bener nggak tahu malu ya. Udah disini cuma numpang hidup sama anakku, Astaga lama-lama aku bisa gila." ucap Rina dengan emosi menggunung.
Tanpa merasa Berdosa, Rina pun balik badan meninggalkan Dinda yang masih Linglung. Tak memahami apa lagi kesalahannya kali ini.
"Ya Tuhaann, Salahku apa lagi" Lirih Dinda sembari memijat kepalanya yg terasa sakit.
Dan Lagi wanita itu menangis dalam diam. Jujur saja rasanya sangat melelahkan diperlakukan Tidak manusiawi seperti ini.
...****************...
Di tempat Lain
Seperti yang di katakan Rina, Tedi memang sedang berada di rumah seorang wanita cantik pilihan Ibunya.
Wanjta itu Sengaja Rina pilih Untuk Menggoda putra semata wayangnya, agar Supaya Putranya itu mau berpisah dengan istri mandulnya itu. Dan Rina patut bahagia, karena caranya kali ini berhasil.
Lihatlah betapa tedy sangat menikmati penrmainan yang wanita itu berikan, termasuk Permainan Ranjang.
"Sayang, Sudah dong. Kan semalam udah tiga kali, masa mau lagi" ucap bella manja
"Milik kamu enak banget sayang, akj sangat menyukainya" ucap tedy sembari melahal bibir manis kekasihnya.
"Aku akan terus kasih jatah kamu setiap hari, asalkan Kamu tinggalkan istrimu. Aku nggak mau jadi madu sayang, no aku nggak Suka!" bujuk bella seperti perintah rina padanya.
"Tentu saja sayang, aku pasti menceraikannya. Dia iru sudah tidak berguna lagi bagiku." jawab tedy seraya melanjutkan pergumulan panas mereka, dan Bella tersenyum bahagia sebab misinya berhasil.
Bagaimana tidak?
Disamping ia akan menerima reward dari Rina, Bella juga akan mendapatkan suami tampan dan kaya raya seperti tedy.
__ADS_1
Bukankah ini menarik??