
"Manusia rentan akan jatuh. Ketika kegagalan lagi dan lagi menghampiri, ingat untuk jangan menyerah. Gagal bukan akhir dari segalanya, masih ada hari esok untuk kamu memulai lagi semuanya. Bumi masih berputar, matahari masih terbit dari arah semestinya. Jangan berjalan jika takut jatuh. Karena saat kamu mulai berjalan itu artinya kamu siap akan segala hal yang mungkin kamu temukan pada setiap langkah yang kamu ciptakan. Mungkin tidak sesering kamu menemukan duri, tapi disana kamu juga bisa menemukan sesuatu yang berharga dari sebuah kisah perjalanan sampai kamu bisa berada dititik kesuksesan."
"hanya ketika kamu mengalami kesulitan dan berpikir untuk menyerah lantas apa arti dari perjuangan?
Memang ada sakitnya, apalagi kalo kamu lihat beberapa diantaranya mulai berjalan jauh didepan, tapi sesekali cobalah untuk menoleh, lihat dibelakang masih ada yang ternyata bersusah payah merangkak, masih ada yang langkahnya berada jauh dibelakang mu. Itu artinya, kamu berhasil, berhasil untuk tetap kuat berjalan, berhasil karena tidak memilih untuk menyerah"
Tiara ingat bapak mengatakan itu saat kejadian Tiara yang tidak berhenti menangis perihal mendapat peringkat 20 dikelasnya saat masih SMP.
Sore itu Tiara menangis sepuasnya disamping bapak. Sesegukan karena saking sesak dadanya saat itu. Tadinya Tiara berjanji tidak akan menangis namun melihat bapak yang bukan nya memarahinya atau mengomelinya bapak justru mengusap lembut kepala nya lalu memeluknya hangat.
Padahal jika bapak marah menurut Tiara itu akan lebih baik, karena dirinya memang pantas untuk itu. Bagaimana bisa Tiara mengalami penurunan nilai drastis, peringkat dua puluh dari dua puluh lima siswa dikelasnya.
Maka dengan senyum mengembang bapak berucap bangga"anak bapak hebat"
Tiara malah semakin menangis, ucapan bapak membuat nya semakin sakit hati. Bagaimana bisa dirinya hebat, yang ada Tiara malu-maluin
"Bapak malu nggak punya anak kayak tiara?"
Disela-sela tangisannya Tiara menatap sendu wajah bapak.
"Siapa bilang? Bapak malah bangga, kamu berani bicara jujur" ucap bapak
Bapak yang kalau bicara selalu menggebu-gebu, susah buat diajak sedih.
Kadang Tiara bertanya kapan terakhir kali bapak menangis.
"Tapi aku peringkat 20, Tiara malu"
"Apanya yang harus malu? Bapak malah bangga" ucap bapak
"Kamu bisa ngalahin lima orang dikelas kamu itu, harusnya bisa buat kamu bangga"
Tiara tidak membalas ucapan bapak, masih sibuk menghisap ingusnya yang memenuhi Indra penciuman nya
"Kamu harusnya jangan nangis kalau nggak dapet juara satu, itu artinya kamu masih harus berjuang" ucap bapak
"Gagal sekarang bukan berarti besok nggak bisa, justru dengan kayak gini tuh kamu bisa liat seberapa besar kemauan dalam diri kamu untuk bisa"
"Bagaimana dengan mereka yang peringkat nya terakhir, apa nggak sedih? Tiara---jangan selalu ingin melihat diatas boleh lah coba lihat orang-orang dibawah kamu"
Tiara berhenti menangis walaupun tetap saja sebagian dari dirinya masih merasa tidak terima.
"Caranya?" Tanya gadis itu
"Banyakin bersyukur"
Entah kenapa ucapan bapak saat itu kembali terlintas di kepala nya.
Tangannya terulur mengambil ponselnya lalu mencari nama surya-orang yang akan dia telepon.
Sementara diseberang sana, Surya baru selesai makan malam dan berniat untuk kembali mengerjakan beberapa tugas sekolah nya namun urung sebab tiba-tiba saja hatinya menghangat saat melihat nama siapa yang tertera dilayar ponsel nya.
Pacar saya! Is calling ...
Tidak ada yang memulai pembicaraan lebih dulu.
Dan entah bagaimana saat mendengar suara dari perempuan itu, semua rasa letih nya hari ini hilang begitu saja.
"Kamu sibuk banget ya seharian nggak ada kabar"
"Maaf"
Dan selalu saja kata itu yang keluar. Maaf.
"Bisa nggak sih maaf nya nanti aja! Aku mau marah nih!"
Laki-laki itu sempat terkekeh sendiri mendengar penuturan gadis yang dia tahu pacarnya itu. Dalam hati berkata marah kok bilang-bilang yang lebih dia pilih untuk pendam sendiri.
"Kenapa diem?"
"Katanya tadi kamu mau marah, ya aku diem, supaya bisa dengar suara kamu marah"
"Ih bukan gitu, suryaaaa"
"Gimana sayang, aku mah mau kamu marah juga bakal tetap sayang kok"
Dalam hati Tiara sudah menyumpah serapahi laki-laki itu. Niatnya mau marah malah dibuat baper. Meskipun gombalan laki-laki itu yang sama sekali tidak bermutu namun cukup untuk membuat perutnya terasa seperti dipenuhi kupu-kupu terbang.
__ADS_1
"Kamu tau nggak, seharian ini aku nungguin kamu ngasih kabar tapi sama sekali nggak ada. Aku tuh khawatir tau, takut ada apa apa."
Suara perempuan itu saat mengomel selalu menjadi hal yang dia sukai. Caranya menghawatirkan dirinya, caranya yang selalu perhatian meski dirinya yang kurang peka, mungkin.
Entah bagaimana suara keras gadis itu saat meneriaki namanya saat itu kembali menggerayangi pikiran nya.
Wajah khawatir gadis itu saat tiba-tiba menyeretnya menjauh dari pembatas jembatan. Tamparan keras yang dia dapatkan saat itu alih-alih pelukan penenang.
"LO GILA YA!?"
Tiara berusaha mengatur deru nafas nya yang naik-turun menahan emosi.
"LO TAU APA YANG BAKAL TERJADI SEANDAINYA LO LOMPAT BARUSAN?"
laki-laki didepannya menunduk dengan lesu. Kedua matanya menatap kosong ujung sepatu nya. Detik berikutnya terdengar isakan tangis. laki-laki itu menangis. Tiara memijit pelipisnya berbalik membelakangi Surya. Beberapa lama kembali menghadap laki-laki itu.
"Setelah lo lompat ke bawah sana apa semua masalah lo bisa selesai gitu aja?"
Tiara menatap laki-laki itu dengan mata berair. Dirinya tidak pernah bisa membayangkan akan jadi seperti apa seandainya dirinya telat sedikit saja.
"Surya liat gue sekarang!"
"Surya plisss"
Tangannya terhenti saat Surya menatapnya dengan pandangan nanar.
Malam ini dirinya cukup dibuat terkejut mendengar kabar seseorang melihat Surya yang berdiri diatas pembatas jembatan dengan pandangan kosong ke dalam air.
"Apa gue udah nggak ada artinya lagi buat lo? Kenapa malah gini sih?"
Tiara benar-benar merasa tidak berguna, saat hanya bisa menyaksikan orang didepannya menangis. Apa tidak bisa dia cerita padanya, setidaknya hal itu bisa menjadikan nya merasa lebih berguna, bukan malah berniat bunuh diri dan lari dari semuanya.
Dia marah, sangat marah. Kecewa? Jelas sangat kecewa. Dirinya sudah berusaha jujur, tapi kenapa laki-laki itu lebih memilih bungkam dan menanggung semuanya sendiri.
"LO BUKAN BADUT YANG TERSENYUM BODOH DIDEPAN SEMUA ORANG, SURYA!"
"Lo nggak ngerti" lirih laki-laki itu
"Apanya yang nggak gue ngerti?"
"Gue tahu Semuanya!"
"Kamu bodoh" lirih nya sembari terus mengeratkan pelukannya.
"Dia udah pergi---"
"Dia bohong Ra, dia nggak nepatin janji nya mau nonton konser gue nanti"
Tiara diam, membiarkan laki-laki itu memeluknya, semakin larut dalam tangisannya yang terurai.
"Ada gue ya, gue yang datang" ucap gadis itu.
"Surya--"
"Surya, halo?"
Pandangannya tertuju pada pohon-pohon yang tertiup angin diluar jendela. Dilangit tidak ada bintang, hanya ada awan mendung dan kilatan petir yang menandakan akan turun hujan sebentar lagi.
"Makasih" ucapnya
Tiara menjauhkan telepon dari pendengaran nya lalu menatap hp yang digenggamnya. Setelah itu mengerutkan keningnya.
"Halo, halo Surya ini kamu kan?" Tanya gadis itu ragu
Surya menyunggingkan senyum nya lebar-lebar.
"Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?" Tanya Tiara diseberang sana
"Mau aja, makasih udah jadi pacar ku"
"Kamu aneh deh" meski begitu senyum dibibir nya tidak dapat menutupi wajahnya yang memerah.
Seandainya hari itu dirinya beneran mengakhiri hidupnya, dia yakin akan menyesal karena tidak bisa merasakan betapa bahagianya dirinya sekarang. Tangannya tergerak menggapai pigura yang berada diatas meja dekat dia meletakkan gitar klasik berwarna cokelat tua itu.
Kemudian tersenyum simpul.
"Hari ini ada kejadian apa?" Tanya Surya
__ADS_1
Bayang-bayang dirinya yang selalu dihantui rasa bersalah saat bersikap tidak peduli. bahkan pertanyaan sederhana untuk sekedar menanyakan tentang apa yang dia lakukan hari ini tidak pernah sekalipun dia tanyakan. Selalu bersikap acuh membuatnya terlambat untuk sekedar bertanya kamu baik-baik saja dan selalu berakhir dengan penyesalan.
"Semuanya berlangsung kayak biasanya, sama aja nggak ada yang beda. Oh tapi sekarang beda, karena Surya udah ngangkat telepon nya dan aku seneng"
"Emangnya tadi nggak seneng?"
"Tadinya nggak, lima menit yang lalu, iyya."
"Tiara" suara berat laki-laki itu memanggil namanya nya
"Hmm?"
"Jangan pergi ya, aku nggak tau bakal gimana kalau sampai kehilangan satu orang lagi"
"Nggak kok, aku nggak janji tapi, sebisa mungkin aku nggak akan ninggalin kamu"
•••>>♥︎♥︎♥︎<<•••
"Goblok Lo!" Caci laki-laki yang seragam sekolah nya keluar serta kerah baju yang tidak beraturan itu.
Satu tinju berhasil lolos mengenai wajah laki-laki yang sering dipanggil Dion oleh murid-murid dikelasnya.
"LO APAIN DITA HAH!!?"
"Kenapa muka nya bisa lebam gitu, gue tanya?"
Kini suara Noval sudah melemah, perlahan mendekati Dion dengan tatapan mengintimidasi. Laki-laki didepannya itu tidak bisa bangun lagi akibat Noval yang membabi-buta meninjunya tanpa pembelaan sedikit pun.
Dion terbatuk-batuk saat Noval dengan keras menarik kerah baju nya.
"Gue nggak tahu dia cewek Lo! Gue cuman ngasih dia pelajaran karena ikut campur urusan gue!"
"Itu karena lo udah kasar sama cewek!"
Bogeman keras kembali menghantam wajah laki-laki itu. Di sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah segar.
Saat akan melayangkan pukulan lagi, Noval terhenti
"NOVAL UDAH!"
Buru-buru gadis itu menghampirinya lalu menyeretnya agar menjauh dari Dion yang sudah terkapar tak berdaya dilantai kelas.
Hal itu tentunya menjadi tontonan anak-anak lainnya, tidak ada yang berani melerai, melihat Noval marah sampai kesetanan seperti ini membuat mereka tidak ada yang berani berkata-kata. Noval yang terkenal kalem dan tidak banyak bicara siapa sangka bisa sampai tidak terkendali saat marah.
"gue mau ngasih pelajaran tuh orang dit!"
"Nggak gini caranya!"
"Tapi dia udah berani nyentuh lo!
"Aku nggak apa-apa, Noval ini nggak sakit kok"
Laki-laki itu berhenti berteriak, sejenak memejamkan matanya lalu menarik nafas kasar.
"Val...udah..." Mata gadis itu mulai berair terbukti saat dita menatap Noval dan suaranya yang bergetar.
Noval masih berusaha mengatur emosinya. Sesuatu yang tidak bisa dirinya toleransi lagi apabila hal tersebut berhubungan dengan gadis yang dia cintai.
"Jangan nangis"
Suaranya mulai melembut lagi, ditariknya gadis itu dalam pelukannya.
"Aku nggak salah dit, dia yang udah ngusik kamu, aku jelas nggak bisa diam gitu aja" noval tidak lagi dikuasai emosi, kini dirinya tampak lebih tenang.
"Sakit nggak?" Noval menggeleng saat gadis itu menunjuk darah yang sudah mengering di sudut bibirnya.
Rupanya laki-laki itu juga sempat kena tonjok saat dirinya lengah tadi.
tetap saja, itu tidak sebanding rasa sakit saat melihat perempuan yang dia jaga dengan sangat hati-hati justru disakiti oleh orang lain.
"Kita kasih obat dulu pipi kamu itu, takut makin parah" ucap Noval
Dita menggeleng cepat. "Itu luka mu yang harus diobatin tuh."
Semuanya terasa sulit bila harus dilakukan sendiri. Itulah kenapa selalu laki-laki katakan.
"hal sekecil apapun jangan pernah ada yang kamu tutupi"
__ADS_1
Dita mengangguk mengerti. Tapi dia hanya berusaha membela orang lain yang sedang ditindas tanpa bantuan laki-laki itu, sebab tidak mungkin terus-terusan dia bisa bergantung pada orang lain. Dia hanya ingin berdiri sendiri diatas kakinya tanpa topangan orang lain.