
Tiba disekolah, Dinda langung mengikat rambut panjangnya agar tak mengganggu kegiatan mereka nantinya. Dinda juga tak melepaskan tangan raka.Agar bocah itu yakin, bahwa hari ini Dirinya adalah milik bocah tampan itu.
Raka meminta izin pada dinda untuk menyapa teman-temannya dan dinda pun mengizinkan. sebab menurutnya, hal-hal kecil seperti itu juga bisa membuat anak bahagia.
Dinda terlihat Celingak celinguk, beberapa detik kemudian matanya tanpa sengaja menengok ke arah dion. Dion yang merasa di tatap pun akhirnya buka suara. Bukan dion namanya kalau tak mencari masalah.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa aku tampan?" canda dion, menggoda dinda.
"Sebaiknya kamu pergi! Wajahmu mengotori pagiku!" ucap dinda, tak suka.
"Aku akan pergi setelah kau dan raka memasuki aula itu. Lagian, aku juga masih banyak pekerjaan. Memangnya kamu pikir aku pengangguran, ha? Enak saja. Pria tampan dan keren sepertiku, masa disangka pengangguran. Kan nggak etis." balas dion lagi, semakin memancing emosi musuhnya. Bagi dion, ini adalah Mood Booster paginya.
"Kamu fikir aku akan silau dengan apa yang kamu miliki? Maaf, aku tidak tertarik. Justru aku sangat jijik dengan pria sepertimu. Menurutku, bagusnya pria songong sepertimu jadi penyapu jalanan saja, biar nggak meresahkan. Udah Songong, Percaya dirinya nggak tau tempat pula. Ihhh, menjijikkan" balas Dinda semakin kesal.
"Astaga, Lancar sekali bicaramu. Apakah yang kau katakan tadi adalah cerita hidupmu? Kau sedang curhat denganku?" pancing dion lagi.
Ya tuhan. Andai ini bukan tempat umum, dan ia sedang tak menjaga image didepan ibu-ibu wali murid, dia pasti akan menginjak kaki dion agar pria itu pergi dari sini.
"Aku tak perlu curhat pada siapapum kecuali pada tuhanku. Apalagi curhat pada pria tak punya hati dan empati sepertimu. Pria jahat, suka menindas, dan senang menertawakan penderitaan orang lain" jawab dinda lagi. Namun kali ini matanya berkaca-kaca. Ia lelah menghadapi sikap dion yang menurutnya sangat tak punya hati.
"Eh, eh. Jangan nangis dong. Aku kan cuma Bercanda" ucap dion menyesal.
"Sudahlah. Candaanmu sudah sangat melukaiku. Sebaiknya kau pergi dari sini, atau aku yang akan pergi." jawab dinda lagi.
__ADS_1
"Maafkan aku. Biar aku yang pergi. Sekali lagi maafkan aku, aku hanya bercanda saja" ucap dion sembari mengelus lengan dinda, namun dinda segera menepis tangan pria itu.
Dinda terluka. Nyatanya ejekan dion mengingatkannya pada ejekan-ejekan yang pernah ia terima dari Tedy dan ibunya. Sungguh dion sangat keterlaluan hingga mampu mengoyak hatinya dan membuka luka lama yang mulai mengering.
Dimobil, dion terdiam tanpa kata. Niatnya hanya ingin membuat dinda marah dan membangkitkan jiwa bar-bar dalam diri dinda. Bukan malah membuatnya menangis. Sungguh, dion sangat menyesal telah melakukan itu.
"Maafkan aku, din. Sungguh aku tak berniat menyakitimu. Aku hanya suka melihatmu marah, melihat sinar kebencian dalam matamu untukku. Itu indah, din. Aku belum pernah bertemu wanita seunik kamu, sekalipun itu ibunya raka. Astaga, apa yang aku lakukan? Kenapa aku membandingkan mereka berdua. Ahh sepertinya aku memang sudah gila" ucap dion sembari melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor, sebab ia telah memiliki janji dengan Client.
...****************...
...Dinda bukanlah wanita lemah seperti yang dion fikirkan. Buktinya, ia bisa melupakan kesedihannya dan bermain bersama raka dan tim....
Dinda begitu hebat dalam memainkan perannya. Hingga akhirnya mereka berdua dapat memenangkan lomba dan membawa pulang beberapa hadiah.
"Mommy. Thank you so Much, mommy. Raka happy, mommy. Sungguh" ucap raka senang. Kebahagiaan yang dinda berikan padanya, tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Yes, Mommy. Terimakasih" ucap raka sembari memeluk dinda penuh kasih sayang. Mereka pun larut dalam kebahagiaan.
Namun, Kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Sebab, ada dua orang yang sedari tadi mengawasi mereka akhirnya gatal dan menampakkan diri dengan congkaknya.
Dua wanita berbeda usia itu pun, langsung mengolok-olok Dinda.
"Wah, udah libur neng, open BO nya? Sekarang udah beralih profesi jadi babysitter?" ucap wanita paruh baya yang diketahui merupakan mantan mertua dinda tersebut.
__ADS_1
Dinda yang hafal dengan pemilik suara tersebut, lantas meminta lala untuk membawa raka kedalam mobil yang memang sudah disiapkan untuk mereka.
Dinda menarik nafas dalam. Mengumpulkan kekuatan untuk melawan mulut wanita yang sudah menghancurkan hidupnya itu.
"Saya tak pernah melakukan hal kotor itu, jadi jangan asal menuduh. Kalian fikir aku tak tahu kalau semua itu adalah jebakan kalian? Astaga, kalian sudah merasa menang rupanya. Ingat nyonya, karma itu ada. Aku memang tak membalasmu secara langsung, namun aku selalu menyebut namamu dan juga anakmu dalam setiap sujudku. Tunggu saja pembalasan yang akan kau dan keluargamu terima. Aku diam, bukan berarti tak tahu. Bahkan aku tahu tujuan kalian kesini. Kalian ingin menawarkan produk kalian kan? Mirrriisss sekali, apakah tedy sudah tak mampu memberi kalian makan sampai harus berkeliling panas-panasan seperti ini? Memalukan.
Seorang nyonya kaya raya dari hasil menipu, kini telah menjadi sales dagangannya sendiri. Udah nggak mampu membayar orang ya? Atau tak tahu strategi berdagang?" ucap dinda sambil tertawa. Menatap dua manusia itu dengan tatapan mencemooh. Tak perduli mereka marah atau tidak. Yang jelas dinda sangat puas bisa menampar wajah kedua wanita tak tahu malu itu dengan kata-kata pedasnya.
Dengan tertawa terbahak-bahak, dinda meninggalkan kedua wanita yang kini wajahnya nampak memerah karena kesal. Namun, bukan Rina dan bella namanya jika mereka sampai merasa terhina.
Wanita-wanita tak tau malu itu dengan sombongnya melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda karena dinda. Dengan penuh percaya diri, kedua wanita itu memasuki kantor kepala sekolah dan menawarkan produk yang mereka bawa.
Sedangkan disisi lain..
Dinda tak bisa membohongi perasaanya. Mentalnya cukup Goyah setelah bertemu dengan dua wanita itu.
Sesampainya didalam mobil, dinda merasakan mual dan tubuhnya melemah.
Wajahnya memerah menahan mual. Keringat dinging mulai membasahi seluruh tubuh dinda. Bukan hanya itu, jantung dinda berdetak sangat kencang. Rasa kesal bercampur marah membuat wanita itu tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya.
Saat mobil yang ia tumpangi berhenti di depan restoran, mata dinda semakin pusing dan berkunang-kunang. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk turun dan kembali bekerja. Ia tak ingin Nia sahabatnya kecewa.
Namun sayang, baru beberapa langkah dinda keluar dari dalam mobil, pandangan dinda semakin buram. Keringat dingin semakin mengucur membasahi baju yang ia kenakan. Hingga tak lama berselang.
__ADS_1
Brukk...
apa yang terjadi?