
Tak jarang raja mendapati Surya duduk termenung sendirian di halaman depan rumah diantara bunga matahari yang sudah mekar.
Tidak ada pergerakan, laki-laki itu benar-benar terdiam. Bahkan sampai bermenit-menit berlalu Surya masih saja betah berada disana. Untungnya cuaca hari ini tidak panas sehingga dirinya tidak perlu menghampiri bocah itu demi menegurnya agar segera berteduh.
Raja berdiri hanya beberapa meter darinya, tapi keberadaan raja sama sekali tidak membuat nya terusik.
Sepulang sekolah tadi,air wajah laki-laki itu nampak suram. Surya sesekali meringis, entah apa yang membuatnya seketika dilanda kegalauan.
Hanya ada beberapa oknum yang bisa membuat Surya seperti sekarang ini, kalau bukan karena cintanya yang tidak direstui, maka penyebab yang lainnya adalah orang tuanya.
Maka dengan sekali tarikan nafas Surya tersenyum saat seseorang menepuk pundaknya.
"Lagi ngitungin semut?"
Surya melirik pada semut-semut kecil yang dimaksud raja. Kemudian menggeleng pelan.
"Gabut banget gue ngitungin semut" ucap Surya
Raja terkekeh ringan lalu tangannya terulur menunjuk semut yang berjalan berombongan seperti sebuah garis yang telah ditentukan, para semut itu terlihat tertib berjalan.
"Lo kalo ada masalah cerita sama gue, jangan kayak gini" ucap raja
Setelah berpikir beberapa kali raja memutuskan untuk bertanya.
"Lo ada masalah apa? Ketemu mereka lagi?"
Kebiasaan Surya saat dirinya sedang bertanya laki-laki itu selalu memilih diam.
"Tadi nggak sengaja ketemu pas pulang sekolah"
"Terus lo ngapain?" Tanya raja
Entah mengapa raja merasa bahwa dirinya harus bertanya, bahwa akan selalu ada tempat untuk nya bercerita.
Dia tahu Surya ini tipe orang yang jarang galau, dia akan selalu menjadi orang paling ceria dirumah diantara mereka semua. Tapi belakangan ini anak itu lebih sering termenung.
"Gue nggak tau harus ngapain, disatu sisi gue kangen, rasanya saat itu gue mau lari terus meluk dia"
Surya mengerjap beberapa kali sebelum melanjutkan ucapannya
"Tapi disisi lain ada bisikan yang melawan keras keinginan gue itu. Gue pengen berdamai dengan semuanya tapi ternyata diri gue sendiri--"
"Gue nggak bisa yakinin diri gue sendiri"
Pandangan nya kembali teralihkan oleh semut semut yang membawa remah makanan. Hanya untuk menghindari hal-hal yang bisa membuatnya benar menangis.
Laki-laki itu tidak akan pernah tahu bagaimana dirinya berdiri dibawah gerimis hujan dilangit mendung kala itu.
Dengan setengah hati berkecamuk saat beberapa meter didepannya sedang berdiri seseorang, dia yang seharusnya sekarang dia panggil mama dengan suara yang lantang. Namun segalanya berubah gelap saat ada orang lain disampingnya yang nampak begitu dekat.
Wanita itu tampak sangat menyayangi putra nya, mereka berjalan beriringan memasuki mobil setelah sempat melirik ke arahnya, namun hanya sesaat sebab Surya segera mengalihkan pandangannya.
Ternyata tidak separah yang dirinya bayangkan, namun cukup untuk membuat nya tampak miris.
"Emang menurut lo, gue harus ngapain, kalau sampai gue beneran ngelakuin itu, ada kemungkinan buat dia meluk gue balik?"
Sekarang raja yang bingung. Bagaimana mungkin dia bisa menebak isi hati seseorang.
__ADS_1
Maka kali ini dirinya memilih diam.
Setidaknya dia bisa menjadi pendengar yang cukup baik untuk Surya, kali ini.
"Lo yang tahu gimana gue saat itu, mereka nggak pernah peduli mau seberapa keras pun gue berusaha buat jadi yang terbaik"
"Biar bisa bikin mereka bangga sama pencapaian yang gue punya"
"Tapi yang mereka liat cuma kesalahan yang gue punya, gimana setiap hari gue harus dengerin huru hara di rumah"
"Seenggaknya sekarang gue bisa melihat mereka bahagia dengan keluarga baru yang mereka miliki sekarang"
Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk nya pulang, tempat dimana dia seharusnya tumbuh dan menjadi dewasa. Berbeda dengan kenyataannya, justru Surya mendapati dirinya berada pada ruangan gelap.
"Dan seenggaknya sekarang,Lo punya kita--"
Diujung nya terdapat tali yang menuntunnya, berjalan dengan hati-hati.
"Gue dan yang lainnya" ucap raja
Memasuki lorong panjang, dengan cahaya yang terang. Saat itu dia mulai tahu, diujung lorong itu, ada tempat yang pantas dia sebut rumah.
•••°°°•••
Masih seputar semut merah dan kawan-kawan nya. Surya agaknya lebih banyak melihat sisi dewasa dari sahabatnya hari ini, alih-alih mengomel seperti yang sudah-sudah.
"Lo liat semut itu"
Raja menunjuk seekor semut merah yang terlihat susah payah mengangkut remah makanan dipunggung nya. Perlu beberapa detik sebelum akhirnya dua semut lagi datang membantunya. Terlihat lebih mudah dari sebelumnya.
Surya mengikuti apa yang laki-laki itu tunjukkan. Ya, itu benar. Dan mereka berjalan meninggalkan sebagian makanan mereka untuk semut yang lain datang mengambilnya.
"Dan lo-- mana Surya yang gue kenal?"
Raja merangkul pundak sahabatnya.
"Lo sebenarnya bisa ngelewatin ini semua, karena Tuhan percaya Lo mampu, jadi tunjukin kalau lo nggak bakal nyerah"
"Udah, jalan aja, lo nggak bakal sendiri, biar semua pengalaman itu yang menjadi petunjuk buat lo jadi makin berani melangkah lebih jauh lagi"
"Selama ini gue diem liatin lo itu karena gue yakin lo mampu" ucap raja
Kemudian menepuk bokongnya karena terasa keram kelamaan duduk disana.
Laki-laki itu berdiri, menyisakan Surya yang terlihat lebih kecil saat duduk.
"Keren banget sih gue, ah capek keren Mulu"
Benar kata raja, sudah lama dirinya berlarut dalam kesedihan. Dan sekarang mungkin dirinya bisa memulai awal yang baru untuk menemukan hal-hal yang bisa membuatnya bahagia.
"Ngomong sama lu serasa habis nahan bab sehari, rasanya plong"
Deretan gigi laki-laki itu terlihat begitu indah saat tertawa.
•••°°°•••
Pulang dari Indomaret tadi entah kesialan apa yang mengikuti nya hingga sekarang dirinya berakhir di UGD seperti ini.
__ADS_1
Candra mendekat ke arah nya dengan wajah tampak cemas,Melihat bagaimana cara Joshua saat keserempet motor tadi, bocah itu mengalami luka ringan pada kedua lututnya dan telapak tangannya.
Posisinya yang tengkurap dengan kedua tangan yang dijadikan sebagai penyangga sebelum benar-benar mendaratkan tubuhnya.
Mohon jangan ada yang membayangkan nya, karena Candra saja tidak sanggup jika harus reka ulang adegan dramatis Joshua tadi.
Awal nya Candra merasa bocah itu sedang mengerjainya sampai benar-benar tidak ada pergerakan barulah Candra panik.
Dikiranya bocah itu akan tertawa saat dirinya mulai mendekat, namun diluar dugaan bocah itu mengusap kedua matanya yang berair.
"Lo nangis Jo?" Tanya Candra
Disingkirkannya tangan besar yang menutupi wajah Joshua
"Jo, Lo beneran nangis?" Tanya Candra memastikan
Joshua tidak menjawab memilih bungkam.
Hal ini semakin membuat Candra cemas, apa ada kesalahan yang tidak dokter sebutkan tadi?
Bahu bocah itu bergetar hebat semakin panik Candra dibuatnya.
"Jo, lu nggak lagi bercanda kan? Apanya yang sakit? Gue panggilin dokter aja ya?"
Namun Candra terduduk kembali saat sebuah tangan menariknya agar tidak melangkah pergi.
Mata Joshua benar seperti orang yang habis menangis, hidungnya juga memerah.
"Jam tangan rolex yang lo kasih gue waktu ulang tahun hilang--gue hilangin tadi waktu keserempet motor"
Mulut Candra sampai ternganga mendengar ucapan jo barusan.
"Lo nangis bukan karena ada yang sakit? Tapi karena jam tangan Lo hilang?" Tanya Candra
Jo mengangguk"padahal jam nya mahal tapi gue malah ngilangin gitu aja"
Candra menepuk puncak kepala sahabatnya.
"Lo ngeraguin gue ya? Di rumah masih ada punya gue nggak kepake, Lo ambil aja kalo mau"
"Bukan soal itu--gue masih nggak rela aja" cicit Joshua
"Ikhlasin aja, itung-itung sedekah, semoga yang dapat jam itu orang yang benar-benar membutuhkan"
Candra tahu, Jo masih belum sepenuhnya bisa ikhlas. Tapi setelah mendengar ucapan dirinya barusan bocah itu tampak lebih damai.
"Orang rumah ada yang tau nggak?" Tanya jo
Seandainya belum, dirinya berharap Candra tidak memberitahu siapa siapa. Untuk kali ini saja, dirinya jangan sampai merepotkan yang lainnya--lagi.
"Mahen sama Noval udah ada dijalan katanya sebentar lagi nyampe"
Tapi ternyata, lagi--dia merepotkan.
...Terkadang kita harus im fine agar no problem...
...#joshuackep...
__ADS_1