
Dion mencebikkan bibir, meremehkan. Hari gini, mana ada wanita yang tahan melihat uang. Apalagi dia sudah pernah menjajakkan dirinya. Bukankah ini sebuah kebohongan?
"Semua orang juga tahu, aku kaya. Kau tak perlu mengembalikan uang itu. Aku sudah terlanjur menghargaimu segitu. Aku hanya minta, jangan pernah memberi harapan pada putraku, apalagi tentang keinginannya memiliki Ibu. Aku bisa mengatasinya dan kau tak perlu ikut campur. Faham!" ucap dion dingin.
"Sudah ku bilang. Aku tak tahu jika ucapanku menyinggungmu. Aku minta maaf. Lagian, aku dan raka tak mungkin bertemu lagi. Lalu apa yang kau khawatirkan?" balas dinda semakin muak dengan pria didepannya itu.
"Kau tak mengenal raka. Dia sudah menganggapmu ibunya. Tak menutup kemungkinan, dia akan meminta untuk kesini lagi menemuimu. Dasar wanita licik!" jawab dion kesal.
Saat itu juga dinda tersadar, mengapa dion begitu marah. Ternyata ini yang ia takutkan. Takut jika sang anak akan meminta untuk menemuinya.
"Astaga, aku tidak tahu jika jadinya akan begini. Lalu aku harus apa? Tolong maafkan aku" ucap dinda merasa bersalah.
"Makannya, jangan asal bicara. Apalagi pada anak seusia raka. Ahh, entahlah. Aku sendiri juga tak tahu harus bagaimana. Kamu memang sangat bodoh." ucap dion sambil melirik dinda yang khawatir. Namun ia sendiri pun, juga khawatir jika sang anak akan meminta untuk bertemu dinda.
"Bagaimana jika aku menemuinya lagi, dan menjelaskan semuanya." tanya dinda.
"Apa katamu?? Kamu ingin meyakiti perasaan anakku? Kamu ingin membuatnya patah hati? Astaga,,, baru kali ini aku bertemu dengan wanita tak berperasaan sepertimu!" jawab dion kesal.
"Cukup ya tuan yang terhormat!!
Jangan menghakimiku lagi. Anda tak mengenalku jadi tak usah sok tahu. Aku nggak terima kamu menuduhku seperti itu. Bahkan sebelum anda datang, Akulah yang membuatnya tersenyum. Ingat itu. Dasar nggak tahu trimakasih" ucap dinda jengah.
"Oh, jadi kamu mengungkit kebaikanmu? Dasar wanita pengungkit." balas dion meremehkan.
"Udahlah, terserah. Aku capek berdebat denganmu. Aku tak menyangka, jika usahaku untuk menghibur anakmu, malah kau anggap menipu. Aku juga tak berminat untuk menjadi mommy sungguhannya. Aku hanya ingin membuatnya tersenyum. Itu aja, nggak lebih.
Sudahlah, aku capek." jawab dinda sambil berlalu meninggalkan dion yang masih berdiri ditempatnya.
Dion sendiri tak mengerti, mengapa ia menyerang dinda dengan tuduhan, yang ia sendiri tahu bahwa yang dinda lakukan adalah demi menghibur putranya.
...****************...
Dinda kesal luar biasa. Pria itu begitu arogan dan tak tahu terimakasih. Bukannya berterimakasih karna dinda telah membantunya membahagiakan sang putra. Pria itu malah menuduhnya dan menghujatnya dengan kata-kata kasar.
__ADS_1
"Kenapa sih? Datang-datang kok mukanya bete" tanya Nia merasa aneh dengan kekesalah sahabatnya itu.
"Gimana aku nggak bete. Bapaknya tuh bocah, sangat Arogan dan sombong. Bukannya berterimakasih karna aku sudah menemani dan mengibur anaknya. Eeehhh... Malah menghujatku!" jawab dinda kesal.
"Kok bisa? Emang kamu bikin masalah apa sama dia?" tanya Nia. Lalu ia duduk disamping dinda dan mencecarnya dengan pertanyaan.
"Kita tahu kan, itu bocah udah nggak punya ibu? Bahkan kita juga liat itu anak cuma ditemenin suster sama sopirnya. Kamu denger sendiri kan, drama tu bocah. Iya, kan?"
"He,em. Terus?" nia semakin penasaran dengan kasus yang dihadapi sahabatnya.
Dinda menarik nafasnya panjang, lalu mulai bercerita.
"Kita kan sama-sama tahu, kalo tuh bocah. Maksudku, si raka ternyata udah nggak punya ibu, iya kan? Orang dia sendiri yang bilang. Nah, ceritanya tu bocah sering minta mommy ke daddy-nya. Yang namanya nyari ibu sambung kan nggak mudah, aku pun faham dengan posisi tu bapak-bapak. Cuma, si bocah ini nggak ngerti. Terus, aku jelasinlah ke si bocah kalo nyari ibu sambung itu nggak mudah. Kita harus tahu si ibu ini, sayang nggak sama raka. bisa nganggap raka seperti anak sendiri atau nggak. Pokoknya panjang lah. Nah, di akhir ceritanya.
Ni boca minta aku yang jadi Mommy-nya. Ya udah aku iya-in aja, dari pada ribet, kan?
Ehh, nggak tahunya si bapaknya ini denger. Ya itu dia jadi marah. Dia nuduh aku manfaatin anaknya supaya bisa nikah sama dia. Pokoknya intinya bohongin anaknya, nipu anaknya, Gitulah pokoknya!" jawab dinda sembari memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Jadi, kamu di sangka manfaatin anaknya buat menggaet dia, gitu?" tanya Nia lagi, memperjelas.
"Astaga, kalo bener begitu emang kudu di lawan. Eh tapi aku rasa, bukan cuma itu deh masalah dia. Apa kamu ada masalah lain selain itu?" tanya Nia tiba-tiba curiga dengan serangan aneh dari pria itu.
Dinda tak menjawab. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan semua yang pernah terjadi antara dia dan pria itu. Dinda tak mau mengingatnya lagi, karena saat itu adalah saat-saat paling menyakitkan dalam hidupnya.
"Din?... Dinda?" panggil Nia.
"hhmmm.."
"Dih kok malah ngelamun" ucap nia
"nggak. Aku nggak apa-apa kok." jawab dinda
"oke kalo nggak ada apa-apa. Aku tidur duluan yaa, capek banget, Din. " ucap nia sembari meninggalkan dinda yang melamun di ruang tamu.
__ADS_1
"Aaiissshhh, menyebalkan." umpat dinda kesal.
...****************...
Ditempat lain..
Dion justru tersenyum saat melihat hasil rekaman ulang tahun sang putra.
Disana dinda terlihat sangat cantik dan juga baik dalam memainkan perannya. Entah itu tulus atau tidak. Tapi bagi dion, itu sangat manis.
"jadi, sekarang kamu bekerja sebagai pelayan restoran? Tak masalah. Bersabarlah dinda, Aku janji akan mengembalikan apa yang menjadi hakmu. Mantan suamimu tak akan bisa melawanku." ucap erik, sembari mengelus wajah dinda yang ada di laptopnya.
Dion tersenyum geli. Mengingat perdebatan mereka siang tadi. Dinda memang sangat lembut, lugu dan juga lemot. Pantas saja dia mudah di tindas.
"Astaga dia memang lemot. Pantas saja suaminya dengan mudah membodohinya, karena dia memang bodoh" ucap dion gemas.
Saat hendak beranjak dari ruang kerjanya, ponselnya pun berdering. Membuatnya mengurungkan niat untuk pergi dari ruangan itu.
Sebab, yang menghubunginya adalah detektif yang ia sewa untuk memata-matai tedy dan ibunya.
"Bagaimana?" tanya dion pada anak buahnya
"Kami menemukan indikasi jual beli, bos!" jawab pria itu
"Indikasi jual beli? Maksudnya?" tanya dion bingung
"Seharusnya malam itu nona dinda tidak tidur dengan anda, bos. Sebenarnya nona dinda dijual pada orang lain. Hanya saja, pria yang membawa nona dinda salah mengantarnya. Hingga anda lah yang terlibat malam itu.
"Jadi menurutmu, mereka salah sasaran?" tanya dion lagi
"Benar bos. Kami sudah menghubungi mucikari yang membeli Nona. Apa bos mau bertemu dengannya?" jawab pria itu lagi
"Atur saja. Akupun ingin tahu alasan pria bodoh dan ibunya itu membuang dinda. Baiklah terimakasih iformasinya." ucap erik sembari memutus sambungan telfonnya.
__ADS_1
Dion yakin. Dinda pasti belum tahu apa sebenarnya yang direncanakam tedy dan ibunya.