Difference

Difference
Part 4


__ADS_3

Ini bukan tentang perasaan. Tapi tentang hati yang selalu menerimanya walau seburuk apapun dirinya.


---rahayu anita---


Happy reading :)


***


Anya mengatup ngatupkan pulpen pada mejanya berulang ulang. Pikirannya melayang ntah kemana. Setelah mendengar ucapan Karin tentang pria itu sepertinya sangat sulit baginya untuk percaya hal itu.


Badboy. Pria dingin. Sangat acuh. Prilakunya juga begitu menyedihkan. Dan..., membenci kaum hawa?. Ohh tuhan..., kenapa aku mencintainya? Kenapa rasa ini tumbuh untuknya. Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Tapi kali ini..., dan pada pria itu?.


"Anya! Apa kau mendengar ibu?!"


"Ah iya iya bu, aku mendengarnya" Ucap gelagapan Anya setelah lamunannya buyar dengan suara teriakan.


"Kalau begitu ulangi apa yang ibu jelaskan!" Ucap guru itu tegas.


Anya yang bingung harus mengatakan apa, ia hanya menatap Karin meminta jawaban. Sementara Karin hanya membalas dengan gelengan kepala.


"Apa yang harus ku jelaskan? Aku tak mendengarnya tadi" Bisik kecil Anya menatap Karin.


"Mana aku tau. Aku juga tak mendengarnya. Aku sedang bermain ponsel tadi"


"Anya! Apa kau dengar ibu?! Cepat jelaskan apa yang ibu katakan tadi!" Teriak guru itu lagi. Anya yang tak tau harus berkata apa hanya cengengesan.


"Sistem desain bangunan adalah suatu sistem yang sangat sulit. Banyak para arsitek yang..."


"Sudah hentikan! Kau sedang mengulangi apa yang ibu katakan tadi atau berbicara apa? Tak jelas sekali! Sistem? Sistem apa yang kau maksud? Tidak ada sistem dalam desain bangunan!"


"Maaf bu! Saya tak mendengarkan apa yang ibu katakan tadi" Lirih Anya menatap kebawah meja.


"Sekarang kau keluar! Berdiri di tengah lapang sambil mengatakan saya tidak pokus saat sedang belajar. Ayo cepat!"

__ADS_1


"Sekarang bu?" Balas Anya dengan wajah sepolos mungkin.


"Setahun lagi setelah kau lulus!" Hardik guru itu kesal.


"Apa! Ibu bercanda? Jika saya sudah lulus, saya tidak akan menjalankan hukuman itu bu" Menampilkan wajah bodohnya.


"Sudah diam! Sekarang keluarlah! Lakukan apa yang ibu katakan tadi"


"Baik bu" Membalas patuh. Lalu keluar meninggalkan kelas.


Anya yang melirik Karin sebelum keluar kelas merasa kesal. Bagaimana bisa Karin hanya memberi semangat dengan hanya mengepalkan tangannya.


Bukannya membantu malah memberi ku semangat!. Batin Anya kesal.


***


Anya berdiri ditengah lapang. Menjalankan hukuman yang kesekian kalinya. Dengan panasnya mentari yang berada tepat diatas kepala membuatnya berkeringat hebat. Tapi mulutnya masih tetap mengucapkan kata kata hukumannya.


"Saya tidak pokus saat sedang belajar. Saya tidak pokus saat sedang belajar. Saya tidak pokus..., karena memikirkannya..." Anya terhenti sejenak. Wajahnya melongo saat menatap pria pujaannya dari kejauhan.


Mengapa tampan sekali. Hati ku bisa meleleh jika terus memandanginya. Gumam Anya yang masih melongo. Dengan senyum yang terus terukir di garis bibirnya.


"Hei lihat! Apa gadis itu terkena hukuman lagi?" Ucap Adrian menunjuk Anya yang berdiri di tengah lapang. "Gadis yang sama dengan hukuman yang berbeda! Hhaha!" Lanjutnya tertawa.


Bian yang tak tertarik dengan arah pembicaraan Adrian tidak merespon. Bahkan tak menoleh kearah yang ditunjuk Adrian.


"Tak penting melihatnya. Ayo pergi!" Ketus Bian yang melanjutkan langkahnya.


"Hei bro. Kau lihat dulu wanitanya. Sepertinya dia juga sedang mengatakan sesuatu. Pasti sangat lucu!" Ucap Adrian menarik paksa lengan Bian mengahamoiri Anya. Bian yang malas hanya berjalan seloyongan.


"Saya tidak pokus saat sedang belajar. Saya tidak pokus saat seda...." Ucap Anya menghentikan kalimatnya. Mendapati dua orang pria mendekat kearahnya.


"Hei! Mengapa menghentikan perkataanmu? Itu sebuah hukuman bukan? Kau tidak boleh berhenti. Kau harus tetap melanjutkannya! Ayo cepat!" Ucap Adrian mencibir. Di akhiri tawa mengejek setelahnya. "Dan apa yang kau katakan tadi? Saya tidak pokus saat sedang belajar ? Memangnya apa yang sedang kau pikirkan? Wkwk" Lanjut Adrian.

__ADS_1


Anya yang mendengar perkataan Adrian merasa gugup. Bukan karena apa yang dikatakan oleh Adrian, tapi karena pria yang berdiri disamping Adrian.


Bian menatap lurus pada Anya. Menelik setiap inci lekuk wajahnya. Sampai akhirnya memalingkan wajah keras.


"Menjijikan!" Gumam Bian pelan. Namun masih dapat terdengar oleh Adrian.


Adriam yang mendengar perkataan dari Bian menoleh. "Apa? Menjijikan? Kau mengatakan aku menjijikan?!" Hardik Adrian tak terima.


Anya yang mendengar obrolan mereka tertawa kecil. Menunjukan ginsul andalannya.


Ternyata selain menbenci kaum hawa dia juga mengatakan kaum pria itu menjijikan. Hhaa. Batin Anya.


"Kenapa kau tersenyum? Kau menertawakan kami?" Ucap Adrian menyadarkan Anya.


"Tidak tidak. Siapa juga yang menertawakan kalian. Pede sekali" Balas Anya mengelak. "Aku hanya menertawakan obrolan kalian. Hahah" Lanjutnya disertai tawa.


"Hentikan tawa mu!" Perintah Adrian tajam.


"Tidak akan! Lagi pula kenapa aku harus menghentikan tawa ku? Ini hak ku!" Sombong Anya yang masih tertawa.


"Jika kau tak mengehentikan tawa mu kau akan dapat masalah nanti!" Ucap Adrian yang seakan mengancam.


Anya yang tetap keukeuh dengan ucapannya yang tak mau menghentikan tawa tetap tertawa. Sampai sebuah ucapan menyakitkan menyayat hatinya.


"Sudah hentikan! Ayo pergi! Berbicara dengan wanita menjijikan sepertinya hanya akan membuang waktu!"


Seperti sebuah petir di siang bolong yang menyambar relung hatinya. Seakan sebuah hentakan yang menghancurkan harapan dan semangatnya. Ini kali pertama ada seorang pria yang berbicara hina padanya. Dan terlebih pria itu adalah pujaan hatinya.


Anya yang mendengar Bian mengatakan hal itu hanya terdiam. Balas berbicara pun bibirnya mendadak kelu.


Menjijikan? Aku?. Batin Anya lirih.


***

__ADS_1


Bersambung...


Sampai bertemu di part 5 :)


__ADS_2