Difference

Difference
Part 2


__ADS_3

Ketika cinta hadir bersembahyang dihatimu, maka bersiaplah menampung segala bayangannya dalam pikiranmu.


---rahayu anita---


Happy reading :)


***


Udara pagi yang menusuk urat nadi hingga tulang belulang. Menembus pori pori kulit menghasilkan bulu bulu halus itu berdiri tegak.


Cuaca yang secerah hati seseorang yang saat ini sedang berdebar hebat merasakan sensasi yang tak biasa dirasakannya. Cuaca yang seperti ini sangat sepadan dengan keadaan hati seorang Anya yang sedang dilanda perasaan jatuh cinta layaknya seorang ABG yang awam dalam mengenal cinta.


Sejak pertemuan pertamanya dengan pria itu. Pria yang Anya sebut sebagai pria sempurna yang pernah ditemuinya.


Tatapan pria itu, sorot matanya, garis bibir yang sangat meluluhkan setiap kaum hawa. Serta lekukan wajahnya yang tegas berwibawa. Tubuh Atlentisnya yang seakan nyaman ketika memeluknya.


Bagaimana bisa ada satu wanita yang memalingkan wajah darinya. Pesonanya yang begitu beraura mampu menjerat seluruh kaum hawa yang menatapnya. Meluluh lantahkan hati kaum hawa dengan begitu cepat. Membuat kaum hawa berkhayal untuk bisa mendapatkan cintanya.


Anya melamun sendiri dalam duduknya. Menatap langit langit kamarnya dengan senyum yang tak henti terukir digaris bibirnya yang kering.


Sudah jam setengah tujuh. Tapi rasanya aku sangat malas pergi kesekolah. Bagaimana bisa aku menghentikan khayalan yang seindah ini?. Gumam Anya masih dengan posisinya yang sama.


Sebuah dering telpon yang berbunyi membuyarkan lamunannya. Dengan refleks Anya meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk.


"Hallo." Ucap Anya mengangkat telpon masuk.


"Apa kau tidak akan masuk sekolah hari ini?" Tanya seseorang disebrang telpon.

__ADS_1


"Tentu saja masuk. Mana mungkin aku bolos. Aku adalah termasuk siswa yang rajin bukan?" Balas Anya.


"Lalu kau masih dimana? Sudah jam 06.40. Sekarang pelajaran teknik gambar. Bukankah gurunya selalu datang lebih awal? Jika kau terlambat lagi kau bisa terkena hukuman yang kedua." Ucap Karin.


"Ya, kau benar sekali. Kalau begitu aku pergi sekarang" Ucap gelagapan Anya yang mulai panik melihat jam beker dimeja sebelah kanannya.


"Memang aku benar! Lagi pula kau kemana saja? Kenapa jam segini belum datang? Biasanya juga kau datang lebih awal dari siswa siswa lainnya" Telpon diakhiri sebelum Anya menjawab perkataan Karin. Membuat sahabatnya itu berdecak kesal karna ulahnya.


Anya meraih tas ranselnya. Memakai kilat sepatu tanpa kaos kaki. Berjalan mencari supir yang akan membawanya sampai kesekolah.


***


"KARIINN!!" Teriak lantang Anya yang mengguncangkan bangunan sekolah itu. Membuat seluruh siswa menatap kearahnya.


Karin yang merasa namanya disebut menoleh pada asal suara. Mendapati Anya yang melambaikan tangan kearahnya.


Karin berjalan mendekati Anya yang masih berdiri ditempatnya tadi. Menatap kesal pada wanita dihadapannya.


"Kenapa menatapku dengan kesal seperti itu? Aku tidak membuat kesalahan bukan?" Ucap Anya dengan gelagat polosnya. Saking polosnya ia tak mnghiraukan tatapan siswa disekelilingnya yang menatap kearahnya.


"Kau tidak membuat kesalahan tapi membuat malu." Decak Karin dengan wajah kesalnya.


"Memang siapa yang aku buat malu? Aku tidak merasa melakukannya" Mengangkat bahu heran.


"Kau berteriak memanggil namaku dengan sangat lantang seperti tadi. Lihat disekelilingmu! Kau membuat para siswa menatap pada kita karna ulahmu tadi" Jelas Karin menunjuk siswa yang berkerumun dengan jemari tangannya.


"Ouh itu? Aku hanya memanggil mu saja. Memangnya apa yang salah?" Polos Anya.

__ADS_1


"Suaramu yang terlalu lantang memanggil namaku!" Ucap Karin menekankan.


"Aku refleks saat memanggilmu. Tidak sadar kalau suaraku itu sangat menggema. Lagi pula tidak ada yang memanggil seseorang dengan berbisik" Cetus Anya yang bodoh.


"Terserah kau. Intinya adalah kau yang terlalu lantang memanggil namaku, dan mengundang siswa siswa itu untuk berkerumun" Masih bernada kesal


"Yasudah maap. Aku kan sudah bilang aku refleks saat memanggilmu. Aku pikir bel sudah berbunyi dan aku terlambat masuk kelas lagi. Dan saat melihatmu aku berpikir untuk memanggilmu saja. Sekedar memastikan bel masuknya sudah berbunyi atau belum" Jelas Anya mendetail.


"Harusnya kau pikir dengan logika. Jika bel-nya sudah berbunyi mana mungkin aku masih berkeliaran."


"Heheee" Cengir Anya menampakan giginya yang tersusun rapi dengan gingsul yang menambah kesan menariknya. Meskipun penampilannya yang dekil dan kotor, setidaknya ia punya senyum andalan yang mematikan. Senyum manis yang menampakan gigi gingsulnya.


"Lebih baik sekarang kita masuk kelas. Jika bel-nya berbunyi dan kita terlambat masuk, maka akan seperti apa kita nanti" Membulatkan mata seolah membayangkan hal yang mengerikan. "Ayo!" Lanjut Anya menarik lengan Karin dengan sedikit berlari. Karin yang dituntun Anya hanya menurut. Lagi pula berlama lama ditempat itu hanya akan membuatnya lebih malu karena tatapan para siswa yang menatap kearahnya menjadikannya sebuah tontonan.


Di sisi lain. Seorang pria mengernyitkan dahinya bingung.


Sedang apa mereka berkerumun seperti itu?. Gumam Bian menatap kerumunan didepannya.


Bian mencoba masuk dalam keramaian itu. Melihat tontonan yang membuat para siswa itu berkerumun. Dilihatnya dua orang wanita yang sedang beradu argumen. Ntah membicarakan apa, yang pasti mereka terlihat seperti orang yang bergelagat malu dan bodoh.


Bian sadar wanita yang berdiri dihadapannya itu adalah wanita yang sama yang ditemuinya pada saat hendak memasuki kelas. Wanita bodoh yang di hukum sehari yang lalu yang juga membuat para siswa berkerumun. Kali ini pun wanita yang sama melakukan hal yang sama pula.


Memalukan. Apa sudah menjadi kesehariannya untuk berdrama setiap saat?!. Batin Bian tersenyum sinis.


***


Bersambung...

__ADS_1


Sampai bertemu di part 3 :)


__ADS_2