
Malam ini, Malam yang dinanti oleh ke dua manusia jahat itu akhirnya tiba. Tedy menggandeng tangan Dinda dan mengajaknya masuk ke sebuah bar. Dinda yang memang tak pernah masuk ke tempat seperti itu pun, tentu saja langsung protes.
"Mas, kita ngapain kesini?" tanya dinda dengan raut tak nyaman.
"ya pestanya memang disini sayang, kamu jangan bikin malu gitu ah" jawab tedy manis.
"ya kan mas tahu kalo dinda nggak pernah pergi ke tempat beginian" jawab dinda lagi.
"Makannya Mas ajak kamu kesini, biar punya pengalaman. Yuk masuk. Nggak ada yang bakal ngapa-ngapain kamu, kan ada mas yang jaga kamu sayang" rayu tedy lagi.
Demi tuhan, tak ada sedikitpun rasa curiga dalam hati dinda, karena dia sangat mempercayai suaminya itu. Dia akui ibu mertuanya memang jahat, tapi tidak dengan tedy. Pria ini begitu lembut dan tak pernah menyakitinya. Baik itu Perasaan ataupun fisik, tedy sangat memanjakannya. Bahkan selalu membelanya saat sang ibu memarahinya. Mana mungkin Pria sebaik itu akan menipunya? Iya kan??
"Mana teman-temanmu mas?" tanya dinda. Ia menyipitkan matanya saat memasuki ruangan yang menurutnya sangat aneh.
"Ada, tapi mereka tidak disini. Mereka ada di ruang privasi. Yuk!!" ucap tedy sembari menggandeng tangan dinda menaiki anak tangga.
Dinda masih tak protes dengan ajakan suaminya itu. Iya tetap mengikuti langkah tedy dengan perasaan tak nyaman. Entahlah, saat menginjakkan kaki di tangga ke tiga, saat itu pula dadanya berdetak sangat kencang. Terlebih matanya menangkap beberapa pasang mata pria menatap ke arahnya dengan tatapan mesum. Ya itu adalah tatapan mesum, dan dinda semakin dibuat tak nyaman berada di tempat itu.
Kini dinda dan tedy berada tepat di depan sebuah pintu ruang privat. Tanpa banyak bicara, tedy pun mengajak dinda masuk kedalam ruangan tersebut. Disana, suda ada beberapa orang yang menunggu mereka. Namun tak ada satu pun yang dinda kenal, Mungkin mereka ada teman bisnis sang suami.
Dinda berusaha menepis pesasaan tak nyaman yg ia rasakan. Tersenyum sekilas saat tedy mengenalkan dinda pada mereka.
Pesta berlangsung cukup meriah. Dinda pun juga ikut menikmati pesta, walau hanya sekedar duduk di pojokan sembari menikmati segelas soda. Tedy tahu jika istrinya tak minum minuman ber alkohol, itu sebabnya dia memesan minuma tersebut untuk Istrinya.
Namun siapa sangka, minuman terebut merupakan awal petaka bagi dinda. Wanita itu tak tahu jika minuma itu bukanlah soda, melainkan minuman lain yang sudah di beri obat perangsang oleh suaminya sendiri.
Melihat obat tersebut sudah mulai bereaksi, tedy segera membawa dinda keluar dan memasukkan wanita itu kedalam sebuah mobil yeng entah mobil siapa.
Selebihnya, tedy menyerahkan wanita itu pada dua pria suruhan madam queen. Wanita yang bekerja sama dengan ibunya Rina, untuk menjual dinda.
__ADS_1
"madam!! target sudah di tangan, kami segera menuju ke sana." ucap salah satu dari mereka.
"Bagus, kamar 204 lantai lantai lima." jawab madam queen selaku germo yang telah membeli dinda malam ini.
Tanpa banyak bicara, ke dua pria itu pun menjalankan apa yang menjadi tugas mereka. Sedangkan madam queen juga melakukan hal yang sama. Iya menghubungi seseorang yang telah membeli dinda dan memberikan info bahwa wanita yang sudah mereka beli sudah siap di pakai sepuasnya.
...****************...
Di lain tempat....
Dion terlihat kelelahan setelah melakukan meeting. Kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing. Sopir pribadinya tak bisa menjemput. Karna tidak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan, Dion akhirnya memutuskan untuk Menginap dihotel tempatnya Meeting tadi.
Saat berada didalam lift, Dion bertemu dengan pria yg memakai seragam pegawai hotel itu. Pria tersebut yang melihat dion nampak pucat, lantas menawarkan bantuan untuk mengantarnya menuju kamar yang telah ia pesan. Tanpa curiga, dion pun memberikan kunci kamarnya kepada pria tersebut.
Kemudian pria itu membawa dion masuk kedalam kamar yang ia pikir adalah kamarnya.
Dion pun masuk, lantas melepaskan jasnya dan bersiap untuk tidur.
"Iihh, mas tedy kok lupa sama aku sih, aku kan istrimu mas!" jawab wanita itu yang ternyata adalah dinda. Ya, dinda telah di cekoki obat perangsang sehingga imajinasinya tak terkendali. Ia fikir, pria yang ada di sampingnya saat ini adalah suaminya, Tedy.
"Mas tedy?? Sepertinya perempuan ini sudah gila" ucap dion sembari menepis rayuan dinda.
Namun, dinda tak peduli dengan penolakan dion. Wanita cantik itu langsung menindih tubuh dion dan memberikan ciuman panas dibibir pria itu.
Dion yang awalnya menolak, nyatanya tak mampu menahan ledakan gairah yang di berikan oleh wanita cantik yang tengah berada diatas tubuhnya itu. Baginya, wanita itu begitu menggairahkan sehingga dia lupa jika dia tidak mengenal wanita ini.
'masalah bayaran, biar ku fikir nanti. Yang penting sekarang, nikmati dulu apa yang ada di depan mata' batin dion.
Tak ingin menyia-nyiakan momen ini, dion pun akhirnya membalas ciuman dinda dengan n*fsu yang sudah menggebu. Bukan hanya bibir, tangan dion bahkan mulai nakal, menjamah setiap lekuk tubuh wanita di depannya itu.
__ADS_1
Desa*han dinda memicu semangat dion untuk menuntaskan pergumulan panas ini. Dion menyukai suara lembut dinda yang benar-benar menikmati sentuhannya. Bukan berpura-pura seperti kebanyakan wanita yang ia sewa. Bagi dion, suara wanita itu terdengar tulus melayaninya. Entahlah, yang pasti dion menemukan kenyamanan setiap kali dirinya menyentuh tubuh wanita itu.
Dinda kembali menunjukkan kebolehannya, melakukan sesuatu yang tdk pernah ia lakukan dalam keadaan sadar. Kecantikan dan keindahan tubuh wanita ini, sungguh tak pernah dion temukan pada wanita manapun. Bahkan pada Ana sang istri.
Desa*han demi desa*han kenikmatan menghiasi Sunyinya malam ini. Kedua insan tak saling mengenal itu semakin bersemangat menikmati permainan panas mereka.
Baik dion maupun dinda, mereka enggan memikirkan apapun lagi. Yang ada di dalam otak mereka saat ini hanyalah menuntaskan permainan panas ini dengan sepuas-puasnya.
Dinda yang biasanya jadi mayat hidup seperti kata tedy, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat liar dan nakal. Hingga pada akhirnya mereka merasakan puncak kenikmatan bersama-sama.
...****************...
Keesokan paginya...
Dinda membuka matanya perlahan.
Tubuhnya terasa remuk dan kelelahan. Bahkan area sensitifny terasa sangat perih.
Dinda memang bukan gadis lagi. Namun, ukuran senjata milik pria yang menggaulinya semalam ternyata lebih besar dari pada milik suaminya.
"Akkhh, dimana aku? Kenapa kepalaku pusing sekali" ucap dinda yang masih berusaha mengembalikan kesadarannya.
Beberapa kali ia memijat kepalanya, namun sayang rasa sakit itu tak kunjung hilang, bahkan rasa pening semakin menyerang. Tak peduli hari sudah pagi, Dinda pun kembali memejamkan matanya dan berbalik Hendak memeluk pria ia sangka adalah suaminya.
Namun sayang, saat memeluk pria itu. Dinda mencium aroma aneh, dan ia yakin itu bukan aroma suaminya. Dan benar saja beberapa detik kemudian....
"Aaakkghhhh,,,,, Siapa kamu?" teriak dinda Histeris.
Hingga membuat pria itu terjengkat kaget. Lantas menatap dinda dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Siapa kamu hah, siapa?? " tanya dinda ketakutan.
baru saja pria itu ingin menjawab. Terdengar suara pintu kamar yang dibuka paksa oleh beberapa orang termasuk suaminya, Tedy. Hingga membuat Dinda Sangat terkejut dan ketakutan..