
Cinta hadir karena rasa kagum saat memandang sisi sempurnanya.
---rahayu anita---
Happy reading :)
***
Bel masuk berbunyi. Nyaring terdengar ditelinga setiap siswa. Seluruh siswa berlarian menuju kelasnya masing masing. Kaki yang terkecoh dan tubuh yang menabrak antar siswa lainnya.
Anya berlari secepat mungkin. Mencoba keluar dari kerumunan siswa yang berdesakan saling menubruk.
"Aaaa!" Pekik Anya saat merasa tubuhnya membentur sesuatu.
Seorang pria yang berdiri tegap di hadapan Anya. Dengan wajah datarnya tanpa ekspresi. Menatap lurus Anya yang telah menabrak tubuhnya.
"Lain kali gunain mata lo ketika jalan!" Ucap Bian dengan nada sedingin mungkin.
"Aku berjalan menggunakan kaki ku. Mana mungkin menggunakan mata. Akan seperti apa nantinya jika berjalan menggunakan mata" Anya membalas polos. Bahkan wajahnya terlihat begitu bodoh. Dengan mata yang terus tertuju menatap pria dihadapannya. Garis bibirnya pun ikut tertarik keatas menghasilkan senyum kagum.
"Wanita aneh. Menjijikan!" Bian memalingkan wajah. Menampakan raut tak suka menatap gadis dihadapannya.
"Aneh ku karena pesonamu" Masih menampilkan binar kekaguman.
"Terserah lo. Sekarang lo minggir! Jangan halangin jalan gue" Bian mendorong keras tubuh Anya. Sampai tubuh gadis itu membentur tembok cukup keras. Namun Anya yang mendapat perlakuan itu hanya tersenyum riang. Seolah tak merasakan sakit apa apa disekujur tubuhnya.
__ADS_1
Dia menyentuhku?. Ouh tuhan mimpi apa aku semalam?. Batin Anya berteriak senang.
Setelah sadar apa yang dilakukannya sekarang. Anya kembali berdiri tegak. Merapikan seragamnya yang sedikit terlipat.
"Semua siswa sudah pergi. Dan aku masih berdiri disini seolah masih dalam kerumunan siswa. Ya ampun! Jika terlambat masuk kelas akan seperti apa nasibku nanti?" Desis anya meratapi kebodohannya. Lalu berlari cepat menuju kelasnya.
***
"Permisi bu! Maap saya terlambat. Tadi saya ketoilet dan toiletnya penuh" Gelagap Anya mencoba memberi alasan yang masuk akal.
"Saya tidak menerima alasan apapun! Sekarang keluar dan berdirilah di tengah lapangan menghadap tiang bendera. Angkat sebelah kakimu sambil memeggang kedua telingamu!" Usir guru mata pelajaran yang mengajar di kelas Anya hari ini.
Apa boleh buat. Mau tidak mau. Setuju tidak setuju. Anya harus mematuhinya. Ini juga toh kesalahannya. Terlalu sibuk memandangi pria yang sampai sekarang dikaguminya. Sampai sampai ia terlambat masuk kelas.
"Baik bu" Balas Anya lalu kembali keluar kelas dan menuju lapangan.
Hukumannya akan selesai pada saat bel istirahat berbunyi.
***
Ting tong ting tonggg....
Bel istirahat berbunyi nyaring. Menggema disetiap telinga para siswa. Lantas seluruh siswa berteriak histeris. Seperti mendapat kebebasan saat bel kedua berbunyi.
Anya mendengar bunyi bel yang memekakan teingannya. Ia lantas berucap syukur. Akhirnya hukumannya selesai. Karena setelah tiga jam berdiri dengan kaki sebelah yang kurang keseimbangan. Membuat Anya merasakan pegal disekujur betisnya. Dan tubuhnya yang mulai melemas karena sorotan teriknya pancaran sang surya.
__ADS_1
"Hei lihat itu. Apa gadis itu sedang mendapat hukuman? Hhaa" Ucap Adrian yang berdiri tak jauh dari posisi Anya dihukum. Menatap mengejek gadis yang mengangkat sebelah kakinya. Serta tawa renyah yang ditunjukannya.
Bian menoleh saat Adrian memintanya untuk melihat pemandangan gadis yang terkena hukuman. Karena menganggap tidak penting, Bian hanya menatap Anya dari sudut matanya. Lalu tak lama kembali memalingkan wajahnya.
Anya yang mendengar tawa renyah yang menertawakanya lalu menoleh menatap pria yang berdiri tak jauh dari pandangannya.
"Kenapa dia menertawakanku? Apa aku terlihat konyol? Aku hanya menjalankan hukuman, lalu apanya yang lucu?" Gumam pelan Anya. Lalu menatap setiap sisi lapangan yang dipenuhi seluruh siswa berkerumun menatap kearahnya. Dan sesekali ada yang tertawa mengejek.
Anya yang melihat itu hanya tertunduk dalam merasakan malu. Sebenarnya dia termasuk siswa pintar disekolahnya. Setiap ada perlombaan cerdas cermat, olimpiade, atau apapun yang berhubungan dengan mengasah otak. Dirinya pasti ikut serta. Dan selalu meraih juara unggul dalam lombanya. Tapi kali ini ia harus mendapat hukuman hanya karena telat beberapa menit memasuki kelas. Itu pun gara gara terlalu asik menatap kagum pria yang ditabrak saat hendak masuk kelas tadi.
"Anya! Kau sedang apa? Bukankah hukuman mu itu sudah selesai? Lalu kenapa masih melakukannya? Turunkan kakimu! Dan kemarilah!" Teriak pelan Karin dibalik pagar lapangan.
Anya yang mendengar ucapan Karin lalu tersadar. Ia baru menyadari kalau hukumannya sudah selesai. Dia juga sudah mendengar bel istirahat berbunyi tadi. Tapi dirinya terlalu bodoh, ntah terlalu telmi untuk mengartikan bunyi bel itu.
"Hukuman ku sudah selesai. Lantas kenapa aku terus melakukannya? Heuh bodoh sekali! Karena kebodohanku aku membuat diriku menjadi tontonan semua siswa" Bergumam pelan. Lalu menurunkan kaki dan tangannya. Menampilkan senyum simpul untuk menutupi rasa malunya.
Sementara Bian yang menatap semua itu hanya menganggapnya sebuah drama.
"Ayo pergi!" Desis Bian meninggalkan area lapang. Disusul Adrian yang berjalan dibelakangnya.
Wanita dekil. Kotor. Menjijikan. Cihh, dia bahkan juga pandai berdrama. Wanita bodoh!. Batin Bian tersenyum kecut.
***
Bersambung...
__ADS_1
Sampai bertemu di part 2 :)