
Akhirnya seluruh bandit dapat Sakaru tangkap dengan mudahnya, dengan menginterogasi boss bandit, Sakaru mendapatkan beberapa informasi terkait penyerangan bandit pada tengah malam itu.
"Be-benar tuan. Kami hanya mengetahui bahwa kereta kuda yang melewati jalan ini adalah milik putri kerajaan Olutres." ujar boss bandit itu dengan ketakutannya.
"Sudah kubilang, siapa yang memberitahukan mu hal itu." ancam Sakaru sembari menodongkan pedangnya di bahu bandit.
"Tu-tuan, kami benar-benar tidak tahu. Pria itu sama sekali tidak memperlihatkan wajahnya lalu menghilang dalam bayangan." jawab bandit itu terlihat seperti ingin menangis.
"Seperti nya dia tidak berbohong." pikir Sakaru menajamkan matanya. "Yasudahlah, omong-omong bagaimana kondisi prajurit yang tertusuk pedang itu?"
"Tidak ada luka serius, sekarang dia sedang melakukan perawatan." jawab Richard yang mengawasi keadaan prajurit itu.
"Begitukah, baiklah." *menyimpan pedang dalam inventory
Menoleh kearah bandit yang terikat, Sakaru berkata dengan suara nyaring. "Kalian para bandit ikut kami menuju ke ibukota Saint Haven. Jika kalian berani melawan atau macam-macam, kalian tahu bukan akibatnya." ancam Sakaru mengempalkan tangan. *kami tidak akan berani
Karena ketegangan akibat serangan bandit tadi, tidak ada satu pun prajurit yang bisa kembali tertidur dan mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Saint Haven.
Tiga jam telah berlalu, tidak ada satupun monster yang berani menyerang kereta kuda Sakaru selama dalam perjalanan. Akhirnya mereka telah sampai ke kota Warleds tepat pada pagi hari.
"Yah, setelah kupikir lagi. Kalian pergilah... Aku tidak memiliki waktu untuk berurusan dengan kalian." ujar Sakaru kepada para bandit yang terikat.
"Apa benar begitu?" tanya salah satu bandit yang terikat.
"Oh, apakah kalian lebih suka di sidang dan dihakimi di kota ini karena telah menyerang kereta kuda yang dikendarai tuan putri kerajaan lain?" jawab Sakaru dengan tatapan tajam.
"Hieee... tidak tuan."
"Kalau begitu pergilah sebelum aku berubah pikiran." *baik...
Para bandit itu berlari kembali ke dalam hutan dengan keadaan tangan yang terikat.
"Yah, kalau begitu Richard. Kita beristirahat saja di kota ini dan melanjutkan perjalanan besok." ucap Sakaru sembari memejamkan kedua matanya lalu melihat ke sekeliling kota itu.
"Oh iya juga..." *mendekat ke arah Richard
"Richard, apa aku boleh meminjam beberapa koin gold untuk di gunakan di kota ini? Kebetulan sekali aku sedang tidak membawa uang hahaha..." bisik Sakaru memohon.
"Y-ya.. sebagai pengawal pribadi putri Alicia, kami diperbekali koin gold sebanyak 5000 keping untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan putri Alicia oleh Raja." jawab Richard sembari mengeluarkan beberapa kantung gold dari dalam tas pribadinya.
"Karena tuan Sakaru telah dengan tulus membantu kami, selama diperjalanan." *menjulurkan beberapa kantung gold
"Disini ada sekitar 1000 keping koin gold. Ini boleh dipergunakan untuk memenuhi keperluan tuan. Tidak perlu mengembalikannya, anggap saja sebagai imbalan kecil dari kami, dan untuk kedepannya, mohon bantuannya."
"Pengawalnya saja membawa uang sebanyak 5000 keping gold." batin Sakaru.
__ADS_1
"Kalau begitu, dengan senang hati saya menerimanya." ujar Sakaru senang.
"Yhaa.. sama-sama." tersenyum canggung.
Sakaru berniat untuk berjalan-jalan di kota. Tidak lupa mengajak Lilim dan mengecek ke dalam kereta kuda.
"Lilim, apa kamu mau ikut?" tanya Sakaru dari luar kereta.
Spontan Lilim keluar dari kereta, "Ya kakak, Lilim akan ikut."
"Baiklah kalau begitu, ayo ki-.."
Putri Alicia keluar dari dalam kereta....
"Anu... Apa aku juga boleh ikut?" tanya Alicia dengan suara pelan, tetapi masih bisa didengar.
"Alicia ya.., ya tentu saja kamu boleh ikut." jawab singkat Sakaru dan langsung berjalan menuju ke dalam kota.
"Ternyata benar, kakak Lilim itu benar-benar baik seperti yang Lilim ceritakan." Alicia tersenyum dan pergi berjalan-jalan bersama mereka.
Mereka bertiga pun berjalan-jalan mengelilingi kota Warleds, mengunjungi toko manisan, bermain di pusat permainan, dan melakukan banyak hal lain nya yang menyenangkan.
Sementara itu, di suatu tempat yang sangat jauh di timur...
"Lapor, baginda. Kerajaan Olutres sedang menghadapi krisis Dark Dragon di perbatasan Magic Forest mereka." jawab orang itu dengan menunduk.
"Bagaimana dengan batunya? Apa sudah ada kabar tentang keberadaan batu itu?"
"Ya, baginda. Kami mendekteksi keberadaan batu itu berada di kerajaan Saint Haven, walaupun tidak memiliki lokasi yang pasti."
"Begitu ya. Awasi saja mereka dan lakukan saja sesuai rencana..."
"Baik, baginda..."
.
.
.
"Apa ada yang membicarakan ku? Telingaku terasa panas akhir-akhir ini." melihat ke arah sekitar.
"Ada apa kakak?" tanya Lilim dengan wajah yanh kebingungan melihat tingkah Sakaru.
"Bukan apa apa." *menoleh ke arah Alicia
__ADS_1
"Alicia, bukankah jubah itu sedikit aneh jika dikenakan oleh seorang putri sepertimu?"
"Tapi... ini adalah jubah yang harus aku kenakan untuk menyamar." jawab Alicia terlihat sedih.
"Sudahlah, kalau begitu ayo cari toko pakaian dan mencarikanmu baju yang cocok untuk kamu kenakan."
Alicia hanya mengikuti Sakaru dan Lilim pergi menuju ke toko pakaian. Sesampainya mereka di toko pakaian, Lilim memilihkan Alicia pakaian yang cocok untuk dikenakannya.
Sementara itu, Sakaru hanya melihat-lihat di sekitaran toko itu dan sama sekali tidak tertarik untuk membeli karena sudah memiliki jubah dengan penambahan status yang luar biasa.
"Kakak Sakaru, apa aku sudah terlihat seperti seorang putri sekarang?" tanya Alicia yang baru saja keluar dari ruang ganti.
"Woah..., yah itu bagus untukmu Alicia."
"Hehe..." tersenyum senang.
Setelah membayar pakaian yang di pakai Alicia, Sakaru juga berkeliling untuk mencari sesuatu yang mungkin saja bisa menarik perhatiannya.
"Hmm, tidak ada yang menarik di kota ini." gumamnya bosan.
"Apa yang kakak cari?" tanya Lilim yang sedari tadi memperhatikan Sakaru.
"Tidak ada, aku hanya melihat lihat keadaan kota."
Terlihat sebuah caravan dan beberapa pedagang kaki lima disepanjang jalan yang Sakaru lewati.
Sakaru penasaran dengan rasa dari makanan yang di jual oleh pedagang kaki lima itu dan membeli beberapa untuk dirinya sendiri.
"Apakah ini benar-benar memiliki rasa." *mencoba segigit kebab
"Glek... Ini..."
Sakaru terkejut dengan rasa dari makanan yang di belinya itu, makanan yang Sakaru beli itu terasa sangat nyata dan bumbu-bumbu di makanan itu terasa pas dengan lidah Sakaru.
"Lilim, apa selama ini makanan yang kamu makan memiliki rasa?"
"Ya, tentu saja memiliki rasa." jawab Lilim sembari memakan kebab yang di belinya.
Sakaru berpikir karena dunia saat dia berada saat ini adalah dunia game, tentu saja makanan yang dia makan juga mungkin akan terasa hambar.
Namun nyatanya tidak, makanan yang disajikan oleh para pedagang kaki lima memiliki rasa yang sama persis seperti di dunia aslinya.
"Ya... Aku kekenyangan." ujarnya setelah memakan lebih dari 10 makanan yang berbeda.
Sakaru pun menyewa sebuah kamar penginapan untuk semalam dan kembali melanjutkan perjalanan pada esok harinya.
__ADS_1