
Dion geram saat mendengar rekaman itu. Ingin rasanya ia mencengkram leher mereka dan melemparnya kedasar jurang. Bahkan menembak kepala mereka jika perlu.
Namun, dion mengurungkan niatnya. Dia punya rencana yang jauh lebih gila dibanding niat awalnya. Dion ingin menghancurkan bisnis mereka dan membuat mereka jatuh miskin dan menderita.
"Jadi, mereka merasa sudah menang?" tanya dion pada anak buahnya.
"Sepertinya begitu pak!" jawab pria berkepala botak itu.
"Cari tahu, bisnis apa saja yang mereka jalani!" pinta dion pada anak buahnya.
'Berani sekali mereka bermain-main denganku' batin dion.
"Baik, pak." jawab pria botak itu lagi.
Selepas kepergian dua anak buahnya, dion kembali mendangarkan rekaman suara itu. Didetik berikutnya, pria itu teringat akan wajah dinda.
"Tenangkan dirimu, Dinda. Aku pasti akan membalas kelicikan mereka. Lihat saja nanti!" ucap dion dengan marah sembari meremas ponselnya.
...****************...
Tak ingin berlarut dalam kesedihan, akhirnya dinda memohon pada sahabatnya itu agar diterima bekerja di restoran milik Nia.
"Aku akan kerjakan apapun. Jadi tukang antar makanan pun tak masalah. Aku hafal jalan daerah sini kok. Aku juga bisa bawa motor dengan baik" ucap dinda sedikit memaksa.
"Baiklah. Tapi jangan minta gaji mahal ya, aku nggak bisa bayar kamu mahal, faham?" jawan Nia sedikit kesal dengan sikap pemaksa sahabatnya itu.
"Gitu dong. Emangnya kamu nggak kasihan liat aku hanya diam dan bermain HP?. kali aja setelah keluar, otakku kembali waras!" ucap dinda dengan senyuman manis Penuh Luka.
"Sabar ya, Din. Aku tau kamu.... Sudahlah, tak usah dipikirkan lagi. Ayok, kita cari cuan biar kaya. Agar bisa balas dendam pada ibu dan anak ular itu." ucap nia sembari membantu dinda menghapus air matanya.
Dinda tersenyum menutup luka hatinya, walaupun sulit. Terkadang, dinda masih melamun dan tiba-tiba meneteskan air mata. Bagaimana bisa nia mengajak sahabatnya itu bekerja jika begini. Nia harus extra sabar, untuk membantu dinda sembuh dari lukanya.
...****************...
Hari kian berganti. Tak terasa, sebulan sudah dinda keluar dari rumah mendiang orang tuanya. Rumah yang dibangun dengan keringat dan darah dari orang tuanya. Tapi sayang.. Dinda tak mampu mempertahankan rumah itu dari keserakahan mantan suami dan mantan mertuanya.
__ADS_1
Dendam?? Sudah pasti. Bahkan ia sempat berfikiran untuk membunuh kedua ular itu. Bersyukur dia punya Nia yang selalu mengingatkannya bahwa Biar tuhan yang membalas.
Malam ini, seperti biasa Dinda melakukan tugasnya. Menghitung jumlah pemasukan dan pengeluaran resto milik Nia. Dinda dipercaya Nia untuk mengelola keuangan di restoran itu.
"Ada kendala, din?" tanya Nia sembari membawa dua cangkir kopi untuk mereka berdua.
"Nggak ada, Ni. Semua sudah pas, tak kurang sepeserpun." ucap dinda sembari menyerahkan rekapan penjualan resto itu.
"Baguslah kalo gitu. Ada kamu disini, aku jadi santai. Oh ya Din, Gimana kalo kita buka cabang di surabaya selatan? Sepertinya disana rame juga." ucap Nia.
"boleh tuh. Tapi aku trauma dengan daerah itu. Aku nggak mau kesana kalo kamu buka cabang disana." jawab dinda tak suka
"Yaelahh. Ngapain diingat manusia ular itu sih, Din. Harusnya kamu buktikan, bahwa kamu mampu berdiri dikaki sendiri. Nggak mencuri seperti mereka itu" ucap nia kesal.
Dinda terdiam. Nia benar, Sampah tak perlu di takuti. Harusnya dinda lebih elegan menghadapi manusia berhati busuk seperti mereka.
"Kamu benar, Ni. Harusnya aku mengangkat wajahku Tinggi-tinggi di hadapan mereka. Untuk apa aku takut? Aku akan menghadapi mereka. " jawab dinda mantap.
"Bagus. Oh iya jangan lupa, besok restoran kita disewa orang untuk pesta. Udah siap decornya?" tanya Nia semangat.
"Tenang. Soal MC, Biar bu Owner ini yang ngisi. Tenang saja, aku sudah biasa melakukannya." jawab Nia dengan senyum manisnya.
Keesokan harinya...
Dinda berangkat terlebih dahulu, sebab ia adalah penangggung jawab acara tersebut. Namun, saat semua tamu undangan sudah hadir. Sang tuan rumah malah ngambek alias merajuk, dan tak mau keluar dari dalam mobil.
"Kenapa suster? Apa ada masalah?" tanya dinda pada Babysitter yang mengasuh anak tersebut.
"Maaf kak, anak majikan saya tak mau dengan pestanya, kak" jawab babysitter itu gugup.
"Kenapa?" tanya dinda yang juga ikut gugup, sebab tamu undangan sudah hadir semua.
"Dady-nya masih di pesawat kak. Dia mau nunggu dady-nya dulu katanya." jawab gadis muda itu lagi.
"Baiklah. Antarkan aku ke sana, biar aku yg coba membujuknya." ucap dinda dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Babysitter itu pun menyetujui. Lalu mengantar dinda ke mobil Alphard hitam yang terparkir di depan restoran..
"Selamat siang, Tampan. Aduuh tampannya anak ini" puji Dinda dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya.
Sayangnya, bocah itu masih tetap merajuk. Namun, jangan panggil dia Dinda kalau tidak memiliki banyak akal.
"Emm, Suster. Apakah kamu tahu bahwa aku sudah tak punya ayah dan ibu?" tanya dinda pada pengasuh itu, bermaksud mengajaknya berdrama.
"Benarkah, kak? Astaga, kasihan sekali, kakak." jawab suster itu mengerti, jika dinda sedang mengajaknya bersandiwara.
"Hm, Aku sendirian didunia ini suster. Ibuku sudah meninggal, Ayahku juga. Lalu aku harus bekerja di restoran ini sebagai pelayan. Tapi aku bahagia suster. Sebab diluaran sana masih banyak orang yang tak seberuntung kita. Masih bisa makan,tidur ditempat yang nyaman, masih bisa merayakan ulang tahun super mewah. Tapi sepertinya, kita punya teman yang tidak bersyukur, suster."
pancing dinda dengan raut muma sedih.
"Saya juga merasakan hal yang sama, kak. Sahabat kecil saya ini, susah sekali bersyukur. Padahal Daddy nya cuma kerja, cari uang buat nyenengin dia. Eh, malah ngambek gini. " tambah suster lagi.
"Benarkah? Aku tidak percaya suster. Sepertinya dia anak baik. Lihatlah suster, dia sangat tampan." ucap dinda merayu bocah tersebut.
"Nggak. Raka nggak mau turun kepesta itu. Raka mau tunggu Daddy. Raka mau tiup lilin sama Daddy. Daddy juga udah janji mau bawain Mommy baru buat Raka. Nggak, jangan bujuk Raka lagi. PERGI!!" pinta bocah tampan itu lagi.
"Ooh, Cuma mau tiup lilinnya sama daddy. Baiklah, tak masalah, semua bisa di atur. Nanti kakak kasih tau mba MC, kalo Tiup Lilinnya tunggu daddy sama mommy baru. Tapi sebagai anak paling tampan di pesta, Raka tidak boleh mengecewakan tamu, sayang.
Raka harus tetap menyapa mereka, biar mereka nggak kapok datang ke pestanya raka, Bagaimana?" Nego Dinda lembut.
Raka menatap dinda. Dinda pun membalas tatapan bocah itu dengan penuh senyuman. Akhirnya bocah itu menurut.
"Tapi Raka tak punya teman untuk menyapa mereka, Kak. Maukah kakak menemani Raka?" tany bocah tampan itu. Terdengar dewasa namun lugu..
"Baiklah, sayang. Hari ini, aku adalah kekasihmu. Aku akan menemani setiap langkahmu hari ini. Bagaimana?" tawar dinda dengan senyum manisnya.
"Benarkah?, Benarkah kakak mau menemaniku?" tanya rak bersemangat.
"Tentu saja pangeran tampan. Hamba siap melayani anda. Ayo kita let's go!!" dinda tersenyum sembari mengulurkan tangan. Raka pun membalas uluran tangan itu, lalu tersenyum gembira.
Dinda berhasil membujuk tuan muda kecil itu. Tapi, dinda tak bisa bohong bahwa hatinya turut sedih melihat raka. Dinda mendapa pelajaran berharga dari anak itu. Bahwa kita harus berdiri tegak dan mengangkat kepala sendiri, saat orang yang kita butuhkan tidak ada disamping kita. Kita harus kuat menopang beban kita sendiri saat tak ada satupun orang yang mau menolong kita.
__ADS_1