Difference

Difference
part 11


__ADS_3

Rerumputan hijau dihalaman depan rumah mulai memanjang sebab katanya "mereka juga mau hidup bang" ucap si bontot


Joshua mengucapkan hal itu sebab Juanda yang mulai geram lantaran rumput liar didepan rumah tidak henti-hentinya bertumbuh dan terus bertambah banyak.


Bahkan ada yang sampai menutupi bunga matahari miliknya.


Ditambah lagi guyuran hujan selama tiga hari belakangan ini membuatnya merasa jenuh. duduk diteras rumah bukanlah pilihan yang tepat saat hujan turun dengan derasnya.


Wajah dan setengah dari badannya basah akibat terpaan hujan disertai angin yang menghambur padanya.


Maka saat itu ada Joshua yang datang dengan senyuman hangat atau--horor?


Menghampiri dirinya.


Dan tentang Insiden keserempet motor kemarin, sudah selesai saat pelaku datang meminta maaf langsung padanya, tampak sekali sebuah penyesalan dari kakek itu. Joshua bisa langsung memaafkan nya apalagi melihat kondisi kakek itu yang membuat hati kecil nya teriris iris.


Joshua bukan orang yang tega membiarkan seorang kakek-kakek menangis dihadapannya seperti saat itu.


"Pisang nugget duee singgit" ucap tuh bocah sambil nyengir


Meski sedikit terpincang-pincang saat jalan, bocah itu tampak lucu saat berjalan ke arahnya. Juanda sampai tertawa melihat nya alih-alih membantu.


Udara disekelilingnya terasa dingin, waktu terasa sangat cepat saat keseimbangan pada tubuhnya hilang, Joshua hampir menabrak dinding jika saja tidak ada tangan yang segera dia gapai.


"Whoo whooo bro,are you okay?"


Muka cengengesan Surya saat menatap Joshua, Noval berada tepat disampingnya dengan sepiring penuh pisang nugget juga sama tengah memperhatikan nya.


"Makanya jalan tuh hati-hati!" Candra datang sekonyong-konyong menoyor kepala bocah itu.


Selain mahen dan raja, mereka semua sudah berada pada satu tempat--teras rumah untuk duduk menikmati nugget pisang buatan Noval.


Sesuai permintaan Joshua yang lagi sakit, katanya semalam dia lagi kepengen makan nugget pisang buatan bang Noval, maka dengan berbaik hati Surya pulang dari pasar dengan kresek merah berisikan pisang didalamnya. Meski awalnya ogah karena anak itu paling anti disuruh suruh akhirnya tetap juga dia lakukan saat melihat Joshua tergeletak tidak berdaya dilantai kamarnya. Dia pundung.


"Gees gees gees" heboh Candra


Dan yang paling menanti anak itu melanjutkan bicaranya adalah Surya, sebab Joshua sedang sakit--dan sedang asik mencomot jejeran nugget di piring, sementara noval nampak selalu datar.


"Tebak tadi gue liat siapa?!"


"Menang-menang?" Tanya surya


Bocah itu menggeleng.


"Teyong?"


"Cewek Lu Bro!"


Laki-laki itu lantas membisu.


"Gue liat dia jalan sama cowoknya anjay"


Terlalu heboh sehingga Juanda terpaksa menggeplak paha bocah itu sampai terdengar bunyi nyaring bahkan mungkin sudah meninggalkan bekas merah disana.


"Mulut Lo astaga" ucap Joshua


Candra hanya mencebik.


"Biarin aja" Surya tersenyum kecut setelah itu mencomot setengah nugget nya lagi.


Jawaban singkat yang keluar dari mulut Surya memberikan reaksi tidak percaya Juanda dan Noval.


Jo menyikut lengan Candra yang berada disampingnya. Namun sama sekali bocah itu tidak merasa bersalah, dirinya hanya menyampaikan kebenaran dari apa yang dia lihat tanpa ada yang dilebih-lebihkan, semuanya real seperti apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


Memangnya apa yang harus Surya khawatirkan kali ini? Apa dia harus segera berdiri lalu menyusul mereka dan marah-marah? Apa dirinya harus memberontak karena dirinya tidak bisa sedangkan Indra bisa?


Yang jelas, sekarang dia hanya ingin duduk. Perihal besok dia bertemu tiara dan kembali menjadi orang goblok, biar saja itu dia lakukan besok.


"by the way besok gue pulang ke rumah, mama sama papa gue katanya mau datang" ucap Candra menyeruput teh hangat miliknya


Juanda mengangkat tangan kanannya "gue juga besok pulang ke rumah dulu, adek gue ulang tahun"


"Gue undang kalian semua, yang mau Dateng biar rame" ucap nya

__ADS_1


"Besok bukannya ada acara disekolah ya?" Tanya Noval


Surya mengangguk" ada rapat persiapan pemilihan OSIS baru"


"Gue cocok nggak kalau ikut calon ketua OSIS juga?" Tanya noval


" Cocok, nggak mesti ganteng pula secara lu masih kalah jauh sama gue " jawab Surya


"Muka visual gini pantes nggak jadi saingan Lo yang remahan rengginang? Ckckck" balas Noval membungkam mulut Surya


Karena masih ada langit diatas langit, masih ada Noval diatas Surya. Surya memang suhu tapi masih ada Noval yang menempati tahta tertinggi, persahabatan mereka bertujuh.


Joshua menyeletuk "gue nggak mau pulang, nggak ada siapa siapa dirumah"


"Nggak lucu juga kan kalo sampai gue ngobrol sama cicak" kemudian tergeletak


Dan saat Surya mendongak, langit seolah menatapnya. Masih berteman awan hitam, hujan tak henti-hentinya mengguyur tanah hingga para serangga terpaksa mencari tempat pengungsian atau mungkin membuat tempat aman untuk mereka tinggal.


Rupanya hujan semakin deras menghantam atap rumah, kenapa hujan selalu identik dengan perasaan galau, tiba-tiba saja dirinya diserang oleh pemikiran rumit lagi.


"Lucu ya? Kalau hujan gini pasti pada suka galau, ada aja gitu yang ramai dipikiran, padahal kalau kita mau mikir lebih luas lagi, hidup kita ini terlalu singkat cuman buat galau galauan sama hal yang kita sendiri aja nggak tahu penyebab nya" ucap Juanda tiba-tiba


"Ya wajar aja orang galau namanya juga manusia, punya perasaan" ucap Noval sungguh apa adanya


Yang laki-laki itu ucapkan memang tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar, Juanda hanya berpikir perasaan diciptakan bukan hanya untuk bersedih dan mengenang, dia juga berhak untuk merasakan kebahagiaan.


"Banyak banget--"


ucap Juanda menggantung membuat yang lainnya diam menunggu lanjutan yang akan diucapkan nya.


"Adanya perasaan bukan cuman buat galau kali val, Lo kalau lagi seneng pasti juga bawaan perasaan kan" ucap nya


"Kalau Lo nggak bisa terus ketawa karena satu alasan yang sama, ngapain lo harus nangis dengan alasan itu itu aja gitu" ucap laki-laki itu lagi


"Lo sendiri juga pernah nangis kan?" Tanya Candra


Kemudian laki-laki itu menggeleng


"Gue pernah, memang sekedar pernah, sisanya cuman liatin orang-orang nangis" jawab Juanda


Surya mendelik melihat Juanda tergelak sambil menyikut tangan nya


"Gue liat Lo nangis juga bagian lo ngelap ingus - ingus lo doang" kata Surya


"Ooh iya!! Gue nggak pernah tuh liat Lo nangis!" Teriak Jo sambil menabok pundak Candra


Sementara Candra hanya meringis merasakan perih akibat tangan besar bocah itu. Titan emang!


"Gue nangis bisa sambil ketawa, ketawa juga bisa sambil nangis" ucap Joshua jumawa


"Itu Lo goblok, nangis nangis aja kali nggak usah tutup pake ketawa, palsu tau nggak" ucap Candra kali ini


Sementara yang lain beradu pendapat, Surya sudah dipenuhi pikiran lagi. Dia beruntung dapat melihat Juanda menangis, dimana laki-laki itu memang hampir tidak pernah menangis, tapi kalau boleh dirinya memilih, lebih baik dia penasaran seumur hidup daripada harus sekali lagi melihat laki-laki itu menangis.


Maka dengan jatuhnya panci presto kesayangan milik Noval yang menyebabkan suara kegaduhan dari dapur, cerita sore hari ini berakhir begitu saja.


Noval jelas panik.


♡︎♡︎♡︎♡︎♡︎


Rapat OSIS hari ini berakhir dengan lancar saat Surya mulai melangkahkan kaki meninggalkan ruangan. Biasanya laki-laki itu akan berjalan ke kantin menghampiri teman-teman nya dan makan bersama.


Namun kali ini dia memilih membiarkan bokongnya mendarat pada kursi panjang depan kelas.


Persiapan pemilihan calon ketua OSIS tahun ini akan menyita banyak waktunya, terlebih lagi ujian yang akan dirinya hadapi sebentar lagi.


Ada saat-saat dimana laki-laki itu menyesal telah mencalonkan diri sebagai ketua OSIS hanya karena sebuah ambisi yang harus terpenuhi. Sekarang tidak ada yang dirinya bisa lakukan selain menjalani apa yang telah terjadi, bukan hanya untuk dirinya, jadi sebisa mungkin Surya melakukan yang terbaik.


Bahkan saat seseorang duduk disampingnya, Surya masih menundukkan wajahnya di antara kedua lututnya.


"Nggak kekantin,kenapa?"


Begitu menoleh yang dirinya lihat adalah gadis berambut panjang kecoklatan dengan mata sipit tersenyum kearahnya.

__ADS_1


"Oh Lia ya"


Perempuan itu tersenyum


"Ini aku kebetulan ada roti tadi nggak sempet aku makan,kamu pasti belum makan"


Sebungkus roti dengan selai nanas. Surya memperhatikan tulisan yang ada dibungkus nya.


"Oh iyya, yang ini gratis"


Surya tersenyum simpul, Lia selalu saja baik meskipun pernah satu kali Surya menyakiti perasaan nya, Surya yakin itu.


Hari itu, Surya menolaknya.


"Ikhlas nggak ini? Nanti aku sakit perut" ucap Surya


"Tenang aja, udah gih makan"


"Nggak adil kalo gue makan sendiri, Lo makan juga"


"Lo aja yang makan, gue udah dikantin tadi" ucap Lia


Surya lagi-lagi menggeleng.


"Gue nggak mau, gimana kalau nanti ada racunnya, gue nggak mau ya kena sendiri pokoknya Lo harus makan juga", ucapnya


Lia tersenyum lebar, Surya memang paling bisa mengerti. Perutnya yang sejak tadi menahan lapar langsung berbunyi.


"Gue denger suara--"


"Bukan-bukan apa-apa ah ayo makan" ucap Lia cepat


Lia berbohong, nyatanya roti itu dia dapatkan dari kakek tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah.Dengan baik hatinya kakek itu selalu memberikan sebungkus roti jika bertemu Lia dijalan saat pagi hari.


"Lain kali aku bawakan kue langganan aku, dijamin enak" ucap Lia mengacungkan jempol


"Kemarin aku liat Tiara lagi jalan, sama kamu ya?" Ucap Lia yang diakhiri pertanyaan


Surya pikir kemarin dirinya tidak pernah keluar, apalagi jalan dengan Tiara, namun pada akhirnya dia tetap mengangguk.


"Ooh" mulut Lia membulat membentuk huruf O


Kemudian menatap roti di tangannya lamat-lamat. Akankah berhenti lebih baik? Apa dengan memilih mundur adalah pilihan yang bijak? Bukankah setiap manusia berhak mencintai? Berhak memilih siapa yang ingin dicintai?


Lantas pertanyaan tersebut terjawab dengan kalimat yang keluar dari mulut laki-laki disampingnya.


"Aku mencintai nya, aku harap kamu mengerti. Aku nggak larang kamu buat cinta sama siapapun itu, itu hak kamu. Tapi kamu pasti mengerti apa yang pantas diperjuangkan dan yang tidak" ucap Surya


"Kamu cantik, kamu pantas untuk dicintai, orang yang bisa pas menerima cinta darimu, dan jelas itu bukan aku"


Seperti inilah cinta, diperjuangkan atau memperjuangkan. kadang juga harus berhenti sebelum memulai. Lantas gadis itu tersenyum kecut, secara tidak langsung Surya menyuruh nya untuk tidak lagi berharap padanya.


Lia menatap ujung sepatu nya dengan senyum nanar dibibir nya lalu kembali berucap.


"Iya, aku hanya merasa aku mungkin bukan gadis beruntung yang bisa dicintai kamu"


"Seandainya bisa, tidak akan seberuntung itu, wadah yang besar tidak bisa diberi tutup yang kecil" ucap Surya


"Begitu juga sebaliknya, butuh sesuatu yang pas untuk membiarkan makanan dalam wadah tersebut tetap aman dan tetap hangat"


"Kalau tetap dipaksakan tidak akan berakhir baik"


Potongan roti terakhir yang dia masukkan ke mulut menjadikan jeda pada ucapannya.


"Kamu benar, aku tahu selamanya sesuatu yang dipaksakan tidak akan berujung baik, aku paham, sekarang aku hanya berharap bisa tetap melihat mu dengan sudut baru" ucap Lia


Meski sakit, kedengarannya dirinya mulai merasa bijak dengan bisa perlahan lahan mengikis perasaan nya.


Laki-laki itu manggut-manggut saja, rasa nanas sepertinya akan menjadi rasa baru yang dirinya sukai setelah rasa stroberi.


"by the way makasih loh ya roti nya enak, lain kali bawain yang banyak"


Kemudian tersenyum lebar, dalam diam Lia berbisik, kamu memang baik tapi sayangnya aku sedikit lambat mengenalmu.

__ADS_1


haii semuanya, gimana ceritanya? jangan lupa like dan komen yah. bisa juga loh ajak teman kalian ikutan baca.🤩


__ADS_2