
Suasana pesta ulang tahun dari bocah yang kini genap berusia lima tahun tersebut nampak meriah. Dinda begitu tulus melakukan apapun yang raka mau. Kesedihan raka berangsur menghilang seiring berjalannya waktu. Raka begitu menikmati pestanya meski tanpa sang ayah tercinta.
Pesta Berakhir. Namun raka malah tak ingin pulang, ia tak ingin berpisah dengan dinda. Dia merasa dinda sangat baik dan juga mengerti dirinya.
Babysitternya pun kebingungan. Beruntung ayah bocah itu menelfon, dan meminta dirinya untuk membiarkan raka melakukan apapun yang ia mau. Seolah-olah, ia mengetahui apa yang dilakukan oleh sang anak.
"Baik, pak. Saya akan menunggu dan menjaga den raka sampai dia berpisah dengan kakak baik itu." ucap suster itu.
"Hm, Biarkan dulu dia bermain. Nanti kalo dia sudah ingin pulang, kamu telfon saya, biar saya jemput. Mengerti?" ucap pria itu lagi.
"Baik, pak. Saya mengerti" jawab pengasuh raka lagi, dan percakapan pun berakhir.
"Apa ayahnya masih dijalan, suster?" tanya dinda.
"Saya kurang tahu, kak. Bisa jadi beliau sudah didekat sini. Soalnya tadi bilang, kalo sudah mau pulang, beliau yang jemput." jawab pengasuh raka itu.
"Oh, baiklah. Setidaknya sudah mendapatkan izin, suster. Biar kita berdua nggak kena masalah." ucap dinda tersenyum, seraya mendekati raka dan mengajaknya bercengkrama.
"Sayang, Selamat ulang tahun yaa. Semoga kamu selalu bahagia, dan semoga apapun keinginanmu akan segera terwujud." ucap dinda sembari memeluk raka yang sedang cemberut karna tak ingin pulang dan berpisah dengan dinda.
"Jangan bujuk raka. Raka nggak mau pulang" ucap bocah itu ketus.
"Nggak, sayang. Kita udah dapa izin dari daddy-nya raka kok. Jadi raka boleh main disini sampai kapanpun raka mau." jawab dinda sembari tersenyum.
"Benarkah daddy bilang begitu? Tapi, daddy dimana?" tanya raka sambil celingukan.
"Mungkin kena macet. Tadi telfon sama susternya raka. Katanya raka boleh main sepuasnya. Eemm, apakah raka ingin bercerita dengan kakak?" tanya dinda.
"Tentang apa?"
"Em, tentang keinginan raka mungkin?" jawab dinda.
__ADS_1
"Raka tidak tau apakah keinginan raka akan terwujud atau tidak. Raka takut memintanya pada daddy" jawab bocah itu lugu.
"Memangnya apa yang raka mau? Apakah itu memberatkan daddy?" tanya dinda lagi dengan tatapan lembut.
"Raka ingin punya Mommy. Daddy selalu bilang iya tapi nggak pernah dibawa. Daddy selalu alasan, dan bilang kalo belum ketemu mommy yang baik untuk raka. Raka capek di Boongin terus." ucap bocah lima tahun tersebut dengan raut sedih.
"Tapi menurut kakak, Daddy-nya raka benar. Daddy ingin memberikan mommy yang baik, dan sayang sama raka. Makannya daddy harus hati-hati mencarinya." ucap dinda menjelaskan dengan sangat hati-hati agar raka bisa mengerti.
"Berarti Raka harus lebih sabar dong?" tanya raka lagi.
"Tentu saja, sayang. Kakak yakin, daddy pasti ingin cari mommy yang terbaik untuk raka. Yang sayang, perhatian, dan menganggap raka seperti anak sendiri. Pokoknya yang terbaik untuk raka. Saran kakak, raka banyak berdo'a. Semoga mommy yang raka inginkan, segera dikirim tuhan. Oke?" ucap dinda sembari menarik raka dalam pelukannya..
"Oke, raka akan berdo'a supaya tuhan kirim mommy buat raka. Eemm, bagaimana kalo kakak saja yang jadi mommy-nya raka? Kakak kan baik sama raka. Daddy pasti setuju!" ucap raka dengan senyum penuh harap.
"Apakah kakak sebaik itu dimata raka, hm? Sudah, jangan aneh-aneh mintanya. Pokoknya kalo raka kangen sama kakak, raka boleh main kesini. Bagaimana?" tawar dinda untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kakak sama daddy sama aja. Selalu menolak permintaan raka. Sebaiknya raka pulang dan main sendiri" ucap raka sedih.
Namun, ucapan dinda tak sengaja di dengar oleh seseorang yang tak lain adalah Daddy-nya raka.
Tak ingin wanita ini mempengaruhi sang putra lebih dalam, pria itu pun segera memanggil raka.
Pria gagah itu tak suka dengan jawaban yang diberikan wanita itu kepada sang putra.
"Raka, ayo kita pulang!" ucap pria itu.
Spontan, raka meloncat dari pangkuan dinda, dan berlari menghampiri sang ayah.
"Daddy!!" sambut raka dengan wajah sumringah.
Sedangkan dinda hanya diam terpaku ditempatnya. Dia takut menatap pria itu. Karna dinda yakin, pria itu pasti mendengar apa yang ia ucapkan. Takut jika pria itu tak suka dengan jawaban yang ia berikan pada raka.
__ADS_1
"Siapa dia, raka?" tanya pria itu dengan suara yang terdengar tegas.
"Itu kak dinda, daddy. Dia yang nemenin raka di pesta tadi. Dia sekarang mommy-nya raka, daddy. Apa daddy suka?" jawab raka dengan senyum kebahagiaan, namun mampu membuat panas telinga dinda dan pria itu.
Dinda membalikkan tubuhnya, bermaksud meralat ucapan raka. Namun Niat dinda tehenti manakala iya tahu, siapa ayah dari bocah tersebut..
Ya, pria iti adalah dion..
Baik dinda maupun dion, keduanya terlihat tak nyaman. Dinda gugup, karen pria itu adalah pria yang pernah menidurinya.
Dion, Awalnya ingin memberi tahu tentang kejahatan yang dilakukan oleh tedy dan ibunya, tetapi niat itu berubah saat tak sengaja ia mendengar ucapan dinda pada raka. Dion tak suka dengan itu. Ia yakin, dinda hanya ingin memanfaatkan putra semata wayangnya untuk mencari keuntungan. Mengingagat saat ini, dinda hanyalah seorang pelayan restoran.
Selepas kepergian raka. Dinda pun hendak melangkah pergi. Namun.....
"Mau kemana kamu? Jangan menghindariku!" ucap dion ketus.
"Tidak, aku tdk berniat menghindar. Lagian kamu siapa, kita juga nggak saling kenal kan?" jawab dinda tak kalah ketus.
"Jangan pura-pura tidak mengenaliku. Aku tahu siapa kamu, aku juga tahu pekerjaan sampinganmu. Jadi, jangan macam-macam denganku!" ancam dion.
Dinda meradang, lalu menatap dion dengan penuh kebencian.
"Kamu nggak tahu apa-apa tentangku. Jadi, nggak usah sok tahu!" balas dinda dengan tatapan sengit.
"Tidak tahu apa-apa? Astaga, nona. Sepertinya aku mendukung langkah suamimu menceraikanmu. Kau memang penipu. Anak kecil seperti raka saja kamu tipu. Demi apa? Pasti demi uang kan? Pasti kamu tertarik dengan daddy-nya yang kaya raya, itu sebabnya kamu beri dia harapan. Astaga, dasar wanita licik. Sayangnya aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu" ucap dion lagi.
Sungguh, tuduhan yang sangat tidak disangka oleh dinda. Pertemanan yang ia dasari dengan ketulusan, justru dinilai dengan keburukan.
"Jangan asal bicara, pak. Sumpah demi tuhan, aku nggak tahu kalau raka adalah putramu. Aku juga tak tahu kalo candaan antara aku dan raka akan menyinggung perasaanmu. Apapun yang pernah terjadi antara kita, hanya sebuah kesalahan, jadi kamu tak perlu mengungkitnya. Kalo kamu mau, akan aku kembalikan uangmu itu. Tenang saja, aku bahkan tak pernah menyentuhnya sepeserpun. Meskipun aku tahu bahwa uang itu adalah hakku, tapi harga diriku tidak semurah itu. Besok aku akan kerumahmu dan mengembalikan uang itu. Dasar pria sok kaya!" jawab dinda penuh emosi.
Dinda tak menyangka, usahannya untuk menghibur anak dari pria itu malah membawa masalah tersendiri untuknya.
__ADS_1