Dua Pendar Bulan

Dua Pendar Bulan
The Hard Way


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Iris langsung masuk ke kamar, mandi dan merebahkan diri di kasur. Ia tidak membantu ibunya, menemani Krisan ataupun membaca jurnal dari pak Ibrahim. hari ini saja, hanya untuk hari ini, ia ingin beristirahat. Ia tidak ingin memikirkan apapun. Perlahan, dengan sangat perlahan, Iris menutup matanya dan jatuh ke alam mimpi.


Saat membuka matanya, hari sudah gelap, lampu kamarnya mati, membuatnya terbangun dalam kegelapan. Iris bangun dan duduk sebentar di kasurnya, setelah memiliki cukup kesadaran ia berdiri, berjalan ke arah saklar dan menyalakan lampu kamar. Jam dinding di kamar menunjukan pukul 20.00 WIB.


Iris keluar dari kamar, ada ibunya yang sedang merapikan dapur dan ayahnya yang sedang membaca sebuah berkas di ruang tamu. Krisan sudah tidur di kamarnya.


“Iris, sini sebentar.” Terdengar suara ayahnya memanggil.


Iris yang masih berdiri di depan pintu kamarnya langsung berjalan ke arah ruang tamu dan duduk di kursi di samping ayahnya.


“Ayah denger tahun ini kamu masih nyoba ikut olimpiade sosial, beneran?” tanya sang ayah


“Iya yah, aku ikut.” Jawab Iris. Ia tak tau ke mana arah pembicaraan ini atau apa yang akan disampaikan ayahnya. Ayahnya tak pernah mempertanyakan kegiatanya di sekolah selama ini dan selalu membiarkan Iris melakukan apa yang ingin dilakukan.


“Buat apa?” tanya sang ayah lagi, nada suaranya terdengar datar, meski begitu Iris tak bisa mencerna maksud pertanyaan ayahnya itu. Melihat raut kebingungan di wajah Iris ayahnya menambahkan.


“Kamu kan sudah kelas 12 bukanya sudah waktunya kamu fokus UN dan SBMPTN, sudah bukan waktunya lagi buat kamu ikut kegiatan begitu, iya kan?” jelas sang ayah.


Iris diam, sedikit banyak mulai memahami arah pembicaraan ayahnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa ayahnya memiliki pandangan yang sama seperti pak Idris.


“Justru itu yah, aku ikut olimpiade ini supaya meningkatan kesempatan untuk masuk Anatropologi UI.” jawab Iris, sekali lagi mencoba untuk terlihat tenang.


“Bukanya ayah sudah pernah bilang untuk ambil pendidikan saja. Kalau kamu ambil Antroplogi akan sulit mencari pekerjaan nantinya, ambil pendidikan saja yang jenjang karirnya sudah jelas.” Jelas ayahnya.


Iris diam sebentar berpikir bagaimana ia akan menjawab pernyataan ayahnya ini.

__ADS_1


“Tapi aku gak ada niat untuk jadi guru yah.”  Akhirnya itulah yang bisa Iris katakan pada ayahnya, bukan jawaban


rasional, melainkan perasaanya.


Ayahnya yag tadinya masih bicara sambil membaca dokumen, langsung melirik Iris dan perlahan meletakan dokumen yang ia baca. Memberikan seluruh fokus pikiranya pada Iris.


“Kenapa?” tanyanya, masih dengan nada tenang. Selama ini sang ayah memang slelalu menyampaikan pada anak-anaknya untuk menjadi guru atau mengambil kuliah jurusan pendidikan, karena jenjang karirnya akan lebih jelas. Iris tidak pernah membantah saat ayahnya menyampaikan keinginan itu, tapi juga tak mengiyakan.


“Aku ngak punya minat untuk jadi guru, itu aja.” Jawab Iris singkat sambil menundukan wajahnya.


“Lantas kamu mau jadi apa?” tanya ayahnya lagi, kali ini dengan nada suara yang sedikit meninggi.


Bu Seruni yang sejak tadi memperhatikan mereka mulai menjadi waspada dan berjalan mendekati mereka.


Melihat reaksi ayahnya membuat semua rasa bersalah karena bertentangan pikiran dalam diri Iris hilang dan beralih dengan kemarahan. Iris membenci bagaimana ayahnya menyepelakan keputusan hidup yang sudah dipikrkanya baik-baik. Matanya terasa panas dan seluruh tubuhnya kembali tegang. Ia kembali mengepalkan tanganya erat-erat.


“Ayah mau aku tetap jadi guru meskipun aku sama sekali gak punya minat untuk itu? mengabaikan mimpi dan harapanku?” kata Iris pada ayahnya.


Segala gerakan ayahnya terhenti saat mendengar Iris. Ia menyadari bahwa pembicaraan ini belum selesai.


“Ngak semua orang hidup dengan mewujudkan mimpinya. Kamu harus mampu melihat keadaan sekitar dan menyesuaikan diri. Kamu anak yang pintar dan rasional, harusnya kamu paham hal itu. Lagi pula jika mengambil antropologi atau sejarah murni kamu akan kesulitan mencari pekerjaan nantinya. Ayah gak mau kamu menjalani


kehidupan yang sulit” jawab sang ayah tanpa memandang Iris.


“Ayah pikir menjadi guru akan membuat hidupku jadi lebih mudah? Ayah pikir aku pernah menjalani kehidupan dengan cara yang mudah?” kata Iris sambil memandang ayahnya lekat.

__ADS_1


“Maksud kamu?” kata ayahnya sambil membalas tatapan Iris.


“Ayah tau jelas sesulit apa hidup sebagai seorang guru, tapi ayah mau aku menjadi guru? Ayah mau aku melewati semua kesulitan yang ayah lewati?”


Wajah ayah Iris menegang mendengar perkataan Iris, “Kamu meremehkan profesi guru.” Katanya


“Bukan itu maksudnya,” kata Iris sambil menghela napas, tanpa bisa dibendung setetes air jatuh membasahi pipinya. Ia sudah melalui banyak hal hari ini dan dia lelah.


“Lantas apa? Apa yang begitu salah dari menjadi seorang guru?”


“Ayah selalu kelelahan. Ayah selalu di sekolah dan bukan di rumah. Ayah selalu memprioritaskan murid-murid ayah ketika ayah tau jelas aku butuh ayah. Ayah selalu sibuk tapi kita ngak pernah punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita selalu kesulitan. Ibu harus berusaha keras menutupi itu semua. Ayah mau aku melewati semua kesulitan itu juga?” jelas Iris sambil berusaha keras mengendalikan air mata dan isak tangisnya.


Ibunya sudah berada disampingnya dan berusaha menenangkanya, tapi Iris terus menepis tangan ibunya. Ia ingin melampiaskan seluruh isi hatinya. Ia tak ingin dihentikan.


“Ayah pikir aku menjalani kehidupan ini dengan mudah? Ngak yah, aku selalu menempuh jalan yang sulit. Saat anak-anak lain bisa fokus belajar aku harus membagi waktu dengan membantu ibu. Saat anak-anak lain bisa ikut berbagai macam les aku harus menjaga dan mengajari adikku. Selama hidupku aku gak pernah menempuh jalan yang mudah. Dan aku gak pernah mengeluhkan hal itu. Aku gak pernah minta ayah untuk mengubah profesi ayah. Aku menghargai mimpi-mimpi ayah. Ngak bisakah ayah melakukan hal yang sama? Aku tau semua itu akan sulit, mungkin jauh lebih sulit dari sekarang, tapi gak bisakah ayah mendukungku, menghargai keputusanku?”  kata Iris lagi.


Dadanya bergetar keras. Ia tak bisa menghentikan air matanya. Isak tangisnya tak tertahankan. Ibunya sudah ikut menangis di sampingnya sambil berusaha mendekapnya erat.


Ayahnya terdiam mendengar semua pemaparan Iris, tidak menyangka Iris menyimpan semua kesulitan ini sendirian.


“Ayah bahkan ga tau kan kalo mbak Lily punya cita-cita jadi arsitek dan bukan guru.” Kata Iris setelah tangisnya mereda, seakan mencoba memberikan serangan terakhir pada ayahnya.


Melihat ayahnya yang hanya terdiam membuat Iris semakin lelah. Ia melepaskan dekapan ibunya dan bangun dari kursi. Kemudian berlari sekuat tenaga keluar dari rumah.


Ia tak peduli dengan panggilan ibunya, tak juga takut dengan keadaan yang gelap. Ia hanya berlari tanpa punya tujuan. Ia tak peduli, ia hanya ingin berlari dan manjauh dari segala hal yang seakan mencekiknya.

__ADS_1


__ADS_2