
Jika sudah terlanjur mencintainya, maka apa boleh buat? Hal buruk apapun yang akan terjadi hanya mampu membelanya dan menyalahkan diri sendiri.
---rahayu anita---
Happy reading :)
***
Bel istirahat berbunyi. Para siswa serentak bersorak senang. Jam istirahat adalah jam kebebasan setelah beberapa jam bergelut dengan materi materi pembelajaran.
"Ann!" Panggil Karin memebereskan buku buku yang tergeletak diatas meja.
"Yaa. Ada apa?" Ucap Anya menatap Karin yang duduk disebelanya.
"Mau istirahat? Atau membawa bekal dari rumah?" Tanya Karin lagi.
"Aku istirahat rin. Tadi kan kesiangan, jadi ga sempet bawa bekal dirumah"
"Yaudah yu! Kita ke kantin!" Ucap Karin yang langsung berdiri dari duduknya.
"Yuu!" Balas Anya yang juga ikut berdiri.
Sesampainya dikantin.
"Mau makan apa Ann?" Ucap Karin menatap Anya.
"Kau sendiri?" Bertanya balik.
"Hemmm mie ayam? Atau bakso?" Ucap Karin memberi pilihan.
"Dua duannya"
"Apa? Kau akan makan dua mangkuk sekaligus?" Kaget Karin yang menatap bingung Anya.
"Tidak. Maksudku, aku mie ayam dan kau bakso. Jadi kita bisa saling mencoba bukan?" Ucap Anya yang mengangkat alisnya.
"Baiklah. Aku memesan bakso dan kau memesan mie ayam" Balas Karin lalu menghampiri abang bakso. Sedangkan Anya menghampiri bibi mie ayam.
"Aku pesan mie ayam satu bi"
"Mie ayam satu bi!"
Ucap bebarengan mereka. Anya yang mendengar suara yang sedikit familiar itu menoleh. Mendapati seorang pria yang berhasil membuat hatinya melambung tinggi.
Bian yang melihat Anya juga berada disana bergidik ngeri. Berbeda lain dengan Anya yang memberi respon senang, Bian justru bersikap tak suka.
__ADS_1
"Pedas atau tidak?" Tanya ibi mie ayam. Anya yang bukannya menjawab malah justru menatap Bian dengan binar kebahagiaan. Sementara yang ditatap hanya memalingkan wajahnya tak suka.
"Neng! Mie ayam mu pedas atau tidak?" Ulangnya lagi.
"Terserah kau bi. Kau masukan seluruh cabainya juga tak masalah" Membalas tanpa menoleh siapa yang berbicara. Matanya masih tetap pokus menatap kesempurnaan pria disampingnya.
Bagaimana bisa tuhan menciptakannya dengan begitu sempurna? Seolah mengucap kata sempurna saat menciptakannya. Batin Anya.
Sementara ibi mie ayam yang mendengar jawaban Anya mengernyit bingung.
Orang aneh. Bergumam pelan sambil memasukan semua cabai pada mie ayam Anya.
"Kalau mie ayam mu pedas atau tidak?" Tanya ibi mie ayam. Kali ini ditujukan untuk Bian.
"Tidak terlalu pedas" Ucap Bian datar. Tidak menghiraukan wanita disampingnya yang terus menatap kearahnya.
"Ini mie ayam nya" Ucap ibi mie ayam menyodorkan dua mangkuk yang sama tapi dengan rasa pedasnya yang berbeda.
Anya mengambil mangkuk mie ayam nya, bersamaan dengan Bian yang juga mengambilnya.
Bian yang langsung pergi mencari tempat duduk kosong, sementara Anya masih pada posisinya berdiri. Menatap kepergian Bian dengan mata yang terus tertuju kearahnya. Saking bodohnya, gadis itu juga menampilkan senyum konyolnya.
"Anyaa!! Ayo kemari!" Teriak kecil Karin menyadarkan pandangan Anya. Anya yang terkejut seketika mengerjap. Lalu berjalan menghampiri meja yang ditempati Karin.
"Kau sedang apa tadi? Kenapa terus berdiri disana?" Ucap Karin saat Anya sudah duduk disampingnya.
"Menatapnya? Memangnya siapa yang kau tatap?" Bingung Karin yang tak paham dengan arah pembicaraan Anya.
"Pria itu!" Ucap Anya menunjuk Bian dengan telunjuk tangannya.
Karin yang penasaran Anya menunjuk siapa memutuskan menoleh. Lalu mendapati seorang pria yang sedang terduduk santai sembari menyantap makanannya.
"Pria itu? Ada apa dengannya? Kenapa kau menatapnya?" Bingung Karin setelah melihat pria yang ditunjuk Anya.
"Bukan ada apa dengannya. Tapi ada apa denganku. Kenapa aku menatapnya sekagum ini" Balas Anya menunjukan wajah seperti orang bodoh yang tergila gila karena cintanya.
"Maksudmu kau mengaguminya?" Ucap Karin memastikan.
"Tidak. Aku hanya mencintainya. Ya, cinta. Cinta pada tabrakan pertama" Balas Anya yang mengingat kejadian saat dirinya menabrak Bian.
"Pria itu badboy. Sikap dan perilakunya sangat dingin. Bagaimana bisa cinta mu tumbuh untuknya?" Ucap Karin yang tak percaya apa yang dikatakan Anya.
Bagaimana mungkin Anya mencintai pria seburuk itu?. Batin Karin.
"Seburuk dan semengerikan apa dia di mata orang, tetap sempurna di mata ku!" Balas Anya tersenyum. Menatap wajah Bian dalam.
__ADS_1
"Kau sudah gila! Aku tidak setuju kau mencintainya!" Desis Karin sedikit kesal.
"Kenapa? Aku tidak memerlukan persetujuan darimu." Menatap wajah Karin.
"Anya, kau itu sudah gila. Lebih baik kau lupakan saja pria itu. Dia tidak akan balik mencintaimu. Aku dengar dia sangat membenci kaum hawa. Sangat kecil kemungkinan untuk pria itu jatuh cinta"
"Kenapa? Memangnya salah jika dia benci kaum hawa. Mungkin dia seperti itu juga memiliki alasan. Bagaimana jika aku bisa merubahnya?" Ucap pede Anya begitu yakin.
"Kau itu hanya bermimpi. Berbicara denganmu mengenai pria itu tidak akan ada habisnya. Kau makan saja mie ayam mu. Tidak akan enak jika sudah dingin" Lerai Karin menunjuk mangkuk mie ayam Anya yang masih utuh belum tersentuh.
Anya mengangguk. Mengiyakan ucapan Karin. "Akan ku makan" Ucapnya. Lalu menyuapkan sesendok mie ke dalam mulutnya.
"Aaaaa! KENAPA PEDASS SEKALII?!" Teriak Anya begitu lantang. Ditambah tangannya yang menggebrak meja cukup keras.
Serempak seluruh siswa yang duduk di sana melihat itu. Menatap wajah memerah Anya karena pedas. Sesekali dari mereka ada yang tertawa mengejek.
"Anya, kau. Minumlah dulu ini" Karin menyodorkan minumannya pada Anya. Anya yang mendapat minuman itu langsung meneguknya habis. Tapi rasa pedas dilidahnya masih terasa. Membuatnya mengibaskan tangannya pada mulut.
"Bagaimana bisa kau memesan mie ayam begitu pedasnya?" Ucap Karin memajukan tubuhnya pada Anya.
"Mana aku tau. Aku pikir ibi mie ayam itu menanggapi ucapan ku dengan bercanda. Tapi malah serius...."
"Maksudmu?" Menunggu jawaban selanjutnya dari Anya.
"Saat dia bertanya mie ayam nya pedas atau tidak aku menjawabnya dengan spontan. Aku katakan kalau pedasnya terserah ibi saja seluruh pedasnya dimasuki juga tak masalah. Aku pikir ucapan ku itu hanya dianggap candaan, tapi malah benar benar menumpahkan seluruh cabainya pada mie ayam ku." Jelas Anya masih menetralisir pedasnya.
"Lagi pula kenapa kau harus berkata seperti itu?" Tanya Karin yang tak mengerti.
"Dia bertanya saat aku sedang asik menatap pria itu. Makannya aku menjawab spontan"
"Kau ini. Kenapa terlalu pokus menatapnya? Kau jadi kesusahan seperti ini hanya karena menatapnya. Bagaimana jika kau menjadi kekasihnya? Mungkin hidup mu akan lebih menderita dari ini!" Ucap Karin yang merasa ngeri saat membayangkannya.
"Ini bukan salah dia. Aku saja yang terlalu asik memandanginya" Bela Anya.
Karin yang mendengar Anya membela prja itu hanya berdecak kesal. Tak habis pikir dengan apa yang dilakukan sahabatnya.
Bisa bisanya membela pria mengerikan sepertinya. Kesal Karin dalam hatinya.
Sementara dari kejauhan Bian menatap tingkah konyol kedua gadis itu. Dengan wajah yang terlihat malas dan memutar bola matanya.
Kenapa drama-nya terus berjalan seperti ini?!. Bian.
***
Bersambung...
__ADS_1
Sampai bertemu di part 4 :)