
Upacara penerimaan murid baru di SMA Putra Bangsa berlangsung khidmat. Kepala Sekolah SMA Putra Bangsa, bapak Yuda Mahardika baru saja selesai memberikan sambutanya. Iris menatanp sekelilingnya, melihat wajah-wajah ceria siswa yang memasuki jenjang baru dalam hidup mereka. Berbeda dengan wajah-wajah yang tersenyum cerah itu, ada sedikit kekhawatiran di dalam hatinya.
Ia sudah berhasil masuk ke SMA favorite di kotanya, tentu dengan nilai tertinggi, meski begitu ada orang lain yang menduduki tempat yang sama. Nilai mereka sama rata, sehingga keduanya menduduki posisi yang sama. Hal ini membuat Iris khawatir. Ia harus bisa memperkuat diri dan mengambil posisi tetap sebagai yang pertama, tanpa embel-embel apapun. Ekalaya Putra Wicaksono, Iris akan mengingat dengan baik nama itu.
***
Laya memandang daftar nama siswa baru di mading SMA Putra Bangsa dengan saksama. Di sana ada dua nama yang menempati posisi pertama. Iris Praha Dinata dan Ekalaya Putra Wicaksono, dua nama yang mendapat skor sama persis dan sama-sama menempati posisi pertama. Laya mengepalkan tanganya erat, raut mukanya keras dan penuh keyakinan. Ia harus mengejar, bagaimanapun carahnya, ia harus memecah jarak di antara skor-skor itu.
***
Laya dan Iris adalah dua siswa unggul dari SMA Putra Bangsa, keduanya selalu menempati posisi pertama dan kedua dari seluruh siswa satu angkatan. Keduanya saling menyusul, kadang sama-sama menempati posisi pertama karena kesamaan skor. Keduanya selalu ikut serta dalam berbagai olimpiade, lomba-lomba tingkat daerah dan nasional.
__ADS_1
Iris adalah anak yang cerdas. Ia aktif bertanya dan menjawab dalam kegiatan belajar di dalam kelas. Ia juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakulikuler seperti Mading. Iris lebih fokus pada kegiatan yang meningkatkan kemampuan menulisnya. Laya tak jauh berbeda dari Iris. Ia aktif di dalam dan di luar kelas. Saat kelas 11 Laya menjabat sebagai wakil ketua OSIS, saat itu ia juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakulikuler seperti panahan dan juga PMR. Bahkan sampai sekarang saat sudah menduduki kelas 12, Iris dan Laya masih aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar kegiatan akademik.
Iris dan Laya memang banyak mengikuti kegiatan lomba dan olimpiade, namun entah mengapa mereka tidak pernah ada di satu tim yang sama. Beberapa guru berpikir bahwa jika mereka dipisah kesempatan menang akan menjadi lebih besar, tidak jarang juga mereka berakhir saling berhadapan di final lomba yang mereka ikuti. Karena itulah, seakan ada aturan tidak tertulis bahwa mereka harus berada di tim yang terpisah. Iris dan Laya juga tidak pernah sekelas saat kelas 10 dan 11, di kelas 12 inilah mereka akhirnya dipertemukan dalam kelas yang sama.
Iris dan Laya hampir tidak pernah terlihat bersama, mereka tidak pernah terlihat bertengkar tapi juga tidak berteman. Selain itu meski sama-sama cerdas, Iris dan Laya memiliki kepribadian yang jauh berbeda. Iris merupakan anak yang tertutup, ia banyak terlibat dalam kegiatan organisasi dan akademik tapi hanya sebatas itu. Ia juga tidak memiliki teman dekat, saat istirahat ia lebih suka makan sendirian, ia juga lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan atau ruangan mading. Ia sering terlihat bersama Melinda saat di perpustakaan, atau bersama Reski di ruang mading, tapi jika Melinda dan Reski ditanya apakah mereka berteman baik merekapun bingung bagaimana menjawabnya.
Berbeda dengan Iris, Laya adalah social butterfly, ia mudah bergaul dan selalu jadi pusat perhatian. Ia populer dan juga memiliki banyak kenalan di kalangan adik kelas dan kakak kelas, ia bahkan mengenal staff dan pegawai sekolah. Tidak ada seorang pun di sekolah yang tidak mengenalnya. Ia memiliki teman baik yaitu Agata, Anwar dan Fajar, mereka berempat berteman baik sejak Masa orientasi sekolah (MOS). Agata tidak terlalu menonjol di sisi akademis tapi ia sangat mahir bermain futsal. Fajar dan Anwar sama-sama siswa unggulan yang selalu masuk ke sepuluh besar. Fajar aktif di OSIS sedangkan Anwar hanya fokus pada prestasi akademiknya.
Rivalitas Laya dan Iris tak pernah menjadi masalah di sekolah, selama ini mereka bersaing secara sehat. Tidak pernah ada peselisihan besar di antara keduanya, karena keduanya cenderung berjalan ke arah yang berbeda dan di jalurnya masing-masing. Hingga hari ini, 8 Agustus 2012, perselisihan pertama di antara mereka terjadi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah SMA Putra Bangsa Laya dan Iris berada di satu kelompok yang sama. Pak Ibrahim guru sosiologi mereka memasukan Iris dan Laya ke dalam satu kelompok yang sama untuk tugas sosiologi mereka. Tadinya tak ada yang menganggap ini sebagai masalah, siswa kelas XII IPS 1 menerima begitu saja keputusasn pak Ibrahim. Sampai pada jam pulang sekolah, kelompok mereka sedang menentukan tema yang akan diangkat dalam penelitian mereka. Di situlah perselisihan Iris dan Laya dimulai.
“Kita harus fokus cari referensi lebih dulu, sebelum turun ke lapangan.” kata Iris
__ADS_1
“Punya referensi emang bagus, tapi kan kita harus tau dulu masalah apa yang mau kita bahas, dan kita bisa nemuin masalah kalo udah liat keadaan di lapangan kaya gimana.” Balas Laya.
“Gak harus terjun ke lapangan Cuma untuk cari tau masalah yang ada, kita bisa pantau dari berita di media, dan sesuaiin masalah yang mau kita bahas dengan referensi yang kita punya. Itu akan mempermudah kita meneliti nantinya karena kita punya data dan referensi.”
“Tapi makin dekat kita ke lapangan makin real pula masalah yang akan kita bahas, referensi bisa dicari nantinya, kita tinggal menyesuaikan aja sama masalah yang mau kita bahas. Itu bukan perkara sulit.” Ucap Laya tegas.
Iris diam sebentar mendengar pernyataan Laya, sesuatu seakan membangunkannya. Bagi Laya mencari referensi adalah perkara mudah, tapi tidak bagi Iris. Iris ingin mendebat Laya sekali lagi, namun sesuatu di dalam dirinya menahanya. Ia tak ingin menunjukan kelemahan, kekurangan, keterbatasan atau apapun itu namanya di
hadapan Laya, tidak khususnya di pertikaian pertama mereka.
“Dari pada ribut dan tugasnya justru gak selesai, kita bagi tugas aja. Gua sama Iris ke perpus buat cari referensi. Laya sama Reski ke lapangan dan cari tema buat dibahas di sana. Case close, selesai, the end.” Titah Anwar.
__ADS_1
Keduanya setuju dan pertikaian mereka selesai di situ. Anwar dan Reski merasa lega dengan selesainya perselisihan Iris dan Laya, tanpa tau ini hanyalah permulaan dari segalanya.