
Dari balik jendela berbentuk persegi panjang dengan kaca tembus pandang sehingga Surya dapat melihat apa yang terjadi diluar sana.
Udara tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin, panas matahari tidak terlalu menyengat cocok untuk bersantai.
Hanya dirinya yang berada disana, sebab yang lainnya sibuk bermain dihalaman rumah.
Candra bermain basket dan Joshua sebagai lawan mainnya. Kedua bocah itu sedang asik saling berebut bola sambil sesekali Joshua tampak memberengut saat shoot yang dilakukannya tidak membuahkan hasil.
Noval bersama dengan Juanda memainkan tenis meja. Noval terlihat kesusahan pada saat dirinya hendak menerima serangan dari juanda, seringkali Noval mengeluh saat mendapati dirinya gagal dan selalu tertinggal jauh dari Juanda.
Sementara mahen, laki-laki itu sedang bergelut manja dengan buah semangka yang sengaja raja persiapkan di meja.
Dengan sekali lahap mahen mampu menghabiskan separuh buah semangka berukuran sedang. Sebegitu sukanya dia dengan buah berwarna merah itu.
"Bang lu jangan curang lah bang"
"Lu nya aja kali yang nggak bisa-bisa"
"Jo lu nggak pernah ikut basket ya? Cara main lo buruk banget"
"Santai val--bawa santai aja, lu lama lama pasti juga bisa, cuman belum dilatih aja"
"Bisa-bisa! Lu ngeselin sih!"
Sementara Surya termenung dari balik kaca jendela sehingga dikejutkan dengan bola basket yang tiba-tiba mendarat mengenai jendela dengan posisi sejajar dengan wajahnya.
"Ambil bolanya Jo"
Bisa saja Surya ikut bermain tapi entahlah tiba-tiba ada perasaannya yang terus memberontak menariknya untuk tetap duduk terpengkur dari balik kusen menikmati pemandangan diluar.
Dipandanginya bunga-bunga matahari diluar, sengaja ditanam lebih banyak karena menurut Joshua bunga matahari mampu menyembuhkan perasaan yang sedang galau atau yang sedang badmood. meski pada awalnya Surya tidak terlalu yakin, tapi mungkin sekarang surya harus sedikit memeluknya sebagai ucapan terima kasih.
Sengklek sengklek gitu Joshua pernah mati-matian ngebelain Surya saat laki-laki itu harus kena sidang diruang BK oleh pak zuki akibat perkelahian yang terjadi diantara tiga anak laki-laki itu.
Sampai saat ini Surya tidak bisa melupakan bagaimana bentukan ekspresi wajah Joshua saat menghawatirkan nya.
Dan akhirnya selamat dengan bantuan usulan dari mahen untuk melihat cctv yang ada yang membuktikan Surya tidak bersalah.
"Bang ngelamun aja, kesambet lu?"
Joshua dan yang lainnya sudah selesai bermain dan memilih melanjutkan dengan istirahat disofa.
Juanda yang baru meletakkan gelas setelah menghabiskan setengah dari minuman nya dibuat melongo dengan Noval yang langsung meneguknya hingga tandas.
"Haaahh segerrr" ucap Noval melihatkan deretan gigi nya
Juanda sempat melirik lagi gelasnya, benar-benar kosong.
"Lu kucel banget kayak nggak pernah mandi dua tahun aja" ucap Surya
Candra yang duduk didekat Joshua hanya bisa membenarkan, pasalnya dirinya memang sudah dua hari ini tidak mandi hanya sekedar membasuh muka agar tetap glowing dan tidak lupa sikat gigi agar bau jigong pergi jauh-jauh.
"Gini ya, hidup itu semuanya butuh uang dan kalau kita boros maka kita bisa kehabisan uang kalau kita nggak punya uang nanti makannya gimana? Sekarang apa-apa butuh uang, jadi gue berusaha biar tetap irit nggak mandi berarti nggak boros pemakaian air dan listrik, hidup aman"
"Tapi lu orang kaya, yakali uang lu habis kepake buat mandi doang" mahen menyahut
"Orang kaya terlahir dari orang orang pintar dan irit" ucap Candra jumawa
"Yang penting gue masih ganteng kayaknya nggak ada masalah"
Seketika semuanya memekik seperti kesetanan mendengar kalimat terakhir Candra.
"Ku tak percaya...." Ucap Surya bersenandung
" Kenapa lu nggak ikutan gabung tadi?" Tanya raja
__ADS_1
Laki-laki itu berkeringat dibagian dahinya, terlihat saat rambut bagian depannya meneteskan sedikit air. Karena dahi laki-laki itu tertutup separuh rambut yang semakin menambahkan gaya seperti orang orang luar gitu.
"Malas ah, ada kingkong" ucap Surya terkekeh
Kemudian menatap ke arah Joshua, yang ditatap pun hanya bisa balik melongo karena tidak tahu apa-apa.
"Apasih bang?" Tanya nya
"Kingkong gue dah gede" ucap Noval
Bayi kingkong yang dimaksud itu Joshua, diantara mereka Joshua adalah yang paling muda itulah mengapa mereka selalu memperlakukan anak itu seperti adik kecil yang masih butuh kasih sayang.
"Aah bayi guee dah gede sini sini hmm"
Noval menggeser tempat duduknya berniat untuk memeluk adiknya yang sudah besar itu, bahkan yang paling tinggi dibandingkan mereka semua. Namun tetap saja dimata abang-abang nya Joshua tetaplah bayi besar lucu.
Noval menguyel pipi bocah itu gemas
"Tangan lu bang bau " ucapnya
"Hmmmm bayi kingkong gue yang lucuuu" ucap Noval
"Hmm temen gue yang gesrek" Candra ikut bergabung
Sedangkan yang lainnya hanya tertawa melihat betapa tersiksanya Joshua yang harus melindungi dirinya dari perampok perampok yang suka sekali nyosor duluan.
"Muaah abang dulu sini..." Ucap Noval menunjuk pipinya
"Idih OGAH!! amit amit" Joshua bergidik
Sudah tidak diragukan lagi saat sedang bersama mereka pasti ada saja kelakuan yang bisa mengundang gelak tawa, mahen sampai lupa kapan dia terakhir kali menangis.
•••°°°•••
Raja mendongak mendapati Surya sudah tampan dengan Hoodie kesayangan nya berbalut dengan celana dengan warna senada
Raja menghembuskan nafasnya
wangi parfum laki-laki itu lebih menyengat dari biasanya.
"Lu make parfum disemprot atau lu tuangin? Wangi bener" ucap nya
"Biasalah, mau ngapel" ucapnya tersenyum
"Yang ada cewek lo malah sakit kepala bukannya senang"
"Lu mau ngapel ngapain ngajakin gue?" Tanya raja
"Temenin gue ke bengkel jemput si black"
"Nama motor lu ada siapa aja sih? Perasaan dulu namanya ambrel ngapa malah jadi si black?"
Surya memutar bola matanya malas, tingkat kurang perhatian nya pada lingkungan sekitar sudah kelewatan, sehingga raja tidak tahu bahwa Surya mengganti nama motornya.
Hanya karena Surya pikir nama ambrel kurang cocok sehingga harus keluar masuk bengkel.
"Gue dah ganti, ayo cepetan jalan keburu sore" Surya menarik lengan baju menyebabkan raja harus terseret
•••°°°•••
Surya hampir lupa pada salib yang masih bertengger di lehernya, cepat-cepat dia menyembunyikan kalung itu dibalik bajunya yang dikenakannya.
Sebenarnya tidak masalah jika Tiara melihat hanya saja jika orang tua Tiara yang melihat nya itu akan jadi masalah.
Jari jarinya tangan yang sedikit dikepalkan mengetuk pintu beberapa kali. Baru ada yang menyahut dari dalam.
__ADS_1
Tiara tersenyum lebar melihat kedatangan seseorang yang dinantikan olehnya dari tadi. Sesaat terasa indah sampai seseorang muncul dari balik pintu.
Senyuman itu tidak pudar, masih sama seperti saat pertama kali dia datang kemari.
"Selamat malam Tante"
Miranda--ibunya Tiara tersenyum simpul
"Selamat malam nak Surya"
Ibu meskipun kurang setuju dengan hubungan mereka, tapi masih punya perasaan sedikit untuk tetap saling menghargai setidaknya tidak terlalu menyakitkan perasaan anak itu.
Tapi disini Tiara yang merasa kurang pas dengan situasi nya.
"Tiara kenapa kamu tinggal berdiri disitu? Ke dapur buatin minum, masa ada tamu nggak disuguhi apa-apa"
"Nggak usah repot-repot Tante" ucap Surya sungkan
"Bukan Tante tapi Tiara kok yang repot" ibu tersenyum
Tiara hanya bisa menghela nafas berat saat berlalu meninggalkan keduanya diteras.
Seandainya saja ada bapak mungkin saat ini Tiara bisa meminta solusi darinya.
"Kamu sama Tiara udah berapa lama?"
Malam ini tampaknya tidak ada tanda akan turun hujan tapi entah bagaimana Surya merasa dirinya tiba-tiba merasa dingin padahal pakaian yang dipakainya sudah cukup tebal.
"Tiga hari yang akan datang cukup dua tahun" Surya menjawab seadanya
"Kamu udah lama kenal Tiara, pasti kamu sayang banget sama anak tante" ucap ibu lagi
"Kamu juga pasti sadar tentang bagaimana hubungan kalian saat ini"
Surya tampak menunggu ibu untuk melanjutkan ucapannya, mata laki-laki itu menyorotkan tatapan nanar. Dia tahu betul dimana arah pembicaraan ini akan berakhir.
Ibu tersenyum, kali ini begitu tulus. Sebenarnya ada perasaam tidak tega untuk mengatakan ini, tapi cepat atau lambat mereka harus menerima nya.
"Sampai kapan kalian akan terus pura-pura tidak tau, apa tidak apa-apa kalau kalian terus bersandiwara begini?"
"Nak Surya, Tante khawatir kalian hanya akan terjatuh akibat kepura-puraan kalian"
"Kalian bisa bilang tidak apa-apa, tapi hati kalian, pasti capek iyakan?"
"Nak surya kalau beneran cinta sama Tiara, jauhi dia ya nak... biarin Tiara pergi"
Ibu memberi jeda sedikit kalimat nya hanya untuk menemukan Tiara berdiri didepan pintu dengan bibir bergetar mendengar apa yang diucapkan nya barusan.
"Tenang saja, tante nggak melarang kalian berteman, kalian masih boleh berteman"
"Ibu apa-apaan ngomong gitu Bu... nggak Tiara nggak mau"
Tiara bergantian menatap ibu lalu setelah nya Surya. Laki-laki itu terdiam, tidak memberikan pembelaan sedikit pun.
"Tiara ibu lakuin ini semua demi kamu, demi kebaikan kamu"
"Berhubung ini waktu yang tepat buat ibu bisa bilang langsung ke Surya, sebelum kalian dengan bodohnya masih pertahanin hubungan kalian yang nggak jelas ini"
Jangan tanya kenapa Surya hanya tinggal diam. Disini dia mendadak jadi orang paling bodoh, tidak tahu harus menjawab apa. Yang ibunya Tiara katakan semua memanglah benar, bahwa semakin dia lari dari kenyataan Surya akan merasakan rasa sakit yang akan menghancurkan nya perlahan lahan. Tapi mereka punya janji untuk terus bersama, bagaimana Surya bisa melupakan itu, hari bahagia yang menjadi awal mula dirinya tersesat dijalan tanpa ujung ini.
Kenapa juga ada orang goblok sepertinya yang bisa jatuh cinta pada orang yang jelas-jelas tidak untuk bisa dia miliki.
Saat ini Surya hanya bisa meminta untuk tetap bisa berjalan meski nanti pada tujuan yang berbeda.
•••°°°•••
__ADS_1