
"Eh"
Rendi dan Tuan Arka sama-sama baru tersadar saat mendengar suara Tasya.
Tuan Arka berdiri kemudian menghampiri Tasya dan Panji.
"Bagaimana? apa kita akan pulang sekarang atau nanti ?" tanya Tuan Arka ke Tasya.
"Ayah kalo mau pulang ya pulang aja dulu, biar Tasya di sini dulu mau nungguin Rendi" ucap Taysa yang kemudian dia berjalan ke arah Rendi dan duduk di dekatnya.
"Kamu harus ikut pulang dengan ayah, Tasya !" Ayah Tasya terus menerus berusaha membujuk Tasya agar mau ikut pulang bersamanya, namun hasilnya tetap nihil karena Tasya ingin menemani Rendi hingga ada yang menggantikannya untuk menjaga Rendi.
"His, loe kalo mau pulang tinggal pulang aja kenapa sih ?" Rendi yang dari tadi hanya diam karena sedang memakan jeruk akhirnya sekarang buka suara.
"Pulang? Loe nyuruh gue pulang? Terus loe di sini mau sama siapa, hah ?" Tasya merasa geram karena terus menerus dipakasa untuk ikut pulang.
"Ya...gue sendiri" jawab Rendi sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalo loe sendirian terus loe kenapa-kenapa gimana ?" entah kenapa saat melihat kondisi Rendi yang terluka seperti itu membuat hati Tasya mencemaska nya.
"Gue..."
Belum sempat menyelesaikan perkataannya Tasya sudah terlebih dahulu kembali berkata."Gini aja"
"Bagaimana ?" seru Rendi dan Tuan Arka secara bersamaan.
Sedangkan Panji dari tadi hanya diam duduk di sofa yang khusus disediakan untuk pengunjung karena tidak tahu harus berbicara apa kini dia juga sedang menggaruk kepalanya saat melihat Rendi dan Tuan Arka berbicara secara bersamaan seolah mengerti pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Cie-cie kompak" Tasya menunjuk ke arah Rendi dan Tuan Arka secara bergantian. Sedangkan yang ditunjuk hanya memalingkan wajahnya.
Setelah kondisi kembali seperti semula kini giliran Tuan Arka yang terlebih dahulu buka suara. "Ekhem, Tasya. Sebaiknya lanjutkan yang tadi saja".
"Oh iya, baiklah" Tasya menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
Rendi dan Tuan Arka mendongakkan kepalanya melihat ke arah Tasya dengan wajah yang sangat serius.
"Jangan serius-serius banget kenapa sih" kata Tasya saat melihat kedua pria di depannya yang berbeda umur kini tengah melihat ke arahnya dengan sangat serius seolah sedang menunggu udian berhadiah.
Hufh
Keduanya menghela nafasnya karena geram akan kelakuan Tasya yang seolah tidak pernah serius.
"Oke oke, sekarang aku serius. Jadi, bagaimana kalau.."
Grrkk
"Selamat siang, semuanya" terlihat seorang laki-laki dan seorang perempuan memasuki ruangan Rendi dengan membawa keranjang buah di tangan si perempuan.
Tasya menengok ke arah pintu tanpa melanjutkan perkataannya tadi.
"Itu dia" Tasya terlihat tersenyum saat kedua orang itu masuk ke ruang rawat milik Rendi.
"Tante, om" Rendi terkejut melihat ternyata orang yang datang adalah Om dan Tante Rendi yang bernama Rina dan Rido.
"Rendi" Rina terlihat akan terkejut melihat kondisi Rendi yang ternyata terluka cukup parah dengan perban yang ada di kepala nya.
__ADS_1
Rina langsung berjalan ke arah Rendi meletakan buah bawaanya kemudia memeriksa kondisi Rendi. Sedangkan Rido hanya bisa menghela nafas saat melihat ternyata keponakannya sekarang sedang terluka cukup parah.
"Tante sama Om tau dari mana kalo Rendi lagi dirawat di rumah sakit" tanya Rendi kepada mereka berdua.
"Tadi kalo gak salah ada anak perempuan nelpon tante pake telepon Rumah Sakit"
"Perempuan ?"
"Iya, kalo gak salah namanya...Tasya"
"Tasya ?"
"Iya, katanya dia temen kamu"
"Ohh, itu Tasya" Rendi menunjuk ke arah Tasya yang sedang berdiri di dekat Tuan Arka.
"Oh, itu yang namanya Tasya. Makasih ya nak udah kasih kabar tentang Rendi ke tante" Rina melihat ke arah Tasya kemudian menelangkupkan tangan kanannya.
"Iya sama-sama, tan"
Rendi yang baru sadar jika tadi tantenya mengatakan bahwa ternyata Tasya yang telah menelpon tantenya kemudian memandang ke arah Tasya.
"Sya" panggil Rendi.
"Hm ?" jawab Tasya.
"Emang kapan loe nelpon tante gue ?"
__ADS_1
"Oh..itu jadi, sebenernya.."