Dua Pendar Bulan

Dua Pendar Bulan
My Own Ekalaya


__ADS_3

Laya masuk ke dalam rumah dan mendapatiayahnya sedang membaca sebuah buku di ruang tamu, tanpa basa basi Laya berniat untuk melewati ayahnya, sang ayah sudah memberikan tanda-tanda ingin berbincang dengan Laya sebelumnya, namun Laya selalu menghindar.


Laya tau apa yang mungkin akan dikatakn ayahnya dan ia tak ingin berdebat saat ini. Jike mereka bicara Laya tak punya pilihan lain selain membantah ayahnya, karena apa yang ia lakukan tak akan pernah cukup di mata ayahnya.


Laya bersiap untuk langsung berjalan menuju kamarnya namun suara sang ayah menghentikanya


"Abis dari mana jam segini baru pulang?" tanya sang ayah.


"Ada urusan sebentar sama temen." jawab Laya seadanya.


"Ke sini sebentar Laya." kata sang ayah.


Laya pun menghampiri sang ayah, duduk di bangku di hadapan ayahnya.


"Ayah dengar kamu berhenti memanah, kenapa?" tanyanya.


"Gapapa, udah cape aja, udah kelas 12 juga mau fokus ujian." jawab Laya


"Terus ayah denger kamu juga ga ikut olimpiade, kenapa?"


"Mau fokus ujian yah udah kelas 12."


"Kalo mau fokus ujian kenapa kamu malah lebih banyak baca buku fiksi?" tanya sang ayah, ia meletakan bukunya dan menatap Laya lekat.


"Ayah tau dari mana kalo aku lebih banyak baca buku fiksi?"


"Kelihatan, toh kamu juga ga berusah amenyembunyikanya kan."


"Dan sejak kapan ayah peduli sama apa yang aku baca atau aku kerjakan?" Tanya Laya sambil  membalas tatapan ayahnya.


"Dan apa yang bikin kamu mikir ayah gak peduli?" tanya balik sang ayah


Laya diam tak yakin, haruskah ia menjawab.

__ADS_1


"Selama ini ayah membiarkan kamu melakukan apa yang kamu mau, ayah membiarkan kamu masuk sekolah yang kamu mau, ayah tidak pernah melarang kamu, dari segi mana kamu berpikir ayah ga peduli,"


"That's exatcly way, you have no expectation on me. You have never been care." ucap Laya pelan, matanya memancarkan kesedihan dsn kekecewan.


Ada satu titi dalam hidup Laya di mana ia ingin berteriak dan meminta perhatian dari ayahnya, namun saat ini, Laya sudha lelah memohon perhatian.


"Ayah gak pernah ada saat aku butuh. Ayah selalu memusatkan perhatian ayah ke ka Arjuna, aku gak pernah jadi prioritas ayah. Benar ayah udah ngebiarin aku ngelakuin apa yang aku mau selama ini, tapi menurut ayah itu bener-bener yang aku mau."


"Kamu iri pada kakak kamu? Kalian saudara, ngak seharusnya berpikir begitu."


"Then you should treat us equaly!" ucap Laya, mengeluarkan kesedihan yang selama ini dipendamnya.


"Ayah ga pernah peduli pada apa yang aku lakukan! Selalu kak Arjuna yang harus diutamakan! Selalu kak Arjuna yang dapet perhatian! EVEN OUR NAME!" ungkap Laya, matanya mulai berkaca-kaca.


Laya teringat segala keputusasaan dan ketakutanya, setiap kali ia mendengar kisah tentang Ekalaya, setiap kali dia mendengar nama Ekalaya. Ia teringat kekalahan Ekalaya dan itu menghantuinya.


"How do expect me to live as Ekalaya knowing excatly he will always lose to Arjuna." kata Laya datar, menatap tajam mata sang ayah yang menatapnya kebingungan.


"Ayah gak pernah tau seberat apa aku berjuang selama ini supaya ga kalah sama kak Arjuna kan. Ayah gak pernah tau tentang ketakutanku, kebingunganku, kekhawatiranku! Ayah ga pernah perduli pada apa yang terjadi padaku kan!"


"NO ONE DOING DOING GOOD IN THEIR OWN YAH! I'm just  a child! I need you! But you never been there for me."


Laya menutup wajahnya dengan tanganya berusaha menghapus air matanya yang sempat jatuh.


"Sekarang aku akan melakukan apapun yang aku mau, apapun yah! Selama ini aku terlalu sibuk jadi Ekalaya yang ayah mau dan kehilangan jati diriku yang sesungguhnya. I'm going to be my own Ekalaya now and you have no right to stop me." ucapnya, sambil meninggalkan sang ayah.


***


Keeseokan harinya Laya dan Iris duduk berdampingan di bangku depan perpustakaan. Hari sudah sore, siswa SMA Putra Bangsa sudah berhamburan ke rumah masing-masing sejak 2 jam yang lalu. Hanya ada beberapa siswa yang tersisa, sibuk dengan kegiatan OSIS atau ekstrakulikuler. Perpus sudah tutup, teman-teman mereka juga sudah pulang. Tinggalah Laya dan Iris, keduanya masih terdiam, sibuk dengan pikiranya masing-masing.


“Makasih dan maaf.” Kata Iris memecahkan keheningan di antara mereka.


Laya menoleh menatap Iris yang duduk di sebelahnya. Pandangan mata Iris terlihat teduh. Ia memandang jauh ke depan, meski matanya terlihat agak bengap, ia masih nampak cantik. Laya kembali melihat Iris yang penuh kharisma dan kepercayaan diri. Ia tersenyum menyadari Iris berhasil menaklukan ketakutanya.

__ADS_1


“Jadi, lu bakal tetep ikut olimpiade sosial kan?” tanya Laya.


Iris mengangguk mantap.


“No need to listen to what people say. There is no point of listening to people who didn’t really care about you. They just want to talk with no intention to help you. Listen to the one who truly care about you. Who truly want the best for you.” Kata Laya


“That’s why it hurt the most, it’s my own father who told me to stop.”


Laya terdiam sesaat, kehilangan kata-kata dan tak tau harus menjawab apa. Kini ia paham kenapa Iris terlihat sangat terpuruk semalam.


Iris tersenyum melihat wajah terkejut Laya.


“No need to worry, i’m fine now. Well, ayah emang selalu bilang kalo dia mau anak-anaknya buat nerusin jalan dia dan jadi guru dan untuk pertama kalinya gua bersuara dan menentang keinginan itu. Gua punya mimpi gua sendiri. What he said hurt me but i hurt him as well, but there is no point of hurting each other, right?”


“Well, I didn’t think i can say something to you, It’s not like i have a good relationship with my father.” Kata Laya


sambil tersenyum keci.


“Ironis, right?” kata Iris.


“You finnaly Admit it.”


Keduanya tertawa seakan menertawakan kehidupan masing-masing.


“Gua berencana buat terus menyuarakan pendapat, apapun itu. Tapi tanpa meledak-ledak. Gua mau didengar, lagi pula ayah bukan orang yang suka memaksakan kehedak, dia akan paham kalo gua kasih penjelasan yang logis.”


“Apapun yang lo lakukan, selalu inget kalo gua sepenuhnya mendukung lu, entah itu soal olimpiade ataupun masa depan lo.” Kata Laya, kemudian terdiam sebentar.


“Gua juga berniat buat melakukan apa yang mau gua lakukan, untuk diri gua sendiri. Selama ini gua terlalu banyak melakukan sesuatu buat orang lain, karena gua mencari pengakuan. Tapi sekarang, gua mau melakukan sesuatu buat diri gua sendiri.” ujat Laya.


“Apapun yang lo lakukan, selalu inget kalo gua sepenuhnya mendukung lu.” Kata Iris sambil tersenyum cerah.


Keduanya kembali memandang ke dapan, menyongsong masa depan yang entah akan jadi seperti apa. Tapi untuk sekarang, mereka ingin mencoba yang terbaik, untuk diri mereka sendiri. Entah jalan seperti apa yang mereka tempuh, atau rintangan seperti apa yang mereka hadapi. Mereka ingin menjalaninya dengan percaya diri, sehingga

__ADS_1


pada saatnya, mereka akan bersinar dengan caranya masing-masing. Bersinar secerah pendar bulan.


__ADS_2