Dua Pendar Bulan

Dua Pendar Bulan
The Flames


__ADS_3

Pertemuan itu memang tak bisa dihindari, Iris tau ia harus menghadapi ini cepat atau lambat. Ia tau ia harus memperjelas keadaan cepat atau lambat. Ia tau ia tidak akan bisa selamanya lari dari masalah ini.


Ia dan Laya akhirnya mengalami perselisihan lain, kali ini langsung di dalam kelas. Saat kelompok Fajar sedang mempresentasikan hasil penelitian kelompok mereka, Laya dan Iris yang notabenya satu kelompok malah berselisih pendapat. Mereka berdebat di hadapan guru mereka dan teman sekelas mereka.


Tema penelitian kelompok Fajar, Agata, Melinda dan Ratih adalah “Pengaruh Lingkungan terhadap Kesuksesan Belajar Siswa.” Tidak ada masalah selama Fajar dan kelompoknya mempresentasikan hasil penelitiannya. Masalah dimulai saat mereka memasuki sesi tanya jawab.


“Dari hasil penelitian kalian dapat disimpulkan bahwa lingkungan atau pergaulan banyak memengaruhi keberhasilan studi siswa. Tapi dari beberapa contoh yang diberikan saya hanya bisa menemukan contoh lingkungan memberi pengaruh negatif terhadap keberhasilan siswa. Apakah tidak ada contoh di mana lingkungan memberi pengaruh positif terhadap keberhasilan studi siswa?” Tanya Iris dalam sesi tanya jawab kelompok Fajar.


“Terima kasih atas pertanyaanya untuk sementara akan kami tampung dulu. Kami juga masih membuka sesi tanya jawab, apakah ada lagi yang ingin bertanya?” kata Fajar selaku moderator.


“Jika tidak ada yang bertanya kami akan menjawab peranyaan dari Iris. Pertanyaan pertama dari Iris akan dijawab oleh Agata. Kepada Agata saya persilahkan.”


“Oke, terima kasih atas pertanyaanya, saya akan mencoba memberikan sedikit contoh pengaruh positif lingkungan terhadap keberhasilan studi. Contohnya ialah diri saya sendiri.” Kata Agata sambil sedikit tertsenyum. Anak-anak langsung tertawa mendengar jawaban Agata, termasuk pak Ibrahim dan Iris.


“Oke jadi, seperti yang kalian semua tau siswa seperti apa saya ini, tidak perlu dijelaskan lagi sepertinya ya urak-urakan, males, ga peduli nilai ya seperti itu. Namun, setelah saya bergaul dengan beberapa siswa teladan, katakanlah siswa top ten, saya menjadi lebih peduli akan nilai akademis dan mencoba untuk memperbaiki diri. Saya pikir itu adalah contoh paling nyata bagaimana lingkungan juga bisa memberi dampak positif pada kesuksesan belajar siswa. Terima kasih, itu saja dari saya, saya kembalikan kepada moderator.” Ujar Agata.


“Terima kasih atas pemaparan dari Agata, bagaimana Iris apakah sudah puas dengan jawabanya?”


“Bolehkah saya bertanya lebih lanjut?” tanya Iris


“Tentu, silakan.”


“Bolehkah saya bertanya tentang posisi keluarga dan pengaruhnya dalam kesuksesan belajar? Karena dari pemaparanya saya melihat bahwa lingkungan yang dibahas hanya terbatas pada lingkungan pertemanan, lalu bagaimanakah dengan posisi keluarga? Bukankah keluarga juga bagian dari lingkungan yang tentunya memengaruhi kesuksesan belajar siswa?” tanya Iris.


Saat itulah Laya mengangkat tangannya, seisi kelas langsung beralih menatap Laya. “Bolehkah saya menyampaikan pendapat saya?” tanyanya.

__ADS_1


Fajar menatap sekilas ke arah pak Ibrahim meminta persetujuan guru sosiologinya itu. Pak Ibrahim meanggung kecil memperbolehkan Laya berbicara.


“Tentu, silakan.” Kata Fajar.


“Saya pikir sudah jelas bahwa batasan dari penelitian ini adalah pengaruh lingkungan, di mana lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan pertemanan. Membicarakan tentang pengaruh keluarga akan menjadikan penelitian ini terlalu luas dan tentu hasilnya akan menjadi lebih bias.” Kata Laya


“Tapi bagaimana mungkin kita membicarakan mengenai pengaruh lingkungan tetapi melepas peran keluarga, ketika keluarga sejatinya adalah lingkungan pertemanan pertama kita?”


“Bukanya melepas pengaruh keluarga, tetapi menetapkan batasan, bahwasanya lingkungan yang dibicarakan di sini adalah lingkungan pertemanan.”


“Saya paham bahwa kelompok ini telah menetapkan batasan penelitian mereka, yang saya pertanyakan adalah kenapa mereka hanya memfokuskan pada lingkungan pertemanan, ketika keluarga adalah salah satu bagian paling penting dalam kehidupan siswa, yang tentunya memeberikan banyak pengaruh terhadap kesuksesan belajar siswa?”


“Tentu mereka punya alasan sendiri untuk itu, tapi saya pikir usia SMA adalah usia di mana kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan lingkungan pertemanan dibanding keluarga. Maka seharusnya keluarga bukan merupakan penentu kesuksesan.”


“Kita memang sedang tidak membicarakan penentu kesuksesan, tetapi pengaruh lingkungan terhadap kesuksesan.”


“Kalau menggunakan logika seperti itu maka penelitian ini tidak perlu dilaksanakan sejak awal. Logika tersebut akan membuat penelitian ini kehilangan fungsi, manfaat dan tujuannya.”


“Woah that harsh.” Ujar Pak Ibrahim di tengah perdebatan Iris dan Laya.


Baik Iris dan Laya langsung menatap Pak Ibrahim, yang terlihat santai. Raut bersalah terlihat di wajah Iris dan Laya. Mereka menyadari bahwa mereka telah menciptakan ketagangan di dalam kelas ini.


“Maaf pak,” Ucap Iris pelan, menyadari bahwa ia telah terbawa emosi dalam diskusi kelas ini.


“Kamu tidak perlu meminta maaf pada saya Iris, tidak apa lagi pula kita sedang berdiskusi. Hemm, boleh bapak ambil alih diskusi kita?” Ucap pak Ibrahim sambil menatap Iris dan Laya secara bergantian. Mereka hanya terdiam dan menangguk sedikit, tanda meinyakan pertanyaan guru mereka.

__ADS_1


“Silakan ditutup terlebih dahulu diskusi kalian moderator.”


“Baik pak, demikian presentasi dari kelompok kami. Terima kasih banyak sudah bersedia mendengarkan pemaparan dari kami. Mohon dimaafkan jika terdapat kesalahan, karena sejatinya manusia tidak luput dari kesalahan. Kami tutup presentasi kami, wasalamualikum wr. wb.”


Fajar, Agata, Melinda dan Ratih langsung merapikan buku serta bangku yang mereka gunakan untuk presentasi, dan kembali ke bangku mereka masing-masing. Suasana kelas yang tadinya tegang mulai sedikit mencair. Anak-anak mulai kembali berbicara dan bercanda.


“Oke sebelumnya bapak ingin berterima kasih kepada kelompok satu karena sudah melakukan penelitian dengan baik dan memaparkan hasil penelitianya dengan baik. Terkait diskusi kita, bapak ingin memberikan kesempatan pada kelompok satu jika masih ingin mengklarifikasi kenapa kalian memilih untuk fokus pada lingkungan pertemanan. Bagamana kelompok satu apa kalian bersedia memberikan klarifikasi?” tanya pak Ibrahim, anak-anak kembali serius dan menunggu jawaban dari kelompok satu.


“Kalau kami gak mau memberikan klarifikasi boleh pak?” Tanya Agata agak ragu.


Pak Ibrahim tersenyum mendengar jawaban itu, “Tentu boleh, tapi itu akan mengurangi kredibilitas kalian sebagai peneliti.” Ucapnya lagi


“Kalau begitu, kami akan memberikan klarifikasi pak. Klarifikasi dari kelompok kami akan disampaikan oleh Fajar.” Ujar Agata lagi, sambil tertawa kecil, anak-anak lain langsung bersorak dan menertawakan Agata sementara Fajar hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya. Namun ia tetap berdiri dan memberikan jawaban.


“Seperti yang disampaikan Laya pak, kami menilai bahwa pada usia SMA adalah usia di mana kita sedang mencari jati diri dan cenderung lebih terbuka pada lingkungan pertemanan dibanding lingkungan keluarga. Maka dari itu, kami merasa akan lebih mudah bagi teman-teman sebaya atau yang tidak terlalu jauh terpaut umur untuk memberikan pengaruh baik positif atau negatif. Maka kami memutuskan untuk fokus pada lingkungan pertemanan.” Jelasnya.


“Oke terima kasih penjelasanya Fajar, bagaimana Iris, apakah kamu puas dengan penjelasan


kelompok satu?”


Fokus anak-anak kembali pada Iris, ia terlihat agak ragu namun ia memutuskan untuk tetap bertanya,


“Bolehkah saya bertanya berdasarkan sudut pandang bapak? Bagi bapak di antara lingkungan keluarga dan pertemanan, mana yang lebih banyak memberikan pengaruh?”


Seluruh kelas kembali sunyi mendengar pertanyaan Iris, Pak Ibrahim diam sebentar, kemudian kembali berjalan ke tengah kelas.

__ADS_1


“Seperti yang bapak bilang sebelumnya, bagi bapak baik apa yang kamu atau Laya katakan sudah benar. Baik kelurga dan pertemanan memberikan pengaruh sendiri-sendiri terhadap kesuksesan seseorang, untuk melihat mana yang lebih besar, maka kita butuh alat ukur yang lebih pasti, yang tentu kita butuh melakukan penelitian tersendiri lagi. Meski begitu, bapak menghargai keputusan kelompok satu untuk fokus pada lingkungan pertemanan. Sampai sini bisa dipahami Iris?”


“Bisa Pak terima kasih.”


__ADS_2