Dua Pendar Bulan

Dua Pendar Bulan
The Last Chance


__ADS_3

Hari berlalu dan minggu berganti, sebulan sudah terlewati sejak pengenalan universitas dari mahasiswa PTN ternama. Iris dan Laya telah menjadi semakin dekat, mereka tak lagi bersitegang dan berdebat, bahkan presentasi sosiologi kelompok Anwar berjalan dengan lancar. Baik Laya dan Iris saling membantu dalam jalannya presentasi. Mereka juga tak lagi bersebrangan pendapat saat kelompok lain tampil.


Perbincangan tentang pertengkaran merekapun semakin memudar. Baik siswa dan guru telah kehilangan ketertarikan pada perbincangan ini. Meski masih ada beberapa sentilan kecil, tapi itu tak lagi menganggu Iris dan Laya. Keduanya fokus pada tujuan masing-masing.


Meski begitu, kini mereka terlihat lebih peduli pada keadaan masing-masing. Laya beberapa kali meminjamkan buku yang dibutukan Iris, dan Iris beberapa kali membantu memberikan opini pada essay yang dibuat Laya. Kedekataan mereka ini membuat orang-orang yang tadinya membicarakan pertengkaran mereka beralih bergosip tentang hubungan mereka. Laya dan Iris sudah tak lagi ambil pusing tentang pendapat orang-orang, apapun yang mereka lakukan, akan selalu ada orang yang berkomentar.


Pelajaran terakhir baru saja selesai, anak-anak kelas XII IPS 1 berbondong-bondong meninggalkan kelas.


“Mel, Ris gua duluan ya, byebye!” kata Reski sambil melambaikan tangan dan langsung pergi meninggalkan kelas. Hari ini adalah jadwal piket Iris dan Melinda, maka Reski pulang lebih dulu.


“Em, hati-hati di jalan! Jangan lari ntar jatuh.” Ucap Melinda sedikit berteriak melihat Reski yang begitu antusius untuk pulang hingga berlari-lari kecil. Iris hanya tersenyum kecil melihat tingkah temanya yang satu itu.


Iris dan Melinda langsung memulai membersihkan kelas, bersama Agata. Laya dan Fajar yang juga kebagian jatah piket hari itu. Agata dan Fajar mengangkat kursi, sedangakan Laya dan Iris menyapu lantai. Melinda menghapus papan tulis dan bersiap mengambil air untuk mengepel. Selesai mengangkat bangku, Agata membantu Melinda mengepel lantai.


Iris sedang menunggu Melinda di depan pintu kelas ketika handphonenya berbunyi, ibunya menelpon. Ia pun langsung memencet tombol jawab.


“Hallo, mbak Iris?”


“Loh, ini Krisan? Kok HP ibu ada di Krisan? Ibu mana?” tanyanya kaget, pasalnya ia justru mendengar suara adiknya dan bukan ibunya.


“Ibu tadi buru-buru pergi ke tempat ayah, ayah jatuh katanya.” Jawab sang adik dari ujung telepon.


“Hah ayah jatuh! Terus kamu di rumah sama siapa?” kata Iris agak sedikit panik.


  “Sendiri, mbak Iris kapan pulang?”  jawabnya dengan nada yang disedih-sedihkan.


“Ini mbak pulang, kamu jangan ke mana-mana ya, tunggu di rumah aja.”


“Iya Mbak, cepetan ya Krisan laper.” Tambahnya.


“Oke, jangan iseng masak. Tunggu mbak pulang, paham!” Kata Iris tegas, pasalnya terakhir kali Krisan sendirian di rumah dan mencoba memasak, ia hampir membakar dirinya.


“Siap Bos!”


Iris menutup teleponya, terlihat agak panik dan bingung, ia menengok kiri kanan, dan berhenti saat menatap Melinda, “Mel, gua pulang duluan ya, Krisan sendirian di rumah soalnya. Maaf ya ga jadi nemenin anak-anak jurnalistik lomba.” Ucapnya, wajahnya terlihat pucat.


Melinda yang melihat kepanikan Iris langsung mendekatinya, “Lo pulang naik apa? Duh gua mesti nganterin anak-anak lagi, gak bisa ngenterin lu.” Katanya, ikutan panik.


“Gapapa, gua bisa naik angkot, salam aja sama anak-anak ya.” Ucap Iris.


“Tapi jam segini biasanya angkot sepi, nanti lo lama nyampe rumahnya.”


“Gapapa kok, ga masalah, gua...”


“Biar gua anter.” Terdengar suara Ekalaya.


Laya yang juga sedang menunggu Agata, sedari tadi sudah memerhatikan gelagat Iris.


Iris dan Melinda langsung menatap Laya. Iris menghitung berbagai kemungkinan di kepalanya. Menghitung perkiraan waktu jika ia harus naik angkot, dan perkiraan waktu jika Laya mengantarnya. Menerima tawaran Laya tentu lebih efisian dan efektif, tapi hal itu akan memancing perbincangan baru, terlebih lagi itu berarti Iris harus menerima Laya di rumahnya, tempat paling pribadi bagi dirnya.


“Oke, makasi sebelumnya. Gua duluan ya Mel.”


“Em, hati-hati, jangan ngebut Ya.”


“Ati-ati Ya” tambah Agata yang sudah berada di samping Melinda.


Iris dan Laya mengangguk pada keduanya. Laya kemudian mengisyaratkan Iris untuk mengikutinya ke parkiran. Iris mengikuti Laya tanpa banyak bicara.


***


Laya dan Iris sampai di rumah Iris, hanya butuh waktu sekitar 15 menit jika menggunakan motor. Laya memarkir motornya di halaman rumah Iris yang dipenuhi tumbuhan dan bunga-bunga. Ia lumayan kagum pada pekarangan itu.


Di saat bersamaan dua buah motor berhenti di pekarangan rumah Iris.


“Iris kamu udah pulang.” Kata seorang wanita paruh baya yang turun dari salah satu motor itu.


Melihat seorang pria paruh baya kesulitan turun dari motor, Laya langsung turun dari motornya dan mendekati pria tersebut. Ia membantu pria itu dengan membopongnya, untuk turun dari motor.


“Tadi Krisan nelfon katanya dia sendirian di rumah, jadi aku langsung pulang. Ayah kenapa?” tanyanya langsung mendekati ibunya meminta penjelasan.


“Ayah tadi jatuh di sekolah, tapi gapapa tadi sudah periksa ke dokter, alhamdulillah ga ada yang patah. Ini siapa? Temen kamu?” tanya sang ibu menjelaskan kemudian beralih pada Laya. Laya yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian langsung membeku di tempat dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


Laya mematung sambil menopang ayah Iris dengan memegangi salah satu lenganya, dibantu seorang lelaki yang juga mengenakan seragam dan terlihat sebaya denganya. Ayah Iris yang melihat gelagat Laya pun mengambil alih.


“Nanti lagi ngobrolnya, ayo kita masuk dulu, kasian anak-anak pasti cape. Kasih mereka makan dan minum dulu.” Kata ayah Iris.


Laya dan salah satu murid ayah Iris pun langsung memapah sang ayah masuk ke dalam rumah.


 “Mbakkkkkkk....”


Seoarang anak kecil berlari ke arah Iris tepat saat ia masuk ke rumah. Laya hanya dapat melihat sekilas, Iris memeluk anak lelaki itu. Ia masih membantu ayah Iris masuk ke kamar.


Ayah Iris berhasil duduk dengan santai di kamarnya berkat bantuan Laya dan muridnya.


“Sahid sama Adit jangan langsung pulang, makan dulu. Kamu juga, nama kamu siapa nak?” tanya sang ayah.


“Nama saya Laya pak.” jawab Laya, kali ini dia tak lagi membeku.


“Kamu juga Laya, makan dulu sebelum pulang, terima kasih sudah mengantarkan Iris. Kalian juga terima kasih sudah membantu bapak ya.” Katanya


“Sama-sama pak.” Ucap salah satu dari mereka.


“Ngak masalah pak, kita selalu siap bantu bapak!” kata yang lainya.


Ayah Iris tertawa mendengar gurauan muridnya, “Bisa aja kamu sahid.”


“Anak-anak makan dulu sini.” Ibu Iris memanggil mereka setengah berteriak dari dapur.


Katiga anak lelaki itupun langsung menghampiri ibu Iris ke dapur. Kedua murid dari ayah Iris terlihat lebih lues dan tidak terlalu canggung dengan ibu Iris. Mereka langsung duduk di meja makan. Sementara Laya agak sedikit celingukan dan canggung.


“Iris lagi bantuin adiknya ganti baju, tunggu sebentar ya, kamu langsung duduk aja.” Kata Ibu Iris lembut seakan menyadari kecanggungan Laya.

__ADS_1


Laya duduk bergabung dengan Adit dan Sahid, tak lama kemudian Iris keluar dari salah satu kamar bersama adiknya.


“Tadi aku ngak nakal, ngak ke mana-mana, ngak iseng nyalain api juga. Aku nurut apa kata mbak dong.”


“Pinter,besok-besok kalo sendirian di rumah juga jangan nakal ya, jangan iseng keluar rumah apalagi nyalahin api.”


Anak itu mengagguk antusius sambil tersenyum lebar, sedangkan Iris mengusap kepalanya lembut juga sambil tersenyum.


“Iris makan dulu sini, temenya ajak makan.” Kata sang ibu.


Iris langsung membawa adiknya menuju meja makan. Ia duduk bersebrangan dengan Laya. Iris duduk bersama adiknya, sedangkan Laya duduk bersama dua murid ayah Iris. Setelah duduk, Iris langsung kembali berdiri dan membagikan piring pada laya, Adit dan Sahid. Ketiganya menerima piring tersebut tanpa banyak bicara dan langsung bergantian mengambil nasi dan lauk.


Adit adalah yang pertama mengambil nasi, disusul Sahid dan Laya. Kemudia Iris mengambil nasi untuk dirinya dan untuk adiknya.


“Maaf ya ibu ga sempet masak banyak, makan seadanya ya anak-anak.” Kata ibu Iris yang masih sibuk di dapur.


“Ini juga udah mewah banget kok bu, makasi banyak makananya.” Jawab Sahid. Adit dan Laya hanya ikut tersenyum kepada ibu Iris.


Sebenarnya makanan di meja cukup banyak, ada cah kangkung, ikan kembung goreng, tempe dan tahu goreng, lalapan dan sambal. Laya justru heran bagaimana ibu Iris bisa menyiapkan semua makanan ini dalam waktu singkat.


Sahid dan Adit makan dengan lahap dan tanpa bicara, begitu juga Laya, tapi Laya cukup banyak memperhatikan Iris. Selama makan, Iris membantu adiknya, mulai dari mengambilkan nasi, lauk, hingga membantu memisahkan tulang dan daging ikan, sehingga adiknya bisa makan dengan nyaman. Iris terlihat sangat telaten dalam membantu adiknya.


“Mau dibantuin juga misahin ikan sama tulangnya?” tanya Iris pada Laya, ia menyadari tatapan intens Laya pada dirinya dan memutuskan untuk membuka suara.


“Hah? Apa? Ngak ngak ngak usah.” Jawab Laya agak terbata.


Iris hanya mengangguk dan kembali makan. Kelima anak itu makan dengan damai dan tanpa bicara. Krisan memakan makananya dengan lahap, ia tidak pilih-pilih makanan dan makan semua yang disendokan kakaknya ke piringnya. Melihat Krisan makan dengan lahap ikut membangkitkan rasa lapar Laya. Tanpa disadari Laya makan lebih banyak dari yang biasanya ia makan.


“Mbak, Krisan udah selesai makannya, Krisan boleh main gak?” tanya Krisan begitu ia selesai menyuap makanan terakhir dari piringnya.


“Boleh, tapi cuman satu jam ya, habis itu langsung pulang terus tidur siang, oke.”


“Oke mbak. Ibu, Ayah, Krisan main dulu ya.” Teriak anak itu sambil langsung berlari keluar rumah.


“Anak itu lebih nurut omongan mbaknya dari pada ibunya.” Gumam ibu Iris sambil tersenyum kecil, jelas sekali bahwa ia tidak sedang mengeluh. Laya ikut tersenyum melihat kelakuan Krisan.


Iris dengan cekatan merapikan bekas makan Krisan, ia menumpuk piring kotor Krisan dan miliknya, kemudian membawanya ke bak cuci piring.


“Kalian sudah selesai makanya?” tanya Iris kepada ketiga teman sebayanya.


Adit dan Sahid mengangguk. Iris pun langsung berjalan ke arah mereka dan membereskan piring kotor mereka. Ia juga bermaksud mengambil piring kotor Laya, tapi Laya malah ikut berdiri dan berjalan ke arah bak cuci piring. Ia berdiri di depan bak, menggulung lengan bajunya dan mengambil spons.


“Biar gua aja.” Kata Iris sambil menahan spons di tangan Laya.


“Tapi kan...”


“Biar gua aja, Ekalaya.” Kata Iris tegas. Laya menurut dan menyerahkan spons cuci piring pada Iris.


Laya berbalik dan mendapati Sahid dan Adit sedang memandang canggung ke arahnya, ketiganya saling bertatapan dan kemudian tesenyum satu sama lain.


“Sini nak minum teh dulu sambil makan kue.” Kata ibu Iris dari ruang tamu.


Tanpa banyak berpikir ketiga anak itupun langsung berjalan ke ruang tamu. Laya sekali lagi kagum dengan kemampuan ibu Iris menyiapkan banyak makanan dan minuman. Entah kapan ia membuat semua kue itu. Ada sepiring kue bolu dan seteko teh lengkap dengan tiga gelas.


“Ah, ngak kok ngak repot, dimakan dulu kuenya abis itu baru pada pulang ya, ibu mau


rerapi dapur sebentar, kalian ngobrol santai aja di sini.”


“Makasi banyak bu.” Ucap Laya dan Sahid.


Ibu Iris hanya tersenyum pada mereka dan kembali ke dapur. Ketiga anak itu langsung duduk berdampingan di bangku ruang tamu. Tak lama setelahnya Iris bergabung dengan mereka, ia duduk di bangku paling pinggir, satu satunya bangku yang hanya bisa diduduki satu orang.


Melihat Iris bergabung dengan mereka Laya menuangkan teh ke gelas dan menyerahkanya pada Iris. Iris menerimanya dan meminumnya. Laya pun memberikan Isyarat akan menuangkan lagi teh ke gelas kepada Sahid dan Adit, keduanya mengangguk menerima isyarat Laya. Laya menuangkan lagi tehnya ke kedua gelas  yang tersisa dan memberikanya pada Sahid dan Adit.


“Biar gua ambil lagi gelasnya.” Kata Iris dan berniat untuk kembali ke dapur.


Tapi Laya menahan tanganya dan membuat Iris tetap duduk, “Ngak usah, gua ngak minum teh kalo abis makan.” Kata Laya, Iris mengangguk, barulah Laya melepaskan tangan Iris.


Sahid meminum tehnya sambil memperhatikan tingkah Laya dan Iris, “Btw kalian yang dua tahun lalu ikut olimpiade sosial bukan si?”


“Iya! Loh kalian ikut olimpiade sosial juga?” kata Laya.


“Aku ikut pas kelas 10, Adit ikut yang kelas 11, ngak nyangka ternyata kalian dekat, kalian beda tim kan waktu itu.”


Baik Laya dan Iris hanya tersenyum mendengar perkataan Sahid, keduanya tidak tau harus menjawab apa.


“Loh Kamu ikut olimpiade sosial juga, pantesan mukanya familiar.” Kata Adit menimpali, terlihat agak kaget. Sahid menatap Adit kemudian balik menatap Laya dan Iris.


“Loh kalian ikut dua tahun berturut-turut?” kali ini Sahid yang terlihat kaget, seakan baru memroses apa yang didengarnya.


“Laya ikut dua tahun berturut-turut, kalo aku cuman pas kelas 10.” Jawab Iris.


“Iris juga tadinya mau ikut, tapi pas kita kelas 11 sekolah mutusin buat ngirim satu tim aja.”  Timpal Laya.


“Oalah, pantesan pak Bayu gak mau ikut nganter pas giliran aku, padahal dia semangat banget pas mau nganter Sahid.” Kata Adit.


Laya melihat sedikit ketertarikan di mata Iris saat mendengar perbincangan ini. Padahal dia terlihat malas berbicara beberapa saat lalu.


“Kalo dippikir-pikir juga, pak Bayu keliatan lebih sedih waktu tim Iris kalah dibanding pas tim sekolahnya kalah.” Kata Sahid sambil agak menerawang mengingat masa lalu.


“Terus kalian ada niat mau ikut lagi gak tahun ini?” tanya Adit antusius.


“Emang bakal dibolehin ya? Kita kan udah kelas 12?” kata Laya balik bertanya.


“Kayanya mah masih boleh, kemarin guru-guru nawarin kelas 12 kalo ada yang mau daftar. Paling nanti semester 2 baru kita ga boleh ikut kegiatan non akademik lagi.” Jelas Sahid.


Laya menganggunk dan melihat ke arah Iris, ada sedikit pancaran antusiasme di mata Iris. Obrolan keempatnya berlanjut, meski Iris lebih banyak mendengarkan dan hanya menjawab seadanya. Pikiranya beralih ke hal lain. Ia seakan menemukan tujuan baru. Jika memang masih memungkinkan untuknya, ia ingin mencoba sekali lagi. Ia telah menetapkan tujuan baru, kali ini ia harus berhasil, bagaimanapun caranya.


***


Kesekolan harinya, apa yang ditunggu-tunggu Iris benar-benar terjadi. Bu Irma wali kelas

__ADS_1


mereka mengabarkan bahwa kelas 12 masih bisa mengikuti kegiatan olimpiade.


Siapapun dipersilakan mendaftar jika memiliki minat. Iris menyadari bahwa ini


akan menjadi kesempatan terakhirnya di SMA, maka tanpa pikir panjang ia


langsung menuju ruang guru saat jam istirahat.


Sesampainya di ruang guru Iris hanya menemukan pak Idris guru penjas dan bu Widia guru sejarah, sementara untuk mendaftar olimpiade sosial Iris harus menemui pak Ibrahim guru sosiologi. Meski begitu Iris tak mau usahanya sia-sia. Ia mendekati bu Widia dan menanyakan keberadaan pak Ibrahim padanya.


“Permisi bu.” Sapa Iris pada bu Widia.


“Eh Iris, ada perlu apa nak?” jawab bu widia ramah pada Iris.


“Maafbu, pak Ibrahim hari ini datang ke sekolah tidak ya?”


“Pak Ibrahim? Tadi pagi si seinget ibu ada, cuman kayanya beliau sedang keluar sebentar, ada apa memang?”


“Ini bu saya mau mendaftar olimpiade sosial.”


“Oh itu, sebentar ya, ibu carikan formulirnya.”


Bu Widia pun berdiri dan berjalan ke arah meja panjang tempat berkas-berkas dikumpulkan, ada berbagai berkas di sana dan biasanya formulir perlombaan juga diletakan di sana.


“Loh kamu bukanya sudah kelas 12, kok masih ikut lomba aja?” tanya pak Idris dari mejanya yang tidak jauh dari meja bu Widia.


Iris hanya tersenyum mendengar komentar gurunya, “Iya pak.” Jawabnya datar, namun tetap mencoba untuk bersikap sopan.


“Oalah kamu tuh yang sering jadi juara umum baerng Laya itu ya? Bukanya kamu sudah pernah ikut olimpiade juga ya pas baru masuk, yang bareng Laya juga itu, tapi Laya kan yang menang.” Tambahnya lagi.


“Iya pak, saya sudah pernah ikut pas kelas 10, tapi tidak menang.” Jawab Iris, sekuat tenaga menahan kegeramanya.


“Nah kan itu udah pernah jajalin, udahlah sekarang mah fokus saja sama UN dan SBMPTN, ngak perlu ikut-ikut yang begitu, buang-buang waktu nanti. Apalagi udah pernah gagal juga kan, iya gak bu Wid?” tambahnya saat melihat bu Widia berjalan ke arah mereka.


“Ya ngak apa-apa pak, namanya juga usaha, gak akan sia-sia juga, kalaupun gagal masih bisa jadi bahan pembelajaran.” Jawab bu Widia santai. Pak Idris langsung terdiam mendengar jawaban bu Widia. Ia tidak menambahkan komentar apapun lagi dan kembali sibuk dengan koran yang sedang ia baca.


“Ini formulirnya, silakan diisi, kalau sudah selesai langsung serahkan ke pak Ibrahim, kemungkinan setelah istirahat kedua beliau sudah kembali ke sekolah.” Kata bu Widia sambil menyerahkan kertas kepada Iris.


Iris langsung menerima kertas tersebut dan mendekapnya erat, “Baik bu, terima kasih banyak” Jawab Iris sambil tersenyum kepada bu Widia. Kemudian Iris pamit dengan salim kepada pak Idris dan juga bu Widia.


Olimpiade sosial ini akan menjadi kesempatan terakhir Iris di SMA. Ini akan menjadi pertarungan yang berat bagi Iris, bahkan mungkin akan menjadi lebih berat dari pertarungan sebelumnya. Sekolah sudah memenangkan olimpiade ini selama dua tahun berturut-turut, mereka tentu menginginkan kemenangan ketiga mereka. Laya yang sudah mendapatkan kedua kemenangan itu tentu punya poin lebih di mata sekolah dibandingkan Iris. Besar kemungkinan baginya untuk kalah bahkan sebelum masuk arena. Untuk itu Iris harus fokus, dan mencurahkan seluru tenaganya. Ia tidak punya niat untuk menyerah sedikitpun.


***


Hari ini Iris berhasil menyerahkan formulir pendaftaran olimpiade sosial pada pak Ibrahim, beruntung di jam istirahat kedua tidak ada banyak guru. Kali ini hanya ada bu Widia dan pak Ibrahim. Pak Ibrahim tentu mendukung penuh keinginan Iris untuk mendaftar, hanya saja pak Ibrahim meminta Iris untuk fokus pada Paper Writing Project (PWC). Sebelumnya sekolah lebih fokus pada Social Science Quiz (SSQ)  namun menurut pak Ibrahim, Iris akan lebih unggul jika mengikuti PWC karena menulis adalah salah satu kelebihan Iris. Iris akan memikirkan baik-baik saran pak Ibrahim.


Hari ini Iris memutuskan untuk langsung pulang selesai sekolah. Ia akan mempersiapkan diri untuk olimpiade ini. Pertama-tama ia akan meperhitungkan mana yang  memiliki kesempatan menang  lebih besar antara PWC dan SSQ, untuk menemukan jawabanya ia harus memperhitungkan apa saja yang dibutuhkan, buku yang harus ia baca, soal olimpiade yang bisa ia temukan, serta ketersediaan internet. Setelahnya ia harus membuat jadwal belajar, melihat tugas apa yang perlu segera diselesaikan supaya nantinya tidak mengganggu proses olimpiade, serta membagi waktu untuk belajar pelajaran harian dan olimpiade. Banyak yang harus ia kerjakan.


Saat sedang menunggu angkot di tempat biasa, sebuah sepeda motor tiba-tiba menghampiri Iris.


Laya membuka helmnya saat sudah berhenti tepat di depan Iris, “Mau pulang kan? Biar gua anter.” Katanya sambil menyerahkan helm pada Iris.


“Hah?” tanya Iris bingung dengan kehadiran Laya yang terlalu tiba-tiba. Ia tidak sedang dalam masalah, atau terburu-buru, tidak ada alasan bagi Laya untuk mengantarnya atau bagi Iris untuk menerima tawaran Laya.


“Ayo naik, kebetulan gua juga ada perlu sama nyokap lo.” Katanya lagi, dengan senyum lebar di wajahnya.


Iris tak mau membuat keributan apalagi di jalanan yang mulai ramai ini, maka Iris menerima tawaran Laya. Ia mengambil helm yang diberikan Laya, kemudian naik ke atas motor Laya. Keduanya melaju dengan cepat menuju rumah Iris.


Laya memarkirkan motornya di halaman rumah Iris. Iris turun dari motor Laya, kemudian membuka helmnya dan menyerahkanya pada Laya. Laya ikut turun dari motor dan menggantung helmnya di stang motor. Iris menatap Laya yang berdiri di sampingnya dengan raut wajah dipenuhi kebingungan.


“Lo mau ikut masuk?” tanya Iris pada Laya.


“Iya, nyokap lu ada kan?” jawab Laya dengan wajah sumringah dan tanpa dosa, membuat Iris tak tega untuk mengusirnya.


Iris berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah dan Laya mengikutinya, ia membawa sesuatu di kardus kecil.


“Mbaaakkkkkkk.”


Krisan keluar dari kamar dan langsung menyambut kakanya serta teman kakanya. Ia berlari ke arah Iris dan langsung memeluk Iris. Iris tentu saja membalas pelukan Krisan.


“Eh ada mas juga.” Kata Krisan sambi tersenyum jail ke arah Laya.


“Iya ada mas nih, salim dong sama mas Laya.” Kata Iris pada adiknya.


Laya agak kaget mendengar Iris memanggilnya mas Laya, tapi ia hanya tersenyum dan


menerima tangan Krisan yang terulur padanya, meminta untuk salim.


“Eh ada nak Laya, masuk sini nak, sudah makan belum? Pasti belum kan, sini cucitangan terus pada makan. Ibu sudah masak banyak nih.” Kata ibu Seruni begitu melihat Laya, mereka sempat ngobrol kemarin. Laya tau cukup banyak hal tentang tumbuhan dan bunga, hingga mudah baginya berbincang dengan bu Seruni.


“Makasi banyak tawaranya bu, tapi sepertinya saya ga bisa. Saya Cuma mau mengantarkan


ini, tadi saya ga sengaja lewat toko tanaman dan inget ibu, seinget saya juga, di kebun sini belum ada bunga Seruni, jadi saya ingin memberikan ini pada ibu.” jelas Laya sambil memberikan bungkusan di kardus yang dia pegang sedari tadi.


“Ya ampun, makasi banyak loh nak, bisa-bisanya kamu kepikiran ibu sampe beliin segala.” Kata bu Seruni terlihat sangat bahagia dengan kado pemberian Laya. Laya ikut tersenyum bahagia melihat bu Seruni bahagia menerima pemberianya.


“Kamu beneran gak mau mampir. Makan aja dulu di sini sebentar, abis itu ikut ibu nanam bibitnya.” Tawar bu Seruni antusius.


Laya melirik sedikit ke arah Iris, dan Iris menangkap lirikan Laya. Ia mengedipkan matanya seakan memberi Laya persetujuan.


“Iya ya bu, ibu pasti butuh bantuan buat nanamnya. Oke deh bu.”


Bu Seruni terlihat sangat bahagia melihat Laya menerima tawarannya. Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah dan bersiap menikmati makan siang bersama.


Hari itu Laya makan siang di rumah Iris tanpa merasa canggung, meskipun hanya ada dirinya tanpa ada Sahid dan Adit. Laya justru terlihat lebih bebas bergerak. Iris memperhatikan Laya tanpa banyak berkomentar, bagaimana ia berbincang akrab dengan ibunya, atau sesekali menimpali ocehan Krisan.  Ia terlihat bahagia dan nyaman berada di tengah keluarga Iris, entah apa yang membuatnya merasa begitu, Iris tak menemukan jawabanya, tak peduli seberapa keras ia mencoba memahaminya.


Iris memperhatikan Laya tanpa banyak bicara. Ia membiarkan Laya memilihkan lauk untuk Krisan, membiarkan Laya membereskan piring kotor, bahkan membiarkan Laya mencuci piring yang seharusnya menjadi tugasnya. Ia tidak menghentikan Laya, tidak pula ibunya. Padahal selama ini, Iris selalu diajarkan untuk melayani tamu sebaik mungkin. Namun ibunya membiarkan Laya mencuci piring.


Selesai makan Laya langsung membantu ibu Iris untuk menanam bibit bunga yang ia bawakan. Krisan bergabung dengan mereka meski biasanya ia tidak peduli pada tanaman. Ibunya sedang tidak membuat dagangan jadi Iris memiliki lebih banyak waktu luang saat ini.


Iris memperhatikan Laya, ibunya dan Krisan dari pintu rumahnya, untuk sesaat ia kagum pada pemandangan di depanya. Laya entah bagaimana, terlihat seperti bagian dari keluarga ini. Kehadiranya di anatara ibu dan adiknya seakan-akan merupakan sebuah kewajaran dan hal normal yang sudah biasa terjadi. Berdiri di ujung pintu rumah sambil melihat punggung ketiganya, Iris merasa dialah yang merupakan orang luar. Untuk sesaat Iris terkejut dengan pemikiranya sendiri. Namun sekarang bukan waktunya untuk gundah, bukan waktunya untuk goyah.

__ADS_1


Iris harus memfokuskan diri pada tujuan awalnya. Ia tak punya banyak waktu dan  ini merupakan kesempatan terakhirnya. Olimpiade Sosial sudah di depan mata dan Iris harus mempersiapkan diri untuk itu. ini adalah peperangan yang sudah ia tunggu-tunggu. Ia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, memastikan bahwa ia menggunakan baju zirah terbaik sehingga tak ada yang bisa menyentuhnya barang seujung jari. Setelah menyadari bahwa Laya tak lagi menjadi tamunya, dan ia bukanlah tuan rumah yang ingin dijumpai Laya, Iris meninggalkan ketiganya, menuju pergulatanya sendiri.


__ADS_2