
Seminggu kemudian.
Dinda duduk sambil menatap langit-langit kamar nia dengan tatapan kosong. Dia masih tak menyangka bahwa semua yang ia alami benar terjadi.
"Din, Makan dulu yaa.. Jangan biarkan dirimu terpuruk seperti ini. Katakan padaku, apa yang terjadi?" ucap nia yang tak tahan melihat keadaan sahabatnya seperti ini.
"Nia, Apa kau percaya bahwa aku wanita murahan?" Tanya dinda tiba-tiba.
Nia diam, sambil menatap dalam kearah Dinda. Bagaimana tidak, Sahabatnya itu sudah seminggu berada di tempatnya. Namun, suaminya bahkan tak mencarinya. Dia bahkan tak pernah melihat dinda berkomunikasi dengan suaminya.
"Kenapa diam Ni? Apa menurutmu aku wanita nakal?" tanya dinda lagi.
"tentu saja tidak Din. Apa yang kamu katakan?
Nggak mungkinlah kamu seperti itu. Memangnya kenapa? Apa kamu bertengkar dengan tedy??" tanya nia mulai memancing sahabnya untuk bicara.
"Aku bukan istrinya lagi Ni, dia sudah menceraikanku. Aku menghianatinya Ni, aku selingkuh, aku sudah tidur dengan pria lain" jawab dinda dengan air mata yang tak bisa dibendung.
Nia Syok. Bagaimana Tidak? Kalimat tersebut keluar dari mulut sahabatnya sendiri. Dia tau, dinda bukan wanita seperti itu.
"jangan bercanda din, aku lagi serius nih" ucap nia kesal
"nggak Ni, aku nggak bercanda. Kamu lihat uang itu kan? Itu uang yang aku hasilkan dengan menjual diriku" jawab dinda lagi.
"Kok bisa Din? kamu pasti Boong kan?" balas Nia masih tak percaya.
"Jangankan kamu Ni, Aku aja masih nggak percaya kalo aku bisa jadi serendah itu. Aku nggak percaya kalo aku sehina itu Ni. Tubuhku sangat Kotor!" jawab dinda dengat tangis penyesalan.
"Bagaimana bisa din? Apa kamu mengenal pria itu?" Tanya Nia Hati-hati. Jujur saja ia masih belum bisa memahami, kemana arah dan tujuan dari percakapan ini.
"Aku nggak tau Ni, Aku nggak tau siapa dia. Malam itu, Aku diajak Mas tedy ke party, kayak Club gitu. Tapi, nggak tau gimana ceritanya, tiba-tiba aku ada dikamar dengan pria asing.
Aku melakukannya Ni, Aku melakukan perbuatan hina itu. Tapi seingatku, aku melakukannya dengan mas tedy dan bukan Pria itu" ujar dinda jujur.
Nia diam sejenak, mencoba mencerna apa yang dinda ucapkan. Didetik berikutnya, ia seperti menemukan Kejanggalan. 'apakah ini jebakan? Apakah dinda dijebak? Tapi Kenapa??' batin Nia Menerka-nerka.
"Maaf Din, Apakah suamimu tahu soal ini?" tanya Nia serius.
__ADS_1
"Tahu lah, Tiba-tiba dia datang bersama beberapa orang. Aku nggak ngerti gimana ceritanya, yang jelas dia sangat marah dan langsung menjatuhkan talaknya padaku, Ni. Dia... Dia menceraikan aku Nia!" jawab Dinda Degan isak tangis yang menggema di kamar sempit itu.
"Tenangkan dirimu Din, Aku percaya kamu bisa melewati semua ini.
Tapi din, Aku merasa seperti ada yang aneh. Apakah ini jebakan? mungkinkah ini rencana Tedy dan ibunya agar bisa dengan mudah menyingkirkanmu??" ucap Nia akhirnya mengungkapkan Kejanggalan yang ia rasakan.
Seketika Dinda Terdiam, lalu beralih menatap sahabatnya.
"Nggak, Nggak mungkin Ni!. Nggak mungkin mas tedy melakukan hal menjijikkan ini padaku" Ucap dinda Tak ingin langsung mempercayakan hal itu.
"Aku hanya berfikir pake logika aja, din. Jangan terlalu dimasukkan ke hati. Lagipula, selama ini mertuamu kan sangat membencimu. Bisa saja dia meracuni fikiran suamimu, agar kalian bisa bercerai dengan mudah" ucap Nia lagi.
"Tapi, apa motif mereka melakukan ini?" tanya dinda serius.
"Hhmm Mungkin kalian punya perjanjian atau apa gitu?" pancing nia, seakan mendorong dinda untuk mengingat barangkali ada api yg menyebabkan asap ini Muncul.
"Astaghfirullah hal adzim, Ni. apa mungkin?" ucap dinda seakan teringat dengan sebuah surat perjanjian. Dimana tertulis, jika salah satu dari mereka berselingkuh, maka semua harta akan jatuh ke tangan si pihak yang di Selingkuhi.
"Kenapa din? Apa memang ada perjanjian antara kalian?" tanya Nia tegang.
"Bisa jadi kamu benar, Nia. Aku dan mas tedy memang memiliki surat perjanjian. Dimana, ada satu poin dalam surat itu. Jika salah satu dari kami ada yang Berkhianat, maka ia harus rela keluar dari rumah itu tanpa membawa uang sepeserpun.
"ya Allah din, Jahat sekali Mereka. Mending kamu cari pengacara aja untuk mengajukan Banding. Sekalian mencari bukti bahwa kamu di jebak. Biar nama baikmu kembali bersih, dan hartamu juga kembali ke tanganmu lagi." ucap Nia mengingatkan
Dinda pun segera meminjam ponsel Nia. bermaksud menghubungi Dika, Sahabat sekaligus pengacara keluarganya. Namun, baru saja hendak mencari nomor ponsel Dika, tiba-tiba Pintu kamar mereka di ketuk oleh seseorang yang ternyata adalah Kurir.
Kurir itupun memberikan koper dan Amplop coklat pada dinda. Betapa kagetnya mereka, melihat nama pengirim yang ternyata adalah tedy. Pria yang sedari tadi mereka bicarakan.
......................
Tak Hanya koper yang membuatnya tercengang, Sebuah amplop yang kini berada di tangannya tak kalah membuat dinda terkejut Bukan main
Bagaimana tidak?
Nyatanya isi dari amplop tersebut ada surat cerai. Surat cerai yang tak biasa. Sebab didalam surat cerai tersebut, tanggal pengajuan perceraian ternyata sudah sangat lama. Bahkan dinda tidak tahu, jika tedy telah mendaftarkan perceraian mereka jauhh sebelum kejadian ini.
"Bagaimana bisa aku kecolongan seperti ini, Nia?" tanya dinda tak menyangka.
__ADS_1
"Eh, tapi ini tanda tangan kamu loh, din" ucap nia serius.
"Ya, Ini memang tanda tangan aku, Ni. Tapi ini...." dinda terduduk lemas.
Dia tak menyangka, jika diam-diam ia telah mendaftarkan perceraian mereka tiga bulan yang lalu. Pantas saja, tedy tak lagi mau menggaulinya tiga bulan belakangan. Ternyata dia sudah merencanakan semuanya.
"Apa kamu mengingat sesuatu?" tanya Nia yang turut perihatin dengan masalah sahabatnya itu.
"ingat apa, Ni?" balas Dinda
"Apa kamu pernah menandatangani sesuatu. Kertas kosong atau apapun itu?" tanya Nia curiga.
Dinda diam sesaat, mencoba mengingat apa saja yang sudah ia lalui beberapa bulan ini.
"Nggak, Ni. Aku nggak mengingat apapun. Tedy nggak pernah membicarakan perihal perceraian. Dia juga nggak pernab neko-neko. Kami tak pernah bertengkar, Ni. Sumpah, aku nggak nyangka dia selicik ini. Tapi, wait...." ucap Dinda seakan tersadar akan sesuatu.
"Tiga bulan yang lalu, tedy pernah memintaku menandatangani surat tentang pembelian Ruko, Ni. Tapi..." dinda diam sesaat mengingat kejadian dimana, tedy memintanya menandatangani beberapa lembar kertas kosong. Sekarang dinda sadar, jika tanda tangan itu tedy gunakan untuk mengajukan perceraian.
"Aku yakin, mereka melakukan ini agar kamu nggak meminta harta Gono gini, din. Iya nggak sih?" tanya Nia yakin.
"Kamu Benar, Ni. Aku yakin sekali, jika mereka memang menginginkan semua hartaku. Astaghfurullah, dzolim sekali mereka padaku, Ni" ucap Dinda lagi.
Sedangkan di tempat tedy....
Dia sedang berpesta. Merayakan keberhasilannya menguasai harta dinda. Baginya, itu sangat patut dirayakan.
Selain terbebas dari wanita mandul itu, ia Juga Telah mendapatkan seluruh harta yang dinda miliki.
"Selamat sayang, akhirnya kita bisa menyingkirkan wanita itu tanpa banyak drama. Mama nggak nyangka loh, kamu bisa Gerak cepat seperti itu." ucap Rina, sembari menengguk wine yang ada ditangannya.
"Awalnya mama fikir, kamu cinta mati sama perempuan itu. Sampai-sampai mama sempat terfikir untuk meracuni dia, biar mati sekalian." ucap rina tersenyum jahat.
"Tedy juga sempat punya rencana untuk ngajak dia jalan-jalan ke bali. Lalu ajak dia naik kapal, setelah itu dorong aja dia ke laut. Dia pasti mati mah, secara dia nggak bisa berenang." ucap tedy sambil tertawa. Sebab ia membayangkan, jika itu terjadi pasti akan sangat menyenangkan.
"Rasanya lega sekali tak melihat wanita menjijikkan itu dirumah ini. Akhirnya mama bisa tidur dengan tenang." ucap rina seraya meletakkan gelas wine itu, lalu beranjak meninggalkan tedy.
Sedangkan tedy, ia kembali melanjutkan pekerjaannya, yaitu menghitung aset yang sudah ia rampas dari dinda.
__ADS_1
Namun, tanpa kedua orang itu sadari. Bahwa pria yang mereka jebak bersama dinda telah menyusupkan mata-mata untuk mengawasi mereka berdua dan berhasil merekam percakapan ibu dan anak itu. Selanjutnya, tinggal melaporkan hasil dari pekerjaan mereka tersebut.