
Dikamar Raka..
"Benarkah? Benarkah aku boleh ke sekolah dengan mommy dinda?" tanya bocah itu girang.
"Iya sayang. Ayo cepat pakai seragamnya, nanti telat loh" jawab lala lagi.
Dengan penuh semangat, raka pun akhirnya langsung bersiap dengan dibantu oleh Lala pengasuhnya. Bocah tampan itu terlihat sangat bahagia.
Disisi lain, dion tampak sedang berfikir, kalimat apa yang akan ia katakan kepada dinda nanti.
"Dibaik-baikin atau di paksa aja kali ya?" Gumam dion. Namun tiba-tiba saja Raka datang.
"Daddy, Benarkah Daddy mau ngajak mommy-nya raka ke sekolah?" tanya bocah tampan itu dengan binar mata penuh kebahagiaan.
'Aduh, mana di panggil mommy lagi. Astaga raka, kamu bikin daddy malu aja. Mau taro dimana muka daddy, ntar disangkanya daddy naksir lagi sama tu perempuan.' Gerutu dion dalam hati.
"Tentu saja sayang. Apa sih yang tdk buat anak daddy yang paling tampan ini. Udah, yuk. Nanti kamu telat" ucap dion sembari menggandeng tangan sang anak.
Sesampainya di restoran, dion melihat dinda sedang bercanda gurau dengan seorang pria. Entah mengapa, ia merasakan panas dalam hatinya. Dia tak terima, jika dinda begitu akrab dengan pria lain selain dirinya.
Dion yang terbakar amarah, tentu saja langsung menghampiri dinda dan pria itu.
"Dinda, bisa kita bicara sebentar?" pinta dion tanpa basa basi.
Dinda dan pria itu pun menghentikan obrolan mereka, lantas menoleh kearah asal suara.
"Ada apa?" tanya dinda ketus.
"aku mau bicara berdua. Aku tak ingin ada orang lain yang mendengar masalah kita." jawab dion tak kalah ketus. Sebab ia tak suka melihat tatapan teman pria dinda menatap wanita itu.
Tampaknya, pria itu Faham. Lantas segera berpamitan.
Kini tinggallah dinda dengan pria arogan itu. Membuat perasaan dinda semakin kesal.
"Ada masalah apa lagi? Bukankah urusan kita sudah selesai?" tanya dinda
__ADS_1
"Kamu harus bertanggung jawab atas janjimu pada raka!" jawab dion tegas.
"Janji apa maksud kamu? Aku nggak ada janji apapun sama raka. Nggak usah ngarang kamu!" balas dinda berani.
"Apa kamu Amnesia? Apa perlu aku ingatkan hal bodoh apa yang sudah kamu katakan pada putraku?" dion menatap tajam kearah wanita itu. Begitu juga dengan dinda.
"Aku tidak tahu apa maksudmu. Sudahlah, buang-buang waktuku saja" jawab dinda sambil berbalik badan hendak meninggalkan dion. Namun, dengan cepat dion menarik pinggang dinda hingga wanita itu kini berada dalam pelukannya.
Tentu saja perlakuan dion sontak membuat wanita itu gugup, gemetar, dan takut secara bersamaan.
"Lepaskan aku. Aku tak punya urusan apapun denganmu!" ucap dinda dengan sidikit berontak.
"Siapa bilang kita tak punya urusan? Kamu sudah berjanji pada raka untuk menjadi mommy-nya bukan? Maka tepati janji itu sekarang!" jawab dion yang masih memeluk dinda. Sebab ia khawatir wanita itu akan melarikan diri. Bisa repot nanti
"Nggak, aku nggak mau menikah dengan pria arogan sepertimu. Lepaskan aku!" tolak dinda semakin marah.
"Dasar bodoh!!. Siapa juga yang mau menikah denganmu yang jelek ini. Membayangkan tidur denganmu saja aku tak mau. Malam itu, karna aku mabok makannya aku mau!" ucap dion
Sontak saja dinda membungkam mulut erik. Dia tak ingin ada yang mengetahui jika mereka pernah terlibat Cinta satu malam.
"Diam, Diam, Shuutttttt" Ucap dinda semakin kesal.
"Awwh, sakit" pekik dinda
"Makannya lepasin, orang belum selesai ngomong udah main bekap-bekap mulut orang aja. Aku tuh ke sini cuma ingin agar kamu menepati janjimu sama raka." ucap dion, langsung pada intinya.
"janji yang mana, sih?" tanya dinda lagi
"Omongan kamu yang katanya mau jadi mommy-nya raka. Sekarang dia lagi butuh kamu, makannya aku menagihnya." Jawab dion
"Memangnya raka butuh aku untuk apa? Lepasin dulu napa sih?" tanya dinda sambil mencoba melepaskan pelukan dion.
"Jangan lari tapi!" ucap dion waspada.
"Iya, Bawel" ucap dinda.
__ADS_1
Tanpa Curiga, dion pun akhirnga melepaskan dinda dan kembali melanjutkan perkataanya.
"Hari ini, raka ada acara di sekolah. Temanya adalah kekompakan ibu dan anak. Kamu tau sendiri kan kalo raka nggak punya Ibu. Dan kamu sudah berjanji mau menjadi ibunya. Makannya aku datang untuk menagih janji itu, Mengerti?. Jadi bukan aku yang mau mengajakmu menikah, nggak usah geer!" ucap dion percaya diri.
Dinda diam sesaat, menatap dion dengan penuh permusuhan. Ia sangat tak suka dengan sikap dion padanya yang terkesan semena-mena dan pemaksa.
"Jangan menatapku seperti itu. Cepat bersiap, raka sudah menunggumu di mobil" perintah dion seenak jidatnya.
Tak punya pilihan lain, dinda pun menurut. Ia tak ingin mengecewakan raka. Walaupun begitu, ia tetap melangkah dengan sejuta umpatan yang ia tujukan untuk pria arogan itu.
'Dasar pemaksa!' batin dinda kesal.
Dion yang menatap dinda berjalan kearah mobilnya pun tak bisa menahan senyum. Ia merasa sangat gemas dengan sikap dinda.
"Hay, tampan. Kita mau ngapain hari ini?" tanya dinda sembari mencium pipi gemoy bocah itu.
"Kita main disekolah raka hari ini ya, mommy? Apa mommy siap?" tanya raka yang terlihat bahagia karna bertemu dinda.
"Siap dong, sayang. Memangnya kita mau ngapain? Cerita dong!" tanya dinda, agar dia tdk terlihat kaku saat disekolah raka nanti.
"Disana banyak lomba mommy. Apa mommy bisa memasak?" tanya raka lugu.
"Masak? Masak apa tuh?" tanya dinda sambil melirik manja pada Bocah itu. Dion yang tak sengaja menangkap lirikan manis gadis itu pun merasa gemas. Ingin rasanya ia meminta untuk dilirik semanis itu.
"Saya ada surat pemberitahuan acaranya kak." Sambung Lala sambil menyerahkan surat itu pada dinda.
"Oh, oke. kalo gini kan aku bisa belajar dulu buat jadi Mommy-nya raka nanti di sekolah" ucap dinda menerima surat itu lalu sedikit menoel hidung raka.
Sementara di depan, tepatnya di kursi kemudi. Dion diam-diam tersenyum senang, melihat interaksi ketiga orang itu. Baginya, ini adalah pemandangan yang langka. Baru kali ini ia melihat sang anak begitu bahagia, hanya karna seorang wanita asing yang ia anggap sebagai ibunya.
Tak hanya itu, raka juga terlihat sangat manja dengan dinda. Padahal dengannya saja raka tak pernah bersikap manja seperti itu. Membuatnya sedikit iri.
Dion kembali memperhatikan tingkah raka. Sesekali bocah itu mencium pipi wanita yang ia anggap sebagai ibunya. Melihat itu, dion terenyuh. Dion sadar, bahwa yang sebenarnya raka inginkan bukanlah Fasilitas hidup mewah, melainkan kasih sayang darinya juga seorang ibu.
"Baiklah, tampan. Apa kamu siap memenangkan lomba ini Bersamaku?" tanya dinda dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Tentu, Mommy. Raka akan berusaha supaya tim kita menang. Terima kasih, Mommy." ujar Raka seraya memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu. Dinda membalas pelukan itu dengan sedikit menepuk punggung raka, agar rasa sayangnya tersampaikan dengan baik langsumg kedalam sanubarinya. Ia begitu sayang sekaliagus kasihan terhadap bocah itu. Ia pasti sangat merindukan sosok seorang ibu.
Dion yang melihat semua itu nampak berkaca-kaca. Senang sekaligus sedih bercampur jadi satu. Andai gengsi tak menguasai hatinya, pasti ia telah sangat berterima kasih pada dinda. Sebab ia telah sudih mewujudkan harapan sang putra. dalam hati, pria itu sangat-sangat berterima kasih, karna dinda sudah bersedia meluangkan waktunya untuk sang anak tercinta.