
Seorang pria yang kira-kira terlihat berumur 40 tahun memasuki ruangan tersebut.
"A-ayah" Tasya terkejut ternyata tebakannya tentang siapa yang datang memang benar.
Ya benar saja yang datang tidak lain adalah Ayah Tasya atau sering disebut sebagai Tuan Arka.
"Hm, Taysa ternyata kamu benar berada di sini" ucap Tuan Arka.
"Em~i iya, tapi ayah kenapa dateng kesini sih ?" Tasya sedikit malu dengan Rendi karena ternyata dia benar-benar di cari oleh ayahnya seperti seorang anak kecil.Sedangkan Rendi hanya terdiam melihat ke arah ayah Tasya karena dia merasa familiar dengan wajah dan juga suaranya.
"Apa seorang ayah tidak boleh mendatangi putrinya untuk menjemputnya ?" Tuan Arka bingun kenapa Tasya bersikap demikian saat dia datang ke sini.
"I itu, ayah...aku ini udah gede jadi bisa pulang sendiri tanpa harus dijemput jadi, ayah gak perlu repot-repot jemput aku kaya gini"
"Siapa bilang ayah repot" Ayah Tasya mengangkat satu alisnya.
Hhuuff
Tasya menghela nafas kasar kemudian menatap tajam ke arah seorang pria satunya di dekat Tuan Arka namun, usianya jauh lebih muda dari Tuan Arka.Pria itu tidak lain adalah Panji.
Merasa dirinya sedang ditatap oleh seseorang Panji langsung memalingkan wajahnya.
"Gue mau ngomong sesuatu sama loe" setelah berkata demikian Tasya langsung keluar dari ruangan tersebut meninggalkan lainnya sambil menarik tangan Panji.Sedangkan Panji yang tangannya di tarik hanya bisa pasrah.
__ADS_1
"Tasya, kamu mau kemana" Tasya tak menghiraukan pertanyaan dari ayahnya dan hanya terus berjalan ke luar ruangan.
***
Di Luar Ruangan
"Loe kan yang ngajak ayah ke sini buat jemput gue" tanya Tasya penuh selidik.
"Ng-nggak kok" keringat sebesar biji jagung menetes di daerah pelipisnya.
"Nggak usah boong deh loe, loe ngomong apa aja sampe ayah mau dateng kesini"
"Ng-nggak kok, aku cuma bilang kalo kamu ada di rumah sakit lagi nungguin temen yang abis kecelakaan"
"Hm...gue masih curiga kalo loe masih nutup-nutupin sesuatu"
***
Di ruang rawat Rendi Tuan Arka duduk di samping tempat tidur Rendi.
"Kamu...siapa ?" tanya Tuan Arka kepada Rendi.
"Saya Rendi, Om" Rendi menjawab tanpa ada kegugupan sama sekali yang terlihat di wajahnya karena dia sudah merasa sangat familiar dia orang yang ada di depannya itu.
__ADS_1
"Bukan itu, maksudnya saya kamu siapanya anak saya ?" sama dengan yang di rasakan Tuan Arka juga merasa sangat familiar saat melihat Rendi.
"Terus maksud om apa ?" walau Rendi terlihat seperti anak yang nakal tapi, sebenarnya dia hanyalah seorang anak yang masih polos.
"Maksudku, kamu itu siapanya Tasya ?"
"Oh..saya temennya, om"
"Hanya teman ?"
"Iya, emangnya ada apa, om ?" kali ini Rendi menjawab sambil berusaha mengambil buah jeruk yang anak di meja samping tempat tidurnya.
Sedangkan Taun Arka tanpa sadar membantu Rendi mengambil buah jeruk itu dan memberikannya ke Rendi.
"Makasih, om"
"Iya"
"Eh ?" seketika Tuan Arka sadar jika dia telah membantu Rendi hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Percakapan antara keduanya pun berlanjut sampai Tasya dan Panji datang karena Panji telah mengaku jika memang dia yang menyuruh Taun Arka untuk menjemput Tasya.
Grrkk
__ADS_1
Keduanya diam karena terkejut melihat Tuan Arka yang biasanya sangat dingin kepada orang lain selain Tasya kini tengah berbincang-bincang dengan Rendi layaknya seperti mereka berdua telah lama kenal.
"Ayah" lirih Tasya.