Dua Pendar Bulan

Dua Pendar Bulan
Before The Storm


__ADS_3

Kabar perdebatan antara Laya dan Iris menyebar ke berbagai penjuru sekolah dengan cepat. Baik siswa kelas 12, 11 ataupun 10 membicarakan mengenai hal tersebut. Tak luput pula beberapa guru ikut membicarakanya.


Rivalitas Laya dan Iris memang sudah terlihat semenjak mereka baru masuk sekolah. Tapi mereka tidak pernah benar-benar berdebat ataupun berselisih. Mereka hanya saling mengejar menduduki juara umum saat ujian atau bertemu di final olimpiade bahasa. Mereka juga tidak pernah terlibat kegiatan yang sama, maka mereka tidak pernah berbenturan di depan publik.


Ini adalah pertama kalinya mereka berdebat secara terbuka di depan publik, hal ini tentu menjadi pembahasan menarik bagi mereka yang sudah lama meperhatikan rivalitas Laya dan Iris, tapi tak pernah benar-benar mendapat bukti nyata bahwa mereka bermusuhan. Pertikaian ini akan menjadi sebuah pembenaran bagi orang-orang, sebuah bumbu penyedap bagi perbincangan mengenai rivalitas mereka. Baik Iris ataupun Laya membenci hal itu.


Laya dan Iris memahami bahwa ada aturan tak tertulis di anatara mereka untuk saling mengejar. Meski begitu mereka telah berusaha untuk tidak terlalu memperlihatkan hal itu di hadapan orang-orang. Mengikuti aktifitas yang berbeda bukanlah kesengajaan, karena mereka pada dasarnya memiliki ketertarikan yang berbeda. Masalahnya adalah mereka sama-sama lebih condong pada ilmu sosial dibanding eksakta, maka keduanya masuk ke jurusan yang sama. Hal ini tentu memperbesar kemungkinan mereka saling berhadapan.


Baik Laya dan Iris sejatinya tidak pernah benar-benar memandang satu sama lain sebagai musuh. Tapi tentu tidak dapat dipungkiri bahwa usaha saling mengejar selama dua tahun memberikan gambaran tersendiri pada mereka terhadap satu sama lain.  Iris yang Laya kenal adalah Iris yang dibentuk sendiri oleh Laya, begitu pula sebaliknya. Persepsi diri yang sudah mereka bentuk satu sama lain itu, menghalangi mereka untuk bisa memahami satu sama lain. Mereka sudah terlanjur membentuk sebuah persona dalam diri mereka dan sulit untuk melihat dari sudut pandang berbeda.


Saat ini Iris dan Laya sedang berada di taman sekolah, mereka bermaksud untuk membicarakan mengenai tugas sosiologi dari Pak Ibrahim. Pak Ibrahim sudah memperingatkan mereka sebelumnya, bahwa mereka berada di satu kelompok yang sama, maka dari itu mereka tidak boleh berselisih.


Iris dan Laya hanya berdua saat ini karena Resti dan Anwar masih memiliki urusan lain yang harus mereka selesaikan. Tadinya baik Laya dan Iris tidak ingin melanjutkan diskusi jika mereka hanya berdua, namun Anwar memaksa mereka, karena menurutnya hal ini akan membantu mereka menyelesaikan apapun itu masalah yang mereka hadapi, serta jika mereka terlihat bersama, itu akan sedikit mengurangi rumor terkait perselisihan mereka. Baik Iris dan Laya merasa bahwa apa yang disampaikan Anwar cukup masuk akal, dan mereka memutuskan untuk menuruti Anwar.


Lima menit berlalu dengan keduanya saling berdiam diri dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Laya membuka pembicaraan.


“Jadi kira-kira kita mau ambil tema apa untuk penelitian kita? Dapat referensi yang bagus gak waktu itu di perpus?” tanya Laya.


Saat ini mereka duduk berhadap-hadapan di bangku bulat, di bawah pohon rindang di pinggir taman sekolah. Iris menghentikan kegiatanya bermain dengan daun kering di atas meja dan menatap Laya lekat-lekat.


“Ada banyak buku terkait ketimpangan sosial dan kenakalan remaja di perpus sekolah. Kayanya cukup buat jadi referensi. Gimana menurut lo?” jawab Iris.


“Ketimpangan sosial kayanya menarik, kalo diperhatiin gak terlalu jauh dari sekolah ada komplek perumahan elite yang berdekatan sama perkampungan. kalo emang semuanya setuju kita bisa angkat tema ketimpangan sosial dan cari judul yang menarik.”


Iris menangguk mengiyakan, tidak menyangka Laya akan begitu saja menyetujui usulanya. Mereka kembali terjebak dalam kesunyian dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Iris kembali memainkan daun kering di depanya, seakan daun itu merupakan hal paling menakjubkan. Sedangkan Laya, memperhatikan dengan saksama apa yang dilakukan Iris.


“Gua boleh nanya gak?” kata Laya, sekali lagi menjadi yang pertama membuka pembicaraan.


Iris kembali menaikan pandanganya dan mendapati mata Laya yang menatapnya lekat. Ada kebingungan, keseriusan dan rasa penasaran di sana. Iris hanya meangguk membolehkan.


“Kemarin kenapa lo sebegitu mau taunya soal pengaruh keluarga dan kesuksesan? Apa alasanya? Apa yang sebenernya lo mau tau?”


“Banyak juga pertanyaanya.” Kata Iris. Ia kembali menghentikan permainannya dengan daun kering, menaruh kedua tanganya di atas meja, dan memandang jauh ke atas pohon rindang.


"Kenapa lo mau tau?"

__ADS_1


"Harus banget menjawab pertanyaan dengan pertanyaan ris?"


“Lo sendiri...” kata Iris, sambil perlahan kembali menundukan pandanganya pada daun kering dihadapanya.


“Kenapa lo sebegitunya gak mau tau?” tanya Iris.


Laya sedikit kaget mendengar pertanyaan Iris, ia memundurkan posisi duduknya agak kebelakang dan mengalihkan pandanganya, jauh ke arah lapangan sekolah yang terlihat dari sana, sembari ibu jari tangan kanannya bermain dengan ibu jari tangan kirinya.


“Entahlah, mungkin gua cuman gak mau tau.” jawabnya.


"Munafik." kata Iris


"Apa? Lo bilang apa barusan?" tanya Laya tak percaya pada apa yang dia dengar.


"Kita sama-sama munafik." jawab Iris sambil menatap mata Laya, menguncinya sehingga Laya tak bisa mengalihkan pandanganya.


"Lo tau jelas apa yang gua mau, gua mau semua orang menyadari betapa besarnya peran keluarga, Gua mau semua orang tau kalo dukungan keluarga  bisa mempermudah jalan kesuksesan seseorang. Gua mau semua orang melihat betapa berbedanya kesusksesan lo dan gua, karena gua berhasil sampai sejauh ini tanpa bantuan keluarga gua." jelas Iris, mengeluarkan segala yang ia pendam selama ini.


"Menurut lo gua berhasil melangkah sejauh ini karena bantuan keluarga gua? Siapa lo berani menghakimi kerja keras dan usaha gua!" kata Laya, ia marah, namun ia masih berusaha menahan amarahnya, tak boleh ada pertengkaran lain, atau mereka akan semakin menjadi bahan gosip satu sekolah.


"Well let's hear what kind of hardship you've been through, lilltle Prince." jawab Iris mencoba sarkas.


Mendengar jawaban Iris membuat Laya semakin geram. ia mengepalkan tanganya kuat-kuat mencoba menahan kemarahan yang ingin meledak.


"Pangeran kaya lo yang ga pernah ngerasain kesusahan tau apa soal kerja keras, jangan ngomong soal kerja keras sama orang yang harus bertarung tiap hari cuman untuk bertahan hidup. Itu bikin lo keliatan gak tau diri. Lo punya segalanya Laya, segala yang gua gak punya. Ketika lo berjalan gua harus ngerangkak, dan ketika lo lari, gua baru bisa jalan. Sejak awal pertarungan kita gak pernah berjalan dengan adil dan dalam diskusi kemarin gua mau semua orang mengakui itu." kata Iris


Laya bisa melihat, kilauan kemarahan dalam mata Iris. Laya tau bahwa Iris sedang meledakan apa yang selama ini dia tahan, namun Laya tidak memiliki kewajiban untuk menerima semua hinaan itu.


"Kemiskinan bukan satu-satunya penderitaan di dunia ini. Lo juga bukan satu-satunya orang yang menderita di dunia ini. Suka atau engga gua juga berjuang, gua juga berusaha. Dan kalaupun lo mau marah ga seharusnya lo marah sama gua. Gua tau ris, pertarungan kita gak pernah berjalan dengan adil, tapi gua gak bisa ngelepasin apapun yang gua miliki itu, karena lo bukan tujuan akhir gua. Lo bukan satu-satunya yang harus gua kalahkan.”


Iris terdiam mendengar perkataan Laya, perbincangan mereka melenceng terlalu jauh. Iris telena terlalu dalam dengan emosinya, memperlihatkan sisi dirinya yang tidak ingin dia tunjukan pada sisapapun, terutama Laya. Ia menurunkan tanganya dari atas meja, tanganya yang sedikit bergetar.


“Perbincangan kita melenceng terlalu jauh, kita lanjutin lagi diskusinya lain kali. Gua duluan." Kata Iris sambil meraih tasnya dan berniat pergi, tapi kemudian ia kembali duduk.


“Gua gak pernah minta lo buat ngelepasin apa yang lo punya. Gua cuman mau lu tau, gua cuman mau, semua orang tau.” katanya, sambil berlalu pergi. Meninggalkan Laya, meninggalkan kegelisahanya.

__ADS_1


Baik Iris dan Laya memulai diskusi ini untuk menyelesaikan masalah mereka, dan keduanya berakhir dengan kekalutan lain, kegelisahan lain yang menggerogoti hati dan pikiran mereka.


***


Jam dinding menunjukan pukul 3 pagi, Iris yang baru saja terbangun dari tidurnya, tengah memandang langit-langit


kamarnya. Ia baru mulai tidur tepat pukul 12 malam, setelah  selesai membantu ibu mengurus persiapan dagang untuk esok, tepat jam 9 malam, Iris baru bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Selesai mengerjakan PR, Iris mengulas pembelajaran hari ini dan bersiap untuk pelajaran esok hari. Ia baru naik ke kasur pukul 12 malam.


Setelah tertidur pulas 3 jam penuh, tanpa mimpi dan gangguan, ia tiba-tiba merasa kedinginan dan terbangun dari kelelapan tidurnya. Setelah terbangun ia hanya berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya yang kusam. Setelah itu, entah kenapa, entah mulai dari mana, Iris mengingat percakapanya dengan Laya tadi siang.


Ia mengingat bagaimana ia terbawa emosi dan melepaskan amarahnya pada Laya. Ia teringat bagaiamana ia merasa terganggu saaat Reski mengatakan ia memiliki segalanya, tapi dengan lantang ia menuding Laya memiliki segalanya. Bukan salah Laya jika dia punya segalanya, dan bukan salah Laya jika Iris tak punya apa-apa. Itu bukan kewajiban atau tanggung jawab Laya.


Seketika itu pula perjalanan hidupnya selama dua tahun ini terlintas di benak Iris. Bagaimana ia kesusahan mempertahankan posisi pertama. Ia tidak mengikuti les di mana-mana. Ia harus membagi waktu belajarnya dengan membantu ibu dan sesekali mengajari adiknya Krisan. Ia tidak punya waktu menambah keterampilan organisasi mengikuti kegiatan OSIS. Ia membatasi kegiatan ekstrakulikuler dan tidak bisa banyak terlibat, karena tidak memiliki cukup waktu.


Sementara itu ia melihat Laya, mempertahankan posisi akademiknya, sambil mengikuti berbagai kegiatan OSIS. Terpilih sebagai wakil ketua OSIS, menjadi atlet panahan dan menang sampai pada tingkat provinsi, terpilih mengikuti olimpiade ilmu sosial yang juga ia nantikan.  Iris teringat saat tahun kedua mereka bersekolah, Laya terpilih mengikuti olimpiade ilmu sosial sementara ia tersingkir, tadinya sekolah ingin mengirim dua tim untuk mengikuti olimpiade tersebut, namun karena keterbatasan dana, sekolah memutuskan untuk mengirim satu tim, tim Layalah yang terpilih.


Di tahun pertama saat sekolah mengirim dua tim, ia dan Laya sama-sama bertemu di final, sayangnya timnya kalah. Di tahun kedua ia bahkan gagal sebelum bertanding. Di tahun ketiga, ia sudah tidak lagi punya kesempatan. Maka saat timnya gagal terpilih, Iris benar-benar hancur. Ia menangis semalaman di kamarnya, tanpa seorang pun mendengar. Ia telah kehilangan satu point penting untuk masuk ke PTN.


Iris tau itu bukan kesalahan ataupun tanggung jawab Laya. Laya punya cukup uang dan waktu untuk mengikuti berbagai macam les, sehingga ia bisa mempertahankan prestasi akademiknya, sehingga lebih mudah baginya mempelajari soal-soal yang keluar di olimpiade. Ia punya cukup waktu untuk mengikuti kegiatan organisasi dan ekstrakulikuler. Ia bahkan punya cukup waktu dan biaya untuk menjadi atlet panahan. Itu bukan kesalahan, Laya hanya mempergunakan dengan baik segala yang ia miliki.


Iris hanya tidak punya pilihan lain selain melampiaskan amarahnya pada Laya. Kenyataan bahwa ia tak punya cukup uang ataupun waktu. Kenyataan bahwa ia tertinggal dalam berbagai aspek. Kenyataan bahwa ia harus berusaha sepuluh kali lebih keras hanya untuk sampai di titik yang dianggap Laya bukanlah titik akhir. Jika bukan pada Laya, ia akan berakhir mengalihkan tiap amarah itu pada dirinya sendiri.


ris tau ia sudah cukup terpuruk, jika ia berakhir menyalahkan dirinya sendiri ia akan semakin terpuruk. Ia tak hanya harus bekerja 10 kali lebih keras, beban itu akan bertambah menjadi 20 atau bahkan 30 kali lebih keras. Karena ia harus bangkit untuk bisa kembali melawan. Iris membenci mengakui betapa menyedihkan hidupnya. Ia membenci dirinya yang harus menggunakan Laya sebagai tameng.


Setetes air mata terasa jatuh mengaliri pelipis iris sampai ke bantal. Iris menutup matanya dengan tangan dan menahan isakannya. Ia menangisi kepicikan dan ketidak mampuanya. Di jam tiga pagi di mana seharusnya ia tertidur lelap, dan bermimpi indah, Iris menangisi hidupnya yang menyedihkan.


***


Sementara di ujung jalan lain, Laya berbaring di tempat tidurnya, terbangun di sepertiga malam. Ia berbaring di kamarnya yang luas, kasurnya yang nyaman dan rumahnya yang megah. Hatinya masih diliputi kemarahan akan apa yang dikatakan Iris.


Iris mungkin benar, Laya punya segala yang tidak dimiliki Iris. ia hidup nyaman dan segala kebutuhanya terpenuhi, namun itu bukan berbarti Laya tidak berusaha, bukan berarti Laya tidak berjuang.


Laya pernah begadang semalman suntuj hanya untuk menghafal kosa kata dan rumus. Laya mengorbankan hari liburnya untuk berlatih memanah, berkali-kali hingga tanganya terluka. Laya berjuang sama kerasnya dengan Iris. Tak ada alasan bagi Laya untuk malu akan pencapaiannya. Tak ada alasan bagi Laya untuk menerima semua tudingan Iris.


jadi apa alasan ia terbangun di sepertiga malam, apa alasan ia terbangun dan mengingat perkataan Iris?

__ADS_1


Laya mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan semua penat di kepalanya, ia lelah pada apapun itu yang sedang ia hadapi saat ini.


__ADS_2