
Iris masuk ke kelas dengan wajah pucat dan terlihat lesu, dengan gontai ia berjalan ke bangkunya. Kelas sudah ramai saat itu, karena sebentar lagi waktu istirahat akan berakhir.
Reski sudah duduk manis di bangkunya, saat Iris duduk di sampinya, begitu pula Melinda yang duduk di bangku depan Iris dan Reski. Ia sedang fokus pada buku pelajaranya, Iris duduk dan merebahkan kepalanya di meja mencoba menenangkan kepala dan pikiranya.
Saat ini kelas sedang ramai, ada yang sibuk dengan bukunya, ada yang bercanda dan mengobrol, ada yang asik berlari-larian, tapi tak satupun dari mereka menarik perhatian Iris. Iris merasa seperti tengah berada di dunia yang berbeda dengan mereka.
Matanya setengah terpejam. Kepalanya penuh dengan suara orang-orang yang hanya terdengar samar-samar. Seluruh tubuhnya terasa lelah dan tak bertenaga.
Suara dari kelas mulai terasa semakin samar bagi Iris saat seseorang mendekatinya dan menyentuh pundaknya. Iris membuka matanya dan mencoba melihat siapa yang membangunkanya.
Laya berdiri tepat di samping meja Iris. Iris pun bangun dari rebahnya. Laya menyerahkan buku besar dan tebal bertuliskan Soal Olimpiade padanya.
“Gua pikir lo mungkin butuh.” Katanya singkat
Anak-anak kelas masih fokus dengan dirinya masing-masing saat itu. mereka masih sibuk bercanda, mengobrol dan bermain. Meski di antaranya ada seseorang yang sudah memperhatikan Iris sejak Iris masuk ke kelas. Yuli, sudah memperhatikan Iris sejak dia masuk ke kelas.
Dari tempat Iris duduk, ia bisa melihat bagaimana Yuli memperhatikanya. Ia juga melihat bagaimana Yuli langsung berbisik-bisik dengan Nila, dan entah bagaimana hal itu mengusiknya.
Meski tak banyak bicara ataupun berkomentar, Iris tau sebagian besar teman sekelasnya juga ikut menggunjingnya. Terlebih Yuli, ia pernah mendengar langsung bagaiman Yuli membicarakan dirinya dengan Nila saat hendak masuk kelas.
Iris tak ingin berburuk sangka, tapi seluruh tubuhnya yang tadinya lelah seakan terbangun dan memperingatkanya untuk waspada, bahwa ada bahaya mendekatinya. Ia menatap Laya yang berdiri di hadapanya, dengan tatapan yang sedikit banyak menyiratkan kemarahan.
Iris tau ia tak seharusnya marah pada Laya, namun ia seakan tak bisa menguasai dirinya.
Laya yang menyadari pancaran kemarahan dari mata Iris seakan membeku di tempat. Ia bahkan tak mampu mengeluarkan suara sekedar bertanya ada apa dan hanya mampu memandangi Iris dengan kebingungan terpancar jelas di wajahnya.
Iris mengangkat buku Laya dan menyerahkanya kembali pada Laya. Ia mengangkat buku tebal itu hanya dengan satu tanganya, sementara Laya menerimanya dengan kedua tanganya.
“Gak perlu, gua fokus ke PWC jadi ga butuh buku kumpulan soal.” Katanya tegas.
Laya masih nampak bingung, meski begitu ia memahami bahwa Iris tidak membuthkan bukunya. Ia pun berbalik dan berjalan kembali ke tempat duduknya.
Saat sudah sampai di tempat duduknya Nila dan Yuli langsung menghampiri Laya.
“Ya, lo beneran gak ikut olimpuade sosial?” tanya Yuli pada Laya dengan antusias.
“Iya bener.” Jawab Laya santai.
__ADS_1
“Kenapa?” kali ini Nila yang bertanya.
“Gak kepengen aja, udah cape juga.” Jawab Laya lagi masih dengan santai.
“Seriusan Ya, lo kan udah menang dua kali, kalo lo ikut lagi lebih besar kemungkinan buat menang lagi kan, sayang banget kenapa malah ga ikut.” Kata Yuli mencoba mengorek lebih jauh alasan Laya.
“Gua udah ga kepengen, dan cape juga. Biarinlah biar anak kelas 11 aja yang ngurusin lomba itu.” jawab Laya kali ini mulai merasa risih.
“Oh lo khawatir sama anak kelas 11 toh.” Kata Yuli mencoba menarik kesimpulan seenak hatinya.
Iris mendengar dengan jelas percakapan mereka karena kursi Laya hanya berjarak dua kursi darinya.
Yuli melirik ke arah Iris yang kembali ke posisinya rebahanya di meja.
“Ris lo beneran mau ikut olimpiade sosial? Laya aja mikirin anak kelas 11, lo ga kasian sama anak kelas 11? Laya yang udah menang dua kali aja mundur loh. Masa lo mau maksain maju.” Kata Yuli dengan lantang.
Yuli masih berdiri di samping bangku Laya. Kelas langsung menjadi hening. Anak-anak yang tadinya sibuk dengan dirinya masing-masing langsung beralih memperhatikan Iris dan Yuli.
Iris bangkit dari rebahnya dan menatap Yuli yang sejak tadi sudah menatapnya lekat-lekat.
“Ngak bolehkah?” tanyanya tenang. Isi hati dan kepalanya bergemuruh, tapi ia mencoba terlihat setenang mungkin. Ia tak boleh menampakan kelemahanya di depan orang banyak.
“Kenapa gua ngerebut kesempatan orang lain? Gua ikut PWC dan itu bukan lomba team, jadi ga ada tempat siapapun yang gua rebut.” Jelas Iris, masih mencoba tenang.
“Ya tapi tetep aja ga enak dilihat. Laya aja yang udah dua kali menang mundur kok, kok lo malah maksa.” Ucap Yuli lagi semakin mendekati Iris.
Anak-anak lain seakan terhipnotis mendengar pembicaraan ini. Semua mata memperhatikan Yuli dan Iris. Yuli juga anak yang pintar, ia sering masuk peringkat 10 besar.
Ia juga mengikuti seleksi olimpiade sosial saat kelas 11 tapi gagal. Tadinya ia juga ingin mengikuti seleksi olimpiade sosial tahun ini tapi mundur karena khawatir akan kegagalan.
Maka dari itu melihat Iris masih mencoba mengikuti olimpiade membuatnya marah. Ia marah pada keberanian iris dan ketakutanya, tapi ia tak ingin mengakui hal itu. Maka ia mencoba membuktikan bahwa Irislah yang egois dan bukan dirinya yang lemah.
“Jangan-jangan rumor soal lu yang sengaja ngedeketin Laya supaya dia gak ikut olimpiade itru bener.” Ucap Yuli sambil sedikit tersenyum seakan mengejek Iris.
Iris sudah sampai di ambang batas kesabarannya. Kemarahanya memuncak hingga ke ubun-ubun. Ia tak sanggunp lagi mencoba terlihat tenang setelah mendengar apa yang dikatakan Yuli. Ia berdiri dan menggembrak meja, mengangetkan semua orang di kelas. Suasana menjadi semakin tegang. Yuli bertahan di posisinya tanpa memancarkan ketakutan sedikitpun dan Iris berjalan mendekatinya.
Reski yang ada di samping Iris juga sudah berdiri dan hendak meraih tangan Iris, namun Melinda mendahanya. Melinda menggeleng pada Reski seakan mengatakan untuk membiarkan Iris mengurus hal ini.
__ADS_1
Iris tak mungkin melakukan hal yang berbahaya. Laya, Fajar dan Anwar juga sudah berdiri di bangku masing-masing seakan bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Udara di kelas seakan ikut membeku, waktu seakan tak berjalan, dan anak-anak kelas XII IPS 1 hanya fokus pada Iris yang berjalan mendekati Yuli. Mereka semua menantikan langkah Iris berikutnya.
Iris semakin mendekat ke arah Yuli. Mereka kini hanya berjarak satu langkah. Semua yang menonton menelan ludah penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Satu langkah....
Iris sampai tepat di hadapan Yuli, tapi ternyata langkahnya tak terhenti. Ia terus melaju dan berdiri tepat di hadapan Laya.
“Apa pernah gua minta lo buat ga ikut olimpiade?” tanyanya pada Laya.
“Ngak! Ngak pernah sama sekali!” Jawab Laya langsung tanpa perlu berpikir lagi. “Alasan gua ga ikut olimpiade sama sekali ga ada hubunganya sama lo.” Tegasnya lagi.
Setelah mendengar jawaban Laya, Iris langsung beralih menatap Yuli.
“Denger! Kalian semua denger Laya ngomong dengan mulutnya sendiri kan.” Katanya mencoba
mengatakan pada seluruh kelas bahkan mungkin seluruh dunia. Kemudian ia
mendekat ke arah Yuli.
“Karena lo sendiri udah dengar jadi mulai sekarang berhenti mengaitkan apapun yang terjadi dengan Laya sama gua. Apapun yang dilakukan Laya gak ada hubunganya sama gua.” Ucapnya tegas.
Yuli terpaku di tempatnya. Setelah mencoba bergeming dan berusaha terlihat kuat, pancaran ketakutan terlihat dari matanya.
Iris mencoba semakin mendekat dan membisikan sesuatu pada Yuli.
“Gua tau kalo lo yang nyebar rumor soal gua dan Laya. Hentikan apapun yang lo lakukan itu sekarang juga. Gua gak peduli dan ga mau tau apa maksud dan tujuan lo. Tapi kalo sampe gua denger rumor aneh lagi, gua ga bakal tinggal diam.” Bisik Iris di telinga Yuli
Iris mundur dan mencoba kembali ke tempatnya, meninggalkan Yuli yang terlihat pucat.
Kelas sempat hening untuk beberapa detik. Yuli yang pucat pasi mematung di tempatnya. Nila yang melihat hal itu, langsung menyentuh tangan Yuli dan mengajaknya kembali ke tempat duduk mereka.
Iris kembali merebahkan kepalanya di meja dan menutup matanya rapat-rapat. Yuli kembali ke bangkunya dan duduk tanpa mengatakan apapun lagi. Laya, Fajar dan Anwar yang tadinya berdiri juga kembali duduk.
Anak-anak kembali ke aktivitasnya masing-masing seakan sama-sama sepakat untuk membiarkan apa yang baru saja terjadi. Meski sebagian besar sangat penasaran dan ingin membicarakan apa yang terjadi, melihat dua teman mereka saling menyudutkan sudah cukup melelahkan bagi mereka.
__ADS_1
Mereka tentu tak ingin kejadian ini terulang lagi. Maka mereka kembali beraktivitas, seakan-akan tak terjadi apa-apa.