Drakula Istimewa

Drakula Istimewa
Chapter 11


__ADS_3

Beberapa saat setelah Tasya tertidur ada jari-jari tangan Rendi nampak bergerak.


"Ta-Tasya"


Mengerti jika saat ini Tasya sedang tidur Rendi tidak mencoba untuk memanggilnya lagi.


Rendi hanya memandangi wajah imut dan cantik Tasya.


"Loe pasti cape nungguin gue di sini, ya" Rendi membatin sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Padahal gue udah kasar sama loe waktu di lapangan tapi, loe justru malah nolongi gue sampe rela nungguin gue siuman. Kayanya emang selama ini gue banyak salah deh sama temen-temen gue yang lain juga"


Rendi secara perlahan mendekatkan tangannya ke kepala Tasya kemudian mengusapnya.


Merasa ada yang menyentuh kepalanya Tasya akhirnya terbangun.


"Em...Ren, loe udah bangun ?" suara Tasya yang masih serak karena baru bangun membuat Rendi terkekeh kecil.


Tasya mengusap-usap matanya yang terasa masih berat untuk terbuka secara lebar.


"Ngapain loe ketawa ?" Tasya sadar sejak jika tadi Rendi menertawakan dirinya yang baru bangun tidur.


"Gak apa-apa kok, abisnya loe lucunya sih" kata Rendi sambil tersenyum.


Setelah siuman Rendi menjadi lebih mudah tersenyum dari pada hari-hari sebelumnya.


"Eh, ini beneran loe kan, Ren? Apa jangan-jangan gue salah nolongin orang ya tadi siang atau gue lagi halusinasi kalo barusan loe dari tadi senyum mulu"


"Loe kalo mau nanya satu-satu dong, gue kan baru siuman masa langsung harus jawab pertanyaan panjang lebar loe itu tadi"


"Oh iya juga ya, em..oke. Sekarang pertanyaan pertama gue adalah, Loe beneran Rendi, kan?"


"Iya gue Rendi, terus apa lagi"

__ADS_1


"Masa sih loe Rendi"


"Iya, emang kenapa?"


"Oke sekarang pertanyaan kedua, kalo loe beneran Rendi kok loe jadi gampang senyum, sih? padahal se ingat gue loe itu susah banget kalo mau senyum"


"Gue emang sekarang ini mau mulai berubah jadi lebih baik dari sebelumnya"


"Hah! be-berubah?"


"Iya, emangnya gue gak boleh gitu berubah jadi lebih baik"


"Boleh sih tapi, sejak kapan loe mau berubah"


"Sejak loe nasehatin gue di lapangan"


"Ooh...sejak itu, berarti nasehat gue manjur dong ya?"


"Oke, sekarang jam berapa?"


"Jam 17.30"


"APA,udah jam segitu" teriak Tasya sambil berdiri.


"Ngapain sih loe teriak-teriak?" Rendi berkata sambil menutupi telinganya.


"Kenapa loe gak bilang dari tadi kalo udah sore, Bambang"


"Gue Rendi"


"Hm, iya deh"


"Emang loe emang kenapa sih, kaya panik gitu?"

__ADS_1


"Gue belum ngabarin orang tua loe kalo loe itu di rumah sakit"


Seketika senyum di wajah Rendi menghilang kemudian berganti posisi tidur, yang tadinya terlentang menjadi miring membelakangi Tasya.


"Gak usah di kasih tau"


"Loh kenapa? kan orang tua loe harus tau kalo loe itu lagi dirawat di rumah sakit karena abis kecelakaan"


"Gak apa-apa dan kalo loe mau pulang,pulang aja. Gue bisa jaga diri di sini kok"


"Tapi Ren, loe itu baru siuman mana mungkin gue tinggalin loe sendirian di sini"


"Gak apa-apa Sya, nanti orang tua loe nyariin lagi"


"Siapa bilang gue bakal dicariin, kaya anak kecil aja" kata Tasya sambil melipat tangannya.


"Siapa tau aja, ya kan"


"Gak"


Tok tok tok


suara pintu kamar Rendi diketuk oleh seseorang dari luar ruangan.


"Tasya, apa kamu ada di dalam" terdengar suara seorang pria memanggil Tasya dari luar.


Tasya melebarkan matanya dan menurunkan tangan yang tadi terlipat di depan dada saat mendengar suara itu.


"Tasya~"


Ggrrkk


(Note : anggap aja suara pintu yang terbuka)

__ADS_1


__ADS_2