Dua Pendar Bulan

Dua Pendar Bulan
Did we hate each other?


__ADS_3

Laya masuk ke rumah dan mendapati ibunya sedang menyiapkan makanan. Ia mengucapkan salam, menghampiri ibunya dan mencium tangan sang ibu. “Cuci tangan, ganti baju, abis itu langsung makan ya nak.” Ucap sang ibu.


“Siap laksanakan, Komandan!” ucap laya sambil berlagak memberi hormat layaknya seorang pemimpin pasukan. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anak bontotnya ini.


Laya sedang menikmati makan siangnya ditemani sang ibu, yang sedang merapikan dapur. Rumah Laya terletak di salah satu komplek elite di Jakarta Selatan. Ayahnya adalah direktur di salah satu bank ternama di Indonesia, bisa dikatakan bahwa keluarga Laya adalah keluarga kelas atas. Ia tinggal di rumah dua lantai dengan halaman yang cukup luas. Di lantai pertama ada kamar tidur orang tuanya, ruang kerja ayahnya, ruang tamu, dapur dan dua kamar mandi. Sementara di lantai dua ada tiga kamar, masing-masing untuk Laya dan kakanya serta satu kamar tamu.


Laya memiliki seorang kakak  yang bernama Arjuna. Saat ini kakaknya sedang menempuh pendidikan tinggi di salah satu PTN ternama mengambil jurusan Hubungan Internasional.


“Oh iya, acara makan-makan kita sekeluarga kayanya harus ditunda lagi ya. Kakak kamu masih sibuk banget dan gak bisa pulang, gapapakan?” tanya sang ibu, membuyarkan lamunan Laya. Laya hanya tersenyum kecil dan mengangguk, kemudian melanjutkan makanya. Selesai makan Laya pamit pada sang ibu dan naik ke kamarnya.


Di kamar ia membuka buku latihan soal SBMPTN dan mulai mengerjakan soal-soal di sana. Hari ini tidak ada les, Laya tadinya ingin beristirahat sejenak dan membaca buku fiksi, namun perkataan ibunya tadi membuatnya merasa harus kembali membuka buku pelajaran. Ia mengurungkan niatnya untuk beristirahat. Ada hal lain yang harus ia lakukan, yang harus ia capai.


Acara makan-makan keluarga yang dibahas ibu tadi diadakan untuk merayakan kenaikan kelas Laya ke kelas 12 dan ini sudah hampir tiga bulan sejak Laya menjadi siswa kelas 12. Sudah selama itu acara ini ditunda, dan masih akan ditunda karena kesibukan kakaknya. Meski begitu Laya tidak mengeluh, ia tidak boleh mengeluh. Ia sudah belajar untuk tidak mengeluh.


Sejak kecil Laya sudah menyadari bahwa ayahnya Bima Anggara Wicaksono sangat menyayangi kakaknya Arjuna Putra Wicaksono. Kakaknya adalah seorang anak yang sangat pintar, ia selalu bisa meraih peringkat satu di sekolah. Hampir seluruh lomba dan olimpiade yang diikuti berhasil ia menangkan. Ayahnya memang tidak pernah secara langsung mengatakan bahwa ia lebih menyayangi Arjuna, namun Laya bisa melihat, dari gerak tubuh, serta cara sang ayah memperlakukan keduanya, bahwasanya ayahnya lebih menyayangi kakaknya dari pada dirinya.


Ia dan kakaknya tidak memiliki jarak umur yang jauh, hanya dua tahun dan itu artinya periode sekolah mereka tidak terlalu jauh. Laya tentu tidak kalah pintar dari sang kakak, namun dalam hal pendidikan, Laya lebih memilih masuk ke sekolah negeri dibanding sekolah swasta elite. Saat kakaknya masuk ke sekolah internasional bergengsi, Laya lebih memilih sekolah negeri favorite.


Ayah Laya bukanlah tipikal orang tua diktator yang memaksakan kehendak pada anaknya. Justru sebaliknya, ayah Laya cenderung membebaskan anak-anaknya dalam menentukan jalan hidup mereka, termasuk masalah pendidikan. Ayahnya memang tidak pernah mengeluhkan hal itu, meski begitu, Laya tau bahwa sedikit banyak ia telah mengecewakan ayahnya.


Mungkin itu juga salah satu alasan ayahnya lebih memprioritaskan sang kakak dibanding dirinya. Setiap kali acara sekolah ia dan kakanya berbenturan, sang ayah lebih memilih untuk menghadiri acara kakaknya. Ayah juga sering datang dan mendukung kakaknya yang sedang mengikuti lomba, tapi tidak dengan Laya. Pernah suatu ketika, saat masih kelas 2 SMP Laya meminta sang ayah untuk datang ke acara sekolahnya, namun ayahnya dengan tegas menolak, karena ia harus menghadiri acara kakaknya. Sejak saat itu, Laya tak pernah lagi meminta ayahnya untuk datang ke acara sekolahnya. Laya tak akan mampu menerima penolakan lagi.


Laya tau hal itu bukanlah kesalahan kakaknya. Kenyataan bahwa ayahnya lebih memprioritaskan sang kakak, sepenuhnya adalah tanggung jawab ayahnya sendiri. Laya tak membeci ayahnya, tidak juga kakaknya. Ia tahu bahwa untuk bisa mengambil hati ayahnya ia harus berusaha lebih kuat. Laya menyayangi kakaknya sebagaimana saudara lain pada umumnya, meski begitu hubunganya dengan sang kakak tidak terlalu dekat, mereka tidak pernah bertengkar, tapi juga jarang bermain bersama.


Sejak kecil Laya suka bermain di luar rumah, ia suka berlari, ia suka bertemu teman baru, ia suka bertemu binatang-binatang kecil di jalanan. Ia adalah anak yang penuh energi dan suka berkeliaran, hal itu sangat berbanding terbalik dengan kakaknya. Kakaknya menyukai ketenangan, ia tidak suka bermain di luar rumah. Maka dari itu mereka tidak pernah bermain bersama. Setiap kali Laya mengajak Arjuna bermain di luar ia akan menolak. Maka Laya lebih banyak bermain dengan anak-anak kampung dekat komplek rumahnya. Ia akan bermain bola, bermain ke sawah, atau sekedar mengejar layangan putus. Ibu dan ayahnya tidak pernah melarang Laya bermain, selama ia pulang sebelum magrib.


Hal itu juga menjadi salah satu alasan Laya memutuskan masuk sekolah negeri. Ia ingin punya lebih banyak teman, ia ingin lebih banyak bermain, ia ingin punya kehidupan yang biasa. Hal yang tentu berlawanan dengan apa yang diinginkan ayahnya. Laya tidak pernah bertengkar dengan ayahnya, saat harus mengambil keputusan penting dalam hidup, Laya akan memikirkan dengan matang dan menyampaikan keinginannya kepada sang ayah dengan menyertakan alasan yang logis. Ayahnya akan mendengarkan dengan saksama,  dan membiarkan Laya melakukan sesuai keinginannya jika dirasa alasan Laya cukup logis dan bisa diterima.


Maka dari itu, Laya selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang  terbaik, baik dalam palajaran ataupun di luar pelajaran. Laya ingin membuktikan bahwa ia bisa dan mampu menjadi sebaik sang kakak. Ia selalu berhasil menjadi yang pertama di SD dan SMP namun saat memasuki jenjang SMA, Laya beberapa kali gagal. Ia kalah oleh Iris. Laya tidak membenci Iris, ia tentu tidak boleh membenci Iris. Satu-satunya yang harus ia lakukan adalah bekerja lebih keras dan menjadi lebih baik, lebih baik dari Iris, lebih baik dari kakaknya, lebih baik dari dirinya yang lama.


***


Iris masuk ke rumah dan menapati rumah masih berantakan dengan remah-remah sayuran. Ibunya sedang menyiapkan bahan dagangan untuk besok. Iris mengucapkan salam dan masuk ke rumah, mencium tangan ibunya dan mencuci tangan. Ia langsung masuk ke kamarnya, beganti baju, kemudian kembali ke dapur dan membantu sang ibu.


Iris tinggal di perkampungan dekat sekolah. Rumahnya berukuran sekitar 60 m2 sebuah rumah sederhana dengan tiga kamar tidur, dapur, satu kamar mandi dan ruang tamu. Halamanya tidak luas, hanya cukup untuk jemuran, tapi rumah itu terlihat teduh dari luar. Ada banyak tanaman bunga dengan pot kecil di halamanya. Ibu Iris sangat menyukai bunga, karena itulah ia menamai anak-anaknya dengan nama bunga.


Meski sedang berantakan karena ada banyak bekas sayuran dan daun pisang, rumah Iris masih terlihat rapi. Ada sebuah bangku panjang dan meja kaca di ruang tamu, tidak ada barang berserakan di sana. Ibu Iris, Seruni sedang menyiapkan bahan masakan untuk didagangkan besok. Ia berjualan lontong dan gorengan, yang ia titipkan di warung-warung dekat sekolah. Ia juga sering kali menerima pesanan masakan, mulai dari sayur matang sampai nasi kotak.


Ayah Iris adalah seorang guru, ia mengajar di sekolah negeri tidak terlalu jauh dari rumah. Guru adalah sebuah profesi yang mulia, Iris dan keluarganya bangga akan profesi ayah mereka. Ayahnya memegang amanah besar, yaitu mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Iris tak pernah menyepelekan profesi ayahnya. Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa penghasilan ayahnya sebagai guru, kerap kali tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Oleh karena itu sang ibu, selalu berusaha membantu memenuhi kebutuhan tersebut.

__ADS_1


Sejak kecil, Iris dan kakaknya Lily telah terbiasa untuk membantu ibunya, mengikat lontog sebelum dikukus, membersihkan remah-remah daun pisang pembungkus lontong, apa saja yang bisa mereka lakukan akan mereka lakukan untuk sekedar meringankan beban sang ibu. Sepulang sekolah Iris akan memulai kegiatanya dengan membantu sang ibu, semua kegiatan itu biasanya selesai sekitar jam 8 malam.


Setelah selesai membantu ibunya barulah Iris akan membuka buku pelajarannya, mengulang lagi pelajaran hari ini dan pelajaran yang akan datang, serta mengerjakan pekerjaan rumah. Iris tak pernah mengikuti les, ia belajar murni dengan kemampuanya sendiri, serta sedikit banyak bantuan ayahnya. Namun, ia masih selalu bisa meraih peringkat satu di sekolah, selama di SD dan SMP. Setelah memasuki SMA, posisi pertama Iris sering kali tergeser. Ia telah beberapa kali kalah dari Laya.


Bagi Iris, Laya adalah lawan yang kuat. Ia berbeda dari Iris, meski mereka tidak berteman, Iris mendengar beberapa hal tentang Laya. Laya berasal dari keluarga kelas atas, ia tentu saja mengikuti banyak les di berbagai tempat. Ia juga aktif di OSIS dan ekskul. Mereka kerap kali disandingkan dan dianggap sebagai rival yang kuat. Meski begitu Iris merasa bahwa pertarungan mereka bukanlah pertarungan yang adil. Mereka berada di garis start yang berbeda sejak awal.


Iris tak pernah menyesali kehidupanya. Ia bersyukur dengan apa yang ia miliki, keluarganya menyayanginya, dan ia pun menyayangi mereka, maka dari itu Iris memutuskan untuk tidak menyerah pada keadaan, meski ia harus berusaha sepuluh kali lipat dari yang lain. Iris tidak mengeluh, dan tetap menjalaninya sekuat tenaga. Ia punya mimpi yang harus ia kejar, maka untuk saat ini Iris hanya ingin fokus pada mimpi itu.


***


Iris dan Laya berpapasan di lorong kelas. Iris hendak menuju perpustakan sedangkan Laya bermaksud mampir ke ruang OSIS. Hari ini cerah, langit dipenuhi warna biru yang menyejukan hati. Namun suasana di sekitar Iris dan Laya saat ini sama sekali tidak terasa menyejukan. Tatapan mereka bertemu dan seketika itu keduanya mengingat pertengkaran mereka sehari sebelumnya. Mereka tidak saling mengejek atau berteriak tetapi Anwar dan Reski  langsung bisa merasakan perubahan hati di antara keduanya.


Anwar tersenyum pada Iris mencoba mencairkan suasana, Iris membalas senyum Anwar seadanya dan kembali melanjutkan perjalanannya. Reski tersenyum akward pada Anwar dan Laya kemudian menyusul Iris dengan agak tergesa. Laya terlihat tak ambil pusing dan kembali melanjtkan urusanya. Anwar hanya bisa menarik nafas panjang melihat kelakukan anggota kelompoknya itu. Dia menyadari bahwa tugas kelompok kali ini akan menjadi lebih sulit dari biasanya.


***


“Gua kadang bingung deh sama lo dan Laya.” Ucap Reski tiba-tiba.


Iris melirik Reski sekilas, mereka sedang ada di kelas saat ini, hanya ada mereka berdua. Anak-anak lain sedang sibuk jajan karena ini jam istirahat. Iris dan Reski yang sama-sama membawa bekal, memilih tetap di kelas dan menikmati makan siang mereka.


“Tiba-tiba banget bahas gua sama Laya?” jawab Iris.


“Sebenernya ngak tiba-tiba, gua udah mikirin ini dari lama, lo sama Laya tuh aneh.” Ucap Reski sambil tetap memandang langit-langit kelas, seakan ada sesuatu di sana yang bisa membantunya menemukan kata yang tepat untuk menyampaikan isi pikiranya.


“Aneh?” tanya Iris, ia menatap Reski lekat-laket.


Rambut Reski yang panjang dan hitam terurai, beberapa anak rambutnya yang tertiup angin menutup sedikit pandangan Iris. Iris ingin menatap mata Reski dan berharap menemukan maksud dari keanehan yang dikatakan Reski. Namun mata lentik itu hanya menatap langit-langit kelas seakan ada hal sangat menarik bertengger di sana.


“Iya aneh!” ucap Reski, akhirnya beralih dari langit-langit kelas dan menatap balik Iris. Ia agak kaget mendapati Iris sedang menatapnya lekat-lekat.


“Lo tuh cantik, Laya juga ganteng. Lo pinter, Laya juga pinter, tapi kok bisa-bisanya kalian gak temenan? Bukanya orang pinter harusnya kumpulnya sama orang pinter?” kata Reski mencoba menjelaskan kebingunganya pada Iris. Iris hanya mendengarkan Reski, ia menopang dagunya dan menatap Reski lekat-lekat.


“Kalo lo, gua paham lah. Lo emang pada dasarnya agak tertutup dan membatasi pergaulan, tapi Laya? Gua sama sekali ga paham. Dia itu anaknya ramah banget, siapa aja ditemenin, tapi kok bisa-bisanya lo gak dia temenin, like why?????”  kata Reski sambil mengangkat bahunya memperlihatkan kebingungan.


Iris tersenyum kecil melihat Reski.


“Bukanya pertanyaan ini harusnya buat Laya?”


“Em, harusnya buat Laya, tapi gua ga berani nanya Laya, jadi gua nanya lo aja.” ucapnya pasrah. Iris tersenyum mendengar perkataan Reski, ia mengalihkan pandanganya dari Reski dan kembali menyantap makanannya.

__ADS_1


“Lo sama Laya tuh kaya dua mata koin, kalian sama tapi beda. Kalian punya sisi sendiri-sendiri tapi gak bisa dipisahin. Apalagi liat kalian selisih paham kemaren, gua jadi makin bingung, did you guys hate each other? But why?”


“Menurut lo gak masuk akal kalo gua sama Laya saling membenci?” tanya Iris.


Reski terdiam sebentar memikirkan pertanyaan Iris.


“Bukanya gak masuk akal, tapi lebih ke ‘kok bisa’? Kalian punya segalanya, kalo di roman picisan karakter kalian bakal dibikin jadi pasangan ideal, sama-sama cantik, sama-sama pinter, bakal jadi couple goals banget.”


Iris kembali tersenyum.


“Menurut lo gua punya segalanya?” ucap Iris.


Kini berganti Reski yang menatap Iris lekat-lekat. Iris menatap ke depan, rambutnya yang hitam panjang dimasukan ke belakang telinganya. Reski bisa melihat wajah Iris dengan jelas, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, serta lesung pipinya yang terkadang muncul saat dia mengunyah makanan.


Iris sedang duduk tepat di sampingnya, tapi Reski merasa pikiran Iris sedang menjelajah entah ke mana.


“Gua juga berpikir Laya punya segalanya, tapi gua ga tau kenapa lu bisa mengambil kesimpulan kalo gua punya segalanya. How?”


“Karena begitu keliatanya dari luar. Gua tau kita gak seharusnya menilai hanya dari luar, tapi lo sendiri juga ga pernah bener-bener nunjukin diri lo yang sebenernya.”


“Sorry.”


“No, gua gak  nyalahin lo, itu sepenuhnya hak lo dan mumpung kita lagi ngebahas masalah ini, sekalian aja gua perjelas ya. Kita tuh sebenernya temen deket gaksi? Tiap kali ditanya orang gua agak bingung jawabnya, nanti kalo gua jawab temen deket takutnya lo ngak nganggep, sedih dong gue.” Ucap Reski sambil memperlihatkan wajah sedih di akhir kalimatnya.


Iris diam sebentar terlihat berpikir.


“Berteman itu butuh tenaga ekstra, bukan Cuma masalah materi tapi juga pikiran, kadang gua ga tau gimana cara mengimbangi orang lain. Itu salah satu alasan gua menutup diri, karena kadang berteman ngambil terlalu banyak energi, dan gua gak yakin gua punya cukup energi untuk itu.”


Reski termenung mendengar jawaban Iris, ia tidak menyangka Iris akan menjawab dengan serius. Jujur, ia juga takut akan jawaban yang Iris berikan.


“Tapi gua juga tau sebagai manusia kita gak mungkin hidup sendirian. Maka dari itu gua selalu bersyukur sama lo dan  Melinda. Meskipun gua gak pernah memberi sesuatu yang signifikan buat kalian, kalian masih mau bertemen sama gua. Meskipun kalian selalu jadi yang pertama membuka pembicaraan, dan pastinya yang meluangkan lebih banyak energi dalam hubungan ini, kalian ga pernah nianggalin gua.”


Reski masih diam dan mendengarkan dengan saksama jawaban Iris.


“Jadi gua pikir, kalian lebih layak menentukan kita tuh temen deket atau bukan, karena buat gua, kalian satu-satunya temen deket yang gua punya dan gua menerima apapun itu keputusan kalian.”


“Woahhh, Melinda harus denger ini. Tadi harusnya gua rekam pembicaraan ini. Lo tau gaksi ini mungkin kalimat terpanjang yang pernah lo ucapin dalam sejarah pertemanan kita!” ucap Reski penuh kegembiraan. Iris ikut tertawa melihat tingkah Reski.


“Gua gak mau tau lo harus ngomong hal yang sama ke Melinda! Gila sekarang gua punya jawaban pasti kalo orang nanya kita temenan atau ngak!”

__ADS_1


Reski terlihat begitu puas dengan jawaban Iris, ia sampai lupa awal pembicaraan mereka. Masalah tentang Laya dan Iris seakan terlupakan begitu saja, berganti dengan kegembiraan Reski merayakan persahabatan mereka. Iris ikut tertawa melihat tingkah Reski dan ikut mengubur masalah Laya jauh di dasar terdalam hatinya.


__ADS_2