
gesekan dari ranting pohon yang diciptakan angin serta kegaduhan dari serangga serangga yang berkeliaran di malam hari menghadirkan helaan nafas panjang dari laki-laki itu.
Padahal matanya sudah perih menahan kantuk namun tetap saja dirinya tidak bisa tertidur. Surya melirik jam dinding yang digantung di kamar.
Sudah hampir tengah malam tapi dia belum bisa tidur.
Semenjak pulang dari rumah Tiara tadi hanya bisa tersenyum lesuh. Apalagi saat mendengar kata-kata dari mahen yang menyuruhnya untuk melupakan Tiara saja seperti apa yang diinginkan ibunya.
Setelah mendengar semua cerita dari Surya tadi mahen tidak lagi berpikir untuk mendukung hubungan mereka lagi. Mendukung pun tidak mungkin bisa menang, melawan takdir sama saja dengan cari penyakit.
"Raja..." Cicit Surya
Laki-laki disampingnya sudah tertidur pulas.
"Jaaa" sekali lagi raja masih tidak ada pergerakan
"Lu kebo banget busett dah"
Surya tidak tahan lagi, kenapa temannya yang satu ini kalau tidur seperti keboo,susah sekali dibangunin.
Akhirnya Surya memutuskan untuk berjalan sendiri menuju dapur. Mata laki-laki itu langsung menyipit kala cahaya lampu menelusup masuk ke matanya.
"Kebiasaan banget noval nggak matiin lampu" gumam nya
Dengan langkah lunglai Surya menuruni tangga menuju lantai pertama tempat dimana dapur berada. Minum air hangat biasanya membantu nya untuk bisa tidur.
"Air hangat ada disana, ngapain lu buka kulkas?"
Surya dikejutkan dengan kehadiran noval disana, laki-laki satu itu sedang bersedekap dada sambil berdiri menatap surya yang malah mengobrak-abrik isi kulkas.
"Mana ada air hangat tinggalnya dalam kulkas, yaaa"
Noval berjalan melewati Surya, tangannya sibuk mematikan kompor lalu meniriskan telur ceplok ke piring.
Beberapa detik sebelum Surya terkekeh menyadari kesalahannya.
"Mikirin Tiara sampe nggak bisa tidur?"
Surya menoleh tepat bersamaan saat noval berjalan menghampiri Joshua dimeja makan. Entah sejak kapan bocah itu berada disana, Surya tidak menyadari itu. Hanya saja saat melihat bocah itu yang menyengir lebar saat makanan sudah berada didepan mata, Surya bisa langsung tahu bocah itu pasti merengek lagi ke Noval minta bangun dimasakin malam-malam.
"Nggak, bukan itu"
Meskipun Surya berkata demikian tapi apa Noval sebodoh itu untuk mau percaya?
"Ck, lu juga butuh istirahat, takutnya malah nanti lu yang sakit" noval menggelengkan kepalanya
"Iya iyaa boss"
"Wwiiih makan apatuuh, mau dikit dong"
"Aaaa nggak! Masak sendiri sana!"
"Eelaah pelit amat"
Noval memutar bola matanya, Surya mengalihkan pembicaraan lagi saat sudah membahas tentang ini.
"Lu selalu mikirin Tiara, sekali-kali mikirin diri sendiri" ucap Noval
"Hmm" Surya berdehem
"Hmm hmm hmm hmm bilang iyya bang, jangan Tiara Mulu" celetuk Joshua
"Eh bocil diem lu" Surya memonyongkan bibirnya
Pada akhirnya, Surya harus mengalah dan memilih untuk tidak mengusik ketentraman Joshua. Joshua tertawa penuh kemenangan saat noval malah menyuruh nya masak sendiri.
"Gini amat lu sama sahabat sendiri" ucap Surya
"Sama nih bocah lu selalu aja manjain" Surya cemberut
"Apasih, tinggal nyalain kompor, pecahin telur nya terus nungguin mateng, susah amat" ucap Noval mengomel
"Em huaaa gue ngantuk, pergi dulu byeee"
Surya memilih kabur, karena debat dengan Noval itu akan melelahkan.
__ADS_1
Kali saja setelah minum air hangat dirinya sudah bisa tidur, hanya dengan begitu saja Surya bisa melupakan sejenak apa yang menjadi beban pikirannya.
•••°°°•••
Sore itu Surya mendengar kata penyemangat dari raja, sama dengan hari-hari sebelumnya saat Surya dilanda kegamangan akan segala hal yang dilaluinya, raja dengan mata indahnya berusaha menjadi penenang.
"hidup itu nggak ada yang mudah. Semuanya ada pada jalan sulit masing-masing, meski orang lain mengiranya kita baik-baik saja tapi siapa yang bisa lebih mengerti dibandingkan diri kita sendiri?
Pada setiap hal sulit yang kita lalui jangan lupa diujung nya akan ada pintu yang menuntun kita untuk keluar dan saat itu kita sadar bahwa kita telah di dewasakan oleh hal itu sendiri"
Raja sore itu terlihat begitu berbeda dari biasanya, dia selalu bisa memposisikan dirinya pada tiap berbagai waktu yang berbeda. Dia bisa menjadi sosok penyemangat saat Candra mengeluh ingin menyerah, dia bisa jadi sosok pelindung untuk Joshua saat bocah itu mendapat perlakuan kurang mengenakkan oleh teman sekolahnya.
Dan kali ini, Surya bisa menjadi sedikit lebih baik saat raja merangkul pundak nya.
Dikursi panjang yang berada dihalaman rumah, mereka duduk sambil menunggu Juanda datang membawa sekantong cemilan yang dipesannya.
"Gue nggak nyuruh Lo buat mutusin tiara, terserah maunya lu apa, tapi kalau orang tua Tiara sampe nyakitin lu gue nggak bakal bisa terima"
"Asal lu jangan ambil dia dari Tuhannya "
Ucap raja, Surya tahu itu. Tidak mungkin dia akan melakukan itu, Surya memang cinta dengan nya namun bukan berarti akan mengambilnya dari Tuhannya.
"Terus gue harus gimana? "
"Gue nggak mungkin mutusin Tiara gitu aja"
"ibunya Tiara juga udah ada orang lain buat Tiara" suara Surya melemah
"Lo mending mikirin ini lagi deh, kalaupun sekarang lu nggak mau-- tapi pasti nanti"
Raja tidak melanjutkan ucapannya setelah itu berdiri meregangkan otot-otot nya. Tersenyum singkat lalu menepuk pelan bahu Surya guna menyemangati pemuda itu, walaupun tidak akan mengubah apapun juga.
•••°°°•••
"Lemparr sini!!" Teriak Joshua
Bola basket itu melesat jauh dari perkiraan Candra, tanpa diduga bola itu malah mendarat dipunggung---noval.
"Parah lu bang!" Joshua menggeleng.
"Aaaiiss gawat" ucap Candra
Tidak ada pergerakan, sampai saat noval melambaikan tangan dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua nya tanpa bisa melarikan diri berjalan pasrah.
"Joooo"
"Candraaaa"
Suara Noval terdengar pelan namun menusuk. Joshua menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tadi itu Candra yang lempar bolanya suer deh" sahut Joshua cepat sambil menaikkan dua jarinya
Candra menimpuk bokong bocah itu, kemudian menaikkan sebelah bibirnya seperti nyinyir nya para ibu ibu rombeng.
"Okee gue nggak marah"
Sesaat mereka bisa bernafas lega, sampai pada Noval melanjutkan ucapannya
"Tapi kalian harus gantiin gue cuci ini piring--" Noval menunjuk piring di wastafel
"Jangan lupa masak buat makan nanti siang"
Dengan langkah ringan dan senyum cerah, Noval berjalan meninggalkan keduanya orang yang saat ini tengah mengeluarkan segala sumpah serapah nya.
"Lo sih lagian udah gue bilangin main nya diluar"
"Lo juga yang minta bolanya dilempar kan tadi?"
"Nggak usah ribut, cuci aja yang bener"
Mereka menoleh saat menyadari kehadiran Juanda disana, laki-laki satu itu meneguk habis air putih digelasnya
"Kali aja gitu Lo ada niatan buat bantuin? Nggak ada kerjaan juga kan?" Candra menaik turunkan alisnya berharap tawaran nya diterima
"Oh makasih tapi gue sibuk--"
__ADS_1
"Noval!! Okeee otw !!"
Candra mendengus, setelah Juanda berlari dengan gaya mengejek mereka.
Hari ini sepertinya akan panjang dengan Joshua yang menjadi partner nya.
Bocah itu menoleh, dengan wajah sok polosnya
"Sekarang apa?"
"Hufffhhh"
•••°°°•••
"Bang, tolong pakein ini dong" pintah Joshua
"Lu udah gede masa gitu aja masih nyuruh orang,ckckck"
Bukannya Joshua tidak bisa tapi kalau meminta bantuan Candra bisa lebih mudah.
Candra mendekat tangannya sibuk mengikat tali cemelek milik bocah itu.
"Nggak usah keras keras dong"
Candra memutar bola matanya malas
"Lu manja banget buseet dah"
Bocah itu menyengir lebar
"Makasih bang ku tersayangggg"
Candra malah bergidik ngeri mendengar pujian itu.
Sekarang ini mereka tengah menyiapkan alat-alat yang memang sudah lengkap didapur, tinggal Joshua pilih bahan mana saja yang dibutuhkan. Sekarang giliran Candra yang memotong daging dan sayuran setelah Joshua cuci dengan bersih.
Meski tampak kesulitan, Candra harus menyelesaikan masakan hari ini, Joshua tetap berada disampingnya memperhatikan dan bersiap apabila Candra butuh bantuan dirinya.
Dari balik dinding yang memisahkan antara dapur dan ruang tamu, disana Juanda dan Noval mengintip sambil sesekali terkekeh melihat bagaimana Candra dan Joshua nampak kesusahan belajar memasak.
"Pelan-pelan masukin nya Jo!! Nanti keciprat air panas!" Heboh Candra
Joshua memasukkan potongan-potongan daging kecil didalam panci yang berisi air mendidih.
"Garamnya dikit terus itu lagi anu--"
Candra menggaruk kepalanya bingung sendiri.
"Lu ngomong apasih? Anu anu yang jelas napa" cerocos Joshua
Kali ini Joshua yang bingung mendengar petunjuk tidak jelas dari Candra, sebenarnya ini bukan petunjuk seperti pada umumnya, yang dimana petunjuk itu memberi kemudahan agar pekerjaan berjalan lancar.
"Yee gue kan baru didapur, gue nggak tau ini namanya apa, ini buat apa" ucap Candra
"Biasanya bang noval yang ngerjain semuanya"
Sebenarnya noval ingin membantu,tapi kapan lagi bisa nyuruh dua bocah itu kayak gini. Biasanya mereka akan cari alasan supaya terhindar dari pekerjaan di rumah.
Acara masak-memasak siang itu berlangsung ricuh dengan suara heboh Candra dan Joshua saat telur yang digoreng nya meleduk menghasilkan cipratan cipratan kecil minyak panas.
"Tutup--jo mana tutup nya?"
Detik berikutnya Joshua melempar tutup panci ke arah Candra yang dengan sigap diterimanya.
"Tutup bang!"
Setelah diam seperti patung keduanya saling menatap
Tadi itu hampir saja, keduanya menghela nafas lega, setelah melewati masa-masa yang menegangkan akhirnya selesai juga pertempuran hari ini.
Joshua jadi kagum, bagaimana Noval bisa dengan mudahnya memasak bahkan menggoreng telur yang seperti ngajak perang pun dia lakukan.
"Capekk ya?"
Candra mendudukkan dirinya setelah itu tertawa keras, sangat keras sampai sampai Joshua harus menutup telinganya, setelah itu juga ikut tertawa.
__ADS_1
"Berasa ikut simulasi perang dunia hahaha"