
Ketika tidak ada tempat untuk dirinya pulang, jangankan untuk pulang dan menetap untuknya mengaduh saja masih harus membuat nya berpikir dua kali untuk benar-benar yakin siapa yang ada.
Ketika dirinya menoleh kebelakang, tidak ada satupun yang ada disana hanya untuk memberikan nya satu kata semangat atau sedikit saja dukungan agar bisa bertahan.
Bayang-bayang bagaimana saat itu dirinya duduk sendiri dalam kegelapan yang hening, ruangan yang sempit serta bau-bau barang tidak terpakai yang kemungkinan sudah tersimpan lebih lama sebelum dirinya mengenal dunia.
Lalu setelah memilih untuk menyerah, ada satu pintu yang terbuka diantara banyaknya pintu didalam ruangan itu.
Meski dengan cahaya yang tidak terlalu terang namun masih bisa menuntunnya perlahan-lahan untuk keluar dari gelapnya tempat itu.
Seutas tali yang seolah menariknya untuk terus berjalan meski beberapa kali dirinya akan terus terjatuh tersandung bebatuan.
Ada satu kata yang pernah diucapkan seseorang padanya, tidak tahu apakah ini bisa disebut motivasi atau tidak, yang jelas Surya percaya pada satu kata ini,bahwa katanya
"Akan ada kemudahan setelah kesulitan bahwa hidup nggak selamanya berada pada titik itu sendiri, kalau sebelumnya kamu merasa dunia ini nggak adil, kamu merasa semua yang ada didekatmu terlalu sulit, tapi tanpa kamu sadari hal itu yang akan menuntun mu untuk bertemu kebahagiaan, bahagia yang benar-benar kamu impikan" ucap mahen kala itu.
Seperti yang sudah-sudah, pagi ini dimulai dengan sedikit kata pembuka dari mahen. Laki-laki itu sempat dikagetkan oleh Surya yang duduk berjongkok didepan pintu kamarnya.
Hampir saja anak itu kena sepak andaikan saja mahen berjalan masih setengah sadar.
Cengiran lebar dari Surya yang pertama kali dirinya temukan saat melihat nya. Saat bertanya kenapa, surya tidak menjawab apa-apa malah tertawa kecil, tangan nya memegangi perutnya, mungkin sakit karena tertawa, mahen pun kurang paham.
Setelah akhirnya mereka berpindah tempat pada kursi panjang diruang tamu. pembicaraan berlanjut membahas beberapa hal dari mulai hari kemarin, kemarin nya lagi hingga hari kemarin-kemarin nya hari itu lagi.
"Tapi gue masih belum yakin kebahagiaan itu apa bisa gue miliki" ucap Surya tiba-tiba
Mahen berdecak" lu mah apa-apa tiara, tiara apa-apa"
Surya terkekeh kecil kemudian dengan wajah imut seolah mengatakan kebenaran dari ucapan mahen barusan, laki-laki itu kemudian mengangguk.
"Bahagia lu nggak harus sama Tiara, banyak kok sesuatu yang bisa bikin lo bahagia, bukan hanya satu dua orang" ucap mahen
"Tapi definisi bahagia yang gue tahu kurang lengkap rasanya tanpa adanya Tiara, lu mah mana paham" Surya menaikkan alisnya
Mahen mencebikkan bibirnya, tidak mau ikut membenarkan, apanya yang tidak dia paham? Mahen juga punya seseorang kok, dia juga sama pentingnya seperti Surya yang mencintai Tiara.
Tapi disatu sisi mahen juga sadar, bahagia tidak bisa hanya dengan kehadiran satu orang itu, dia masih butuh sahabat sahabat nya. Tidak ingin berbohong karena itulah faktanya, dirinya tidak lengkap tanpa peran penting dari orang yang dia sebut sahabat.
Hidup juga tidak bisa jika hanya dengan kehadiran satu orang itu, entah benar atau tidak tapi jelas mahen merasakan hal itu.
"Susah deh bicara sama orang yang udah bucin akut gini" mahen menghempaskan bahunya pada sandaran sofa
Surya mencebik, beberapa saat setelah dirinya mulai tertarik melihat apa yang dilakukan ketiga sahabatnya diteras rumah.
Ketiga laki-laki itu tampaknya sedang memainkan permainan sampai sampai Joshua harus diberi hukuman bernyanyi dengan suara yang keras dan lantang.
"Nyanyi apanih bagusnya?"
Saat Noval mulai berpikir Juanda sudah mempunyai jawabannya, tentang apa yang akan dibawakan penyanyi kita kali ini
"Cicak cicak didinding?"
Noval nampaknya kurang menyetujui usulan dari Juanda barusan
"Lagu TK nya ponakan gue itu" celetuk noval
"Kita buat hukuman dari lagu ini, lu harus nyanyi tanpa merapatkan kedua bibir Lo"
Surya rupanya tertarik saat melihat Joshua mulai kebingungan.
__ADS_1
"Jadi gue harus mangap terus gitu?" Tanya nya
"Sampai lagunya selesai, kalau salah diulangi" ucap Noval tegas dengan wajah yang congkak dibuat-buat
"Yang bener ajaa"
"Nggak ada yang salah dong ya? Kan yang kalah harus kena hukum" ucap Noval
Mau bagaimana lagi, Joshua tidak boleh lari dari tanggung jawab Sekalipun ini hanya permainan yang dia dan sahabatnya ciptakan. Tetap ini adalah sebuah tanggung jawab yang harus dirinya selesaikan, atau kalau tidak Surya akan menjadikan nya bahan sampai satu Minggu kedepan.
Maka dari itu Joshua mulai mengambil alih semua perhatian dari mereka yang duduk disana. Laki-laki itu berdiri, sedikit canggung sebab seluruh atensi tertuju kepada nya.
Namun saat menemukan para sahabatnya bertepuk tangan rasanya rasa takutnya seperti menghilang begitu saja.
Tidak ada yang tahu pasti bagaimana dirinya bisa lebih senang dan merasa labih hidup bersama dengan orang-orang disekelilingnya sekarang.
Semua tawa itu. suara mahen yang receh tapi tidak recehan, Candra yang selalu menjadi partner nya setiap menjalankan rencana mengerjai Surya dan Noval, raja yang marah marah karena benci melihat seisi rumah berantakan, Juanda yang memiliki mata melengkung seperti sabit.
Maka saat ini setelah Joshua mengalami kegagalan pada kalimat terakhir nya dia harus merelakan wajahnya ditaburi tepung
Tenang saja, kali ini Noval tidak akan marah. Karena tepung nya besok sudah kadaluarsa, jadi dengan sedikit berat hati Noval harus merelakan tepung itu berbalur dengan wajah nya Joshua.
"Aaaa aaa bang pliss ahahaa" Joshua mencoba menghindar dan menepis tangan Juanda yang mencoba mengolesi nya tepung.
•••°°°•••
Langit senja di Jakarta saat ini terlihat mengaburkan pandangan. Bukan karena asap knalpot motor dijalan, bukan juga debu atau polusi udara di ibu kota, melainkan karena baru saja dirinya meloloskan butiran air dari mata itu.
Penglihatan gadis itu perlahan memburam lalu lengan nya turut basah.
Di depannya Surya hanya terdiam, ingin sekali dirinya berdiri lalu duduk lebih dekat dengan gadis itu, menariknya dalam pelukan yang sekiranya mampu menghangatkan.
Surya meremas kuat jari-jemari nya, yang biasanya terulur untuk menghapus air mata gadis itu, dia tahu saat ini Tiara membutuhkan nya.
Maka tanpa ragu Surya mengulurkan tangannya. shampo yang dipakai gadis itu agaknya tidak berubah, masih sama seperti yang terakhir kali dia beli, dia tahu itu.
Aroma strawberry yang tidak pernah berubah.
"Mereka jahat, Ya" lirih Tiara
Mata nya tampak sembab
"Nggak ada yang ngertiin gimana jadi aku Ya" ucap Tiara lagi
Surya tidak terlalu munafik jika ingin melarang gadis itu menangis. Bukankah dia juga berhak menangis?
Surya meringis pelan, setelah menghapus sisa air mata gadis itu kini tangannya tidak bisa berhenti mengusap puncak kepala gadis itu.
"Sayang"
"Heii..."
Tiara menatap mata laki-laki didepannya, mata yang selalu tulus memandangnya, mata yang selalu tampak teduh, tidak ada kebohongan disana.
"Aku pernah dengar gini, jika kamu tidak menemukan pintu keluarnya maka kembalilah pada tempat awal kamu masuk"
"Kamu pasti menemukan jalan pulang"
Setelah mengatakan itu, Surya tersenyum, senyuman yang sulit diartikan. Kadang seperti inilah Surya, laki-laki yang sulit ditebak, bahkan oleh orang-orang terdekat nya sekalipun.
__ADS_1
"Aku lagi sedih lho ini, kenapa malah kamu suruh mikir"
"Cukup kamu pahami aja"
"Nggak harus kamu cari tau Sekarang, habisin aja gado-gado nya, nangis juga butuh tenaga" ucap Surya
"Udah ya, cup cup cup cup cup" Surya menepuk pelan puncak kepala gadis nya
"Ibu makin ngeyel ngedeketin aku sama Indra, hampir tiap malam aku harus cari alasan biar nggak disuruh jalan sama dia"
Surya tersenyum sumir, pandangan nya kosong pada semangkuk kuah soto yang kini mulai dingin.
"Kadang aku suka mikir, apa aku hidup nggak berhak bahagia?" Ucap Tiara
Ada perasaan tidak rela saat harus merelakan Tiara dekat dengan orang lain, gadis itu terlalu baik untuk dia biarkan begitu saja kepada orang lain.
Namun sekali lagi, Surya kembali tersadar akan satu hal. Dari sekian banyaknya hal surya dapat bersaing mendapatkan cinta dan restu itu, tapi hanya dengan satu hal pula semua harapan itu pupus.
Tidak mau sampai disitu, Surya tidak mau dengan mudah menyerah, meski dengan resiko yang sudah dia tahu akan dirinya rasakan.
"Semua orang berhak bahagia dan kamu juga, cuman kamu masih belum bisa mengerti saja" ucap Surya
"Kebahagiaan orang itu bervariasi tergantung cara kamu menerimanya, bagaimana cara kamu bisa membiarkan nya mewarnai hidup kamu" ucap Surya
"Dan bahagia aku bukan sama dia, ibu kalau mau bisa tuh Indra sama Salma aja" Tiara memberengut
Justru Surya terkekeh pelan
"Bisa juga tuh, nanti kamu negosiasi sama ibu kamu aja"
Jangan anggap serius, Surya tidak benar-benar serius menanggapi ucapan Tiara barusan, layaknya adik, Surya juga sangat menyayangi bocah tengil itu.
"Lain kali jangan kabur-kaburan lagi yah, aku nggak suka, masih untung aku nemuin kamu tadi, kalau enggak gimana?" Peringat laki-laki itu
Hal yang membawa mereka berakhir diwarung kang Jojo karena Tiara yang lapar habis kabur dari rumah. Setelah mendapat kabar dari Salma bahwa Tiara kabur dari rumah surya rela meninggalkan Juanda yang tengah memainkan catur dengan nya.
Bahkan suara teriakan Juanda masih terngiang-ngiang di kepala nya saat meneriakinya tadi. Padahal beberapa langkah lagi Surya mendapati kemenangan nya.
Patutnya Tiara tahu itu.
Untuk beberapa saat tidak ada suara diantara keduanya, hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring dan juga suara klakson kendaraan yang bersaut-sautan.
Hingga saat Tiara melirik ke arah benda pipih yang tergeletak di meja samping laki-laki itu meletakkan minumnya.
Tertera nama Salma disana, Surya melirik Tiara lalu menggeser tombol hijau dan menyalakan loudspeaker nya.
"Kak Surya, gimana udah ketemu kak Tiara nya?"
"Aman, ini ada orangnya lagi makan, katanya laper" ucap Surya diakhiri candaan ringan
"Ya Allah, benar-benar orang rumah pada nyariin dianya enak-enakan makan disana" ucap Salma diseberang sana
"Siapa yang nyariin?"
"Orang rumah--dan Indra"
Tiara pikir dengan caranya kabur seperti itu akan memberikan pengertian kepada Indra bahwa sungguh Tiara tidak menyukainya, nyatanya laki-laki satu itu makin gencar untuk mendapatkan nya.
"Suruh dia pergi kalau nggak gue nggak mau pulang!" Ketus Tiara
__ADS_1
Biarkan saja jika sifatnya agak kekanakan dan keras kepala. tapi sungguh ada rasa tidak nyaman saat Indra terus menerus datang lalu dengan mudahnya meminta izin untuk mengajaknya jalan, sedangkan untuk Surya saja Tiara harus dengan sabar membujuk ibu.