
hari ini SMA Putra Bangsa mendapat tamu istimewa. Mereka kedatangan mahasiswa dari PTN ternama di indonesia. Mereka datang untuk memperkenalkan berbagai macam jurusan yang ada di PTN tersebut. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa semester 3 dan 5.
Siswa-siswi SMA Putra Bangsa kini menjadi satu berkumpul di lapangan sekolah. Di Depan lapangan tersedia panggung berukuran sedang untuk kakak-kakak mahasiswa menampilkan diri. Acara ini seharusnya dikhususkan untuk kelas 12, namun guru-guru memutuskan untuk membiarkan siswa kelas 10 dan 11 untuk ikut serta. Maka acara ini diadakan di lapangan dan bukan di aula sekolah.
Para siswa SMA Putra Bangsa berbaris rapi di lapangan sekolah mereka. mereka dipisahkan berdasarkan kelas. Mereka cukup disiplin sehingga acara masih bisa berlangsung secara efektif, meski mereka harus duduk di lapangan yang lumayan terik, karena waktu sudah memasuki pukul 09.00 pagi.
Anwar duduk di barisan pertama kelas XII IPS 1, dibelakangnya ada Fajar, di belakang Fajar ada Laya dan di belakang Laya ada Agata. Di samping Anwar ada Reski, di belakang Reski ada Melinda dan di belakang Melinda ada Iris. Iris dan Laya belum berbicara lagi semenjak perbincangan mereka di taman. Selama acara berlangsung Iris fokus mendengarkan penuturan kakak-kakak mahasiswa, ia bahkan membuat catatan sendiri. Laya sempat mengintip catatan Iris dan itu terlihat rapi dan teroganisir. Iris suka mencatat dalam bentuk bagan dan map.
Baik Iris dan Laya mencoba sefokus mungkin mendengarkan penjelasan kakak-kakak mahasiswa, hanya Agata yang sedari tadi kerap bercanda dan mengeluargan berbagai komentar. Laya sudah memperingatkannya untuk tidak berisik, namun itu tentu tidak dapat menghentikan Agata.
Saat ini hanya tersisa satu jurusan lagi untuk diperkenalkan. Iris tengah sibuk melihat kembali catatannya, sedangkan Laya masih terlihat takjub dengan catatan Iris yang rapi dan terorganisir. Ia mengabaikan celetukan-celetukan Agata.
“Loh ya, itu bukanya abang lu Arjuna??” Kata Agata sedikit berteriak. Hingga baik Laya ataupun Iris tidak bisa lagi mengabaikannya.
Mendengar nama Arjuna Iris langsung secara refleks menatap Laya, tanpa tau bahwa Laya sedang memperhatikan catatannya. Melihat pergerakan Iris, Laya pun dengan reflek balas menatap Iris. Keduanya pun bertemu pandang tanpa disengaja, Laya tak bisa menghindar begitu pun Iris. Saat itulah Laya menyadari ekspresi keterkejutan sekaligus kebingungan di wajah Iris. Raut wajah itu membuat Laya takut, tatapan itu entah bagaimana telah menghantui Laya. Ia takut Iris menemukan kelemahan terbesarnya, ketakutan terbesarnya.
“Iyakan ya, itu abang lo bang Arjuna.” Kata Agata lagi, memecahkan keheningan di antara Iris dan Laya.
Iris mengamil kesempatan ini untuk mengalihkan pandanganya dari Laya dan melihat ke atas panggung. Seorang pria tengah menjelaskan sesuatu tentang jurusan Hubungan Internasional.
“Halo semuanya, sebelum berbicara lebih lanjut tentang HI, izinkan saya memperkenalkan diri dulu ya. Nama saya Arjuna, saya mahasiswa jurusan Hubungan Internasional.”
Mendengarnya menyebutkan nama Arjuna, Agata langsung tertawa girang, seakan ia baru saja menemukan harta karun. “Kan bener abang lo ya, bang Arjuna.” Katanya.
Laya hanya memandang intens ke arah kakaknya dengan raut wajah yang mengeras. Diam-diam Iris memperhatikan wajah Laya, ia terlihat kalut dan bimbang, tapi lebih dari itu, Iris bisa melihat sedikit kemarahan di wajah Laya.
Iris sedang berjalan menuju kelas saat ia melihat Laya sedang berbincang dengan seseorang. Orang itu adalah mahasiswa yang tadi disebut Agata sebagai kakaknya. Mereka terlihat seperti sedang membahas hal penting. Raut wajah Laya terlihat datar, sedangkan sang kakak terlihat antusias dengan apa yang dia katakan.
Iris tidak ambil pusing tentang apa yang terjadi di antara mereka, ia kembali melanjutkan perjalanan ke kelasnya.
Tak lama setelah Iris sampai di kelas Laya ikut masuk ke kelas bersama, Agata. Fajar dan Anwar sudah ada di kelas sebelum mereka.
“Gila tadi bang Arjuna keren banget gaksi! Kok bisa ya kakak adek sama-sama jenius gitu.” Kata Agata begitu masuk kelas dan menghampiri Anwar dan Fajar.
Saat ini kelas sedang sepi karne anak-anak diperbolehkan istirahat, kebanyakan memutuskan untuk membeli minum di kantin karena mereka kehausan. Anwar dan Fajar kembali ke kelas lebih dulu karena mereka sudah membawa air dari rumah, begitu pula Iris dan Reski. Hanya ada mereka berlima saat ini di kelas.
Iris dan Resti duduk di meja ketiga dari depan di pojok kanan kelas, sedangkan Anwar dan Fajar duduk di meja kedua di baris kedua. Iris dan Reski tentu mendengar percakapan mereka, apalagi Agata bicara dengan sangat antusius.
“Bagi rahasia keluarga lu lah ya, kok bisa elu ama bang Arjuna sama-sama jenius gitu.” Katanya lagi
“Namanya kali ya” Jawab Fajar sambil terlihat menerawang. Baik Fajar dan Agata tidak bisa melihat gelagat kekalutan pada Laya. Namun Iris melihatnya, ia melihat Laya yang sedang berdiri di samping meja Anwar, ia mengepalkan tanganya kuat, pancaran di matanya pun ikut meredup, seakan ada bagian dari dirinya yang
menghilang.
Sebagaimana Iris, Anwar juga memperhatikan hal itu, iya menyadari ketidaknyamanan Laya terhadap topik yang dibahas ini.
“Tapi kok bisa si nama lo Ekalaya dan abang lo Arjuna?” kata Fajar tiba-tiba, dan saat itu juga raut wajah Laya mengeras.
“loh emang kenapa sama Ekalaya dan Arjuna?” Tanya Agata tanpa menyadari perubahan hati Laya.
Saat itu juga Iris langsung berdiri dan meneriakan nama Laya, “Laya!”
Keempat sekawan itu terlihat kaget dan langsung menoleh ke arah Iris, pun Reski, ia bahkan langsung mendongak ke atas karena Iris yang refleks berdiri.
Laya hanya menatap iris bingung, hatinya masih penuh dengan berbagai macam perasaan, dan ia tidak tau harus bereaksi seperti apa terhadap panggilan mendadak Iris. Ia tidak tau apakah Iris akan mengeluarkanya dari situasi rumit ini atau malah membuatnya menjadi semakin rumit.
__ADS_1
“Soal tugas Sosiologi kita, giman kalau kita selesaiin sekarang, kayanya bakal ada jam kosong, dari pada kita nunggu pulang sekolah mendingan kita kerjain sekarang.” Katanya mencoba menjelaskan.
“Gua setuju, kebetulan gua bawa Laptoop, gimana kalau kita kerjain sekarang di perpus. Lo, Laya, Sama Reski jalan duluan ya ris, gua nyiapin laptoop gua dulu.” Kata Anwar, sedikit banyak ia memahami maksud dan tujuan Iris.
Iris langsung menarik Reski dan mengajaknya berjalan, ia juga langsung menarik Laya dan mengajaknya keluar kelas. Laya dan Reski menurut saja dituntun Iris pergi dari kelas.
Begitu yakin bahwa Laya sudah meninggalkan kelas, Anwar memulai pembicaraan dengan kedua temanya.
“Kalo
bisa jangan bahas soal Ekalaya sama Arjuna di depan Laya ya.” Katanya kepada
keduanya.
“Kenapa?” tanya Agata masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
“Sebenernyabukan kapasitas gua buat ngomong gini, tapi kayanya Laya agak sensitif kalo ngebahas soal kakaknya.”
“Oke.” Jawab Fajar tanpa membantah.
“Jelasin dikit biar nanti gua gak salah ngomong.” Desak Agata sedikit merasa bersalah. Ia memang yang paling banyak bicara di antara keempatnya, dan itu cukup membuatnya khawatir jika ia salah bicara dan melukai teman-temannya.
“Nanti gua jelasin, Lu susul aja dulu mereka war.”
Anwar tidak membantah dan langsung menyusul kelompoknya ke perpus. Tinggallah tugas Fajar untuk menjelaskan yang terjadi pada Agata. Ia bukanya tidak tau bahwa Laya terlihat cukup gelisah saat membahas kakaknya tadi. Tapi ia sungguh penasaraan apa alasan orang tua Laya menamai anak mereka Arjuna dan Ekalaya.
***
“Oke udah fix nih ya, tugas kita udah kelar, tinggal maju presentasinya aja.” Kata Anwar sambil merapikan ketikan di laptoopnya. Kemudian menshut down laptoopnya.
“Abis ini mau ke mana Ris?” tanya Reski pada Iris. Keempatnya duduk di salah satu sudut perpustakaan. Reski duduk bersebelahan dengan Iris, sedangkan Laya duduk bersebelahan dengan Anwar. Perpus masih sepi saat itu, karena kebanyakan siswa masih menikmati euforia acara pengenalaan kampus hari ini.
“Gua mau ke ruang mading, anak-anak baru tadi minta bantuin ngedit beberapa artikel katanya. Tadinya mau minta bantuin elu juga, tapi gua sendiri aja kalo gitu.” Kata Reski, Iris hanya menangguk.
Reski memang jauh lebih aktif di kegiatan klub mading dibanding Iris. Sampai sekarang pun anak-anak kelas 11 penerus mereka masih sering meminta bantuan pada Reski.
Reski pun beranjak setelah pamit pada Anwar dan Laya.
“Lo mau balik ke kelas atau mau mampir tempat lain Ya?” Tanya Anwar kini pada Laya.
“Gua kayanya mau stay sebentar di sini War, ada yang mau gua cari.” Jawabnya singkat. Anwar hanya mengangguk mendengarnya.
“Oke, gua duluan kalo gitu guys.” Kata Anwar kemudian meninggalkan Laya dan Iris.
Tinggalah Laya dan Iris, keduanya memilih untuk sibuk dengan urusanya masing-masing. Iris bangun dari kursi dan pergi ke rak buku bagian sejarah. Sedangkan Laya, memilih untuk membuka novel yang ia temukan di rak buku fiksi saat mencari buku tadi. Sebenarnya Laya tidak benar-benar butuh mencari sesuatu. Ia hanya belum ingin kembali ke kelas, serta ada hal mengganjal di dalam hatinya yang harus segera ia keluarkan. Ia ingin berbicara dengan Iris.
Iris kembali ke bangkunya setelah menemukan buku yang ia cari, duduk berhadapan dengan Laya. Keduanya sibuk tenggelam di dunia masing-masing. Perpustakan itu masih sepi hari ini. Hanya ada penjaga perpustakaan Ibu Rahayu, yang juga sedang sibuk dengan pekerjaanya. Tidak ada pengunjung lain selain Iris dan Laya.
“Tadi lo sengaja?” tanya laya tiba-tiba, sambil menandai bagian di mana ia selesai membaca bukunya, menutup buku tersebut dan meletaknya di meja agak ke samping, sehingga tidak menutupi pandanganya pada Iris.
Iris menyadari perubahan sikap Laya yang mulai serius, ia sejatinya masih ingin membaca bukunya, tapi ia putuskan untuk menjawab Laya.
“Apanya?” tanyanya, mencoba memperjelas maksud Laya.
“Tadi di kelas, pas gua ngobrol sama anak-anak, lo sengaja manggil gua buat ngalihin pembicaraan?” tanyanya.
__ADS_1
Iris hanya menangguk, ia mengatupkan bibirnya yang tanpa sengaja memperlihatkan lesung pipinya. Pandangan mata Iris bermain ke mana-mana, sampai ia menetap pada buku di sampng kiri Laya. Iris tak kuasa menatap mata Laya yang sedang melekat padanya. Tatapan mata itu terlalu kelam, tak seperti Laya yang selama ini terlihat cerah.
Mereka memang tidak berteman dekat, tapi Iris sering memperhatikan Laya yang tengah bercanda dengan teman-temannya, Laya adalah sosok yang ramah dan penuh kebahagiaan, namun sosok itu seakan menguap saat ini, berganti dengan Laya yang menatapnya dingin dan penuh selidik, membuat Iris lumayan bergidik ngeri. Ia tak pernah melihat sisi Laya yang seperti ini sebelumnya, atau bahkan, tak pernah ada yang pernah melihatnya selain Iris.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Lo keliatan ga nyaman.” Jawab Iris pelan sambil tetap menatap novel Laskar Pelangi yang ada di samping kiri
Laya.
“Liat gua Ris.” Ucap Laya pelan
Iris mengalihkan pandanganya perlahan ke arah Laya, ia sudah tak lagi terlihat sedingin sebelumnya. Mata itu teduh saat ini, sorot mata Laya menjadi lebih tenang.
“Jadi lo tau juga, soal Arjuna dan Ekalaya? Kayanya ga mungkin lo ga tau, mengingat kita punya ketertarikan yang ngak jauh berbeda.” kata Laya, sorot matanya kini memancarkan kesedihan.
Iris tak habis pikir, bagaimana bisa Laya dalam waktu sesingkat itu, menunjukan berbagaimacam emosi, mulai dari marah, tenang dan beralih menjadi kesedihan. Iris tak yakin dan tak tau pasti apa yang sebenarnya dirasakan Laya saat ini.
“Kalosoal cerita Ekalaya dan Arjuna, iya gua tau, tapi cuma sebatas itu.” jawab Iris mencoba menanggapi Laya setenang mungkin.
“Ironis gaksi, kenyataan kalo ayah gua namain anaknya Arjuna dan Ekalaya? Wajar si kalo orang penasaran sama alasan bokap gua namain kita Arjuna dan Ekalaya.” Kata Laya, kali ini sambil tersenyum getir. Iris mulai kagum pada kemampuan Laya memperlihatkan emosi.
“Lo sendiri, ga penasaran? Pernah ga lo nanyain alasannya ke bokap lo?” kata Iris, saat itulah Iris mendapati sorot mata Laya bergetar, dan ia bersumpah ia melihat sedikit sorot ketakutan dalam mata itu.
Laya menggeleng pelan, mengalihkan tatapan matanya dari Iris untuk beberapa saat dan kembali memandang Iris lekat.
“Lo gak penasaran?” tanyanya lagi.
“Bohong kalo gua bilang ngak.”
Laya kembali tersenyum getir mendengar jawaban Iris.
“Menurut lo, seseorang benar-benar bisa mencintai Arjuna dan Ekalaya secara bersamaan?” tanya Laya
“Menurut lo itu hal yang mustahil?”
“Em,..” gumam Laya sambil mengangguk “Gimana bisa seseorang mencintai Arjuna dan Ekalaya secara bersamaan. Ekalaya menghalangi Arjuna untuk bisa jadi ksatria paling kuat, dia mengalahkan Arjuna. Wajar kalau Arjuna membencinya. Sedangkan Ekalaya kehilangan segalanya, sedikit banyak karena Arjuna. Wajar kalau Ekalaya juga membenci Arjuna. Kalo mereka aja saling membenci, gimana bisa seseorang mencintai mereka secara bersamaan?” mata Laya kembali terlihat getir, kalut dan
penuh kesedihan.
“Lo inget waktu gua bilang kalo lo bukan tujuan akhir gua?” tanya Laya lagi, sambil sorot matanya memandang jauh, menerawang entah ke mana. “Tujuan akhir gua itu Arjuna. Gua ga boleh jadi kaya Ekalaya yang nurut gitu aja sama Drona dan kehilangan jarinya.”
Iris merasa melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Kesedihan terdalam Laya. Kegundahan yang disimpan Laya di sudut terdalam hatinya. Ketakutan tersebar dalam hidup Laya, bolehkah ia melihatnya.
“Gua pikir, lo salah memahami sesuatu di sini” Kata Iris pelan-pelan, ia tak ingin salah bicara dan berakhir menyakiti Laya.
Laya menatap Iris lekat, menanti dengan antusias apa yang akan dikatakan Iris.
“Lo bukan Ekalaya, dan abang lo bukan Arjuna. Lo gak harus jadi Ekalaya, lo gak harus mengalahkan siapapun. Lo boleh jadi apapun yang lu mau, bukan buat bokap lo tapi buat diri lo sendiri. You are just you, Ekalaya. You deserve to be you, you deserve to be your own Ekalaya. You deserve to be the best version of yourself, for you and you only, Laya.”
Laya terdiam mendengar perkataan Iris, mata Iris teduh menatapnya, tanpa penghakiman. Ia juga tersenyum seakan sedang berusaha menenangkan segala keresahan Laya. Senyumnya terlihat cerah, dengan lesung pipi yang membuatnya menjadi terlihat semakin manis. Sesuatu dalam dirinya bergetar, perasaan hangat seakan mengaliri tubuhnya. Segala sesuatunya seakan menjadi lebih jelas, dan lebih cerah.
Bukan hanya senyum Iris yang mengagetkan Laya, tapi apa yang dikatakan Iris membangunkan sesuatu di dalam dirinya. Selama hidupanya Laya berpikir bahwa ia harus menjadi seperti Ekalaya, bahwa ia harus mengalahkan Arjuna. Ia menjadikan Ekalaya dan Arjuna sebagai tujuan hidupnya. Ia ingin menghidupkan Ekalaya, msekipun tak ingin berakhir seperti Ekalaya.
Ia memanah, dengan harapan bisa menjadi sehebat Ekalaya. Ia berhenti bermain dan mulai belajar dengan giat supaya bisa mengejar ketertinggalan dari Arjuna. Ia berhenti menulis dan membaca fiksi karena ia harus menulis esay dan membaca jurnal serta buku pelajaran. Ia melepaskan semua yang ia cintai dan berusaha sekuat tenaga menjadi sehebat Ekalaya, supaya bisa mengalahkan Arjuna, dan membuat akhir cerita yang berbeda dari Ekalaya. Tanpa pernah ia sadari bahwa dalam proses menjadi Ekalaya, ia telah kehilangan dirinya.
__ADS_1
Tanpa disadari setetes air jatu membasahi pipi Laya. Ia langsung menundukan wajah menghalangi Iris melihat air matanya. Ia tak ingin terlihat lemah, tapi tubuhnya sudah tak mampu menanggung semua beben ini. Ia marah pada dirinya sendiri karena telah kehilangangan begitu banyak waktunya dan malah berakhir tak memiliki jati diri, tapi ia juga bersyukur karena akhirnya menyadari apa yang salah. Laya menutup watanya dengan telapak tangan, berharap Iris tak menyadari bahwa ia sedang menangis. Sekuat tenaga menahan suara tangisanya.
Iris hanya terdiam di hadapan Laya, tak bicara, tak menegur, tak mengeluarkan suara sedikitun, namun setelah beberapa detik ia bediri lalu berjalan ke arah Laya. Ia duduk di samping Laya, kemudian memutar posisi duduknya sehingga ia berhadapan dengan bu Rahayu yang ada di ujung ruangan. Setelah itu ia kembali membuka bukunya seakan tak ada yang terjadi. Membiarkan Laya tenggelam dalam kesedihannya. Memberikan ruang bagi laya untuk mengeluarkan rasa sakitnya, membiarkan Laya menangis hingga hatinya puas, hingga tak ada lagi kesedihan yang tersisa di dalam sana.